Cerbung Inca Jilid III


Benarkah Cinta Tak Harus Memiliki?



Langsung aja nih lanjutannya...

Gue masih Inca, gue masih bego, gue masih gue yang begini. Malam ini gue memandang langit hitam yang jauh. Bintang menyebar, ada yang redup ada yang terang, tapi mereka bersinar. Gue mengingat suatu hal di masa lalu yang sempat mengiris hati gue dan lukanya masih berbekas sampai malam ini. Gue punya kisah yang sedikit pilu. Itu awalnya terjadi pada saat gue duduk di bangku SMA. Ceritanya sekitar empat tahun yang lalu gue bersahabat dengan seorang anak laki-laki. Sebut dia Ryan. Masih seumuran gue, dia suka main PS, main bola, masih seperti seorang anak laki-laki kecil yang beranjak dewasa. Pada saat gue kenal dia, gue masih pacaran dengan Leo, dia tahu gimana hubungan gue dengan Leo.
“Yan, kalo misalnya nih, kamu pacaran, terus tau-tau kamu diputusin, rasanya gimana?” Tanya gue kepada Ryan.
“Ya sedih sih...” Jawab Ryan.
“Emang kamu diputusin ya?” Tanya Ryan
“Apa kamu mau mutusin Leo?” Lanjutnya.
Ryan selalu tahu benar apa yang ada difikiran gue, gue laper dia tahu, gue ngantuk dia tahu, gue sedih dia tau, gue kebelet pup, dia tau.
“Inca pengen mutusin Leo Yan.” Jawab Gue
“Kenapa? Leo selingkuh? Dari kapan? Sama Siapa?” Tanya Ryan
“Kamu nanya satu-satu dong, Inca bingung.” Jawab gue
“Rasanya bosen sama dia, dia sekarang udah beda” Jelas gue kepada Ryan.
“Yaudah, putusin aja, daripada kamu makan ati” Ucap Ryan.
Esok harinya, hape gue bergetar...
“Happy anniversary sayang J” SMS dari Leo masuk ke handphone gue
Gue baru sadar, hari itu hari Senin, 14 Juli 2007, tepat tujuh bulan gue pacaran dengan Leo.
“Iya, sama-sama, tapi kayaknya kita sampe sini aja deh.” Gue bales SMS Leo
Karena gue adalah anak yang g4ol dan uptodate pada saat itu, gue langsung update relationship gue di Facebook menjadi single. Tidak lama kemudian handphone gue berdering,
“Halo?” Ucap gue
“Halo In, kamu dimana?” Tanya Ryan
“Di rumah.” Jawab gue
“Ryan ke rumah kamu sekarang.” Ucap Ryan.
Gue sebenarnya sedang sedikit galau karena memaksakan hati gue mengambil sikap seperti ini ke Leo. Leo nggak mau diputusin tapi gue bersikeras mau putus karena hati gue sudah terlanjur sakit dengan sikapnya. Dan perlu digaris bawahi, ini adalah sebuah kesalahan yang gue ambil di perjalanan kisah gue, berkali-kali gue berharap gue bisa balik ke detik itu dan nggak mutusin Leo. Tapi nasi udah jadi nasi uduk.
“Kamu sedih In?” Tanya Ryan.
Gue hanya tersenyum menanggapi Ryan.
“Ryan tau ini berat buat kamu In. Tapi kamu pasti bisa ngelewatin ini.” Ryan menghibur gue.
Dalam hati gue bersyukur masih ada Ryan yang menghibur gue, sahabat yang baik bagi gue. Gue sempat tertawa melihat tingkah Ryan yang lebay dan lucu menghibur gue. Gue yakin gue bisa lupain Leo. Gue merasa lebih bebas setelah putus dengan Leo. Nggak ada yang perlu gue pikirin dan gue benar-benar hampir lupa dengan Leo dalam waktu singkat.
Beberapa hari kemudian...
“In, kamu dimana? Ryan kerumah kamu sekarang” SMS Ryan masuk ke handphone gue.
Malam itu malam minggu, Ryan berkunjung ke rumah gue. Gue dan Ryan duduk di teras rumah.
“Tumben maen ke rumah malem-malem.” Ucap gue kepada Ryan.
“Ya kan biar ganteng...” Ucap Ryan sambil tertawa.
