Metodologi Penelitian Kualitatif


metode penelitian kualitatif


Makalah Metode Penelitian Kualitatif
(Aslihatus Sania Firdaus)
EKONOMI SYARIAH

Makalah



METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Metode Penelitian
Dosen Pengampu : Suraya Murcitaningrum, MSI.


Disusun Oleh
Kelompok IV
ASLIHATUS SANIA FIRDAUS (1172204)
AYU PRATIWI (1172244)
CHAMDINI PUTRI (1172334)
DWI LESTARI (1172634)
FIKTAJ PRADITIATAMA
RIZKY AKMAL DJAUHARI (1172204)

SEMESTER/KELAS : V/E


PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM
JURUSAN SYARI’AH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI  JURAI SIWO METRO
2013
BAB 1
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Masyarakat kadang merasa tidak begitu yakin dengan adanya ilmu sosial karena ilmu sosial dipandang tidak objektif dan tidak memiliki rumus yang berlaku seperti yang dimiliki ilmu eksak. Sebagian orang menganggap teori-teori sosial tidak dapat dipercaya karena apa yang terjadi di dalam kehidupan sosial manusia tidak terduga.
Satu-satunya cara ilmu sosial mempertahankan objektivitas teori-teorinya adalah dengan menerapkan suatu metode penelitian, yang dikenal dengan metode penelitian kualitatif. Metode kualitatif yang dilanjutkan dengan analisis berdasarkan teori yang sudah mapan akan meminimalkan ketidakobjektifan dalam penelitian sosial.
Namun, metode kualitatif belum benar-benar dipahami oleh para peminat ilmu sosial, sebagian besar bahkan tidak atau belum tahu esensi metode kualitatif, oleh karena itu diperlukan pembelajaran lebih lanjut mengenai penelitian kualitatif yang akan dibahas dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian penelitian kualitatif?
2.      Bagaimana karakteristik penelitian kualitatif
3.      Apa tujuan penelitian kualitatif?
4.      Bagaimana Teknik Penelitian Kualitatif?

C.     Tujuan
1.      Mengetahui Pengertian Penelitian Kualitatif
2.      Mengetahui Karakteristik Penelitian Kualitatif
3.      Mengetahu Tujuan Penelitian Kualitatif
4.      Mengetahui Teknik Penelitian Kualitatif




BAB II
METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF

A.      Pengertian dan Karakteristik Metodologi Penelitian Kualitatif
Metodologi adalah proses, prinsip, dan prosedur yang kita gunakan untuk mendekati problem dan mencari jawaban.[1] Dengan ungkapan lain, metodologi adalah suatu pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian. Metodologi dipengaruhi atau berdasarkan perspektif teoritis yang kita gunakan untuk melakukan penelitian.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dalam kegiatannya peneliti tidak menggunakan angka dalam mengumpulkan data dan dalam memberikan penafsiran terhadap hasilnya.[2]
Menurut Finlay (2006) Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan dalam setting tertentu yang ada dalam kehidupan riil (alamiah) dengan maksud untuk mencari tahu secara mendalam dan memahami suatu fenomena. Riset kualitatif berbasis pada konsep “going exploring” yang melibatkan in-depth and case-oriented study atas sejumlah kasus atau kasus tunggal.
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang didasarkan pada deskripsi yang jelas dan detail, karena menjawab pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana. Penyajiannya sangat kompleks, rinci dan komprehensif sesuai dengan fenomena yang terjadi pada saat penelitian.[3]
Pendekatan kualitatif selain didasari oleh filsafat fenomenologisme dan humanistis, juga mendasari pendekatan pada filsafat lainnya, seperti empiris, idealisme, kritisme, vitalisme, dan rasionalisme maupun humanisme.[4] Dengan kata lain, pendekatan kualitatif menggunakan semua pandangan filsafat-filasafat yang mendasarinya tentunya dengan bentuk penafsiran yang sesuai dengan kepentingan fenomenologi.
Metode penelitian kualitatif dibedakan dengan metode penelitian kuantitatif dalam arti metode penelitian kualitatif tidak mengandalkan bukti berdasarkan logika matematis, prinsip angka, atau metode statistik. Pembicaraan yang sebenarnya, isyarat, dan tindakan sosial lainnya adalah bahan mental untuk analisis kualitatif. Meskipun penelitian kualitatif dalam banyak bentuknya sering menggunakan jumlah penghitungan, penelitian tidak menggunakan nilai jumlah seperti yang digunakan dalam pengumpulan dan analisis data dalam eksperimen dan survei. Metode kualitatif bisa kritis dan empiris.[5] Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian naturalistik dengan metode empiris dalam arti ia menemukan bukti pada apa yang dialami berdasarkan penalaran formal atau analitis.
Penelitian Kualitatif berusaha mengungkapkan berbagai keunikan yang terdapat dalam individu, kelompok, masyarakat, atau organisasi dalam kehidupan sehari-hari secara menyeluruh, rinci, dalam, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penelitian Kualitatif diharapkan mampu menghasilkan uraian mendalam tentang ucapan, tulisan, dan perilaku yang dapat diamati dari individu, kelompok, dan masyarakat atau organisasi tertenu dalam konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komperhensif dan holistik. Karakteristik khusus penelitian kualitatif adalah berupaya mengungkapkan keunikan individu, kelompok, masyarakat, atau organisasi tertentu kehidupan sehari-hari secara komprehensif atau holistic dan rinci. Berikut ini Karakteristik penelitian Kualitatif[6] :
1.      Latar Alami
2.      Manusia Sebgai Alat
3.      Metode Kualitatif
4.      Analisis Data Secara Induktif
5.      Teori dari Dasar
6.      Deskriptif
7.      Lebih mementingkan proses daripada hasil
8.      Adanya batas yang ditentukan oleh fokus
9.      Adanya criteria khusus untuk keabsahan data
10.  Desain yang bersidat sederhana
11.  Hasil penelitian dirundingkan dan  disepakati bersama

