ACTIVITY BASED COSTING (ABC)
DAN JUST IN TIME (JIT)
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur
senantiasa tercurah kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayahNya
sehingga makalah dengan judul Activity
Based Costing dan Just in Time ini
dapat terselesaikan tanpa hambatan apapun.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu
Esty Apridasari, MS.I. atas
bimbingannya dalam penyelesaian makalah ini, dan juga terima kasih kepada
rekan-rekan mahasiswa dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian
makalah ini.
Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan masukan-masukan yang membangun dari semua
pihak untuk membantu kemajuan pembuatan makalah di kesempatan yang berikutnya.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Untuk dapat mencapai kualitas produk
yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan perusahaan harus mampu hanya
menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Untuk mewujudkan
perlu suatu filosofi untuk menghilangkan pemborosan. Selain itu, usaha
menghasilkan produk yang bermutu hanya dapat dicapai bila proses bermutu dapat
dicapai. Perbaikan-perbaikan yang dapat dilakukan penghematan di berbagai
bidang hanya dapat dilakukan dalam suatu proses yang berlangsung panjang dan terus
menerus dan berkesinambungan.
Activity
Based Costing dan Just In Time merupakan filosofi pemanufakturan yang memiliki
implikasi penting dalam manajemen biaya. Keduanya berperan untuk
mengatur perusahaan agar lebih efisien. Oleh karena itu diperlukan pemahaman
yang lebih mengenai hal ini bagi pelaku bisnis, juga mahasiswa Ekonomi Islam
yang di masa yang akan datang akan turun ke dunia bisnis.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
konsep Activity Based Costing dan Just in Time?
2. Apa
manfaat dan kekurangan dari Activity
Based Costing dan Just in Time?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui konsep Activity Based Costing dan
Just in Time
2. Untuk
mengetahui manfaat dan kekurangan dari Activity
Based Costing dan Just in Time
BAB II
ACTIVITY BASED COSTING DAN JUST IN
TIME
A.
Activity Based Costing (ABC)
ABC
merupakan kependekan dari activity based
costing (pembiayaan atau penetapan biaya berdasarkan aktivitas). Karena
istilah ini bagi kalangan akademisi dan para manajemen puncak sudah cukup
popular maka istilah ABC tidak akan diterjemahkan akan tetapi masih tetap
dipakai sebagaimana adanya (aslinya)[1].
Munculnya
konsep ABC karena sistem ABT (akuntansi biaya tradisional) tidak menghubungkan
aktivitas pendukung dengan produk yang diproduksi. Di dalam konsep ABC, biaya
tidak secara langsung dikaitkan dengan produk akan tetapi biaya dikaitkan
dengan aktivitas terlebih dahulu dan biaya aktivitas ini akhirnya juga
dikaitkan dengan biaya pokok suatu produk. Di dalam sistem ABT (akuntansi biaya
tradisional), alokasi dilakukan dengan menggunakan metode langsung yang
mengalokasikan biaya departemen jasa ke departemen produksi dengan mengabaikan
kemungkinan beberapa aktivitas dari departemen jasa yang mungkin juga masih
bermanfaat kepada departemen jasa yang lain dan kemudian dalam tahap berikutnya
kemudian menambahkan kepada departemen produksi dan dari departemen produksi
dibedakan kepada masing-masing produk yang dihasilkannya.
1.
Pengertian
Activity Based Costing (ABC)
Menurut
Kusnadi dkk. dalam buku Akuntansi Manajemen Komprehensif Tradisional dan Kontemporer[2],
ABC secara garis besar didefinisikan sebagai suatu sistem penetapan biaya pokok
dimana banyak kumpulan biaya overhead
dialokasikan dengan mempergunakan dasar yang dapat mencakup satu atau lebih
faktor yang terkait dengan volume.
Dalam
kamus istilah ekonomi[3] activity based costing (ABC) merupakan
pendekatan penghitungan analisis biaya yang membantu manajemen untuk
menganalisis dasar perhitungan biaya secara lebih bermanfaat, menginformasikan
aktivtas seluruh bagian organisasi yang memberikan gambaran lebih jelas
terhadap hubungan antara aktivitas dan biaya, selain itu, ABC merupakan dasar
upaya untuk memahami pola perilaku seluruh jenis biaya organisasi yang
menghubungkan biaya operasi dalam sebuah rantai nilai agar manajemen mampu
mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong terjadinya pengeluaran serta
memfokuskan diri pada jenis biaya kunci dan selanjutnyamengelola biaya tersebut
secara lebih efektif.
