PERAN SOCIAL MEDIA DALAM MENCIPTAKAN BRAND IMAGE KEMENANGAN JOKOWI - AHOK DALAM PERSPEKTIF MARKETING
(Aslihatus
Sania Firdaus)
Pada
pemilihan Gubernur Kota Jakarta tahun 2012 berhasil dimenangkan oleh pasangan
Jokowi-Ahok dalam dua putaran dengan jumlah suara yang cukup dominan. Pasangan
Jokowi-Ahok berhasil mengalahakan beberapa kubu lain seperti Faisal Basri, Alex Noerdin, Hidayat Nur
Wahid, Hendardji Supandji, dan Fauzi Bowo.
Kemenangan Jokowi-Ahok bukan
semata-mata karena keunikan khas kemeja kotak-kotaknya atau aspek-aspek lainnya
melainkan karena keberhasilan mereka dalam membangun reputasi yang baik melalui
pendekatan tanpa jarak ke masyarakat dengan media sosial, Twitter, Facebook, Youtube, Hi5, Myspace,
BB, surat kabar, majalah, tv, radio, dan juga peran relawan segala lapisan
masyarakat.
Social media di
Indonesia saat ini sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan bermasyarakat
mengingat Indonesia sebagai negara demokrasi yang mengedepankan aspirasi
rakyat. Masyarakat terbangun menjadi masyarakat yang terbuka sehingga batas
yang ada antara rakyat dan pemimpin pun semakin tidak terlihat. Hal ini jelas
terjadi dalam kemenangan Jokowi-Ahok. Walaupun
gerakan politik di media sosial tidak identik dengan gerakan di lapangan yang
cenderung konvensional dengan pemasangan baligho dan kampanye, namun keunggulan Jokowi
di social media hampir sama dengan
hasil sesungguhnya di lapangan seperti hasil quick count yang disampaikan oleh beberapa
lembaga survei.
Social media menjadi
alat yang sangat efektif dalam pilkada, karena adanya efek penguatan sebagai langkah awal dalam perencanaan komunikasi
politik adalah mengidentifikasi pesan utama kampanye. Pesan yang disampaikan
melalui media cetak, dan kegiatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat,
akan mudah hilang tanpa bekas, disinilah sosial media memainkan peranannya
untuk mengingatkan recall
memory dan menguatkan pesan
yang telah disampaikan.
Selain itu social media membentuk koneksi pribadi kepada banyak orang dalam satu
waktu, politik memiliki ruang yang sangat luas yang tidak mampu disentuh secara
langsung, setiap orang punya keinginan yang sama untuk bisa berinteraksi dan
menyampaikan pesan dan keinginan secara langsung, social media dengan karakter komunikasi yang tidak mengenal batas,
jarak dan waktu, mampu memberi solusi, juga membangun kemampuan untuk
merespons, pilkada sering berujung pada demarketing dan penyampaian isu negatif
yang bisa menyebar dengan sangat cepat, di saat kondisi seperti ini sosial
media menjadi solusi paling tepat, kerena sifat komunikasi telah terbangun
dalam model pertemanan yang memberi ruang pesan bisa sampai pada personal
secara langsung.
Dalam perspektif marketing,
untuk menciptakan brand image yang
baik dan ”laku” diperlukan adanya konsep brand
promise seperti yang dilakukan oleh tim Jokowi-Ahok dalam masa kampanyenya.
Brand promise merupakan faktor
penentu keberhasilannya sebuah brand,
karena hal itu akan digunakan oleh para customer
untuk tertarik dalam memilih produk atau sebuah brand, ditambah lagi Jokowi-Ahok dikenal sebagai pasangan yang
memiliki ketegasan dalam pengambilan keputusan seperti dalam semboyannya
”Pemimpin adalah ketegasan tanpa ragu”, dan juga dengan adanya keberhasilan
sebelumnya dari Jokowi sebagai Walikota Solo telah membuktikan bahwa Jokowi
merupakan seorang pemimpin yang keras dan tegas. Dengan begitu promise yang dimunculkan dalam
penciptaan brand image Jokowi-Ahok
dapat memberi kesan untuk janji yang memiliki potensi sebagai janji-janji yang
akan ditepati, dengan begitu masyarakat dapat melihat dan memilih.
Untuk memenangkan pilihan customer atau dalam hal ini ”masyarakat Jakarta”, yang harus
diperhatikan adalah menonjolkan sesuatu yang berbeda dari para pesaing atau brand lawan. Perbedaan akan menjadi
salah satu pokok yang dapat menjadi ciri dan tentunya ketertarikan masyarakat
pun akan tercapai. Inti dari diferensiasi ini adalah brand promise yang merupakan
keharusan untuk menciptakan, mengembangkan, dan memperkuat brand image. Selain itu pasangan Jokowi-Ahok menerapkan
pengkomunikasian tiga atribut intern yaitu sesuatu yang akan dikerjakan,
jaminan yang diekspresikan, dan persepsi terhadap keunggulan.
Dalam marketing, biasanya dibutuhkan personality tertentu sebagai figure
untuk merepresentasi strategi suatu brand.
Dalam hal ini Jokowi-Ahok telah menekankan upaya pengkomunikasian yang
sebenarnya tidak mudah dan dipermudah dengan menonjolkan sisi-sisi positif
figur Jokowi dan Ahok seperti yang banyak tersebar di website dan media sosial yang sebenarnya menjadi suatu pendekatan atas
pencitraan dan menambah tingkat jual di kalangan masyarakat yang tentunya juga
sebagai penikmat social media.

Brand promise pada hakikatnya adalah suatu jaminan yang
diekspresikan bahwa apa yang diungkapkan akan terjadi dan mengungkapkan suatu
keunggulan. Untuk menghidupkannya, setiap pelakunya harus benar-benar memahami,
menghayati serta memiliki komitmen yang tinggi untuk memenuhi janji tersebut.
Agar Jokowi-Ahok menepati janji inilah, perlu dilakukan kulturalisasi merek,
sehingga brand promise dapat meresap
dalam sanubari dan menjelma menjadi perilaku. Tujuan kulturalisasi yaitu untuk
mendorong semua anggota organisasi agar memiliki keyakinan, perilaku, dan
metode yang akan mendukung dan sejalan dengan karakteristik brand yang telah diciptakan. Kedua,
meningkatkan kesadaran terhadap pandangan perbaikan diri dan organisasi. Serta
ketiga untuk menghidupkan janji (kepada konsumen) yang telah melekat pada
sebuah merek.
Begitulah
tim pasangan Jokowi-Ahok menggunakan peran social
media dalam keberhasilan kemenangannya. Dalam hal ini dapat disebut sebagai ”Political
Social Media Marketing”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)