Benarkah Cinta Tak Harus Memiliki?

Langsung aja nih lanjutannya...
Gue masih Inca, gue masih bego,
gue masih gue yang begini. Malam ini gue memandang langit hitam yang jauh.
Bintang menyebar, ada yang redup ada yang terang, tapi mereka bersinar. Gue
mengingat suatu hal di masa lalu yang sempat mengiris hati gue dan lukanya
masih berbekas sampai malam ini. Gue punya kisah yang sedikit pilu. Itu awalnya
terjadi pada saat gue duduk di bangku SMA. Ceritanya sekitar empat tahun yang
lalu gue bersahabat dengan seorang anak laki-laki. Sebut dia Ryan. Masih
seumuran gue, dia suka main PS, main bola, masih seperti seorang anak laki-laki
kecil yang beranjak dewasa. Pada saat gue kenal dia, gue masih pacaran dengan
Leo, dia tahu gimana hubungan gue dengan Leo.
“Yan, kalo misalnya nih, kamu
pacaran, terus tau-tau kamu diputusin, rasanya gimana?” Tanya gue kepada Ryan.
“Ya sedih sih...” Jawab Ryan.
“Emang kamu diputusin ya?” Tanya Ryan
“Apa kamu mau mutusin Leo?”
Lanjutnya.
Ryan selalu tahu benar apa yang
ada difikiran gue, gue laper dia tahu, gue ngantuk dia tahu, gue sedih dia tau,
gue kebelet pup, dia tau.
“Inca pengen mutusin Leo Yan.”
Jawab Gue
“Kenapa? Leo selingkuh? Dari
kapan? Sama Siapa?” Tanya Ryan
“Kamu nanya satu-satu dong, Inca
bingung.” Jawab gue
“Rasanya bosen sama dia, dia
sekarang udah beda” Jelas gue kepada Ryan.
“Yaudah, putusin aja, daripada
kamu makan ati” Ucap Ryan.
Esok harinya, hape gue
bergetar...
“Happy anniversary sayang J” SMS dari Leo masuk ke
handphone gue
Gue baru sadar, hari itu hari
Senin, 14 Juli 2007, tepat tujuh bulan gue pacaran dengan Leo.
“Iya, sama-sama, tapi kayaknya
kita sampe sini aja deh.” Gue bales SMS Leo
Karena gue adalah anak yang g4ol
dan uptodate pada saat itu, gue langsung update relationship gue di Facebook
menjadi single. Tidak lama kemudian handphone gue berdering,
“Halo?” Ucap gue
“Halo In, kamu dimana?” Tanya
Ryan
“Di rumah.” Jawab gue
“Ryan ke rumah kamu sekarang.”
Ucap Ryan.
Gue sebenarnya sedang sedikit
galau karena memaksakan hati gue mengambil sikap seperti ini ke Leo. Leo nggak
mau diputusin tapi gue bersikeras mau putus karena hati gue sudah terlanjur
sakit dengan sikapnya. Dan perlu digaris bawahi, ini adalah sebuah kesalahan
yang gue ambil di perjalanan kisah gue, berkali-kali gue berharap gue bisa
balik ke detik itu dan nggak mutusin Leo. Tapi nasi udah jadi nasi uduk.
“Kamu sedih In?” Tanya Ryan.
Gue hanya tersenyum menanggapi
Ryan.
“Ryan tau ini berat buat kamu In.
Tapi kamu pasti bisa ngelewatin ini.” Ryan menghibur gue.
Dalam hati gue bersyukur masih
ada Ryan yang menghibur gue, sahabat yang baik bagi gue. Gue sempat tertawa
melihat tingkah Ryan yang lebay dan lucu menghibur gue. Gue yakin gue bisa
lupain Leo. Gue merasa lebih bebas setelah putus dengan Leo. Nggak ada yang
perlu gue pikirin dan gue benar-benar hampir lupa dengan Leo dalam waktu
singkat.
Beberapa hari kemudian...
“In, kamu dimana? Ryan kerumah
kamu sekarang” SMS Ryan masuk ke handphone gue.
Malam itu malam minggu, Ryan berkunjung
ke rumah gue. Gue dan Ryan duduk di teras rumah.
“Tumben maen ke rumah malem-malem.”
Ucap gue kepada Ryan.
“Ya kan biar ganteng...” Ucap
Ryan sambil tertawa.
