BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Mengingat daya
teknologi informasi yang pesat meningkat, juga biayanya yang dapat dikatakan
semakin menurun sehingga dapat terjangkau ke semua kalangan, aktivitas auditing tentunya terkait
dengannya. Karena proses data yang dilakukan banyak menggunakan teknologi
komputer, maka pengujian atau proses auditing juga diperlukan dalam versi
elektronik, dengan menggunakan berbagai teknik dan aplikasi yang tentunya
semakin mempermudah proses auditing yang dilakukan auditor.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
perkembangan teknologi informasi pada saat ini?
2.
Apa pengaruh
teknologi informasi terhadap kegiatan auditing?
3.
Bagaimana teknik
audit dengan menggunakan teknologi informasi?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui perkembangan teknologi informasi.
2. Untuk mengetahui pengaruh teknologi informasi terhadap
kegiatan auditing.
3. Untuk mengetahui teknik audit dengan menggunakan
teknologi informasi.
BAB
II
TEKNOLOGI INFORMASI DAN TEKNIK AUDIT
A.
TEKNOLOGI INFORMASI
Teknologi
Informasi (TI), atau dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah information technology (IT) adalah
istilah umum untuk teknologi apapun yang membantu manusia dalam membuat,
mengubah, menyimpan, mengkomunikasikan dan menyebarkan informasi.[1] TI
menyatukan komputasi dan komunikasi berkecepatan tinggi untuk data, suara dan
video. Contoh dari teknologi informasi bukan hanya berupa komputer pribadi,
tetapi juga telepon, TV, peralatan rumah tangga elektronik dan peranti genggam
modem (misalnya ponsel).
Teknologi
informasi berada dalam suatu sistem komputer yang menurut sifatnya terdiri dari
dua, yaitu perangkat keras dan perangkat lunak.[2] Perangkat
keras (hardware) merupakan semua
bagian fisik komputer dan dibedakan dengan data yang berada dan beroperasi di
dalamnya, sedangkan perangkat lunak (software)
adalah komponen komputer yang menyediakan instruksi untuk pengoperasian hardware dalam penyelesaian tugasnya[3]
Hardware dan
software keduanya tidak dapat
dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, karena keduanya merupakan
komponen-komponen yang harus beroperasi bersamaan agar sistem dapat berjalan
lancar. Masing-masing komponen saling melengkapi dan jika salah satunya
mengalami gangguan, maka berpengaruh terhadap keseluruhan sistem yang kemudian
tidak dapat berjalan dengan sempurna.
B. TEKNOLOGI
INFORMASI DALAM AUDIT
Dalam sistem
organisasi saat ini tidak dapat terlepas dengan adanya teknologi informasi.
Beraneka transaksi bisnis banyak diolah melalui sistem komputerisasi, dan dapat
ditelusuri dengan mudah dengan sistem informasi. Dokumen-dokumen yang berkaitan
dengan organisasi seperti surat pesanan, pembelian, pengiriman, faktur
penjualan, dll. dapat dipertahankan dengan baik. Adanya software-software penunjang proses bisnis juga menjadi faktor
mudahnya pengolahan data yang nantinya memungkinkan auditor menelusuri setiap transaksi
melalui akuntansi.
Saat ini
sistem komputer mengalami begitu banyak perkembangan kehandalan dalam dalam
segi informasi keuangan. Komputer dapat memroses transaksi secara maksimal dan
menghilangkan kesalahan manusia yang mungkin terjadi dalam sistem manual. Di
lain pihak, ada pula kasus yang terjadi atas kesalahan program yang
mengakibatkan kekeliruan dalam pemrosesan seluruh transaksi. Selain itu,
kesalahan yang terjadi bisa saja tidak terdeteksi secara personal karena
sedikit orang yang terlibat dalam pengolahan data. Dengan demikian teknologi
komputer belum menjamin bahwa outputnya
akan valid.
Dalam sistem
pemrosesan data mekanis dan manual, jejak audit atau jejak transaksi
dokumentasi hardcopy menghubungkan
masing-masing transaksi dengan rangkuman angka dalam laporan kekuangan.
Komputer di lain pihak sanggup membuat, memutakhirkan dan menghapus data secara
elektronis dalam catatan berbasis komputer tanpa adanya bukti yang kasat mata
(berwujud) bahwa suatu perubahan telah dilakukan. Selain itu kemajuan
telekomunikasi telah membentuk suatu lingkungan di mana data dapat diubah tidak
hanya oleh komputer khusus, tetapi juga oleh berbagai macam komputer baik di
dalam maupun di luar organisasi klien.
Auditor
biasanya memperoleh pemahaman tentang pengendalian internal dan melakukan tes
pengendalian, tes substantif transaksi, dan prosedur verifikasi saldo akun
dengan cara yang sama seperti halnya sistem tersebut seolah-olah seluruhnya
manual. Auditor bertanggungjawab atas penguasaan atas pemahaman pengendalian
aplikasi dan pengendalian umum komputer karena pengetahuan semacam itu
bermanfaat dalam pengidentifikasian resiko yang dapat mempengaruhi laporan
keuangan. Auditor lantas membandingkan hasil prosedur tadi dengan keluaran
klien.[4] Dengan
demikian, dalam hal ini perlakuan auditor terhadap data komputer serupa dengan
perlakuannya terhadap data manual.