Dari
beberapa pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa activity based costing merupakan pendekatan yang dilakukan untuk penentuan harga pokok produk
yang ditujukan untuk menyajikan informasi harga pokok produk secara cermat
dengan mengukur secara cermat konsumsi sumber daya dalam setiap aktivitas yang
digunakan untuk menghasilkan produk.
2.
Tingkatan Biaya dan Pengendara Biaya
ABC mengidentifikasi berbagai aktivitas, biaya
aktivitas dan pengendara biaya pada seluruh tingkatan yang berbeda pada suatu
lingkungan produksi. Dalam lingkungan produksi, ABC membagi ke dalam empat
tingkatan yaitu:[4]
a. Tingkatan
Unit
Biaya pada tingkatan
unit adalah biaya yang akan bertambah besar jika produksi ditingkatkan. Biaya
ini merupakan satu-satunya biaya yang dapat dialokasikan secara akurat terhadap
setiap unit sebanding dengan volumenya. Contoh biaya dari tingkat unit ini
adalah biaya listrik jika mesin menggunakan listrik di dalam memproduksi produk
dan biaya tenaga kerja pemeriksa jika setiap unit yang diproduksi harus
diperiksa oleh tenaga kerja. Biaya ini merupakan biaya variable ini yang sangat berfluktuasi
sejalan dengan fluktuasi produksi. Pengendara tingkat unit (unit tingkat
drivers) adalah ukuran dari berbagai aktivitas yang bervariasi terhadap volume
produksi.
b. Tingkatan
Batch
Tingkatan agregasi yang
lebih tinggi berikutnya adalah tingkatan batch.
Biaya tingkat batch adalah semua
biaya yang timbul karena disebabkan oleh jumlah batch yang diproduksi dan dijual. Contohnya biaya tingkat batch ini adalah biaya tatanan produksi
atau biaya pendirian dan biaya penanganan bahan-bahan yang akan dimasukkan
kedalam proses produksi. Jika biaya pesanan muncul dari pemasok karena adanya batch maka sebagian biaya untuk
mendapatkan bahan akan berada biaya pada tingkatan batch. Jika unit pertama yang seringkali dijadikan sampel deperiksa
maka biaya pemeriksaan ini juga termasuk biaya pada tingkatan batch.
c. Tingkatan
Produk
Tingkatan ini merupakan
tingkatan yang lebih tinggi lagi dan berada pada satu tingkatan di atas
tingkatan batch. Biaya pada tingkatan
produk adalah semua biaya yang timbul karena digunakan untuk mendukung jumlah
yang berberda-beda dari produk yang diproduksi. Tingkatan ini tidak depengaruhi
oleh produksi dan oleh penjualan batch
atau unit. Contohnya dari biaya tingkatan produk ini adalah serta merekayasa
produk, biaya pengembangan produk, membuat proto tipe produk serta merekayasa
produksi. Jika tenaga kerja yang ditugaskan untuk memproduksi perlu menjalani
latihan sebelum melakukan aktivitas produksi maka biaya latihan ini akan
dimasukkan sebagai biaya tingkatan produk.
d. Tingkatan
Pabrik (Plant Level)
Beberapa tingkat biaya
dan pengendara (drivers) dapat muncul
diatas tingkat produk. Hal ini meliputi tingkat lini produk, tingkat proses dan
tingkat pabrik. Sebagian besar aplikasi ABC menyadari hanya satu tingkat yaitu
tingkat pabrik (plant tingkat). Biaya
tingkat pabrik (plant tingkat cost) adalah biaya untuk menompang
kapasitas pada suatu tempat perusahaan. Contoh dari biaya ini dan asuransi
bangunan. Sedangkat ruangan kantor yang ditempati seringkali disebut sebagai
pengendara tingkat pabrik (plant
tingkat drivers) untuk menghubungkan
dengan biaya tingkat pabrik.
3.
