Makalah Metode Penelitian Kualitatif
(Aslihatus Sania Firdaus)
EKONOMI SYARIAH
EKONOMI SYARIAH
Makalah
METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF
Makalah ini disusun guna memenuhi
tugas mata kuliah Metode Penelitian
Dosen Pengampu : Suraya
Murcitaningrum, MSI.
Disusun Oleh
Kelompok IV
ASLIHATUS SANIA FIRDAUS
(1172204)
AYU PRATIWI (1172244)
CHAMDINI PUTRI (1172334)
DWI LESTARI (1172634)
FIKTAJ PRADITIATAMA
RIZKY AKMAL DJAUHARI
(1172204)
SEMESTER/KELAS :
V/E
PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM
JURUSAN SYARI’AH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI JURAI SIWO METRO
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Masyarakat
kadang merasa tidak begitu yakin dengan adanya ilmu sosial karena ilmu sosial
dipandang tidak objektif dan tidak memiliki rumus yang berlaku seperti yang
dimiliki ilmu eksak. Sebagian orang menganggap teori-teori sosial tidak dapat
dipercaya karena apa yang terjadi di dalam kehidupan sosial manusia tidak
terduga.
Satu-satunya
cara ilmu sosial mempertahankan objektivitas teori-teorinya adalah dengan
menerapkan suatu metode penelitian, yang dikenal dengan metode penelitian
kualitatif. Metode kualitatif yang dilanjutkan dengan analisis berdasarkan
teori yang sudah mapan akan meminimalkan ketidakobjektifan dalam penelitian
sosial.
Namun,
metode kualitatif belum benar-benar dipahami oleh para peminat ilmu sosial,
sebagian besar bahkan tidak atau belum tahu esensi metode kualitatif, oleh
karena itu diperlukan pembelajaran lebih lanjut mengenai penelitian kualitatif
yang akan dibahas dalam makalah ini.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apakah
pengertian penelitian kualitatif?
2. Bagaimana
karakteristik penelitian kualitatif
3. Apa
tujuan
penelitian kualitatif?
4. Bagaimana Teknik
Penelitian Kualitatif?
C.
Tujuan
1. Mengetahui
Pengertian
Penelitian Kualitatif
2. Mengetahui Karakteristik Penelitian
Kualitatif
3. Mengetahu Tujuan Penelitian Kualitatif
4. Mengetahui Teknik Penelitian Kualitatif
BAB II
METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF
A.
Pengertian
dan Karakteristik Metodologi Penelitian Kualitatif
Metodologi adalah proses, prinsip, dan
prosedur yang kita gunakan untuk mendekati problem dan mencari jawaban.[1] Dengan
ungkapan lain, metodologi adalah suatu pendekatan umum untuk mengkaji topik
penelitian. Metodologi dipengaruhi atau berdasarkan perspektif teoritis yang
kita gunakan untuk melakukan penelitian.
Penelitian
kualitatif adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik,
statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar
dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Penelitian kualitatif
merupakan penelitian yang dalam kegiatannya peneliti tidak menggunakan angka
dalam mengumpulkan data dan dalam memberikan penafsiran terhadap hasilnya.[2]
Menurut Finlay (2006) Penelitian
kualitatif adalah penelitian yang dilakukan dalam setting tertentu yang ada dalam kehidupan riil (alamiah) dengan
maksud untuk mencari tahu secara mendalam dan memahami suatu fenomena. Riset
kualitatif berbasis pada konsep “going
exploring” yang melibatkan in-depth
and case-oriented study atas sejumlah kasus atau kasus tunggal.
Penelitian kualitatif merupakan
penelitian yang didasarkan pada deskripsi yang jelas dan detail, karena
menjawab pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana. Penyajiannya sangat kompleks,
rinci dan komprehensif sesuai dengan fenomena yang terjadi pada saat
penelitian.[3]
Pendekatan kualitatif selain didasari
oleh filsafat fenomenologisme dan humanistis, juga mendasari pendekatan pada
filsafat lainnya, seperti empiris, idealisme, kritisme, vitalisme, dan
rasionalisme maupun humanisme.[4]
Dengan kata lain, pendekatan kualitatif menggunakan semua pandangan filsafat-filasafat
yang mendasarinya tentunya dengan bentuk penafsiran yang sesuai dengan
kepentingan fenomenologi.
