Andai Saja Bulan Punya Telinga



 Lukisan indah di langit melekuk, merengkuh kukuh luluh selalu membiru haru, meski kadang gelap kadang hujan tapi dibaliknya selalu biru. Sebiru hatiku yang kelu. Andai saja bisa kuulangi, andai saja bisa kumenolak, enggan rasanya disini, meniti rasa yang tak pernah pasti. Langit ini seolah memelukku, karena sebuah perasaan yang entah bagaimana aku menggambarkannya dan hanya dengan begini aku tidak merasa sendiri.
Biar kuceritakan...
***



Aku, gadis kecil yang kini dewasa, tidak pernah rasakan cinta, sampai pada hari ini. Bahkan hari ini, acara pertemuan besar keluarga dengan tema sebut saja ‘perjodohan’ antara aku dan dia, yang tidak pernah kukenal bahkan sama sekali belum pernah bertemu. Ini pertemuan pertama, dan pertama kalinya pula aku merasa berdegup karena dia. Aku masih merasa bahwa aku masih aku seorang gadis kecil yang tidak akan pernah berubah menjadi tua. Aku tidak mau sampai saat nanti aku harus mengalah demi kemauan orang tuaku yang sudah tidak sabar menikahkanku dengan seorang pria.
Masih menunggu di kamar.
Di depanku jam dinding berdetak dengan tidak kompromi. Tatapanku datar, sedatar hatiku yang tidak tahu harus merasakan apa dan harus lakukan apa. Hingga pintu diketuk, seseorang memintaku keluar karena tamu sudah datang, aku bangun, berkaca tiga detik melihat dari atas ke bawah dari bawah ke atas. Ya. Harus kulakukan karena hanya ini pilihannya. Bapak dan Ibu pasti akan bangga.
Aku turun melangkahkan kaki ke anak tangga, satu demi satu dengan senyum manis dan keanggunan khas ala diriku tergambar jelas seolah berkata, Selamat datang, ini aku Adinda, putri kedua orangtuaku, lahir dari keluargaku dengan nama baik dan kehormatan yang tinggi, menyambut baik pertemuan ini. Satu demi satu tamu yang hadir, kutatap dan kutebar senyumku, dan berhenti pada satu titik. Matanya. Menakjubkan. Itu dia jodoh yang dipersiapkan Ayah untukku. Kami berkenalan, namanya Fauzan. Lelaki beragama. Sangat tampan. Kudengar usianya 27 tahun. Orangnya? Aku belum tahu karena aku belum mengenalnya. Singkat cerita kedua orang tua kami setuju dan akhirnya dua minggu lagi kami akan dinikahkan.
Akad nikah berjalan dengan lancar, kami berdua akhirnya sah menjadi suami-istri. Dua keluarga besar bersatu, aku anak bungsu dari salah satu keluarga bangsawan di kota ini, kini menjadi istri anak konglomerat kota sebelah. Sempurna. Aku mencium tangan suamiku, setelah ijab kabul selesai, dia tersenyum, sangat mempesona. Paru-paruku seakan terisi penuh sesak dengan udara. Aku meleleh, sejak ini perasaan cinta itu dimulai. Perasaan cinta yang halal dari seorang istri kepada suaminya.
***
Setengah tahun berlalu, aku masih malu-malu, masih mulai belajar mengenalnya, dia selalu hangat, begitu juga senyumnya. Terasa menentramkan, tapi aku masih ragu padanya, apakah dia juga mencintaiku? Ah sudahlah, dia pasti mencintaiku, aku muda, pintar, cantik dan menarik, juga dari keluarga yang berderajat tinggi, apa alasannya untuk tidak menyukaiku. Malam ini aku dengannya makan di Resto favorit keluarga, dia mengenakan kemeja birunya dan aku mengenakan hijabku dan terusan modis yang juga dominan biru, aku selalu menyesuaikan pakaian kami agar selalu terlihat kompak. Masalah dia suka atau tidaknya tak perlu difikirkan.
“Fauzan!” Seorang perempuan cantik berambut panjang hitam legam berseru memanggil suamiku menatap kami dengan tatapan bingung, kaget, atau apalah itu. Suamiku memperkenalkannya padaku, dan memperkenalkanku padanya, sahabatnya sejak lima belas tahun yang lalu, berpisah tiga tahun yang lalu dan baru bertemu lagi sekarang, entah aku harus tetap makan dengan tenang, atau tidak. Karena perempuan itu memonopoli pembicaraan kami, dan aku? Sedang menjadi peran figuran, atau sebut saja obat nyamuk.