Perbandingan
ABC dengan Penetapan Biaya Pokok Tradisional
Tanpa
memperhatikan jumlah departemen yang berbeda, kumpulan biaya overhead dan dasar
alokasi yang digunakan, akuntansi biaya tradisional ditandai oleh pemkaian
pengukuran tingkat unit yang eksklusif sebagai dasar pembebanan terhadap hasil
produksi. Untuk alasan inilah, ABT (akuntansi biaya tradisional) seringkali
disebut sebagai sistem penetapan biaya produk berdasarkan unit atau unit based sistem
(USB). [5]
Dalam
sistem ABC, sistem perhitungan (penetapan) biaya minimal dilakukan dua tahap
sedangkan di dalam sistem ABT (akuntansi biaya tradisional) hanya menggunakan
satu atau dua tahap saja. Dalam sistem ABC, kelompok biaya aktivitas, kelompok
biaya aktivitas dibentuk ketika biaya sumber daya dialokasikan kepada setiap
aktivitas menurut pengendara aktivitas. Sedangkan tahapan berikutnya, biaya
aktivitas dialokasikan dari kelompok biaya aktivitas kepada produk atau sasaran
biaya terakhir. Sebaliknya didalam sistem ABT (akuntansi biaya tradisional)
digunakan dua tahap manakal perusahaan mempunyai departemen atau pusat biaya
dan jika tidak mempunyai maka akuntansi biaya hanya menggunakan satu tahp saja.
Pertama, biaya dialokasikan kepada pusat biaya dan kemudian dialokasikan dari
pusat biaya kepada produk yang
diproduksi (tahap kedua). Umumnya sistem ABT hanya menggunakan satu
tahap perhitungan saja dan di dalam sistem ABC tidak ada satu tahap
perhitungan.
4.
Langkah-langkah
Pendekatan ABC
Langkah-langkah
pendekatan ABC adalah sebagai berikut[6]:
a. Mendefinisikan
produk yaitu membuat basis perhitungan harga dan profitabilitas produk.
b. Menetapkan
struktur biaya yaitu membagi biaya ke dalam empat kelompok yaitu biaya
langsung, biaya tidak langsung, overhead jasa
dan overhead umum.
c. Menentukan
pendorong proses, yaitu melalui alokasi dua langkah, pertama, menggunakan angka pendorong dengan membagikan biaya-biaya
dalam suatu kelompok aktivitas; kedua, membagikan
biaya aktivitas kepada produk.
d. Tahap
implementasi rencana, meliputi proses definisi produk, pembuatan tahap kode,
pemetaan produk (menghubungkan pusat biaya dan buku besar ke dalam produk),
pengembangan, perancangan dan pengujian program penetapan biaya.
e. Dukungan
top manajemen yaitu kebijakan atau keputusan strategis top manajemen untuk
mengimplementasikan ABCserta me-review pengaruh
metode ini terhadap tingkat profitabilitas dan pencapaian kinerja perusahaan.
5.
Manfaat
dan Kelemahan Sistem ABC
Sistem
ABC menghasilkan informasi dan biaya produk yang lebih dapat dipercaya akan
tetapi sistem ABC bukan hanya sekedar sistem alokasi biaya. Khusus untuk biaya
tingkat pabrik, ABC mempunyai sedikit atau mungkin tidak mempunyai manfaat sama
sekali jika dibandingkan dengan sistem biaya pada ABT. Semua sistem penetapan
biaya produk seringkali bertentangan di dalam mengalokasikan biaya tingkat
pabrik kepada biaya pokok produk. Di dalam volume produksi yang rendah, baik
sistem ABC maupun sistem ABT melaporkan biaya per unit yang lebih tinggi.
Solusi parsial persoalan ini adalah menyederhanakan alokasi bukan pada biaya
tingkat pabrik akan tetapi kepada produk, batch
atau unit sebagai ganti penerapannya maka biaya tingkat pabrik diperlakukan
sebagai biaya tingkat periodik. Akan tetapi biaya tetap di dalam sistem
penetapan biaya pokok langsung meliputi berbagai biaya yang diidentifikasi ABC
pada tingkat batch dan tingkat
produk.
B.