B.     Tujuan Penelitian Kualitatif
Penelitian Kualitatif memiliki dua tujuan utama, yaitu pertama, menggambarkan dan mengungkapakan (to describe and explore)  kedua menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain). Kebanyakan penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan penjelasan. Beberapa penelitian memberikan deskripsi situasi yang kompleks dan arah penelitian selanjutnya. Penelitian lain memberikan penjelasan mengenai hubungan antara peristiwa dengan maksa, terutama menurut persepsi partisipan.[7]
Penelitian Kualitatif juga memiliki tujuan yakni memahami fenomena atau gejala sosial yang menitikberatkan pada gambaran yang lengkap mengenai fenomena yang dikaji, untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang fenomena untuk selanjutnya dihasilkan sebuah teori[8].
Secara garis besar, penelitian kualitatif bertujuan memahami fenomena yang dialami subjek penelitian. Misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain sebagainya, secara holistik dengan cara deskriptif dalam suatu konteks khusus yang alami tanpa ada campur tangan manusia dan dengan memanfaatkan secara optimal berbagai metode ilmiah yang lazim digunakan.

C.   Dasar Teoritis Penelitian Kualitatif
 Dasar teoritis dalam pendekatan kualitatif diantaranya adalah:
1.      Pendekatan Fenomenologis
Merupakan tradisi penelitian kualitatif yang berakar pada filosofi dan psikologi, dan berfokus pada pengalaman hidup manusia (sosiologi). Peneliti dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu.
2.      Metodologi Interaksionis Simbolik
Interaksinisme simbolik termasuk ke dalam salah satu daru sejumlah tradisi penelitian kualitatif yang berasumsi bahwa penelitian sistematik harus dilakukan dalam suatu lingkungan yang alamiah. Denzin, mengemukakan tujuh prinsip metodologis berdasarkan teori interaksi simbolik[9], yaitu:
a.       Simbol dan interaksi harus dipadukan sebelum penelitian tuntas.
b.      Peneliti harus mengambil perspektif atau peran orang lain yang bertindak (the acting other) dan memandang dunia dari sudut pandang subjek.
c.       Peneliti harus mengaitkan simbol dan definisi subjek dengan hubungan sosial dan kelompok-kelompok yang memberikan konsepsi demikian.
d.      Setting perilaku dalam interaksi tersebut dan pengamatan ilmiah harus dicatat.
e.       Metode penelitian harus mampu mencerminkan proses atau perubahan, juga bentuk perilaku yang statis.
f.       Pelaksanaan penelitian paling baik dipandang sebagai suatu tindakan interaksi simbolik.
g.      Penggunaan konsep-konsep yang layak adalah pertama-tama mengarahkan (sensitizing) dan kemudian operasional; teori yang layak menjadi teori formal, dan proposisi yang dibangun menjadi interaksional dan universal.
3.      Pendekatan Kebudayaan
Merupakan metodologi dengan sudut pandang yang menggunakan kebudayaan sebagai kacamatanya. Untuk menggambarkannya seorang peneliti mungkin dapat memikirkan suatu peristiwa di mana manusia diharapkan berperilaku secara baik. Peneliti dengan pendekatan ini mengatakan bahwa bagaimana sebaiknya diharapkan berperilaku dalam suatu latar kebudayaan[10]
4.      Pendekatan Etnografi
Pendekatan etnografi berakar dari antropologi, yang pada dasarnya merupakan penelitian mengenai cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, etnografi lazimnya bertujuan  menguraikan suatu budaya secara menyeluruh, yakni semua aspek budaya, baik yang bersifat materiil maupun yang bersifat abstrak.
Tujuan dari penelitian etnografi adalah juga memahami budaya yang bagi pemeluknya mungkin tidak disadari keberadaannya (karena sudah menyatu dengan kehidupan mereka) dan menyajikan kepada pembaca atau orang lain untuk dipelajari.[11] Studi etnografi memiliki ciri-ciri berikut[12]:
