CINTA SETANGGUH KARANG
Sayu mataku menangkap lirih getaran cahaya yang
datang. Pandanganku berkunang-kunang, ada malaikat maut disebelahku dengan
tatapan tajam meradang. Aku tidak bisa lakukan apa-apa kecuali diam...
menunggunya.
Aku tertidur.
Kami berlarian, gurat bahagia dari paras
cantiknya tergambar jelas. Aku tertangkap olehnya, dia memelukku erat, sangat
erat. Hangat. Kami tertawa bersama, aku merebahkan tubuhku dipangkuannya. Kami
bahagia.
Nafas tersengal.
Mataku terbuka lagi, tidak, mimpi itu bukan
hanya mimpi, mimpi itu datang dari otakku yang terus saja memutar kenangan-kenangan kami,
kapan dia datang? Sebelum malaikat ini habis kesabarannya dan mencabut nyawaku
dengan paksa. Cepatlah, tidak lama lagi...
Itu dia.
Dia datang. Gadis itu. Langkahnya terburu memasuki
ruangan ini, menghampiriku. Derik kecil pintu ini dibukanya, dia membelaiku
lembut, aku lambat menahan air mata yang sudah kering dan tak akan lagi
mengalir. Dia masih membelaiku. Tanpa bicara. Matanya... aku tak sanggup
menatapnya. Seolah takut kehilangan. Dia tidak tahan lagi, kemudian rintik air
matanya menetesi tubuh lemahku, nafasnya terbata-bata, aku sangat ingin menyeka
air matanya, tapi tidak bisa. Dia memelukku, erat seperti biasa, hangat seperti
kemarin. Aku mencoba bangun, niatku mengajaknya bermain lagi, niatku membuat
dia riang kembali. Tapi aku tidak mampu, aku tidak bisa bangun dan hanya
menghela nafas dipelukannya.
Aku tertidur.
Aku bermimpi.
Lagi.
***
-PERTEMUAN
PERTAMA DENGANNYA-
Aku merengkuh di balik garis-garis besi ini.
Duniaku hanya sesempit ini dan hanya akan berubah jika tiba masa Tuhan
menunjukkan jodoh yang akan memilihku. Satu demi satu sahabatku sudah
mendapatkan jodohnya, dan aku masih bermimpi untuk berlari, bermimpi
dicintai...
Mendung.
Tapi aku
tidak melihat kabut melekuk di atas langit, tapi aku tidak merasakan angin yang
membelai pori-pori kehidupanku seperti mereka... mereka yang ada di sana. Lalu
gerimis seketika...
Ada yang
datang, teman-temanku sigap saling berusaha menarik perhatian tamu kami di
malam gerimis ini. Aku masih diam, hanya memandang, biarkan saja mereka yang
menyapaku terlebih dahulu, bukan aku, karena aku tidak murahan seperti
teman-teman. Seorang wanita berumur, menatapku, aku memang laki-laki normal
yang butuh kasih sayang, tapi tolong, jangan wanita ini Tuhan. Dia masih
melihat-lihat, aku membuang wajahku ke arah berlawanan. Aku tidak peduli apa
aku akan dimarahi atau dipotong jatah harian oleh bosku setelah ini. Tapi aku
tidak suka wanita ini. Tanpa bicara apa-apa wanita itu pergi, mungkin hanya
mampir sebentar untuk berteduh sesaat dari hingar-bingar di luar.
Tamu
yang datang malam ini cukup ramai, ada yang hanya melihat-lihat, ada juga yang
berbincang dengan bosku, berbincang dengan temanku, dan tidak ada satupun yang
mendekatiku.
“Ah, aku
basah kuyup.” Ucap seorang gadis kepada temannya sambil tertawa kecil dan lalu
membuka jaket jeansnya yang terlihat
basah. Spontan aku berdiri, mencari-cari sela untuk melihat wajahnya, dari
suaranya terdengar menyenangkan. Ini dia, wajahnya terlihat dari sini, cantik,
senyumnya demikian manis. Aku terus memandanginya dari sini. Perlahan dia
mendekati kerumunan kami, satu per satu dia amati sambil tersenyum, lalu
berhenti tepat di depanku. Bola matanya hitam dan indah seperti rembulan,
seperti bercahaya. Kami bertatapan.
“Hei,
kok ngeliatin aku terus?” Tanyanya.
Jantungku
berdegup seribu kali lebih cepat dari detak jarum jam. Kuulurkan tanganku
kepadanya.
“Nama
aku Oliv” Ucapnya sambil menyambut jabat tanganku. Aku masih diam.
“Kamu
lucu.” Ucapnya lalu tersenyum.
Tatapannya
begitu hangat. Tuhan, inikah jodohku... sepertinya aku mulai jatuh cinta. Dia
membawaku keluar. Aku semakin mencoba dekat dengannya.
“Kamu cantik”
Ucapku.
Dia
tertawa kecil. “Oh iya, ikut aku yuk?” Tanyanya.
“Kemana?”
“Kerumahku.”
Kami
berdialog.
Tidak
lama setelah itu bosku membawakan sekotak makanan dan sebuah nota kecil. Ya.
Dia memilihku, dia menyukaiku, dia membeliku. Kucing medium jantan seharga satu
juta tiga ratus rupiah tanpa nama. Aku memang bukan kalangan bangsawan persia
yang tampan dan menyenangkan, aku hanya aku yang seperti ini, tapi jika dia
menyukaiku, mau apa.
Dimasukkannya aku kedalam
kotak berwarna kuning cerah, mulai sekarang aku suka warna ini. Dia membawaku
keluar dari ruko petshop kecil ini.