Just in Time (JIT)
Just in time merupakan
konsep filosofi yang memusatkan kepada penekanan biaya atau beban melalui
pengurangan biaya persediaan dimana bahan yang dibutuhkan beserta komponennya
hanya didatangkan ketika bahan dan komponen tersebut dibutuhkan untuk
diproduksi atau dipakai untuk memperlancar kegiatan produksi dan jika produksi
belum dimulai atau belum dilakukan dan berbagai komponen juga belum diperlukan
maka sebaiknya bahan dan komponen tersebut jangan sampai di perusahaan. Dengan
demikian maka perusahaan tidak perlu menyimpannya di dalam gudang.[7]
Just
In Time (JIT) merupakan integrasi dari serangkaian aktivitas desain untuk
mencapai produksi volume tinggi dengan menggunakan minimum persediaan untuk
bahan baku, WIP, dan produk jadi. Konsepdasar dari sistem produksi JIT adalah
memproduksi produk yangdiperlukan, pada waktu dibutuhkan oleh pelanggan, dalam
jumlah sesuai kebutuhan pelanggan, pada setiap tahap proses dalam sistem
produksi dengan cara yang paling ekonomis atau paling efisien melalui eliminasi
pemborosan (waste elimination) dan
perbaikan terus – menerus (contionous process
improvement).[8]
Penulis
memahami bahwa prinsip JIT dapat digunakan di dalam memperbaiki pembukuan rutin
seperti penempatan lokasi dan penyusunan alat-alat dan perabot yang digunakan
oleh proses produksi melalui mesin. JIT ini juga sangat berguna untuk mengatur
pekerjaan dalam kantor, bisnis jasa atau departemen jasa pada perusahaan
industri atau sangat berguna pula untuk mengatur mengurangi keperluan
persediaan di dalam pabrik atau di dalam supermarket serta juga akan memperlancar
usaha atau operasi perusahaan.
Aspek
yang paling disukai di dalam konsep JIT ini adalah adanya upaya untuk menekan
biaya persediaan, baik persediaan bahan baku, bahan penolong, barang dalam
proses, barang jadi dan berbagai persediaan lainnya yang diperlukan oleh
operasi perusahaan. Oleh karena itu, konsep ini tidak hanya terkait di bidang
produksi saja, akan tetapi telah merambah bidang lainnya akan tetapi bidang
yang pertama kali menerapkannya adalah bidang produksi.[9]
Bidang produksi merupakan awal bidang yang dapat memunculkan biaya bidang
lainnya dan oleh karena itu kesalahan di bidang ini juga akan berpengaruh
kepada bidang yang lain. Hampir semua kajian JIT kebanyakan menyinggung masalah
ini dan kemudian dinamakanlah konsep ini dengan nama produksi tanpa persediaan
(stockless produksi).
Menurut
Kusnadi dkk. JIT akan selalu berusaha mereduksi biaya persediaan sebab JIT
memandang bahwa persediaan merupakan pemborosan. Persediaan merupakan penahanan
aktiva lancar yang tidak menghasilkan jika disimpan dan hanya akan menghasilkan
atau merugikan jika dijual.[10]
Menyimpan persediaan jelas merupakan kerugian meskipun bagi para spekulan untuk
sementara dapat dipandang sebagai hal yang menguntungkan. Perhitungan para
spekulan tidak dapat dipandang sebagai aktivitas normal sebab spekulasi jangka
pendek bersifat untung-untungan yang tidak didasarkan atas perhitungan normal.
Dasar untung-untungan tidak dapat dijadikan pegangan dasar bagi manajemen sebab
keberhasilan saat ini belum tentu dapat diulang di masa yang akan datang.
Untung-untungan mempunyai tingkat profitabilitas yang tidak normal. Manajemen
perusahaan akan selalu bertindak profesional dengan dasar kalkulasi yang jelas
dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan obyektif serta tidak dibuat-buat.
Untuk
membuat biaya persediaan sama dengan nol atau mendekati maka beberapa
persyaratan ini perlu diperhatikan:
1. Persediaan
perlu dikurangi sampai suatu persoalan dapat ditemukan dan dapat
diidentifikasi.
2. Sekali
persoalan dapat diidentifikasi secara jelas maka persediaan dapat ditingkatkan
sampai dapat menyerap jumlah produk yang akan diproduksi serta perusahaan akan
dapat menjalankan roda proses produksi secara aman dan halus.
3. Persoalan
yang muncul perlu dianalisis dan kemudian cara terbaik dan praktis perlu
diidentifikasi untuk mereduksi atau menghilangkan persoalan yang muncul
tersebut.
4. Sekali
persoalan dapat direduksi atau dihilangkan maka tingkat persediaan akan dapat
direduksi juga sampai persoalan yang lain dapat ditemukan dan diidentifikasi.