Metode penelitian kualitatif dibedakan
dengan metode penelitian kuantitatif dalam arti metode penelitian kualitatif
tidak mengandalkan bukti berdasarkan logika matematis, prinsip angka, atau
metode statistik. Pembicaraan yang sebenarnya, isyarat, dan tindakan sosial
lainnya adalah bahan mental untuk analisis kualitatif. Meskipun penelitian
kualitatif dalam banyak bentuknya sering menggunakan jumlah penghitungan,
penelitian tidak menggunakan nilai jumlah seperti yang digunakan dalam
pengumpulan dan analisis data dalam eksperimen dan survei. Metode kualitatif
bisa kritis dan empiris.[5]
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian
naturalistik dengan metode empiris dalam arti ia menemukan bukti pada apa yang
dialami berdasarkan penalaran formal atau analitis.
Penelitian
Kualitatif berusaha mengungkapkan berbagai keunikan yang terdapat dalam
individu, kelompok, masyarakat, atau organisasi dalam kehidupan sehari-hari
secara menyeluruh, rinci, dalam, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Penelitian Kualitatif diharapkan mampu menghasilkan uraian mendalam tentang
ucapan, tulisan, dan perilaku yang dapat diamati dari individu,
kelompok, dan masyarakat atau organisasi tertenu dalam konteks tertentu yang
dikaji dari sudut pandang yang utuh, komperhensif dan holistik. Karakteristik
khusus penelitian kualitatif adalah berupaya mengungkapkan keunikan individu,
kelompok, masyarakat, atau organisasi tertentu kehidupan sehari-hari secara
komprehensif atau holistic dan rinci. Berikut ini Karakteristik penelitian
Kualitatif[6]
:
1.
Latar Alami
2.
Manusia Sebgai Alat
3.
Metode Kualitatif
4.
Analisis Data Secara Induktif
5.
Teori dari Dasar
6.
Deskriptif
7.
Lebih mementingkan proses daripada
hasil
8.
Adanya batas yang ditentukan oleh
fokus
9.
Adanya criteria khusus untuk
keabsahan data
10. Desain yang
bersidat sederhana
11. Hasil
penelitian dirundingkan dan disepakati
bersama
B.
Tujuan
Penelitian Kualitatif
Penelitian Kualitatif
memiliki dua tujuan utama, yaitu pertama, menggambarkan dan mengungkapakan (to describe and explore) kedua menggambarkan
dan menjelaskan (to describe and explain).
Kebanyakan penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan penjelasan. Beberapa
penelitian memberikan deskripsi situasi yang kompleks dan arah penelitian
selanjutnya. Penelitian lain memberikan penjelasan mengenai hubungan antara
peristiwa dengan maksa, terutama menurut persepsi partisipan.[7]
Penelitian Kualitatif
juga memiliki tujuan yakni memahami fenomena atau gejala
sosial yang menitikberatkan pada gambaran yang lengkap mengenai fenomena yang
dikaji, untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang fenomena untuk selanjutnya
dihasilkan sebuah teori[8].
Secara garis besar, penelitian kualitatif
bertujuan memahami fenomena yang dialami subjek penelitian. Misalnya perilaku,
persepsi, motivasi, tindakan dan lain sebagainya, secara holistik dengan cara
deskriptif dalam suatu konteks khusus yang alami tanpa ada campur tangan
manusia dan dengan memanfaatkan secara optimal berbagai metode ilmiah yang
lazim digunakan.
C.
Dasar Teoritis Penelitian Kualitatif
Dasar
teoritis dalam pendekatan kualitatif diantaranya adalah:
1.
Pendekatan
Fenomenologis
Merupakan tradisi penelitian kualitatif yang berakar pada filosofi dan
psikologi, dan berfokus pada pengalaman hidup manusia (sosiologi). Peneliti
dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan
kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu.
2.