***
Tentang mereka berdua, biar kuceritakan...

Ria, perempuan manis yang memiliki kejujuran dan ketulusan di binar matanya akhirnya berhasil membuatku galau berbulan-bulan. Membuat suamiku berubah drastis dan membuatku penasaran ada apa sebenarnya. Hingga aku temukan sepenggal kisah ini.
Mereka bersahabat sejak umur 12 tahun, keduanya saling melengkapi dari hal terkecil sampai hal besar mereka bicarakan tanpa lelah. Dari masalah penting sampai tidak penting mereka selesaikan bersama tanpa keluh kesah. Selalu bahagia, berceloteh suka cita hingga dewasa. Mereka berjanji di bawah pohon, di taman kecil dekat rumah, di bawah hamparan langit, bahwa akan ada saatnya mereka raih cita-cita bersama. Fauzan ingin jadi guru, Ria ingin jadi dokter. Saat itu keluarga Fauzan belum sekaya-raya sekarang. Malam itu mereka bicara pada bulan. Dengan tingkah polos dan lugu...
“Bulan, kami berdua menulis janji dan disaksikan oleh kamu beserta langit dan semua bintang-bintang ini. Kalau Ria ingkar janji bilang aku ya.” Ucap Fauzan.
“Kalau Fauzan ingkar janji kasih tau aku ya bulan.” Ucap Ria.
Mereka berdua tertawa. Menggulung catatan cita-cita mereka kemudian masing-masing memasukkan gulungan kertas itu ke dalam satu botol, kemudian mengubur botolnya di bawah pohon. Sederhana. Tapi kenangan itu sangat berharga.
***
Tujuh belas tahun. Selamat ulang tahun.
Mereka semakin dewasa. Mereka masih bersama. Mereka masih satu sekolah, tidak pernah bertengkar, bahkan persahabatannya semakin dalam. Ini sungguh. Mereka lahir di tanggal, bulan dan tahun yang sama, hari itu hari ulang tahun yang mereka rayakan bersama, lagi-lagi di taman kecil itu, di bawah pohon yang masih tetap seperti dulu malam itu Fauzan dan Ria meniup lilin di atas kue kecil yang mereka siapkan sejak kemarin.
“Kita buat surat botol lagi yuk” Ucap Fauzan.
“Yuk, tapi kali ini permohonan. Gimana?” Tanya Ria.
“Dan masing-masing gak boleh tahu apa isinya.” Lanjut Fauzan.
Mereka menulis permohonan di kertas itu, Fauzan senyum-senyum kecil dengan wajahnya yang khas berkharisma mengiringi gulungan kertasnya, sementara Ria, masih saja menulis dengan panjang dan akhirnya juga mulai menggulungnya. Kertas itu lagi-lagi dimasukkan ke dalam botol dan dikubur. Malam semakin merengkuh, Ria pulang. Fauzan tetap di taman, memandangi hamparan bintang-bintang dan senyum sang rembulan.
“Bulan. Jika saja Ria tahu apa harapanku”
“Aku benar-benar mencintainya lebih dari seorang sahabat.”
Bulan seakan menjawab perbincangannya dengan Fauzan. Dengan kilaunya yang membisu, mengartikan bahwa bulan hanya bisa diam, tidak tahu harus berbuat apa, karena perasaan cinta yang dipendam Fauzan tidak boleh diutarakan, kecuali dia bersedia persahabatannya hanya akan runtuh hancur tak karuan. Fauzan hanya bisa memendam.
***
Darimana aku tahu cerita itu?
Setelah reuni kecil dua sahabat itu di Resto, suamiku berubah. Dia acuh, bahkan hanya sekedar menjawab pertanyaanku, tatapannya begitu tidak berisi, kosong, seperti menahan pilu. Tiga bulan aku berusaha menahan perasaaanku. Aku kecewa, seperti terabaikan. Dia sering pulang larut, tidak menelpon, tidak makan di rumah, dan selalu hambar obrolannya. Selalu tidak bersemangat. Apa dia bosan?
“Ada apa sebenarnya, apa kamu benar-benar tidak bahagia dengan pernihakan ini?” Aku bertanya perlahan kepadanya setelah lelah diam memendam.
“Kenapa tiba-tiba bicara begitu?”
