Teruntuk Gadis Kecil Bermata Teduh


 

Metro, 28 Desember 2020

Hai kamu, pagi ini kesiangan lagi ya bangunnya? Kamu terlalu banyak bersedih sih. Selamat ulang tahun ya yang ke-9. Seperti biasa, tidak ada kado, tidak ada kue ulang tahun, tidak ada ucapan spesial. Tidak apa-apa, meski begitu ada satu rahasia yang akan aku beritahu padamu. Sebenarnya, bapak dan ibu amat sangat menyayangimu walaupun belum bisa membelikanmu barang-barang yang mewah, atau membawamu ke tempat-tempat yang menyenangkan. Tapi kamu harus janji ya, suatu hari nanti kamu harus mampu membelikan barang bagus dan membawa mereka pergi ke tempat yang indah untuk bersenang-senang.

Jika aku ada di depan matamu saat ini, mungkin kamu akan bingung mengapa air mataku mengalir begitu banyak tapi aku tersenyum begitu bahagia dihadapanmu. Aku begitu ingin memelukmu se-erat yang aku bisa, ingin merengkuh ke dalam bola matamu yang teduh itu.

Terima kasih ya, sudah tumbuh menjadi anak baik yang kuat dan pantang menyerah. Mereka, teman-teman seusiamu yang kamu anggap lebih hebat, lebih beruntung dan lebih bahagia, pada akhirnya kamu sama hebat, beruntung dan bahagianya seperti mereka.

Kamu adalah seorang anak penakut yang berani. Betapa kamu begitu takut untuk berbicara meskipun kamu benar. Betapa kamu takut untuk maju ke depan padahal kamu bisa. Betapa kamu merasa begitu kecil dan rapuh padahal kamu mampu. Kamu belum menyadari bahwa kamu punya kekuatan besar yang bisa mengalahkan omong kosong orang-orang tentang dirimu. Ya. Pada akhirnya kamu berani mengalahkan dirimu sendiri.

Jika boleh jujur, aku rindu, sangat rindu padamu. Rindu sekolah, seragam merah putih itu, sepatu warior favoritmu, lapangan dan rumput hijau itu, buku-buku PR-mu, tulisan-tulisan kecilmu, caramu menangis, caramu tertawa, semua hal dari dirimu di masa itu, ingin kuulangi lagi barang sejenak. Kamu adalah diriku dalam versi putih. Belum mengenal hitam dan merah, atau ungu. Aku adalah dirimu yang kamu ciptakan melalui segala macam jatuh bangun, kegigihan, semangat dan kebaikan hati.

Kamu begitu suka belajar, begitu menyukai buku-buku pelajaran yang dipinjami sekolah. Kamu suka membaca setiap halaman demi halaman. Kamu anak yang pintar. Aku beri bocoran ya, di akhir tahun ajaran nanti pun kamu masih juara bertahan kok di sekolah, bahkan terus berlanjut sampai kamu lulus SD, tetap selalu kamu yang ranking 1 di kelas itu. Aku rasa kamu terlalu giat belajar bukan hanya karena ibu sering mengomelimu, tapi karena memang pada dasarnya kamu adalah anak yang gigih. Kamu akan bersekolah di SMP dan SMA terbaik di Kota sebelah, tapi di sana kamu akan mengenal apa itu perundungan. Kuat-kuat ya. Ah, aku tidak ingin membahasnya, mengingatnya saja sudah membuat aku merinding. Aku sangat ingin memelukmu dan mengobati begitu banyak rasa perih yang ada di dadamu. Tapi salutnya, kamu menahan segala perbuatan buruk teman-temanmu dengan sikap ‘bodo amat’ mu yang membuatmu terlihat keren, aku tahu seringkali kamu takut dan ingin menangis. Ada 1001 alasan bagimu untuk membenci mereka. Tapi kamu tidak lakukan itu. Aku suka hatimu yang pemaaf itu. Bahkan kamu terlihat ceria dan baik-baik saja untuk bersikap baik pada orang-orang yang menyakitimu. Hebat!

Butuh waktu lama untuk kamu bisa mendapatkan kepercayaan dirimu, kamu berubah, semua hal darimu berubah kecuali satu, keteguhanmu. Ketika kamu bercita-cita, tidak ada satupun hal yang tidak bisa kamu wujudkan sebab tidak ada yang bisa menandingi kegigihanmu. Kamu terlalu banyak menahan banyak hal, ibu bapak tidak bisa membelikanmu barang-barang yang bagus seingin apapun dirimu, kamu hanya diam dan menahan. Kamu bukan anak yang merepotkan, dan tahukah, ibu dan bapak begitu bangga padamu saat ini. Kamu mampu meraih cita-citamu menjadi seorang guru dan juga menjadi seorang dosen, kamu adalah seseorang yang dulu sering menuai ejekan orang lain, dan hari ini, kata-kata yang keluar dari ucapanmu menjadi petuah bagi orang lain.

Oh iya, ada kabar baik yang ingin kusampaikan, kelak kamu akan menikah dengan seseorang yang begitu bertanggungjawab, setia dan menyayangimu. Dia orang yang akan menyeka air matamu saat kamu bersedih. Dia orang yang akan menciptakan begitu banyak tawa dan bahagia dalam hidupmu. Dia pasti akan datang menemuimu suatu hari nanti, kamu hanya perlu menunggunya saja.

Sedari kecil kamu tidak pernah punya mainan, bahkan sekedar boneka kesayangan pun tidak ada. Tapi tenang saja, aku sudah membelikan banyak sekali mainan untuk anakmu. Ya. Pada akhirnya kamu bisa melahirkan. Sebuah proses yang begitu takut untuk kamu bayangkan, kamu bisa melakukannya. Putrimu begitu cantik, banyak sekali orang yang menyukainya, jadi jangan khawatir, aku berani menjamin dia tidak akan kesulitan untuk mendapatkan teman. Kesulitan-kesulitan yang kamu alami dulu, aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk tidak dialami oleh anakmu kelak. Aku akan memperbaiki hidupmu, melalui hidupnya.

Selembar foto usang dirimu masih kusimpan dengan baik, gadis kecil bermata teduh, tidak ada senyuman yang menghiasi wajahmu. Dulu aku berjanji, di masa depan aku akan mengukir banyak senyuman dan membahagiakan sosok gadis kecil ini. Sekarang aku berjanji lagi, aku akan menciptakan lebih banyak senyuman yang tidak hanya diwajah ini, melainkan pula di wajah orang-orang yang kamu cintai. Maka, berbahagialah.

 

Tertanda,

 

Dirimu di masa depan. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau komen? boleehhhh.. :)