Metodologi
Interaksionis Simbolik
Interaksinisme simbolik termasuk ke dalam salah satu daru sejumlah
tradisi penelitian kualitatif yang berasumsi bahwa penelitian sistematik harus
dilakukan dalam suatu lingkungan yang alamiah. Denzin, mengemukakan tujuh
prinsip metodologis berdasarkan teori interaksi simbolik[9],
yaitu:
a.
Simbol
dan interaksi harus dipadukan sebelum penelitian tuntas.
b.
Peneliti
harus mengambil perspektif atau peran orang lain yang bertindak (the acting other) dan memandang dunia
dari sudut pandang subjek.
c.
Peneliti
harus mengaitkan simbol dan definisi subjek dengan hubungan sosial dan
kelompok-kelompok yang memberikan konsepsi demikian.
d.
Setting perilaku dalam interaksi tersebut dan pengamatan ilmiah
harus dicatat.
e.
Metode
penelitian harus mampu mencerminkan proses atau perubahan, juga bentuk perilaku
yang statis.
f.
Pelaksanaan
penelitian paling baik dipandang sebagai suatu tindakan interaksi simbolik.
g.
Penggunaan
konsep-konsep yang layak adalah pertama-tama mengarahkan (sensitizing) dan kemudian operasional; teori yang layak menjadi
teori formal, dan proposisi yang dibangun menjadi interaksional dan universal.
3.
Pendekatan
Kebudayaan
Merupakan metodologi dengan sudut pandang
yang menggunakan kebudayaan sebagai kacamatanya. Untuk menggambarkannya seorang
peneliti mungkin dapat memikirkan suatu peristiwa di mana manusia diharapkan
berperilaku secara baik. Peneliti dengan pendekatan ini mengatakan bahwa
bagaimana sebaiknya diharapkan berperilaku dalam suatu latar kebudayaan[10]
4.
Pendekatan
Etnografi
Pendekatan etnografi berakar dari
antropologi, yang pada dasarnya merupakan penelitian mengenai cara orang-orang
berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati dalam kehidupan
sehari-hari. Jadi, etnografi lazimnya bertujuan
menguraikan suatu budaya secara menyeluruh, yakni semua aspek budaya,
baik yang bersifat materiil maupun yang bersifat abstrak.
Tujuan dari penelitian etnografi adalah juga
memahami budaya yang bagi pemeluknya mungkin tidak disadari keberadaannya
(karena sudah menyatu dengan kehidupan mereka) dan menyajikan kepada pembaca
atau orang lain untuk dipelajari.[11]
Studi etnografi memiliki ciri-ciri berikut[12]:
a.
Lebih
menekankan pada upaya eksplorasi terhadap hakikat/sifat dasar fenomena
tertentu, bukan melakukan pengujian hipotesis atas fenomena tersebut.
b.
Lebih
menekankan bekerja dengan data tak terstruktur atau dengan kata lain, data yang
belum dirumuskan dalam bentuk kode sebagai seperangkat kategori yang masih
menerima peluang bagi analisis tertentu.
c.
Penelitian
terhadap sejumlah kecil kasus, mungkin hanya satu kasus secara detail.
d.
Menganalisis
data yang meliputi interpretasi makna dan fungsi berbagai tindakan manusia
secara eksplisit sebagai sebuah produk yang secara umum mengambil bentuk-bentuk
deskripsi dan penjelasan verbal tanpa harus terlalu banyak memanfaatkan
analisis kuantifikasi dan statistik.
D. Ciri-Ciri
Penelitian Kualitatif
Untuk
memperluas wawasan dan pandangan, peneliti kualitatif perlu memahami beberapa ciri-ciri
penelitian kualitatif sebagai berikut.
1.
Studi
dalam Situasi Alamiah (naturalistic
inquiry)
Suatu objek penelitian kualitatif harus
dilihat dalam konteksnya yang alamiah. Pemisahan anasir-anasirnya akan
mengurangi derajat keutuhannya dan makna kesatuan objek itu, sebab makna objek
itu tidak identik dengan jumlah keseluruhan bagian-bagian tadi.[13]
Dengan demikian, Peneliti dan yang diteliti
bersifat interaktif, tidak bisa dipisahkan, suatu kesatuan terbentuk secara
simultan, bertimbal balik, tidak memisahkan antara sebab dan akibat, dan
melibatkan nilai-nilai. Peneliti mencoba memahami bagaimana individu
mempersepsi makna dunia di sekitarnya.