“Sekarang jawab aku suamiku, apa kamu pernah mencintaiku?” Aku memberanikan bertanya itu padanya.
Dia diam.
“Baik, ada sesuatu yang harus kamu tahu. Aku mencintai seorang wanita yang sejak lama ku kenal. Tapi aku sudah melupakannya sejak tiga tahun lalu dengan luka yang teramat dalam yang sangat menyayat hatiku. Aku berhasil melupakannya, hingga aku bertemu denganmu. Tapi dia tiba-tiba hadir lagi di kehidupanku dan membawa kenyataan yang membuatku bimbang. Maafkan aku istriku”
“Siapa dia?” Tanyaku.
Kemudian dia bercerita.
Tentang Ria.
***
Dua puluh satu tahun.
“Happy Birthday,” Ria tertawa bahagia mengucapkan itu pada Fauzan. Ria membawa sekotak kado bergambar kucing membawa balon. Lucu. Kekanak-kanakan. Dan Fauzan begitu menyukainya. Tentang Fauzan, dia membawa sebuah liontin berinisial RF. Tanda persahabatan ucapnya. Ria juga begitu senang menerimanya. Lagi-lagi mereka menuliskan harapannya di dalam surat botol. Ritual aneh itu tidak selalu terjadi setiap tahun, ini kali ketiga mereka melakukannya. Tiba-tiba air mata Ria menetes seiring senyumnya yang menatap tajam mata Fauzan.
Fauzan menyeka air mata itu. “Jangan menangis, persahabatan ini gak akan pernah berakhir, aku janji. Aku bakal terus jagain kamu dengan doain kamu dari jauh.”
“Kamu gak ingin melakukan sesuatu buat aku di masa terakhir ini?” Tanya Ria.
“Maksudnya?”
“Kamu gak mau kasih kado spesial ke aku sebelum aku benar-benar pindah ke Bangkok?” Tanya Ria.
“Aku mau lakukan sesuatu buat kamu, sekarang kamu pejamkan mata ya.”
“Sekarang Bukaaa...” Teriak Fauzan dari kejauhan. Dia berdiri di tengah lapangan kecil di sudut taman itu, ria menatapnya, lalu ke arah langit, serentetan kembang api indah meledak di angkasa menyimpulkan senyum kecil di bibir ria. Fauzan yang selalu menghiburnya setiap hari, mereka akan berpisah dalam waktu dekat. Ria menatap Fauzan dalam-dalam dari kejauhan. Rasa takut kehilangan.
Ya. Ria akan menikah. Dia sudah lama berpacaran dengan Antony, pria yang sangat mencintainya, malam itu Fauzan sangat merasa hatinya dihujam ratusan pedang tapi rasa sakit itu tidak menyurutkan cintanya sedikitpun kepada Ria. Mereka merasa malam itu adalah malam perpisahan dan perayaan ulang tahun terakhir yang akan mereka jalani.
Esok harinya Ria menikah. Fauzan enggan datang, dia pura-pura sakit dan menitipkan pesan lewat temannya, menitipkan ucapan selamat yang diselimuti kesakitan yang teramat merintih perih jika dapat diraba. Fauzan kecewa. Ria terlebih lagi.
***
Dua puluh empat tahun.
Fauzan masih rutin mendatangi pohon tua itu. Berbincang kepada rembulan tentang hatinya, rahasia besarnya, dan kekecewaannya. Fauzan menahan air mata mengingat memori itu. Selamat ulang tahun Ria. Fauzan merindukannya, masa-masa persahabatan yang indah itu, persahabatan istimewa yang dikalahkan oleh cinta. Gerimis. Air langit mengiringi air matanya. Seolah berkata, kamu pria, jangan menangis seperti lemah. Ikuti aku. Air hujan seraya menunjukkan sesuatu, titik-titik air itu jatuh di kaki Fauzan, teringat tiga botol kenangan yang terpendam di bawah pijakan kaki itu. Fauzan berusaha menggalinya, menggali kenangan yang terpahat mati tidak mampu dilupakan.
Botol itu masih sama, hanya saja kertasnya menua, Dia memulai membuka botol yang tertua, tulisan mereka sangat usang. Kertas Ria bertuliskan “Aku mau jadi dokter” guratan polos anak-anak tersimpan rapi di kertas itu, Dia tersenyum.