a.       Lebih menekankan pada upaya eksplorasi terhadap hakikat/sifat dasar fenomena tertentu, bukan melakukan pengujian hipotesis atas fenomena tersebut.
b.      Lebih menekankan bekerja dengan data tak terstruktur atau dengan kata lain, data yang belum dirumuskan dalam bentuk kode sebagai seperangkat kategori yang masih menerima peluang bagi analisis tertentu.
c.       Penelitian terhadap sejumlah kecil kasus, mungkin hanya satu kasus secara detail.
d.      Menganalisis data yang meliputi interpretasi makna dan fungsi berbagai tindakan manusia secara eksplisit sebagai sebuah produk yang secara umum mengambil bentuk-bentuk deskripsi dan penjelasan verbal tanpa harus terlalu banyak memanfaatkan analisis kuantifikasi dan statistik.
D.   Ciri-Ciri Penelitian Kualitatif
Untuk memperluas wawasan dan pandangan, peneliti kualitatif perlu memahami beberapa ciri-ciri penelitian kualitatif sebagai berikut.
1.      Studi dalam Situasi Alamiah (naturalistic inquiry)
Suatu objek penelitian kualitatif harus dilihat dalam konteksnya yang alamiah. Pemisahan anasir-anasirnya akan mengurangi derajat keutuhannya dan makna kesatuan objek itu, sebab makna objek itu tidak identik dengan jumlah keseluruhan bagian-bagian tadi.[13]
Dengan demikian, Peneliti dan yang diteliti bersifat interaktif, tidak bisa dipisahkan, suatu kesatuan terbentuk secara simultan, bertimbal balik, tidak memisahkan antara sebab dan akibat, dan melibatkan nilai-nilai. Peneliti mencoba memahami bagaimana individu mempersepsi makna dunia di sekitarnya.
2.      Menggunakan Pendekatan Analisis Induktif
Analisis induktif dimulai dari pengamatan fenomena secara empiris, kemudian menafsirkan hasil penelitian sebagai kesimpulan untuk membangun teori. Pendekatan induktif menemukan format membangun teori dengan cara menghubungkan fenomena atau fakta informasi yang dipelajari di lapangan. Informasi tersebut dianalisis atau diseleksi dan dikembangkan menjadi pertanyaan. Dengan demikian, data yang dikumpulkan mengenai pertanyaan yang dianalisis berupa pengelompokan dan pengkategorian data disajikan dan ditafsirkan untuk ditarik kesimpulan.[14]
Penelitian kualitatif secara khusus berorientasi pada eksplorasi, penemuan dan logika induktif. Dikatakan induktif karena peneliti tidak memaksa diriuntuk hanya membatasi penelitian pada upaya untuk menerima atau menolak dugaan-dugaannya tetapi mencoba memahami situasi sesuai dengan bagaimana situasi tersebut menampilkan diri.
3.      Kontak Personal Langsung di Lapangan
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti kualitatif saat kontak personaldi lapangan yaitu[15]: (a) peneliti berupaya memahami sistem kebudayaan dengan masyarakat, (b) peneliti harus mampu berbaur dengan berhadapan kepada pandangan hidup masyarakat, (c) peneliti tidak boleh menonjolkan diri, harus membina hubungan baik dengan masyarakat.
4.      Orientasi pada Kasus Unik
Peneliti kualitatif mengutamakan makna di balik realitas, sebagaimana adanya realitas memang menjadi bahan baku utama penelitian kualitatif. Namun, penelitian kualitatif tidak berhenti di sini. Peneliti tertarik untuk memasuki kasus yang dianggap unik oleh seseorang. Penelitian kualitatif mengamati dan mencatat bahwa banyak orang Jawa memelihara burung perkutut dan memiliki keris. Peneliti masih bertanya lagi, “Mengapa burung perkutut dan keris? Apa makna kesemuanya itu?”.[16]
5.      Peneliti sebagai Instrumen Kunci
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti sebagai instrumen kunci (human instrument) dengan teknik pengumpulan data participant observation (observasi berperan serta) dan in depth interview (wawancara mendalam) harus berinteraksi dengan sumber data. Peneliti kualitatif harus mengenal betul informannya.