“Haha. Nggak ada hubungannya” Gue pun tertawa menanggapi Ryan.
“In, kamu mau nggak pacaran sama Ryan?” Tanya Ryan tiba-tiba.
Kaget gue langsung melempar pandangan gue ke Ryan, Ryan menunduk, untuk beberapa saat gue diam, Ryan diam.
“Becanda nih.” Ucap gue sambil menahan tertawa.
“Serius, Ryan.. suka sama Inca udah dari lama.”
“Kamu nggak percaya?”
“Ryan pacaran baru sekali In, itupun cuma sebentar, dan baru suka lagi sama cewek tuh baru sekarang, baru kamu.” Jelas Ryan.
Gue hanya diam saja,
“Yan kita kan temenan masa pacaran” Gue membuka pembicaraan lagi setelah beberapa saat kami saling diam.
“Ryan sayang sama kamu In.” Ucap Ryan.
“Kamu nggak mau ya jadi pacar Ryan?” Tanya Ryan.
“Ni harus di jawab?” Gue bertanya kepada Ryan.
“Iya.” Jawab Ryan.
“Sekarang?” Tanya gue lagi.
“Sekarang boleh, laen kali juga boleh kok In.” Jawab Ryan.
Malam itu Ryan pulang dengan tanpa ada jawaban yang gue kasih ke dia. Gue nggak pengen pertemanan gue berubah jadi pacaran dan kalo nanti putus gue jadi nggak kenal lagi sama Ryan. Tapi gue nggak tahu gimana caranya bilang ke dia. Gue takut dia kecewa dan nyakitin hati Ryan. Jadi gue nggak bilang ‘iya’ atau ‘tidak’ ke Ryan.
Hampir sebulan dari malam itu...
“Gimana In yang Ryan tanya waktu itu?” Tanya Ryan.
Ryan anak yang baik, dia setia menunggu gue sampai beberapa waktu, dan gue mulai percaya bahwa Ryan benar-benar serius tentang perasaannya ke gue.
“Iya udah deh Ryan Inca mau jadi pacar Ryan.” Jawab gue ke Ryan.
Malam itu Ryan benar-benar bahagia mendengar jawaban gue, gue juga bahagia karena bisa membuat Ryan bahagia.
Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu berlalu, senang, bahagia, itu yang kami rasakan. Pagi itu, sebelum gue bergegas ke sekolah, Ryan menunggu di depan rumah.
“Ada yang mau Ryan kasih.” Ucap Ryan.
Ryan memutar badan gue sehingga gue ada di depan dan membelakangi Ryan. Ryan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Mengenakan sebuah kalung di leher gue. Gue tertawa kecil.
“Selamat ulang tahun ya,” Ucap Ryan sambil tersenyum manis.
Ryan benar-benar  baik. Dia tidak pernah memperlakukan gue seburuk apa yang dilakukan Leo. Ryan selalu memberi kabar ke gue setiap mau latihan bola, setiap mau tidur, mau makan, Ryan sangat perhatian kepada gue. Kadang Ryan datang untuk sekedar mengantar gue sekolah, atau mengantar gue pulang ke rumah setelah gue pulang sekolah. Gue nggak pernah menuntut banyak ke Ryan. Gue bebasin Ryan buat nyaman dengan hobinya. Susah dan senang kami lewati bersama, sampai pada suatu hari...
“Hore kita udah sebulan sayang.” Ucap Ryan kepada gue pada saat umur pacaran kami genap sebulan.
“Hehe iya nih,” Jawab gue.
“Doanya apa yang?” Tanya Ryan.
“Semoga Ryan sama Inca bahagia selama-lamanya.” Gue mengucapkan kalimat itu sambil tersenyum lebar ke Ryan.
“Amiiiiinnn.. Eh iya, Ryan mau sparing bola nih, doain ya.” Ucap Ryan.
“Iya lah.” Jawab gue.
“Ryan mau kasih gol buat kamu.” Ucap Ryan sambil tersenyum manis.
Gue membalasnya dengan tersenyum pula.
Hari-hari yang gue jalanin bareng Ryan sangat menyenangkan. Ryan menerima gue apa adanya, begitu juga gue bisa menerima Ryan apa adanya. Gue dan Ryan sama-sama menjalani ini dengan tulus, mengingat umur kami yang masih muda dan masih harus banyak belajar tentang pacaran, gue dan Ryan bersama-sama menjalaninya dengan saling menjaga dan saling melengkapi.
