SEMUA GARA-GARA AYAH



Namaku Annisa, umurku sekarang 19 tahun, aku lahir di tengah keluarga yang sederhana, aku memiliki satu orang adik laki-laki dan kami hanya dua bersaudara, namanya Habib Aji Pangestu, saat ini umurnya 13 tahun. Awalnya keluarga kecil kami merupakan keluarga yang bahagia, namun kebahagian itu tidak berlangsung lama karena adanya orang ketiga dalam hubungan kedua orangtuaku. Saat itu usiaku menginjak 11 tahun, aku sudah sedikit banyak mengerti tentang kehidupan yang dialami kedua orang tuaku, ayahku menikah lagi pada saat itu tanpa sepengetahuan ibuku. Hingga pada akhirnya ada seseorang yang memberitahu ibu tentang pernikahan siri ayahku dan istri keduanya. Ibuku sangat kecewa, sedih dan terluka. Tapi apa yang sudah terjadi tidak dapat dipungkiri dan ibuku hanya bisa menerima dengan ikhlas.

Pada saat itu ayah tidak mau menceraikan ibu, akan tetapi menggantungkannya begitu saja tanpa kepastian yang jelas, kewajibannya untuk menafkahi kami pun diabaikan olehnya, ayah selalu menomorsatukan istri keduanya dibanding kami dan hal itu sangat membuatku kecewa.
Ibuku seorang wanita yang kuat, sholehah, sabar, penyayang dan mandiri. Entah apa yang membuat ayahku berpaling darinya. Untungnya ibuku memiliki usaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidup, beliau membuka toserba yang masih berjalan sampai hari ini. Kesehariannya pun hanya di rumah dan menjaga tokonya, dan ibulah yang akhirnya membiayai semua kebutuhan sekolahku dan adikku.
Ayahku seorang wiraswasta yang bekerja di salah satu perusahaan yang menyalurkan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Beliau terlalu sibuk dengan urusan kerjanya, beliau jarang pulang ke rumah. Perhatiannya pun terbagi kepada istri keduanya sehingga membuat kami sebagai keluarga yang pertama merasa terabaikan. Waktunya lebih banyak dihabiskan bersama istri keduanya di rumahnya yang kedua daripada bersama kami. Sejak saat itu aku mulai tidak menyukainya.
Saat aku duduk di bangku SMP, hari-hariku dipenuhi dengan kepenatan atas masalah keluargaku yang berantakan, aku menghabiskan banyak waktu di luar rumah dengan bermain bersama teman-teman dari pada diam di rumah, karena aku merasa jenuh dengan keadaan keluargaku yang seperti itu. Aku yang sebelumnya rajin belajar, banyak mendapatkan prestasi, seorang yang penurut, sontak berubah drastis dan nilai-nilaiku mengalami penurunan dan aku pun tidak lagi mendapat prestasi yang baik di sekolah.
Kepenatan itu benar-benar berlangsung lama, hingga pada saat aku pun beranjak SMA ayahku tetap tidak berubah, dan justru semakin memburuk. Aku berontak menjadi anak yang brutal, aku berani membantah perkataan ayahku bahkan bertengkar dengannya dan istri keduanya. Hal itu menjadi sebuah kebiasaan bagi kami bertiga. Aku melakukan ini karena ini sebagai ungkapan rasa kesalku terhadapnya atas perlakuannya yang kurang baik terhadap ibuku. Aku tidak tega melihat ibuku yang hanya bisa diam dan sabar. Jika bukan aku, siapa yang hendak membelanya, sementara adikku masih kecil dan tidak tahu apa-apa.
Hari demi hari pun berlalu dengan pertengkaran-pertengkaran yang tidak ada hentinya, aku semakin membenci ayahku dengan rasa benci yang sebenci-bencinya. Bahkan aku sempat berfikir bahwa aku tidak memiliki ayah dan tidak menganggapnya sebagai seorang ayah. Seperti pada suatu hari...
“Yah, hari ini sudah jatuh tempo bayaran sekolah” Ucapku pada ayah
“Berapa biayanya?” Tanyanya
“Satu juta.” Jawabku
“Sudah, minta ibumu saja dulu, ayah belum ada uang” Jelas ayah kepadaku.
“Ibu juga sedang tidak ada uang, sudah habis untuk belanja toko yah.” Jawabku.
“Ya sudah, kamu menghadap Kepala Sekolah saja, bilang seminggu lagi ayah lunasi.” Jawab Ayah dengan sedikit ketus.
“Tidak Yah, tidak bisa, ini hari terakhir, pokoknya aku tidak mau tahu hari ini harus bayar.” Jawabku memaksa.
“Kalau ayah bilang tidak ada ya tidak ada.” Ayah membentak dan memarahiku.
“Pokoknya aku mau hari ini bayar, entah bagaimana caranya, untuk apa selama ini ayah bekerja tetapi tidak pernah menafkahi kami, hanya istri kedua saja yang ayah perhatikan, sementara kami lebih membutuhkan biaya, dan aku hanya meminta uang pada saat bayaran sekolah saja.” Jelasku
“Sudah minta ibu dulu saja,nanti ayah ganti,” bentak ayah.
“Aku keseharian sudah meminta uang sama ibu, kalau bayaran sekolah juga minta ibu aku kasihan yah, apa gunanya aku punya ayah?” Tanyaku dengan membentaknya.
“PLAKKK...” Ayah menamparku, itu kali pertama ayah berbuat seperti itu terhadapku, aku pun tidak menyangka ayah setega itu terhadapku. Aku meninggalkannya dengan meneteskan air mata.