“Haha. Nggak ada hubungannya” Gue
pun tertawa menanggapi Ryan.
“In, kamu mau nggak pacaran sama
Ryan?” Tanya Ryan tiba-tiba.
Kaget gue langsung melempar
pandangan gue ke Ryan, Ryan menunduk, untuk beberapa saat gue diam, Ryan diam.
“Becanda nih.” Ucap gue sambil
menahan tertawa.
“Serius, Ryan.. suka sama Inca
udah dari lama.”
“Kamu nggak percaya?”
“Ryan pacaran baru sekali In,
itupun cuma sebentar, dan baru suka lagi sama cewek tuh baru sekarang, baru
kamu.” Jelas Ryan.
Gue hanya diam saja,
“Yan kita kan temenan masa
pacaran” Gue membuka pembicaraan lagi setelah beberapa saat kami saling diam.
“Ryan sayang sama kamu In.” Ucap
Ryan.
“Kamu nggak mau ya jadi pacar
Ryan?” Tanya Ryan.
“Ni harus di jawab?” Gue bertanya
kepada Ryan.
“Iya.” Jawab Ryan.
“Sekarang?” Tanya gue lagi.
“Sekarang boleh, laen kali juga
boleh kok In.” Jawab Ryan.
Malam itu Ryan pulang dengan
tanpa ada jawaban yang gue kasih ke dia. Gue nggak pengen pertemanan gue
berubah jadi pacaran dan kalo nanti putus gue jadi nggak kenal lagi sama Ryan. Tapi
gue nggak tahu gimana caranya bilang ke dia. Gue takut dia kecewa dan nyakitin
hati Ryan. Jadi gue nggak bilang ‘iya’ atau ‘tidak’ ke Ryan.
Hampir sebulan dari malam itu...
“Gimana In yang Ryan tanya waktu
itu?” Tanya Ryan.
Ryan anak yang baik, dia setia
menunggu gue sampai beberapa waktu, dan gue mulai percaya bahwa Ryan
benar-benar serius tentang perasaannya ke gue.
“Iya udah deh Ryan Inca mau jadi
pacar Ryan.” Jawab gue ke Ryan.
Malam itu Ryan benar-benar
bahagia mendengar jawaban gue, gue juga bahagia karena bisa membuat Ryan
bahagia.
Sehari, dua hari, seminggu, dua
minggu berlalu, senang, bahagia, itu yang kami rasakan. Pagi itu, sebelum gue
bergegas ke sekolah, Ryan menunggu di depan rumah.
“Ada yang mau Ryan kasih.” Ucap
Ryan.
Ryan memutar badan gue sehingga
gue ada di depan dan membelakangi Ryan. Ryan mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Mengenakan sebuah kalung di leher gue. Gue tertawa kecil.
“Selamat ulang tahun ya,” Ucap
Ryan sambil tersenyum manis.
Ryan benar-benar baik. Dia tidak pernah memperlakukan gue
seburuk apa yang dilakukan Leo. Ryan selalu memberi kabar ke gue setiap mau
latihan bola, setiap mau tidur, mau makan, Ryan sangat perhatian kepada gue.
Kadang Ryan datang untuk sekedar mengantar gue sekolah, atau mengantar gue
pulang ke rumah setelah gue pulang sekolah. Gue nggak pernah menuntut banyak ke
Ryan. Gue bebasin Ryan buat nyaman dengan hobinya. Susah dan senang kami lewati
bersama, sampai pada suatu hari...
“Hore kita udah sebulan sayang.”
Ucap Ryan kepada gue pada saat umur pacaran kami genap sebulan.
“Hehe iya nih,” Jawab gue.
“Doanya apa yang?” Tanya Ryan.
“Semoga Ryan sama Inca bahagia
selama-lamanya.” Gue mengucapkan kalimat itu sambil tersenyum lebar ke Ryan.
“Amiiiiinnn.. Eh iya, Ryan mau
sparing bola nih, doain ya.” Ucap Ryan.
“Iya lah.” Jawab gue.
“Ryan mau kasih gol buat kamu.”
Ucap Ryan sambil tersenyum manis.
Gue membalasnya dengan tersenyum
pula.
Hari-hari yang gue jalanin bareng
Ryan sangat menyenangkan. Ryan menerima gue apa adanya, begitu juga gue bisa
menerima Ryan apa adanya. Gue dan Ryan sama-sama menjalani ini dengan tulus,
mengingat umur kami yang masih muda dan masih harus banyak belajar tentang
pacaran, gue dan Ryan bersama-sama menjalaninya dengan saling menjaga dan
saling melengkapi.