2.
Menggunakan
Pendekatan Analisis Induktif
Analisis induktif dimulai dari pengamatan
fenomena secara empiris, kemudian menafsirkan hasil penelitian sebagai
kesimpulan untuk membangun teori. Pendekatan induktif menemukan format
membangun teori dengan cara menghubungkan fenomena atau fakta informasi yang
dipelajari di lapangan. Informasi tersebut dianalisis atau diseleksi dan
dikembangkan menjadi pertanyaan. Dengan demikian, data yang dikumpulkan
mengenai pertanyaan yang dianalisis berupa pengelompokan dan pengkategorian
data disajikan dan ditafsirkan untuk ditarik kesimpulan.[14]
Penelitian kualitatif secara khusus
berorientasi pada eksplorasi, penemuan dan logika induktif. Dikatakan induktif
karena peneliti tidak memaksa diriuntuk hanya membatasi penelitian pada upaya
untuk menerima atau menolak dugaan-dugaannya tetapi mencoba memahami situasi
sesuai dengan bagaimana situasi tersebut menampilkan diri.
3.
Kontak
Personal Langsung di Lapangan
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti
kualitatif saat kontak personaldi lapangan yaitu[15]:
(a) peneliti berupaya memahami sistem kebudayaan dengan masyarakat, (b)
peneliti harus mampu berbaur dengan berhadapan kepada pandangan hidup
masyarakat, (c) peneliti tidak boleh menonjolkan diri, harus membina hubungan
baik dengan masyarakat.
4.
Orientasi
pada Kasus Unik
Peneliti kualitatif mengutamakan makna di
balik realitas, sebagaimana adanya realitas memang menjadi bahan baku utama
penelitian kualitatif. Namun, penelitian kualitatif tidak berhenti di sini. Peneliti
tertarik untuk memasuki kasus yang dianggap unik oleh seseorang. Penelitian
kualitatif mengamati dan mencatat bahwa banyak orang Jawa memelihara burung
perkutut dan memiliki keris. Peneliti masih bertanya lagi, “Mengapa burung
perkutut dan keris? Apa makna kesemuanya itu?”.[16]
5.
Peneliti
sebagai Instrumen Kunci
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan
kualitatif, peneliti sebagai instrumen kunci (human instrument) dengan teknik pengumpulan data participant observation (observasi
berperan serta) dan in depth interview (wawancara mendalam)
harus berinteraksi dengan sumber data. Peneliti kualitatif harus mengenal betul
informannya.
E. Tahap-Tahap
Penelitian Kualitatif
Secara
umum, tahapan kualitatif terdiri dari empat[17],
antara lain:
1.
Tahap
Pra-Lapangan
Pada tahap pra lapangan ini ada enam kegiatan
yang harus dilakukan oleh peneliti kualitatif, yang mana dalam tahapan ini
ditambah dengan satu pertimbangan yang perlu dipahami, yaitu etika penelitian
lapangan. Sedangkan kegiatan dan pertimbangan tersebut dapat dipaparkan sebagai
berikut:
a.
Menyusun
rancangan penelitian
b.
Memilih
lokasi penelitian
c.
Mengurus
perizinan penelitian
d.
Menjajaki
dan menilai lokasi penelitian
e.
Memilih
dan memanfaatkan informan
f.
Menyiapkan
perlengkapan penelitian
g.
Persoalan
etika penelitian
2.
Tahap
Pekerjaan Lapangan
Tahap pekerjaan lapangan ini, dapat dibagi ke
dalam tahapan-tahapan sebagai berikut:
a.
Memahami
latar penelitian dan persiapan diri
b.
Menyesuaikan
penampilan peneliti
c.
Pengenalan
hubungan peneliti di lapangan
d.