“Tapi masih gerimis, kamu mau
hujan-hujanan denganku?” Tanyanya.
“Tentu saja” Aku menjawabnya
cepat.
Beginikah gerimis? Mulai
sekarang aku menyukai gerimis.
Mulai sekarang aku
menyukaimu...
Oliv,
tahukah kamu betapa bahagianya aku bertemu denganmu, dengan keluargamu, sampai
aku seriang ini sampai di rumahmu. Tidak, aku bukan sedang ketakutan, aku
berlari karena aku senang bisa bebas dari kurungan, aku bisa berlari Liv, aku
menelusuri ruang demi ruang di rumahmu dengan gembira dan kamu juga tertawa,
kamu tahu? Ini masa yang sangat ingin kuulangi. Masa melihat kamu tertawa lepas
karena aku.
Bahagia.
Bahagia.
Bahagia.
Bahagia.
Aku
tidur dipangkuannya.
“Oliv
sayang banget sama Jona.” Dia selalu katakan itu kepadaku.
Ya,
Jona. Itu nama yang diberikannya padaku. Jonathan Saputra, nama yang baik
bukan? Dia menyayangiku, tentu saja aku juga menyayanginya. Tidak. Aku bahkan
mencintainya.
Bahagia.
Sampai tidak terhingga lagi rasa bahagia yang aku rasa. Sedetik. Dua detik.
Sebulan. Dua bulan. Setahun. Dua tahun. Tiga tahun. Empat tahun. Tapi tidak
selama itu, aku tidak bertahan dengannya sampai sedemikian lamanya. Karena aku
mengenal orang ketiga diantara kami. Kenalkan, namanya “cytauxzoonosis”, virus kejam yang memisahkan aku darinya. Meski aku
tidak menyalahkan karena dia tidak memberiku vaksin yang baik, tapi aku sedikit
kecewa padanya karena hal ini.
***
Terbangun.
Masih dipelukannya.
Masih tak berdaya.
“Maafin Oliv Jon” Oliv
terisak memelukku.
Sudah tiga hari aku dirawat di klinik hewan ini
dengan kondisi kritis. Aku tahu kamu tidak pernah bermaksud mengabaikanku, aku
tahu kamu hanya sedang sibuk dengan kuliahmu, aku tahu kepedulianmu paling
besar terhadapku. Tapi Tuhan sudah menuntun usiaku, Liv. Aku mau pergi dari
rumah agar kamu tidak temukan bangkaiku. Tapi kamu menemukanku beberapa minggu
yang lalu di kebun tetangga belakang rumahmu. Aku mau pergi tanpa membuatmu
menangis. Tapi kamu tetap menangis. Aku mau pergi dengan kamu tetap bahagia
bersamanya, pacarmu sejak dua tahun lalu. Maaf, aku tidak bisa mencintai dia,
kucing angora blasteran kucing garong yang kamu bawa kerumah dan kamu jodohkan
padaku. Aku tidak bisa karena aku hanya mencintaimu dan tidak akan ada wanita
lain Liv. Maaf karena aku pergi secepat ini dan sudah jangan menangis. Aku akan
tidur nyenyak dirawat dokter klinik ini, pulanglah dan makan dengan nyaman, aku
tidak akan lagi mengganggu makan siangmu seperti biasanya.
***
-SEHARI
SETELAH DIA MENJENGUK -
Malaikat
maut ini masih disampingku, dia akan membawaku pergi jauh, meluluh. Sebentar
ya, aku masih menunggunya, sebentar saja...
Suara
motornya berhenti di depan klinik, sementara petugas klinik sedang membungkus
bangkaiku dengan rapih, dia menangis memasuki ruangan ini. Ya. Aku mati juga
akhirnya Liv. Bukan salahmu, lihatlah merah semua parasmu, aku tidak suka
melihat matamu yang seperti itu. Sudah Liv, aku hanya mau melihat senyummu
sebelum aku terbang ke surga.
Dia
membawaku kerumah, tapi bedanya ragaku kosong dan Oliv tidak ceria seperti dulu
pertama kali dia membawaku ke rumah. Lagi-lagi hujan. Baju Oliv sudah kuyup
karna hujan tapi dia tidak memperdulikan itu, dia hanya menangis sepanjang
jalan. Sampai di rumah masih menangis, Oliv tidak dapat menahan kesedihannya,
dia membuka bungkusanku. Aku sudah kaku. Aku tidak berkedip, Oliv memelukku,
dengan tangisan yang pecah ruah. Dia memelukku, lalu menguburku di bawah tetes
gerimis, aku menyatu dengan tanah. Dia melepaskanku, seraya membisikkan bahwa
dia sangat mencintaiku dan akan terus mencintaiku.
Selamat tinggal, tidur yang nyenyak, makan yang
enak.
Aku memaafkanmu, seperti karang memaafkan
ombak.
Aku tulus padamu, setulus karang pada hujan.
Karena itu, Tuhan izinkan hidup lagi diriku,
Di hatimu.
Cinta Setangguh Karang 1172 Kata. Diikutsertakan Pada #ProyekMenulis @NulisBuku
Aku
hanya menyukai menulis dan semua hanya mengalir saja seperti gerimis, aku
seorang yang riang dan bermimpi untuk tidak mati sebelum orang disekitarku
bahagia. Aku menulis ini sambil menangis berdasarkan kisah nyataku dan rasa
sedih ditinggal mati kucing kesayangan “Jona Saputra”. Semoga kamu tenang
disana Budd. J salam.
-@aassania-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)