Aku Mau dipanggil Sayang



Wajahnya selalu membuat bulu kuduk bergelora.
Aku Takut untuk sekedar menatapnya.
Sebenarnya aku bukan arogan atau gengsi,
aku hanya tidak tahu harus melakukan apa.
Aku diam bukan karena tidak dengarkan kalimat-kalimat yang diucapnya,
tapi diam karena tidak tahu harus bicara dengan bahasa apa, karena percuma, aku tidak akan pernah benar, kecuali dimataku sendiri.
Tapi wajahku tidak menggambarkan semua itu. 

"Kenapa?"
"Kenapa apa?"
"Aku cuma mau dipanggil 'sayang', apa susahnya memanggilku dengan sebutan itu?"
Aku diam lagi.

Aku terlalu terbiasa dengan ini, memendam perasaan tulus tanpa mengungkapkannya.
Kamu tahu kenyataan bahwa bagian tangan yang terbiasa dikenakan jam tangan lebih putih dari bagian yang lain?
Atau jari yang terbiasa dilingkari cincin akan lebih putih dari bagian jari lain?
Hatiku sama dengan itu,
Aku terbiasa menutupinya.
Jadi ini lebih putih, juga lebih tulus dari hati yang lain.
Apa analogiku aneh?
Ya terserah tapi ini yang terjadi padaku.
Aku hanya takut. Jika kutunjukkan hatiku aku akan kehilangan lagi.
Maaf.

2 komentar:

Mau komen? boleehhhh.. :)