B.
TEKNIK AUDIT DENGAN SISTEM INFORMASI
Piranti lunak
audit memberdayakan auditor memakai prosedur analitis yang lebih kuat dan
canggih. Piranti lunak audit juga memungkinkan auditor memasukkan file data
klien dan melakukan lebih banyak tes ekstensif.
Ketika
organisasi memperluas penggunaan teknologi informasi, pengendalian internal
acapkali dimasukkan ke dalam aplikasi yang hanya terlihat dalam format
elektronik. Tatkala dokumen sumber tradisional dalam bentuk elektronik dan
bukan merupakan hardcopy, auditor
harus mengubah pendekatannya terhadap auditing. Pendekatan seperti ini disebut
pendekatan melalui komputer (auditing
through computer), dengan memakai teknik audit berbantuan komputer (TABK) /
computer assisted audtit technicques
(CAAT) untuk membantu melaksanakan audit yang lebih efisien dan efektif.[5]
Ada beberapa pendekatan yang dapat
dipilih oleh seorang auditor apabila menggunakan teknik audit berbantuan
komputer, yaitu melakukan pengujian aplikasi atau melakukan pengujian substantif.
Beberapa pendekatan yang dapat
dilakukan apabila auditor tersebut memilih melakukan pengujian aplikasi ada tiga[6]:
1. Test Data
Dalam pelaksanaan
prosedur audit. teknik data uji digunakan dengan cara memasukkan data ke dalam
sistem komputer entitas. dan kemudian hasil yang diperoleh dibandingkan dengan
hasil yang telah ditemukan sebelumnya.[7] Jika ada hasil yang tidak sesuai, mungkin
ini suatu indikasi penyimpangan logika atau mekanisme pengendalian.
Tujuan audit adalah untuk menentukan apakah sistem komputer klien sanggup
mengidentifikasi dan mengolah secara benar transaksi yang sahih dan menolak
transaksi yang tidak sahih. Melalui sistem klien, auditor menelusuri sampel
transaksi ke penempatan terakhirnya.[8]
Ketika memakai data uji, auditor mengetahui apa masukannya, bagaimana transaksi
tersebut harus diolah, dan apa keluaran yang seharusnya.
Data Uji
|
Induk berkas
klien
|
Hasil
Komputasi
Auditor
|
Program
Komputer
Klien
|
Perbandingan
|
Hasil
sesungguhnya
|
Keterangan : - Pemrosesan
klien
-
Pemrosesan auditor
Data uji lazimnya dipakai secara
mendadak sehingga personalia klien dapat memodifikasi program komputer untuk
mengantisipasi aplikasi data uji auditor. Karena auditor mengetahui kesalahan
pemrosesan apa yang akan diidentifikasi, maka data uji memberdayakan auditor
untuk mengecek daftar kesalahan terhadap masukan.
2. Integrated Test Facility (ITF)
Adalah suatu
pendekatan teknik terotomatisasi yang memungkinkan auditor menguji alur logika
dan kendali suatu aplikasi pada saat operasi normal berlangsung.[9] Fasilitas test terpadu memasukkan data bersamaan dengan data
aktual/sesungguhnya dalam operasi aplikasi normal. ITF membentuk suatu entitas fiktif (misal: pelanggan, departemen,
divisi atau karyawan) dalam basis sistem entitas. Hal itu bisa dilakukan dengan
membuat induk file simulasi (dummy master files) atau membubuhkan
induk catatan simulasi (dummy master
records) terhadap file klien yang
ada.
Keunggulan utama teknik ITF adalah
keyakinan yang diperoleh auditor bahwa program yang diujinya sama dengan
program yang dipakai oleh klien untuk mengolah data sehari-hari.[10]
Semakin sering auditor menerapkan prosedur tes selama periode yang diaudit,
maka semakin kuat keyakinan auditor. Di samping biaya penggunaan teknik ini,
kelemahan utama teknik ITF adalah
penghapusan data uji dari catatan klien. Data uji biasanya dihapus dengan
membalikkan atau membatalkan transaksi. Auditor harus sangat berhati-hati untuk
memastikan bahwa semua data uji sudah dihapus dari sistem klien, dan bahwa
proses yang dipakai untuk menghapus data uji tersebut tidak malah menciptakan
tambaan kesalahan dalam sistem klien.
Transaksi
Masukan
Produksi
|
Program
Aplikasi
|
Berkas Data
(Berkas Produksi & Data
ITF)
|
Transaksi
ITF
|
Laporan keuangan yg
mencakup data ITF
|
Laporan
Keuangan tanpa data ITF
|
3. Parallel Simulation (PS)
Pendekatan ini mengharuskan auditor
untuk membuat suatu program yang menyimulasikan fungsi utama tertentu dari
aplikasi yang sedang diuji.[11] Auditor memproses ulang data masukan klien dengan memakai program tiruan
terkendali (controlled duplicate program)
di bawah pengawasan auditor. Metode ini disebut simulasi paralel karena
perangkat lunaknya dirancang untuk mereproduksi atau mensimulasi pemrosesan
data riil klien.
