Masih perih.
Luka itu menitih rintih sakit menghimpit. Lagi-lagi dia
lakukan itu pada sang gadis, menampar, mencakar. Dia abnormal.
“Jangan lakukan itu, apa hak mu menyakiti aku?” Ucap gadis
itu.
“Aku kesal.” Jawab sang pria.
“Terserah jika kau kesal, jangan lampiaskan padaku!” Gadis
itu mulai membentak.
“Kamu yang membuat aku begini.” Jawab pria itu.
Diam.
Hening.
“Baik, maaf.” Pria itu menahan wajah muramnya dengan
menggambarkan kesedihan yang amat dalam.
Gadis tetap diam.
“Jangan salahkan aku jika aku selalu melukaimu, karena
hatimu tidak akan pernah sesakit hatiku.” Si pria masih berceloteh.
Gadis itu menggulung lengan bajunya, lebam, memar.
“Jika kamu terus lakukan ini. Aku benar-benar akan
meninggalkanmu.” Ucap sang gadis.
“Jika saja kamu tidak menyakiti hatiku.” Jawab pria itu.
“Kamu acuh, mana pedulimu?” Lanjutnya.
Pria marah. Gadis itu diam lagi.
“Aku hanya minta sedikit perhatianmu.” Ucap sang pria.
Si gadis memandangnya dengan sinis.
“Jangan melihatku begitu.” Ucapnya.
“Baik, lebih baik kamu bunuh aku daripada aku harus
berubah.” Jawab sang gadis.
GADIS EGOIS DAN PRIA PENCEMBURU 162 KATA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)