Menentukan
jumlah batas waktu penelitian
3.
Tahap
Memasuki Lokasi
a.
Keakraban
hubungan
b.
Mempelajari
bahasa
c.
Peranan
peneliti
4.
Berperan
Serta Sambil Mengumpulkan Data
a.
Pengarahan
batas waktu penelitian
b.
Mencatat
data
c.
Mengingat
data
d.
Meneliti
suatu latar yang di dalamnya terdapat pertentangan
e.
Analisis
di lapangan
F. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif
dapat dilakukan dengan menggunakan teknik kondisi yang alami, sumber data
primer, dan lebih banyak pada teknik observasi berperan serta, wawancara
mendalam dan dokumentasi.
1. Pengumpulan
Data dengan Observasi
Metode observasi merupakan sebuah teknik
pengumpulan data yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal
yang berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda, waktu,
peristiwa, tujuan dan perasaan. Metode observasi merupakan cara yang sangat
baik untuk mengawasi perilaku subjek penelitian seperti perilaku dalam
lingkungan atau ruang, waktu, waktu dan keadaan tertentu.[18]
Tetapi tidak semua perlu diamati oleh peneliti, hanya hal-hal yang terkait atau
yang sangat relevan dengan data yang dibutuhkan. Dalam melakukan pengamatan,
peneliti terlibat secara pasif. Artinya, peneliti tidak terlibat dalam
kegiatan-kegiatan subjek penelitian dan tidak berinteraksi dengan mereka secara
langsung. Peneliti hanya mengamati interaksi sosial yang mereka ciptakan baik
dengan sesama subjek penelitian maupun dengan pihak luar.
Hal-hal yang harus diperhatikan oleh peneliti
yang menggunakan metode observasi yaitu: (a) ruang atau tempat, (b) ciri-ciri pelaku,
(c) kegiatan, (d) benda dan alat yang digunakan pelaku, (e) waktu/tahapan, (f)
peristiwa, (g) tujuan, (h) perasaan/emosi.
a.
Macam-Macam
Observasi[19]
1)
Observasi
Partisipatif
Yaitu sebuah teknik pengumpulan data yang
mengharuskan peneliti melibatkan diri dalam kehidupan dari masyarakat yang
diteliti untuk dapat melihat dan memahami gejala-gelaja yang ada, sesuai
maknanya dengan yang diberikan atau dipahami oleh yang ditelitinya.[20]
Penggunaan teknik observasi dapat dipaparkan
sebagai berikut:
a)
Apa
yang harus diamati?
b)
Bilamana
dan bagaimana melakukan pencatatan?
c)
Bagaimana
mengusahakan hubungan baik dengan objek pengamatan?
d)
Berapa
lama dan luasnya pengamatan partisipasi tersebut?
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan
dalam kegiatan observasi partisipatif ini, yaitu:
a)
Kesabaran
dan kehati-hatian
b)
Pemahaman
atas situasi yang tampak
c)
Perasaan
d)
Estimasi
durasi observasi langsung
2)
Observasi
Terus Terang atau Samar
Dalam hal ini, peneliti dalam melakukan
pemngumpulan data menyatakan terus terang kepada subjek penelitian sebagai
sumber data, bahwa dia sebagai peneliti sedang melakukan penelitian. Jadi
mereka subjek penelitian yang diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir
tentang aktivitas peneliti. Tetapi dalam suatu saat, peneliti juga tidak terus
terang atau tersamar dalam melakukan penelitian, hal ini untuk menghindari kemungkinan
kalau dilakukan dengan terus terang, peneliti tidak akan diizinkan untuk
melaksanakan observasi.
3)
Observasi
Tak Berstruktur
Observasi dalam penelitian kualitatif
dilakukan dengan tidak berstruktur, karena fokus penelitian yang belum jelas.
Fokus observasi akan berkembangselama kegiatan observasi berlangsung. Kalau
masalah penelitian sudah jelas seperti dalam penelitian kuantitatif, observasi
dapat dilakukan seecara berstruktur dengan menggunakan pedoman observasi.