Kejadian itu membuatku sadar, ternyata ayah sudah tidak menyayangiku lagi. Ayah sudah banyak berubah dan otaknya sudah diracuni oleh istri keduanya, mulai hari itu aku berjanji aku akan berusaha mencari uang sendiri untuk mencukupi kebutuhan aku dan ibu.
Sejak saat itu hidupku, sekolahku, keluargaku, sudah benar-benar hancur berantakan, aku pun hanya bisa pasrah dan mencari kesenangan di luar untuk menghilangkan stress dan kejenuhan di fikiranku. Aku bergabung bersama club dancer dan menyibukkan hari-hariku dengan bekerja sebagai sales promotion girl (SPG) produk apapun yang bisa menghasilkan uang bagiku. Aku mulai mandiri, tidak mengharapkan uang ayah dan tidak mau merepotkan ibu lagi.
Pada suatu hari, Mas Lis keponakan ayah mendatangi ibu...
“Mbak, Pak Yanto jatuh sakit, beliau terkena stroke.” Ucap Mas Lis.
“Oh, iya, terima kasih kabarnya” Jawab Ibu.
“Sudah biarkan saja istrinya yang merawat, itu karma atas perbuatannya yang menyakiti kami selama ini, dan juga merupakan peringatan dari Allah. Semoga dia sadar.” Ucapku.
Selama ayah stroke, aku tidak sama sekali menjenguknya bahkan merawatnya, rasa sakit hatiku lebih besar daripada rasa ibaku kepada ayah. Aku sudah tidak peduli terhadapnya seperti dia yang tidak peduli kepadaku. Akan tetapi setelah beberapa lama dari itu ayah sembuh dari sakitnya, dia pun meminta maaf kepada aku dan ibu.
Suatu ketika, mobil ayah rusak parah dan dia datang ke rumah untuk meminjam motorku. Dia berjanji akan mengembalikannya setelah tiga hari, akan tetapi sampai dua minggu berlalu pun motorku tidak kunjung dikembalikan. Aku marah, kesal dan terus saja meneror ayah lewat telepon. Ayah pada saat itu hanya bisa berjanji dan berjanji tanpa ada kepastian, tidak satu janji pun ditepatinya, ayah selalu saja membohongiku, dan motorku tetap tidak dikembalikan dengan alasan motor itu masih dipinjam temannya. Lama-kelamaan aku dan ibu curiga ternyata ayah menggadaikan motorku untuk menservis mobilnya yang keseharian mobil itu dipakai oleh istri keduanya. Aku marah, tidak menyangka dan sangat kecewa, ternyata ayah lebih mementingkan kepentingan istrinya daripada kelangsungan hidupku yang bertumpu pada motor itu, karena hanya motor itu yang aku miliki, dan itu pun dari hasil jerih payah ibu.
Kejadian itu benar-benar membuatku semakin marah dan semakin membencinya, aku berniat mendatangi ayah untuk mengambil paksa motorku karena keseharianku bersama motor itu dan tanpa adanya motor itu aku merasa kesulitan.Ketika aku hendak menemuinya tiba-tiba aku mendapat kabar bahwa ayah jatuh sakit lagi,semakin parah dan masuk rumah sakit. Aku pun bingung dan pada saai itu aku pun tidak sama sekali memikirkan keadaan ayah,tetapi justru yang ada di fikiran ku adalah bagaimana cara mendapatkan motor itu kembali.
Aku mengurungkan niat untuk menemuinya dan aku akan menemuinya  ketika beliau sembuh. Sepanjang aku menungu kesembuhan ayah aku masi bisa bersabar meskipun aku kesulitan ketika hendak berpergian. Setelah itu kesehatan ayah pun sudah lumayan pulih, akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya kembali. akan tetapi usahaku tidak membuahkan hasil,ternyata motorku tidak berada ditangan ayah dan aku harus menyiapkan uang sebesar 3,5 juta untuk menebusnya dari orang lain. Aku marah besar kepada ayah, aku membentaknya sementara dia masih sakit, dia menjawab ocehanku dengan hanya terbata-bata dan aku pun meninggalkannya lalu pulang dengan tangan hampa.
Seminggu setelah itu,aku mendengar kabar lagi bahwa ayah koma . Kejadian itu pun tidak membuat ku merasa iba. Justru aku pun merasa senang mendengar kabar tersebut karena aku benar-benar sudah membencinya. Tidak lama dari itu ajal menjemput ayah, ayahku pun meninggal tanpa meninggalkan pesan terakhir kepadaku. Entah aku harus sedih atau senang tapi pada saat itu aku merasa bingung. Separuh hatiku menyesal karena belum sempat meminta maaf atas kesalahan ku selama ini, dan separunya lagi tidak menyayangkan ajal menjemputnya secepat ini. Aku dan ibu tidak menangis setetes pun atas kepergiannya karena sejauh ini kami sudah terlalu terbiasa tanpa kehadirannya disisi kami.
Ibu berkata, kepergian ayah adalah yang terbaik bagi kami semua, ada atau tidak adanya beliau tidak akan merubah kehidupan kami menjadi lebih berarti. Jika sekalipun hal ini tidak terjadi, ayah dengan hidupnya akan terus menyakiti kami dengan ketidakadilannya, dan justru menambah beban di pundaknya. Kami sekeluarga hanya bisa pasrah dan ikhlas menerima semua ini. Ini jalan terbaik dari Allah SWT. Semoga kedepannya aku bisa berubah menjadi lebih baik lagi dan membahagiakan ibu tanpa adanya seorang ayah.

Selamat jalan ayah, tidurlah dengan tenang dan maafkan aku yang durhaka sepanjang hidumpu.

Semua Gara-gara Ayah. 1351 kata.
~Kisah nyata seorang sahabat~

1 komentar:

Mau komen? boleehhhh.. :)