Tiga bulan...
Gue mulai cuek, Ryan mulai
kecewa, sampai ulang tahun Ryan tiba pun gue nggak sadar, gue sama sekali nggak
memberikan kado apapun kepada Ryan di hari ulang tahunnya.
“Kamu ulang tahun?” Tanya gue
kepada Ryan.
Ryan hanya diam.
“Kok nggak bilang ke Inca?” Gue
bertanya lagi.
“Masa ulang tahun harus
dibilangin dulu sih baru tahu.” Ucap Ryan dengan memasang wajah bete.
“Ciyeee-ciyee, ulang tahun,
selamat ya.” Dengan bodohnya gue berusaha meledek Ryan agar dia tidak marah.
Ryan tersenyum.
“Iya sayang, makasih ya.” Ryan
masih tersenyum dan mengurungkan niatnya untuk bete.
“Kamu mau kado apa?” Tanya gue
kepada Ryan.
“Terserah Inca aja.” Jawab Ryan
dengan memandang lembut kepada gue.
Esok harinya gue mencari sesuatu
yang cocok untuk Ryan. Setelah gue berputar-putar di toko buku dan salon, gue
akhirnya memutuskan untuk membelikan sebuah sweater di toko baju milik
tetangganya Tantenya temennya Saudara temen gue. Mengingat sosok Ryan yang
senang mengenakan sweater. Beberapa hari setelah itu gue memberikan sweater itu
langsung tanpa gue bungkus karena gue malas membungkusnya. Sudah terlanjur
tidak ada surprise dan juga terlanjur terlambat.
“Maaf ya yang, kadonya nggak di
bungkus.” Ucap gue kepada Ryan.
“Iya, nggak apa-apa sayang.” Ucap
Ryan terlihat sedikit kecewa.
“Yaudah, Ryan pulang dulu ya yang.”
Lanjutnya.
Gue nggak nyangka kado dari gue
yang sangat simpel dan nggak ada kesannya sama sekali itu ternyata dipake terus
sama dia hampir setiap hari. Dan dari situ gue tahu, dia suka sama apa yang gue
kasih, dan dia beneran sayang sama gue J
Gue mulai yakin ke Ryan, perasaan
yang awalnya cuma sayang-sayangan sekarang gue cinta sama Ryan. Gue nggak mau
kehilangan Ryan seperti gue melepas Leo. Itu jadi pelajaran buat gue, untuk mempertahankan
apa yang gue miliki, dan jangan terlalu cepat melepaskan sesuatu yang kita
punya dengan alasan keegoisan. Gue nggak akan ngelakuin kesalahan yang sama
untuk kedua kalinya.
...
Dua tahun berlalu...
“Yang, main ke pantai yuk, sama
temen-temen Ryan. Mau nggak?” Tanya Ryan.
“Nggak.” Jawab gue.
“Nggak gimana?” Ryan bertanya.
“Ya nggak suka aja, kamu aja ya.”
Jawab gue.
Lagi-lagi Ryan memasang wajah
kecewa.
“Yaudah, yaudah, iya Inca ikut.”
Ucap gue sambil tersenyum kepada Ryan.
“Bener?” Tanya Ryan.
“Iya bener.” Jawab gue.
Itu pertama kalinya gue
jalan-jalan ke pantai tapi gue nggak bete. Gue suka jalan-jalan waktu itu
karena gue bisa menemani Ryan dan membuat Ryan senang.
“Ayo berenang” Ajak Ryan.
“Nggak ya, Ryan aja deh.” Ucap
gue.
“Ayo sih yang, yang lain pada
berenang tuh.” Ucap Ryan.
“Inca nggak mau.” Jawab gue.
“Yaudah deh, Ryan disini aja
nemenin Inca, Ryan kan pacar yang setia.” Ucap Ryan sambil tertawa kecil.
Gue dan Ryan duduk di pondok di
pinggir pantai sambil memandangi ombak dan dibelai-belai angin laut.
“Kalo kamu mau berenang ya nggak
apa-apa kali, Inca tungguin di sini.” Ucap gue kepada Ryan.
“Nggak ah, di sini aja bareng
Inca.” Jawab Ryan.
“Eh, kita jalan-jalan aja yuk,
muterin pantai” ajak Ryan.