E.   Tahap-Tahap Penelitian Kualitatif
Secara umum, tahapan kualitatif terdiri dari empat[17], antara lain:
1.      Tahap Pra-Lapangan
Pada tahap pra lapangan ini ada enam kegiatan yang harus dilakukan oleh peneliti kualitatif, yang mana dalam tahapan ini ditambah dengan satu pertimbangan yang perlu dipahami, yaitu etika penelitian lapangan. Sedangkan kegiatan dan pertimbangan tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut:
a.       Menyusun rancangan penelitian
b.      Memilih lokasi penelitian
c.       Mengurus perizinan penelitian
d.      Menjajaki dan menilai lokasi penelitian
e.       Memilih dan memanfaatkan informan
f.       Menyiapkan perlengkapan penelitian
g.      Persoalan etika penelitian
2.    Tahap Pekerjaan Lapangan
Tahap pekerjaan lapangan ini, dapat dibagi ke dalam tahapan-tahapan sebagai berikut:
a.       Memahami latar penelitian dan persiapan diri
b.      Menyesuaikan penampilan peneliti
c.       Pengenalan hubungan peneliti di lapangan
d.      Menentukan jumlah batas waktu penelitian
3.      Tahap Memasuki Lokasi
a.       Keakraban hubungan
b.      Mempelajari bahasa
c.       Peranan peneliti
4.      Berperan Serta Sambil Mengumpulkan Data
a.       Pengarahan batas waktu penelitian
b.      Mencatat data
c.       Mengingat data
d.      Meneliti suatu latar yang di dalamnya terdapat pertentangan
e.       Analisis di lapangan

F.    Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan menggunakan teknik kondisi yang alami, sumber data primer, dan lebih banyak pada teknik observasi berperan serta, wawancara mendalam dan dokumentasi.
1.      Pengumpulan Data dengan Observasi
Metode observasi merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda, waktu, peristiwa, tujuan dan perasaan. Metode observasi merupakan cara yang sangat baik untuk mengawasi perilaku subjek penelitian seperti perilaku dalam lingkungan atau ruang, waktu, waktu dan keadaan tertentu.[18] Tetapi tidak semua perlu diamati oleh peneliti, hanya hal-hal yang terkait atau yang sangat relevan dengan data yang dibutuhkan. Dalam melakukan pengamatan, peneliti terlibat secara pasif. Artinya, peneliti tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan subjek penelitian dan tidak berinteraksi dengan mereka secara langsung. Peneliti hanya mengamati interaksi sosial yang mereka ciptakan baik dengan sesama subjek penelitian maupun dengan pihak luar.
Hal-hal yang harus diperhatikan oleh peneliti yang menggunakan metode observasi yaitu: (a) ruang atau tempat, (b) ciri-ciri pelaku, (c) kegiatan, (d) benda dan alat yang digunakan pelaku, (e) waktu/tahapan, (f) peristiwa, (g) tujuan, (h) perasaan/emosi.
a.       Macam-Macam Observasi[19]
1)      Observasi Partisipatif
Yaitu sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti melibatkan diri dalam kehidupan dari masyarakat yang diteliti untuk dapat melihat dan memahami gejala-gelaja yang ada, sesuai maknanya dengan yang diberikan atau dipahami oleh yang ditelitinya.[20]
Penggunaan teknik observasi dapat dipaparkan sebagai berikut:
a)      Apa yang harus diamati?
b)      Bilamana dan bagaimana melakukan pencatatan?
c)      Bagaimana mengusahakan hubungan baik dengan objek pengamatan?
d)     Berapa lama dan luasnya pengamatan partisipasi tersebut?
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam kegiatan observasi partisipatif ini, yaitu:
a)      Kesabaran dan kehati-hatian
b)      Pemahaman atas situasi yang tampak
c)      Perasaan
d)     Estimasi durasi observasi langsung
2)      Observasi Terus Terang atau Samar
Dalam hal ini, peneliti dalam melakukan pemngumpulan data menyatakan terus terang kepada subjek penelitian sebagai sumber data, bahwa dia sebagai peneliti sedang melakukan penelitian. Jadi mereka subjek penelitian yang diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktivitas peneliti. Tetapi dalam suatu saat, peneliti juga tidak terus terang atau tersamar dalam melakukan penelitian, hal ini untuk menghindari kemungkinan kalau dilakukan dengan terus terang, peneliti tidak akan diizinkan untuk melaksanakan observasi.
3)      Observasi Tak Berstruktur
Observasi dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak berstruktur, karena fokus penelitian yang belum jelas. Fokus observasi akan berkembangselama kegiatan observasi berlangsung. Kalau masalah penelitian sudah jelas seperti dalam penelitian kuantitatif, observasi dapat dilakukan seecara berstruktur dengan menggunakan pedoman observasi.
4)      Observasi Terkendali
Metode pengamatan terkendali adalah di mana para pelaku yang akan diamati oleh peneliti kualitatif diseleksi dan kondisi-kondisi yang ada di lokasi penelitian, pelaku diamati dan dikendalikan oleh si peneliti.