Botol kedua. Gulungan kertas pertama, tulisan Fauzan. Berisi... “Aku berharap kamu adalah jodohku” Gulungan kedua, kertas Ria. “Sebenarnya aku cinta kamu Fauzan, tapi aku takut persahabatan ini akan hancur, lagipula aku tidak mungkin mendapatkan cintamu, seorang muslim sejati, mana mungkin kamu memikirkan hal konyol seperti ini... Tapi aku berharap kamu juga memiliki perasaan yang sama.” Sontak Fauzan kaget. Dia tidak menduga sebelumnya Ria juga memendam perasaan itu. Bagaimana dia tidak menyadarinya, kenapa bulan tidak memberitahunya, andai saja bulan punya telinga dan dapat bicara, bisa mendengar harapan mereka dan mengatakannya. Tapi bulan masih diam, tertutup awan.
Botol ketiga. Fauzan membuka gulungan itu, lagi-lagi tulisannya. “Aku berharap kamu bahagia menjalani pernikahanmu bersama Antony, pria yang mencintaimu, jangan menangis lagi karena aku sungguh tidak kuasa melihat rintik air matamu itu, aku benar-benar mencintaimu. Oleh karena itu aku benar-benar merelakan hatiku demi kebahagiaanmu.” Kemudian gulungan kedua, perlahan Fauzan membukanya, dia menghela nafas panjang. Isinya, benar-benar mengejutkan. “Aku berharap kamu besok lakukan sesuatu untukku, lakukan apapun demi menggagalkan pernikahanku. Aku berharap besok kamu mendatangiku dengan menyatakan bahwa kamu mencintaiku. Aku harap kamu mau lakukan itu.” Fauzan merasa kecil, bodoh, bersalah, dan sangat amat terpukul. Mengapa Ria tidak katakan saja semua itu. Mengapa Ria relakan kisah indah mereka hanya untuk orang lain, selama ini mereka membatasi hubungan mereka dan menjunjung tinggi persahabatan di atas segalanya. Bagi Fauzan Ria adalah perempuan paling berbeda dan berharga yang pernah Fauzan temui, meskipun mereka berbeda, sikapnya sangat santun dan baik, karena orang tua mereka bersahabat dan bersebelahan rumah mereka sangat akrab. Fauzan menyesali itu, jika saja persahabatan mereka tidak ternodai dengan perasaan cinta pasti saja keduanya sudah bahagia sekarang. Tidak dengan saling menyakiti pasangan masing-masing dengan kenyataan pahit itu. Dan aku salah satu korbannya.
***
            “Kalau begitu mengapa kamu tidak menemui Ria dan memperbaiki semuanya? Tanyaku.
“Untuk apa lagi? Toh kufikir dia sudah bahagia dengan Antony. Bagaimana bisa aku merusak hubungan orang lain” Jawabnya.
“Lalu jika dia mencintaimu, kenapa dia menikahi Antony? Kenapa kalian diam saja?”
“Dia pasti menikah. Cepat atau lambat dia pasti lakukan itu, dan sudah pasti bukan denganku. Aku lebih cinta Tuhanku daripada dia, aku tidak akan menduakan Tuhanku karena menikahi gadis beragama lain. Jadi wajar saja aku merelakannya, wajar saja dia menikahi laki-laki lain. Meskipun aku juga punya perasaan cinta itu kepadanya, gadis yang selama ini di hatiku, Maria Angelica. Kau fikir apa lagi yang bisa aku lakukan kecuali hanya merelakannya.” Jawab Fauzan.
“Lalu apa yang kamu fikirkan? Apa yang membuatmu bersedih? Bukankah semua sudah selesai?”
Dia bercerita kembali...
***
Malam itu sepulang makan bersama, Ria mengundang Fauzan untuk merayakan hari ulangtahun mereka lagi. Ya. Di pohon itu. Fauzan pun menolak. Alasannya karena dia sekarang sudah beristri, dan Ria sudah bersuami, bisa jadi fitnah jika mereka masih melakukan ritual itu seperti dulu, lagipula kali ini beda, mereka sudah sama-sama dewasa. Tidak lagi anak kecil yang senang bermain-main di pohon tua.
“Tolonglah, sekali saja, ini permintaan terakhirku sebagai sahabat lamamu.” Ujar Ria.
Matanya yang lembut itu, matanya yang bertahun-tahun lalu membuat Fauzan meleleh, benar-benar tidak bisa membuat Fauzan berkata tidak. Fauzan berfikir, ini demi sahabatnya, bukan karena ada status hubungan apa-apa. Ria memohon seolah ada masalah yang berat lebih dari biasanya, seperti dulu, matanya mengadu, hanya Fauzan yang menjaganya dan bisa menolongnya. Kali ini terulang lagi.
