Tubuhku ikut menguap, bukan karena mataharinya, tapi karena
dia sebentar lagi tiba.
Sesekali kutengok ke jendela, dia belum juga datang.
Kutengok lagi, dari kejauhan dia belum terlihat.
Aku terus menunggu dengan menggenggam erat kalung kecil itu
di tanganku.
Apa yang akan keluar dari bibirku? Apa yang nanti terucap?
Suara motornya terhenti di depan rumah.
“Itu dia”
Aku keluar dengan ragu membuka pintu.
Kaki mendadak kaku
Nafas terhela lambat
“Itu dia”
Aku masih berdiri di depan pintu rumah, dan dia masih duduk di atas motornya di halaman.
Kami saling diam.
Aku menatapnya dengan penuh gemuruh, perasaan takut,
menyesal, bersalah.
Mataku berbinar dan membendung sesuatu.
Kulangkahkan kaki ke arahnya...
Selangkah, dua langkah.
Dia turun dari motornya,
“Itu benar-benar dia”
Dia mempercepat langkahnya dan aku menghentikan langkahku.
Jantungku hampir lepas.
“Ini dia”
Dia tepat di depan mataku.
Matanya tajam dan itu matanya yang selama ini kucintai.
Dia kemudian mengulurkan telapak tangannya.
Aku tidak henti menahan laju nafasku atau aku akan menangis
tepat pada saat itu juga.
Aku meletakkan kalung itu di tangannya, kalung itu masih
sama, hanya bedanya kali ini tidak digenggamanku tapi di genggamannya.
Dia berbalik.
Dia pergi.
Dia menjauh.
Dia tidak ucap sepatah katapun.
Dia hilang.
Melajukan motornya begitu cepat, hingga tak terasa detik
berharga tadi hanya seketika lenyap senyap..
Aku masih di titik ini.
Berdiri mematung di sini. Dia tidak lagi di pandanganku...
Perlahan aku memejamkan mata dan yang kubendung menetes
juga.
Aku melihat kenangan yang terbang usang
Aku memendam kenangan yang beku kelu
Aku bisa apa?
---
Isi otakku memuai dengan dialog itu...
“Kamu bahagia sama dia?”
“Aku tidak pernah benar-benar tahu bahagia itu apa”
“Besok Aku ambil kalungnya.”
“Kenapa?”
“Karena sudah tidak lagi ada alasan untuk kamu
menyimpannya.”
“Kenapa?”
“Cukup Aku yang tahu, biar Aku yang simpan.”
---
Baiklah, anggap saja kalung itu kenangan kita, sekarang aku
titipkan ditanganmu. Boleh kamu simpan, boleh kamu buang. Setidaknya aku pernah
menjadi bagian dari itu, dan itu kebahagiaanmu. Setidaknya aku pernah menjadi
alasan bahagiamu...
Walau sedikit, dan kini usai...

Jika aku bisa jadi bagian dari dirimu, aku mau jadi airmatamu, yang tersimpan di hatimu, lahir dari matamu, hidup di pipimu, dan mati di bibirmu,
BalasHapusTulisan kamu bagus, semoga sebagus harimu ...
jlepppppppppppppppppppppppppp
BalasHapusditunggu senetronya kak :D