4)
Observasi
Terkendali
Metode pengamatan terkendali adalah di mana
para pelaku yang akan diamati oleh peneliti kualitatif diseleksi dan
kondisi-kondisi yang ada di lokasi penelitian, pelaku diamati dan dikendalikan
oleh si peneliti.
b.
Manfaat
Observasi
Manfaat observasi sebagai teknik pengumpulan
data penelitian adalah sebagai berikut[21]:
1)
Dengan
observasi di lokasi penelitian, peneliti akan lebih mampu memahami konteks data
dalam keseluruhan situasi sosial, jadi akan dapat diperoleh pandangan yang
holistik (menyeluruh)
2)
Dengan
observasi akan diperoleh pengalaman langsung sehingga memungkinkan peneliti
menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak dipengaruhi oleh konsep atau
pandangan sebelumnya. Pendekatan induktif membuka kemungkinan melakukan
penemuan. (discovery).
3)
Dengan
observasi, peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau hal-hal yang tidak
diamati orang lain, khususnya orang yang berada dalam lingkungan itu, karena
telah dianggap “biasa” dan karena itu tidak akan terungkapkan dalam wawancara.
4)
Dengan
observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang di luar persepsi informan
sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif
5)
Dengan
observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang sedianya tidak akan
terungkapkan oleh informan dalam wawancara karena bersifat sensitif atau
ditutupi karena merugikan nama lembaga.
6)
Melalui
pengamatan di lokasi penelitian, peneliti tidak hanya mengumpulkan daya yang
kaya, tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi, dan merasakan atmosfer
(suasana) situasi sosial yang diteliti.
2. Pengumpulan
Data dengan Wawancara Kualitiatif
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian kualitatif lebih menekankan pada teknik wawancara, khususnya
wawancara mendalam. (in depth interview).
Teknik ini merupakan teknik pengumpulan data yang khas penelitian kualitatif.
Lebih lanjut dinyatakan bahwa cara utama yang dilakukan pakar metodologi
kualitatif untuk memahami persepsi, perasaan dan pengetahuan orang-orang adalah
dengan wawancaramendalam dan intensif.[22]
Jenis wawancara antara lain:
1.
Wawancara
Tak Terstruktur
Wawancara tak terstruktur seringkali disebut
wawancara mendalam, wawancara intensif, wawancara kualitatif, dan wawancara
terbuka (open ended interview).[23]
Wawancara tidak terstruktur mirip dengan percakapan informal, bertujuan untuk memperoleh
bentuk-bentuk tertentu informasi dari semua informan, tetapi susunan kata dan
urutannya disesuaikan dengan ciri-ciri tiap informan.
2.
Wawancara
Terstruktur
Jenis wawancara terstruktur kerap kali
disebut dengan suatu wawancara terfokus, dalam wawancara terstruktur persoalan
didefinisikan dengan peneliti sebelum wawancara. Pertanyaan-pertanyaan telah
dirumuskan terlebih dahulu dan informan diharapkan menjawab dalam hal-hal
kerangka wawancara dan definisi atau ketentuan dari masalah.
3.
Wawancara
Terbuka Terstandar
Teknik pengumpulan data wawancara terbuka
terstandar ini dikemukakan oleh Patton, Michael Wuinn (1980). Dalam beberapa
hal, ketika melaksanakan suatu evaluasi program hanya memungkinkan para
partisipan selama periode waktu yang terbatas. Oleh karena terbatasnya waktu,
dan karena memang diinginkan untuk memiliki informasi yang sama dari setiap
informan, suatu format “open-ended”
yang terstandar bisa digunakan pada masing-masing orang untuk diminta menjawan
pertanyaan-pertanyaan yang pada dasarnya sama.
4.