Di bawah pohon tua Ria katakan semuanya.
“Aku tidak pernah benar-benar menikahi Antony.”
Fauzan mendengarnya seketika terbelalak. Seperti tersambar petir di bawah terik matahari. “Jadi kamu bohongi aku selama ini?” Tanya Fauzan.
“Tidak, aku hanya sedang menunggu seseorang yang sangat baik hatinya, baik agamanya, tidak pernah menyakiti orang lain, dia seperti kakak laki-laki bagiku, menopangku dan menghiasi hariku. Bukan Antony. Aku salah memilih.”
“Siapa?”
“Kamu. Aku menunggumu hingga kamu mau mengakui perasaanmu itu. Tapi aku sadar, aku bukan wanita muslimah seperti kriteriamu.”
“Lalu kenapa tidak katakan saja?”
“Aku masih menunggumu sampai kamu yang katakan semuanya. Aku berharap kamu menghentikan pernikahanku, sampai akhirnya aku sendiri yang menghentikannya dengan katakan bahwa aku tidak pernah mencintai Antony. Ternyata persahabatan yang menang ya.”
“Ah, kenapa kamu begitu terlambat, maafkan aku, aku sudah beristri sekarang.”
“Ya, aku pun kaget mengetahui kenyataan itu, aku  berniat mendatangimu untuk katakan semuanya, dan perbaiki semua ini, tapi semua sudah terlanjur. Kamu sudah menikah, dengan wanita sempurna pula. Selamat ya.” Ria tersenyum lebar menanggapi ucapan Fauzan.
Lagi-lagi Ria menangis, di pohon itu, seperti dulu. Tapi sayangnya Fauzan tidak mampu menyeka air matanya, hingga Ria menyeka air matanya sendiri.
“Maafkan aku Ria. Seharusnya aku tahu sejak dulu. Aku tidak bisa menyakiti istriku.” Fauzan mengucapkan itu tanpa di dengar bulan. Bulan sedang bersembunyi lagi dibalik mendung.
“Bisakah kamu meninggalkannya untukku?” Tanya Ria.
“Tidak akan pernah. Lagipula kita berbeda.”
“Apa kamu tidak datang kesini tahun lalu?”
“Tidak, kenapa?”
“Aku membuat lagi surat botol dan isinya harapan agar bisa bertemu denganmu dan berharap menikah denganmu, jika saja benar terjadi, aku bersedia masuk agamamu. Akan kuucapkan dua kalimat syahadat itu.” Jawab Ria.
Fauzan tidak menjawab.
“Apa kamu masih mencintaiku? Aku juga baca semua surat botol itu.”
Fauzan masih diam.
Berlalu pergi.
***
“Sudahlah, aku sudah melupakannya.”
“Tapi kamu mencintainya.”
“Tidak. Justru aku sedang belajar mencintaimu, istriku.” Jawab Fauzan dengan senyum teduhnya itu lagi.
“Maaf, untuk mengetahui kisah yang rumit ini. Tapi aku benar-benar tidak akan mengacaukan pernikahan kita, aku berjanji. Maafkan aku.” Fauzan menenangkan, tapi dengan tatapan yang lagi-lagi sebenarnya kosong. Ya. Aku tahu dia sedang bersandiwara. Dia pura-pura baik-baik saja dengan hati yang sebenarnya terluka.
***
Biar saja langit mendung dan hujan. Tapi dibaliknya tetap biru kan?
Aku tahu dia tidak cinta aku. Dia cinta orang lain dan aku hanya orang ketiga. Andai saja bulan bisa mendengar, andai saja bulan katakan kepada keduanya, aku tidak akan menjadi tembok besar antara dua hati yang seharusnya terpatri. Ya, menyakitkan memang mencintai sebelah tangan, tapi dia tidak meninggalkanku deminya itu saja sudah cukup baik bukan?Langit masih biru, dan hatiku masih sama terluka, dan akan terus begini. Hidup akan terus berlanjut untuk episode selanjutnya.
Berdamailah hatiku.
 Mendung berlalu hilang, awan tersenyum mengembang, kuhela nafas panjang. Lagi, kusambut hari dengan tanpa menggenggam cinta dari orang yang kucintai.
Salahkan bulan, yang tidak mau bicara.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau komen? boleehhhh.. :)