Tiga bulan...
Gue mulai cuek, Ryan mulai kecewa, sampai ulang tahun Ryan tiba pun gue nggak sadar, gue sama sekali nggak memberikan kado apapun kepada Ryan di hari ulang tahunnya.
“Kamu ulang tahun?” Tanya gue kepada Ryan.
Ryan hanya diam.
“Kok nggak bilang ke Inca?” Gue bertanya lagi.
“Masa ulang tahun harus dibilangin dulu sih baru tahu.” Ucap Ryan dengan memasang wajah bete.
“Ciyeee-ciyee, ulang tahun, selamat ya.” Dengan bodohnya gue berusaha meledek Ryan agar dia tidak marah.
Ryan tersenyum.
“Iya sayang, makasih ya.” Ryan masih tersenyum dan mengurungkan niatnya untuk bete.
“Kamu mau kado apa?” Tanya gue kepada Ryan.
“Terserah Inca aja.” Jawab Ryan dengan memandang lembut kepada gue.
Esok harinya gue mencari sesuatu yang cocok untuk Ryan. Setelah gue berputar-putar di toko buku dan salon, gue akhirnya memutuskan untuk membelikan sebuah sweater di toko baju milik tetangganya Tantenya temennya Saudara temen gue. Mengingat sosok Ryan yang senang mengenakan sweater. Beberapa hari setelah itu gue memberikan sweater itu langsung tanpa gue bungkus karena gue malas membungkusnya. Sudah terlanjur tidak ada surprise dan juga terlanjur terlambat.
“Maaf ya yang, kadonya nggak di bungkus.” Ucap gue kepada Ryan.
“Iya, nggak apa-apa sayang.” Ucap Ryan terlihat sedikit kecewa.
“Yaudah, Ryan pulang dulu ya yang.” Lanjutnya.
Gue nggak nyangka kado dari gue yang sangat simpel dan nggak ada kesannya sama sekali itu ternyata dipake terus sama dia hampir setiap hari. Dan dari situ gue tahu, dia suka sama apa yang gue kasih, dan dia beneran sayang sama gue J
Gue mulai yakin ke Ryan, perasaan yang awalnya cuma sayang-sayangan sekarang gue cinta sama Ryan. Gue nggak mau kehilangan Ryan seperti gue melepas Leo. Itu jadi pelajaran buat gue, untuk mempertahankan apa yang gue miliki, dan jangan terlalu cepat melepaskan sesuatu yang kita punya dengan alasan keegoisan. Gue nggak akan ngelakuin kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
...
Dua tahun berlalu...
“Yang, main ke pantai yuk, sama temen-temen Ryan. Mau nggak?” Tanya Ryan.
“Nggak.” Jawab gue.
“Nggak gimana?” Ryan bertanya.
“Ya nggak suka aja, kamu aja ya.” Jawab gue.
Lagi-lagi Ryan memasang wajah kecewa.
“Yaudah, yaudah, iya Inca ikut.” Ucap gue sambil tersenyum kepada Ryan.
“Bener?” Tanya Ryan.
“Iya bener.” Jawab gue.
Itu pertama kalinya gue jalan-jalan ke pantai tapi gue nggak bete. Gue suka jalan-jalan waktu itu karena gue bisa menemani Ryan dan membuat Ryan senang.
“Ayo berenang” Ajak Ryan.
“Nggak ya, Ryan aja deh.” Ucap gue.
“Ayo sih yang, yang lain pada berenang tuh.” Ucap Ryan.
“Inca nggak mau.” Jawab gue.
“Yaudah deh, Ryan disini aja nemenin Inca, Ryan kan pacar yang setia.” Ucap Ryan sambil tertawa kecil.
Gue dan Ryan duduk di pondok di pinggir pantai sambil memandangi ombak dan dibelai-belai angin laut.
“Kalo kamu mau berenang ya nggak apa-apa kali, Inca tungguin di sini.” Ucap gue kepada Ryan.
“Nggak ah, di sini aja bareng Inca.” Jawab Ryan.
“Eh, kita jalan-jalan aja yuk, muterin pantai” ajak Ryan.
“Yuk.”Jawab gue.