Program-program yang dipakai
dalam simulasi paralel dapat berupa purpose
written, generalized audit software, atau utility programs. Seandainya tidak, maka untuk simulasi paralel
auditor menggunakan program klien klien terkendali. Auditor dapat membandingkan
keluaran pengoperasian program program auditan tersebut dengan keluaran asli
klien. Simulasi paralel bermanfaat karena memberdayakan auditor untuk menguji
masukan asli dengan program terkendali sehingga memupus kebutuhan akan
pembuatan data uji.[12]
Sedangkan untuk melakukan pengujian
substantif yang mempunyai arti hampir sama dengan audit rinci
atau audit lanjutan. Pengujian substantif lebih sempit maknanya, yaitu pengujian untuk menentukan apakah suatu
masalah atau penyimpangan benar-benar
terjadi atau tidak. Masalah atau penyimpangan tersebut adalah firm
audit objectives (FAO).[13] (misalnya detail transaksi atau saldo perkiraan) auditor dapat memilih teknik yang terdiri dari dua jenis[14]:
1. Embadded Audit Module (EAM)
Merupakan suatu teknik dimana satu
atau lebih modul program tertentu dilekatkan di suatu aplikasi untuk mencatat
secara tersendiri serangkaian transaksi yang telah ditentukan ke dalam file yang akan dibaca oleh auditor
2. Generalized Audit Software (GAS)
Adalah pendekatan yang menggunakan
suatu perangkat lunak tertentu yang dimanfaatkan untuk menyeleksi, mengakses,
mengorganisasikan data untuk kepentingan pengujian substantif.[15]
Pendekatan ini memungkinkan auditor untuk mengakses dan mengambil berbagai file
data ke dalam computer untuk kemudian melakukan berbagai pengujian yang
diperlukan. Pendekatan ini merupakan teknik yang paling populer karena relatif
lebih mudah karena tidak diperlukan kemampuan teknik komputasi yang cukup
mendalam.
Ada beberapa keuntungan menggunakan TABK antara lain adalah:
1. Untuk
database yang berisikan ribuan transaksi, yang tidak mungkin dilakukan dengan
cara manual, maka TABK sangat membantu untuk memfokuskan audit.
2. TABK mampu
memeriksa 100% seluruh transaksi dalam sebuah database.
3. TABK mampu
memberikan informasi untuk analisis data dan melihat profil data.
4. Waktu untuk
proses audit lebih cepat dengan bantuakn TABK ini.
Selain
mempunyai beberapa keuntungan TABK mempunyai beberapa kekurangan yaitu :
1.
dibutuhkan waktu yang lama untuk
mempelajari teknik ini.
2.
Di perlukan biaya yang besar untuk
pelatihan para staf untuk menggunakan software
tersebut, karena untuk menjadi mahir, software-software
ini menuntut pengembangan dan pemeliharaan keahlian secara kontinyu.
BAB
III
KESIMPULAN
Teknologi informasi
saat ini semakin berkembang dengan kemajuan yang menunjang teknologi pemrosesan
data, telekomunikasi, kapabilitas jaringan maju, dan perdagangan elektronik.
Teknologi informasi memegang peranan penting dalam konteks auditing, selain
membantu pekerjaan secara elektronik, juga digunakan sebagai sarana dalam
berbagai aktivitas bisnis yang memungkinkan auditor mengujinya. Dengan
demikian, banyak aplikasi yang menunjang aktivitas auditor untuk mempermudah
auditor memeriksa data yang tidak secara manual.
Karena perkembangannya
yang semakin kompleks, banyak software yang
diciptakan dan dapat digunakan sebagai sarana auditor dalam menguji data.
Sehingga pengujian dapat dilakukan dengan semakin meluas, pemrosesan data akan
menimbulkan keyakinan yang lebih besar, dapat memverifikasi data atas
kekeliruan yang terjadi, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Ema. 2006. Teknik Audit Berbantuan Komputer. Jakarta:
Lembaga Pengembangan Universitas Gunadarma http://theakuntan.com/teknologi/teknik-audit-berbantuan-komputer-tabk/
Henry Simamora.
2002. Auditing Jilid I. Yogyakarta:
UPP AMP YPKN
http://id.wikipedia.org/wiki/Perangkat_keras
Nurharyanto, dkk.
2009. Dasar-Dasar Auditing, Pusat
Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP
Williams dan
Sawyer. 2007. Using Information
Technology Terjemahan Indonesia. ANDI
[6] Ema, Teknik Audit Berbantuan
Komputer, (Lembaga Pengembangan Universitas Gunadarma, 2006) http://theakuntan.com/teknologi/teknik-audit-berbantuan-komputer-tabk/
[13] Nurharyanto, dkk., Dasar-Dasar
Auditing, (Pusat Pendidikan dan Pelatiha Pengawasan BPKP, 2009) hlm. 117

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)