5. Butir
2 sampai dengan butir 4 akan terus berulang sampai tingkat kemungkinan minimal
persediaan dapat dicapai.
JIT mempunyai empat aspek
pokok sebagai berikut:
1.
Produksi Just In Time (JIT), adalah
memproduksi apa yang dibutuhkan hanya pada saat dibutuhkan dan dalam jumlah
yang diperlukan.
2.
Autonomasi merupakan suatu unit pengendalian
cacat secara otomatis yang tidak memungkinkan unit cacat mengalir ke proses
berikutnya.
3.
Tenaga kerja fleksibel, maksudnya adalah
mengubah-ubah jumlah pekerja sesuai dengan fluktuasi permintaan.
4.
Berpikir
kreatif dan menampung saran-saran karyawan
1.
Prinsip Dasar Just In Time ( JIT )
Untuk
mengaplikasikan metode JIT maka ada delapan prinsip yang harus dijadikan dasar
pertimbangan di dalam menentukan strategi sistem produksi, yaitu:[11]
a.
Berproduksi
sesuai dengan pesanan Jadual Produksi Induk
Sistem manufaktur baru akan dioperasikan untuk
menghasilkan produk menunggu setelah diperoleh kepastian adanya order dalam
jumlah tertentu masuk. Tujuan utamanya untuk memproduksi finished goods tepat
waktu dan sebatas pada jumlah yang ingin dikonsumsikan saja (Just in Time),
untuk itu proses produksi akan menghasilkan sebanyak yang diperlukan dan
secepatnya dikirim ke pelanggan yang memerlukan untuk menghindari terjadinya
stock serta untuk menekan biaya penyimpanan (holding cost).
b.
Produksi
dilakukan dalam jumlah lot (Lot Size)
Yang kecil untuk menghindari perencanaan dan lead time
yang kompleks seperti halnya dalam produksi jumlah besar. Fleksibilitas
aktivitas produksi akan bisa dilakukan, karena hal tersebut memudahkan untuk
melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam rencana produksi terutama menghadapi
perubahan permintaan pasar.
c.
Mengurangi
pemborosan (Eliminate Waste)
Pemborosan (waste)
harus dieliminasi dalam setiap area operasi yang ada. Semua pemakaian
sumber-sumber input (material, energi, jam kerja mesin atau orang, dan
lain-lain) tidak boleh melebihi batas minimal yang diperlukan untuk mencapai
target produksi.
d.
Perbaikan aliran produk
secara terus menerus.
(Continous
Product Flow Improvement) Tujuan pokoknya adalah menghilangkan proses-proses
yang menimbulkan bottleneck dan semua
kondisi yang tidak produktif (idle,
delay, material handling, dan lain-lain) yang bisa menghambat kelancaran
aliran produksi.
e.
Penyempurnaan
kualitas produk (Product Quality Perfection)
Kualitas produk merupakan tujuan dari aplikasi Just in
Time dalam sistem produksi. Disini selalu diupayakan untuk mencapai kondisi
“Zero Defect” dengan cara melakukan pengendalian secara total dalam setiap
langkah proses yang ada. Segala bentuk penyimpangan haruslah bisa
diidentifikasikan dan dikoreksi sedini mungkin.
f.
Respek
terhadap semua orang/karyawan (Respect to People)
Dengan metode Just
in Time dalam sistem produksi setiap pekerja akan diberi kesempatan dan
otoritas penuh untuk mengatur dan mengambil keputusan apakah suatu aliran
operasi bisa diteruskan atau harus dihentikan karena dijumpai adanya masalah
serius dalam satu stasiun kerja tertentu.
g.
Mengurangi
segala bentuk ketidak pastian (Seek to Eliminate Contigencies)
Inventori
yang ide dasarnya diharapkan bisa mengantisipasi demand yang berfluktuasi dan
segala kondisi yang tidak terduga, justru akan berubah menjadi waste bilamana
tidak segera digunakan. Begitu pula rekruitmen tenaga kerja dalam jumlah besar
secara tidak terkendali seperti halnya yang umum dijumpai dalam aktivitas
proyek akan menyebabkan terjadinya pemborosan bilamana tidak dimanfaatkan pada
waktunya. Oleh karena itu dalam perencanaan dan penjadualan produksi harus bisa
dibuat dan dikendalikan secara teliti. Segala bentuk yang memberi kesan
ketidakpastian harus bisa dieliminir dan harus sudah dimasukkan dalam
pertimbangan dan formulasi model peramalannya.