Gue dan Ryan berjalan beriringan menyusuri garis pantai, ombak menyapa kecil pasir tersapu perlahan mengiringi langkah gue dan Ryan. Gue dan Ryan merasakan angin dan air yang memadu dan itu indah. Gue sedikit ada di depan mendahului langkah Ryan, tidak lama kemudian Ryan mempercepat langkahnya dan tiba-tiba dia berada di sebelah gue. Dia tersenyum. Sungguh indah hari itu serasa gue ingin menghentikan waktu untuk menatap senyumnya yang tulus penuh cinta.
“Inca seneng nggak?” Tanya Ryan.
“Seneng.” Jawab gue.
“Kalo Ryan seneng banget.” Ucap Ryan dan lagi-lagi tatapannya yang berbinar itu meluluhkan hati gue.
“Ryan bahagia punya Inca.” Ucap Ryan.
Gue dan Ryan lalu duduk di bebatuan menghabiskan waktu berdua, mendengarkan cerita-ceritanya, bercanda, tertawa, dan tidak terasa sore pun tiba.
“Ayo balik,” Ucap gue.
Gue dan Ryan pulang dengan rasa bahagia tiada tara tiada umpama. Di jalan pulang, rasa lelah menghampiri...
“DUARRR”. Motor yang dikendarai Ryan dan gue tiba-tiba terpental. Gue sempat hendak memegang tubuh Ryan  tapi dia terlanjur terlempar dan tertabrak mobil yang juga sedang melaju kencang. Tubuh gue terperosok di aspal jalanan, gue melihat darah. Darah dimana-mana. dan tiba-tiba....
gelap.
***
“Inca seneng nggak?” Tanya Ryan.
“Ryan” Ucap gue.
“Ryan bahagia sama Inca.” Ucap Ryan sambil tersenyum manis dan mengusap air mata gue.
 Tik...tok... tik... tok...
Detak jarum jam membangunankan gue  dari mimpi dan dari mata gue yang terpejam entah berapa lama, perlahan gue buka mata dan yang terlihat adalan remang-remang cahaya kecil yang menyakiti pandangan gue. Gue melihat lampu, dengan mengernyitkan dahi gue melihat sekitar, ruang kosong, hanya ada gue, tempat tidur, selang infus, dan nyokap gue.
“Alhamdulillah, Inca sadar” Ujar mama
“Ryan mana ma?” Tanya gue.
“Kamu nggak apa-apa kan nak?” Tanya mama
Kepala gue tiba-tiba pusing dan ingatan itu dengan cepat terbesit di otak gue, tabrakan kencang itu. Darah Ryan dimana-mana. Kecelakaan itu mengingatkan gue.
Gue bergegas mengangkat tubuh gue yang lemah.
“Inca mau cari Ryan.” Ucap gue.
Mama hanya menangis,
“Ryan udah nggak ada In.” Jawab mama.
Gue kaku mendadak. Jantung gue berdegup kencang, sangat kencang. Darah gue seakan mengalir naik ke kepala.
“Maksud mama apa?” Tanya gue
“Ryan udah meninggal di kecelakaan kemarin itu sayang.” Jawab mama, sambil memeluk gue.
Gue menangis, gue cuma bisa menangis, gue nggak berhenti menangis. Gue nggak pernah percaya itu terjadi, gue pegang erat kalung gue, gue nggak peduli air mata gue kering atau mata gue jadi buta karna gue nggak berhenti menangis yang jelas gue sakit banget. Hati gue sakit...
***
Angin sepoi meniup tubuh kecil gue, gue dengan kalung cantik tergontai di leher gue ini, bersama Ryan yang masih hidup di hati gue menghela nafas panjang dan memejamkan mata...
“Ryan seneng nggak?” Ucap gue.
“Inca bahagia punya Ryan” Gue menangis sesenggukan, air mata gue menetes, tepat di ombak yang menghampiri langkah kaki gue di pantai itu. Tepat di titik itu, saat terakhir gue dan Ryan masih bahagia. Seketika kaki gue lemas, gue membungkuk dan terduduk di batu menutup wajah... dan menangis...
Selembar foto gue dan Ryan sedang tertawa gue ambil dari saku celana, di belakangnya tertulis tulisan tangan gue
“I miss you..”
Inca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau komen? boleehhhh.. :)