“Yuk.”Jawab gue.
Gue dan Ryan berjalan beriringan
menyusuri garis pantai, ombak menyapa kecil pasir tersapu perlahan mengiringi
langkah gue dan Ryan. Gue dan Ryan merasakan angin dan air yang memadu dan itu
indah. Gue sedikit ada di depan mendahului langkah Ryan, tidak lama kemudian Ryan
mempercepat langkahnya dan tiba-tiba dia berada di sebelah gue. Dia tersenyum. Sungguh
indah hari itu serasa gue ingin menghentikan waktu untuk menatap senyumnya yang
tulus penuh cinta.
“Inca seneng nggak?” Tanya Ryan.
“Seneng.” Jawab gue.
“Kalo Ryan seneng banget.” Ucap
Ryan dan lagi-lagi tatapannya yang berbinar itu meluluhkan hati gue.
“Ryan bahagia punya Inca.” Ucap
Ryan.
Gue dan Ryan lalu duduk di
bebatuan menghabiskan waktu berdua, mendengarkan cerita-ceritanya, bercanda,
tertawa, dan tidak terasa sore pun tiba.
“Ayo balik,” Ucap gue.
Gue dan Ryan pulang dengan rasa
bahagia tiada tara tiada umpama. Di jalan pulang, rasa lelah menghampiri...
“DUARRR”. Motor yang dikendarai
Ryan dan gue tiba-tiba terpental. Gue sempat hendak memegang tubuh Ryan tapi dia terlanjur terlempar dan tertabrak
mobil yang juga sedang melaju kencang. Tubuh gue terperosok di aspal jalanan,
gue melihat darah. Darah dimana-mana. dan tiba-tiba....
gelap.
***
“Inca seneng nggak?” Tanya Ryan.
“Ryan” Ucap gue.
“Ryan bahagia sama Inca.” Ucap
Ryan sambil tersenyum manis dan mengusap air mata gue.
Tik...tok... tik... tok...
Detak jarum jam membangunankan
gue dari mimpi dan dari mata gue yang terpejam
entah berapa lama, perlahan gue buka mata dan yang terlihat adalan
remang-remang cahaya kecil yang menyakiti pandangan gue. Gue melihat lampu,
dengan mengernyitkan dahi gue melihat sekitar, ruang kosong, hanya ada gue,
tempat tidur, selang infus, dan nyokap gue.
“Alhamdulillah, Inca sadar” Ujar
mama
“Ryan mana ma?” Tanya gue.
“Kamu nggak apa-apa kan nak?”
Tanya mama
Kepala gue tiba-tiba pusing dan
ingatan itu dengan cepat terbesit di otak gue, tabrakan kencang itu. Darah Ryan
dimana-mana. Kecelakaan itu mengingatkan gue.
Gue bergegas mengangkat tubuh gue
yang lemah.
“Inca mau cari Ryan.” Ucap gue.
Mama hanya menangis,
“Ryan udah nggak ada In.” Jawab
mama.
Gue kaku mendadak. Jantung gue
berdegup kencang, sangat kencang. Darah gue seakan mengalir naik ke kepala.
“Maksud mama apa?” Tanya gue
“Ryan udah meninggal di
kecelakaan kemarin itu sayang.” Jawab mama, sambil memeluk gue.
Gue menangis, gue cuma bisa
menangis, gue nggak berhenti menangis. Gue nggak pernah percaya itu terjadi,
gue pegang erat kalung gue, gue nggak peduli air mata gue kering atau mata gue
jadi buta karna gue nggak berhenti menangis yang jelas gue sakit banget. Hati
gue sakit...
***
Angin sepoi meniup tubuh kecil
gue, gue dengan kalung cantik tergontai di leher gue ini, bersama Ryan yang
masih hidup di hati gue menghela nafas panjang dan memejamkan mata...
“Ryan seneng nggak?” Ucap gue.
“Inca bahagia punya Ryan” Gue
menangis sesenggukan, air mata gue menetes, tepat di ombak yang menghampiri langkah
kaki gue di pantai itu. Tepat di titik itu, saat terakhir gue dan Ryan masih
bahagia. Seketika kaki gue lemas, gue membungkuk dan terduduk di batu menutup
wajah... dan menangis...
Selembar foto gue dan Ryan sedang
tertawa gue ambil dari saku celana, di belakangnya tertulis tulisan tangan gue
“I miss you..”
Inca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)