Ketujuh
prinsip pelaksanaan Just in Time dalam sistem produksi di atas bukanlah suatu
komitmen perusahaan yang diaplikasikan dalam jangka waktu pendek, melainkan
harus dibangun secara berkelanjutan dan merupakan komitmen semua pihak dalam
jangka panjang. Dalam jangka pendek, ada kemungkinan aplikasi Just in Time
dalam sistem produksi justru akan menambah biaya produksi mengikuti konsekuensi
proses terbentuknya kurva belajar.
2. Manfaat
JIT
Seperti dikatakan dalam tulisan Agus Riyanto
dkk. dalam tulisannya mengenai “Just in Time” JIT memiliki manfaat antara lain:[12]
a. Waktu set-up gudang dapat dikurangi. Mengatur waktu secara signifikan
berkurang dalam gudang yang akan memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan
bottom line mereka untuk melihat lebih banyak waktu efisien dan fokus
menghabiskan di daerah lain.
b. Aliran barang dari gudang ke produksi akan meningkat.
Beberapa pekerja akan fokus pada daerah pekerjaannya untuk bekerja secara
cepat. Arus barang dari gudang ke rak ditingkatkan. Memiliki karyawan
difokuskan pada area-area tertentu dari sistem akan memungkinkan mereka untuk
proses barang lebih cepat daripada harus mereka rentan terhadap kelelahan dari
melakukan terlalu banyak pekerjaan sekaligus dan menyederhanakan tugas-tugas di
tangan.
c. Pekerja yang menguasai berbagai keahlian digunakan secara
lebih efisien. Karyawan yang memiliki
multi-keterampilan yang digunakan lebih efisien. Hal ini akan memungkinkan
perusahaan untuk menggunakan pekerja dalam situasi di mana mereka dibutuhkan
bila ada kekurangan pekerja dan permintaan yang tinggi untuk produk tertentu.
d. Penjadwalan produk dan jam
kerja karyawan akan lebih konsisten. Konsistensi yang lebih baik dari
penjadwalan dan konsistensi dari jam kerja karyawan yang mungkin. Hal ini dapat
menghemat uang perusahaan dengan tidak harus membayar pekerja untuk pekerjaan
tidak selesai atau bisa minta mereka fokus pada pekerjaan lain di sekitar
gudang yang belum tentu dilakukan pada hari normal.
e. Adanya peningkatan hubungan
dengan suplyer. Peningkatan penekanan pada hubungan pemasok / suplyer dicapai. Tidak
ada perusahaan yang ingin istirahat dalam sistem persediaan mereka yang akan
menciptakan kekurangan pasokan sementara tidak memiliki persediaan duduk di
rak-rak. Persediaan terus sekitar jam
menjaga pekerja produktif dan bisnis terfokus pada omset. Memiliki manajemen
berfokus pada pertemuan tenggat waktu akan membuat karyawan bekerja keras untuk
memenuhi tujuan perusahaan untuk melihat manfaat dalam hal kepuasan kerja,
promosi atau lebih tinggi bahkan membayar.
f. Perputaran Persediaan. Kecepatan dengan perputaran terjadi
melibatkan sumber daya perusahaan cair: tunai, akan ada peningkatan laba
bersih. Semakin pendek selang waktu antara penerimaan bahan baku dan
penggabungan dari mereka dalam proses manufaktur, semakin besar profitabilitas.
Filosofi persediaan diputar pada merancang sistem persediaan yang sempurna
memadukan dasar-dasar meminimalkan biaya dan memaksimalkan keuntungan.
Fundamental ini adalah laki-laki, material dan mesin sering disebut 3ms operasi
manufaktur atau persediaan, jika hasil seimbang baik dalam filsafat JIT bisa
diterapkan.
Kecerdasan, lebih relevan berguna bahwa manajer
keuangan di ujung jari mereka tentang bisnis mereka, pelanggan, pemasok atau
mitra dan operasi mereka akan memotivasi organisasi mereka untuk membuat
keputusan yang lebih baik dan meningkatkan keunggulan kompetitif mereka dengan
menerapkan konsep JIT ke persediaan atau manufaktur . JIT merupakan suatu
konsep yang dapat diterapkan pada banyak aspek dari bisnis selain persediaan
atau manufaktur.