b.      Manfaat Observasi
Manfaat observasi sebagai teknik pengumpulan data penelitian adalah sebagai berikut[21]:
1)      Dengan observasi di lokasi penelitian, peneliti akan lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial, jadi akan dapat diperoleh pandangan yang holistik (menyeluruh)
2)      Dengan observasi akan diperoleh pengalaman langsung sehingga memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak dipengaruhi oleh konsep atau pandangan sebelumnya. Pendekatan induktif membuka kemungkinan melakukan penemuan. (discovery).
3)      Dengan observasi, peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau hal-hal yang tidak diamati orang lain, khususnya orang yang berada dalam lingkungan itu, karena telah dianggap “biasa” dan karena itu tidak akan terungkapkan dalam wawancara.
4)      Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang di luar persepsi informan sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif
5)      Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang sedianya tidak akan terungkapkan oleh informan dalam wawancara karena bersifat sensitif atau ditutupi karena merugikan nama lembaga.
6)      Melalui pengamatan di lokasi penelitian, peneliti tidak hanya mengumpulkan daya yang kaya, tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi, dan merasakan atmosfer (suasana) situasi sosial yang diteliti.

2.      Pengumpulan Data dengan Wawancara Kualitiatif
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian kualitatif lebih menekankan pada teknik wawancara, khususnya wawancara mendalam. (in depth interview). Teknik ini merupakan teknik pengumpulan data yang khas penelitian kualitatif. Lebih lanjut dinyatakan bahwa cara utama yang dilakukan pakar metodologi kualitatif untuk memahami persepsi, perasaan dan pengetahuan orang-orang adalah dengan wawancaramendalam dan intensif.[22] Jenis wawancara antara lain:
1.      Wawancara Tak Terstruktur
Wawancara tak terstruktur seringkali disebut wawancara mendalam, wawancara intensif, wawancara kualitatif, dan wawancara terbuka (open ended interview).[23] Wawancara tidak terstruktur mirip dengan percakapan informal, bertujuan untuk memperoleh bentuk-bentuk tertentu informasi dari semua informan, tetapi susunan kata dan urutannya disesuaikan dengan ciri-ciri tiap informan.
2.      Wawancara Terstruktur
Jenis wawancara terstruktur kerap kali disebut dengan suatu wawancara terfokus, dalam wawancara terstruktur persoalan didefinisikan dengan peneliti sebelum wawancara. Pertanyaan-pertanyaan telah dirumuskan terlebih dahulu dan informan diharapkan menjawab dalam hal-hal kerangka wawancara dan definisi atau ketentuan dari masalah.
3.      Wawancara Terbuka Terstandar
Teknik pengumpulan data wawancara terbuka terstandar ini dikemukakan oleh Patton, Michael Wuinn (1980). Dalam beberapa hal, ketika melaksanakan suatu evaluasi program hanya memungkinkan para partisipan selama periode waktu yang terbatas. Oleh karena terbatasnya waktu, dan karena memang diinginkan untuk memiliki informasi yang sama dari setiap informan, suatu format “open-ended” yang terstandar bisa digunakan pada masing-masing orang untuk diminta menjawan pertanyaan-pertanyaan yang pada dasarnya sama.
4.      Wawancara Kelompok
Wawancara kelompok kerap kali menghasilkan hal-hal yang tidak diinginkan interaksi, pemahaman, ide, dan informasi yang tidak diinginkan.[24] Tujuan melakukan wawancara kelompok adalah membawa beberapa perspektif yang berbeda ke dalam kontak. Sifat paling alami dari pengalaman kelompok inilah yang mengatur metode pengumpulan data kualitatif ini berbeda dari yang lainnya.



BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Penelitian kualitatif mengacu pada pemahaman fenomenologi yang jauh dari unsur matematis atau statistik. Karakteristik penelitian kualitatif adalah berupaya mengungkapkan keunikan individu, kelompok, masyarakat, atau organisasi tertentu kehidupan sehari-hari secara komprehensif atau holistic dan rinci. Tujuannya antara lain untuk menggambarkan dan mengungkapakan (to describe and explore), juga menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain).
Penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan beberapa teknik, yaitu observasi, dan wawancara, teknik wawancara meliputi wawancara terstruktur, tidak terstruktur, terbuka terstandar. Lalu teknik observasi diantaranya adalah, observasi parsitipatif, observasi terusterang atau samar, observasi terstruktur dan observasi terkendali.



DAFTAR PUSTAKA

Burhan Bungin. 2007. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Deddy Mulyana. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya
Djam’an Satori dan Aan Komariah. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Ida Bagoes Mantra. 2008. Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
M. Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Prasetya Irawan. 2007. Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: DIA-FISIP-UI.
Saleh Soegianto. 1978. Bahan Ajar Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Tinjauan Komparatif. Jakarta: Jarlit. Balitbang Depdiknas
Suraya Murcitaningrum. 2013. Metodologi Penelitian Ekonomi Islam. Bandar Lampung: Ta’lim Press






[1] Robert Bodgan, dan Steven J. Taylor. Introduction to Qualitative Research Methods: A Phenomenological Approach to the Social Sciences. New York: John Wiley & Sons, 1975, hlm 1.
[2] Ibid
[3] Suraya Murcitaningrum, Metodologi Penelitian Ekonomi Islam, Bandar Lampung: Ta’lim Press, 2013, hlm. 30
[4] Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007, hlm. 4
[5] James A. Anderson dan Timothy P.Meyer. Mediated Communication: A Social Action Perspective. Newbury Park, CA:Sage, 1988, hlm. 247
[6] Bodgan dan Taylor, Op.Cit. hlm. 22
[7] M. Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodologi Penelitian Kualitatif, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012, hlm. 29
[8] Suraya Murcita, Op.Cit. hlm. 31
[9] Norman K. Denzin, The Research Act; A Theoretical Introduction to Sociological Methods. New York: McGraw-Hill, 1978, hlm. 20-21
[10] Suraya Murcita, Op.Cit., hlm. 33
[11] Prasetya Irawan, Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta: DIA-FISIP-UI, 2007, hlm.12
[12] Djam’an Satori dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2009, hlm. 316
[13] Saleh Soegianto, Bahan Ajar Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Tinjauan Komparatif, Jakarta: Jarlit. Balitbang Depdiknas, 1978, hlm. 104
[14] Ibid, hlm. 192
[15] Prasetya Irawan, Op.Cit. hlm. 131
[16] Ibid, hlm. 10
[17] M. Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur, Op.Cit. hlm. 144-157
[18] Ida Bagoes Mantra, Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2008, hlm. 79
[19] M. Djunaidy Ghony, dan Fauzan Almanshur, Op.Cit. hlm. 166
[20] Ibid
[21] Ibid, hlm. 174
[22] Michael Quinn dan Patton, Qualitative Evaluation Methods, Baverly Hills: Sage Publication, 1980. Hlm. 29
[23] Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010, hlm. 180
[24][24] M. Djunaidy Ghony, dan Fauzan Almanshur, Op.Cit. hlm. 191


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau komen? boleehhhh.. :)