Wawancara
Kelompok
Wawancara kelompok kerap kali menghasilkan hal-hal yang
tidak diinginkan interaksi, pemahaman, ide, dan informasi yang tidak
diinginkan.[24] Tujuan
melakukan wawancara kelompok adalah membawa beberapa perspektif yang berbeda ke
dalam kontak. Sifat paling alami dari pengalaman kelompok inilah yang mengatur
metode pengumpulan data kualitatif ini berbeda dari yang lainnya.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian kualitatif mengacu pada pemahaman
fenomenologi yang jauh dari unsur matematis atau statistik. Karakteristik
penelitian kualitatif adalah berupaya mengungkapkan
keunikan individu, kelompok, masyarakat, atau organisasi tertentu kehidupan
sehari-hari secara komprehensif atau holistic dan rinci. Tujuannya antara lain untuk menggambarkan dan
mengungkapakan (to describe and explore),
juga menggambarkan dan menjelaskan (to
describe and explain).
Penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan beberapa teknik,
yaitu observasi, dan wawancara, teknik wawancara meliputi wawancara
terstruktur, tidak terstruktur, terbuka terstandar. Lalu teknik observasi
diantaranya adalah, observasi parsitipatif, observasi terusterang atau samar,
observasi terstruktur dan observasi terkendali.
DAFTAR PUSTAKA
Burhan Bungin.
2007. Penelitian Kualitatif: Komunikasi,
Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
Deddy Mulyana.
2010. Metodologi Penelitian Kualitatif:
Paradigma Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya
Djam’an Satori
dan Aan Komariah. 2009. Metodologi
Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Ida Bagoes
Mantra. 2008. Filsafat Penelitian dan
Metode Penelitian Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
M. Djunaidi Ghony
dan Fauzan Almanshur. 2012. Metodologi
Penelitian Kualitatif, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Prasetya Irawan.
2007. Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: DIA-FISIP-UI.
Saleh Soegianto.
1978. Bahan Ajar Metodologi Penelitian
Kualitatif dalam Perspektif Tinjauan Komparatif. Jakarta: Jarlit. Balitbang
Depdiknas
Suraya
Murcitaningrum. 2013. Metodologi
Penelitian Ekonomi Islam. Bandar Lampung: Ta’lim Press
[1] Robert Bodgan,
dan Steven J. Taylor. Introduction to
Qualitative Research Methods: A Phenomenological Approach to the Social
Sciences. New York: John Wiley & Sons, 1975, hlm 1.
[2] Ibid
[3] Suraya
Murcitaningrum, Metodologi Penelitian
Ekonomi Islam, Bandar Lampung: Ta’lim Press, 2013, hlm. 30
[4] Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi,
Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya, Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2007, hlm. 4
[5] James A.
Anderson dan Timothy P.Meyer. Mediated
Communication: A Social Action Perspective. Newbury Park, CA:Sage, 1988,
hlm. 247
[6] Bodgan dan
Taylor, Op.Cit. hlm. 22
[7] M. Djunaidi
Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodologi
Penelitian Kualitatif, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012, hlm. 29
[8] Suraya Murcita, Op.Cit. hlm. 31
[9] Norman K.
Denzin, The Research Act; A Theoretical
Introduction to Sociological Methods. New York: McGraw-Hill, 1978, hlm.
20-21
[10] Suraya Murcita, Op.Cit., hlm. 33
[11] Prasetya Irawan,
Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
untuk Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta: DIA-FISIP-UI, 2007, hlm.12
[12] Djam’an Satori
dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian
Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2009, hlm. 316
[13] Saleh Soegianto,
Bahan Ajar Metodologi Penelitian
Kualitatif dalam Perspektif Tinjauan Komparatif, Jakarta: Jarlit. Balitbang
Depdiknas, 1978, hlm. 104
[14] Ibid, hlm. 192
[15] Prasetya Irawan,
Op.Cit. hlm. 131
[16] Ibid, hlm. 10
[17] M. Djunaidi
Ghony dan Fauzan Almanshur, Op.Cit. hlm.
144-157
[18] Ida Bagoes
Mantra, Filsafat Penelitian dan Metode
Penelitian Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2008, hlm. 79
[19] M. Djunaidy
Ghony, dan Fauzan Almanshur, Op.Cit. hlm.
166
[20] Ibid
[21] Ibid, hlm. 174
[22] Michael Quinn
dan Patton, Qualitative Evaluation
Methods, Baverly Hills: Sage Publication, 1980. Hlm. 29
[23] Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma
Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010, hlm. 180


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)