Sebagai alat inventaris, dapat diawasi
oleh manajer keuangan untuk memonitor biaya dalam rantai nilai. JIT merupakan
paradigma baru dari strategi bisnis bergeser dari manajemen persediaan
tradisional ke manajemen rantai pasokan berbasis web yang meningkatkan
perputaran persediaan dan mengurangi memegang persediaan.
3.
Produksi
dengan Konsep Just in Time (JIT)
Produksi JIT adalah sistem penjadwalan produksi
komponen atau produk yang tepat waktu, mutu, dan jumlahnya
sesuai dengan yang diperlukan oleh tahap
produksi berikutnya atau sesuai dengan memenuhi permintaan
pelanggan.[13]
Produksi JIT dapat mengurangi waktu dan biaya
produksi dengan cara:
a.
Mengurangi atau meniadakan barang dalam
proses dalam setiap workstation (stasiun kerja)
atau tahapan pengolahan produk (konsep persediaan
nol).
b.
Mengurangi atau meniadakan “Lead Time”
(waktu tunggu) produksi (konsep waktu tunggu nol).
c.
Secara berkesinambungan berusaha
sekeras-kerasnya untuk mengurangi biaya
setup mesin-mesin pada setiap tahapan pengolahan produk (workstation).
d.
Menekankan pada penyederhanaan pengolahan
produk sehingga aktivitas produksi yang tidak
bernilai tambah dapat dieliminasi.
Perusahaan yang menggunakan produksi JIT dapat
meningkatkan efisiensi dalam bidang:
a.
Lead time (waktu tunggu) pemanufakturan
b.
Persediaan bahan, barang dalam proses, dan
produk selesai
c.
Waktu perpindahan
d.
Tenaga kerja langsung dan tidak langsung
e.
Ruangan pabrik
f.
Biaya mutu
g.
Pembelian bahan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konsep
ABC sebagai suatu sistem penetapan biaya pokok dimana banyak kumpulan biaya overhead dialokasikan dengan
mempergunakan dasar yang dapat mencakup satu atau lebih faktor yang terkait
dengan volume. Just in time merupakan
konsep filosofi yang memusatkan kepada penekanan biaya atau beban melalui
pengurangan biaya persediaan dimana bahan yang dibutuhkan beserta komponennya
hanya didatangkan ketika bahan dan komponen tersebut dibutuhkan untuk
diproduksi atau dipakai untuk memperlancar kegiatan produksi.
Sistem
ABC menghasilkan informasi dan biaya produk yang lebih dapat dipercaya akan tetapi
sistem ABC bukan hanya sekedar sistem alokasi biaya. JIT memiliki manfaat antara lain, Waktu set-up gudang dapat dikurangi, Aliran
barang dari gudang ke produksi akan meningkat Pekerja yang menguasai berbagai
keahlian digunakan secara lebih efisien, dll.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Riyanto. dkk. 2012. Just In
Time, Jambi: Fakultas Ekonomi Universitas Jambi.
Eti Rochaety dan Ratih Tresnati. 2005 Kamus Istilah Ekonomi, Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Kusnadi dkk. 2001. Akuntansi Manajemen (Komprehensif, Tradisional dan Kontemporer),
Malang: Universitas Brawijaya.
[1] Kusnadi dkk., Akuntansi Manajemen (Komprehensif,
Tradisional dan Kontemporer), Malang: Universitas Brawijaya, 200, hlm. 331
[2] Ibid, hlm. 334
[3] Eti Rochaety dan Ratih Tresnati,
Kamus Istilah Ekonomi, Jakarta: PT
Bumi Aksara, 2005, hlm. 3
[4] Kusnadi dkk. Op.Cit.
[5] Ibid, hlm. 338
[6] Eti dan Ratih, Op.Cit. hlm. 4
[7] Kusnadi dkk. Op.Cit. hlm. 353
[8] Agus
Riyanto, dkk. Just In Time, Jambi:
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, 2012 hlm.1
[9] Kusnadi dkk. Op.Cit.
[10] Ibid
[11]Agus
Riyanto dkk. Op.Cit. hlm. 6
[12] Ibid hlm 8-9
[13] Ibid

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)