Biar kuceritakan...
***
Aku,
gadis kecil yang kini dewasa, tidak pernah rasakan cinta, sampai pada hari ini.
Bahkan hari ini, acara pertemuan besar keluarga dengan tema sebut saja ‘perjodohan’ antara aku dan dia, yang
tidak pernah kukenal bahkan sama sekali belum pernah bertemu. Ini pertemuan
pertama, dan pertama kalinya pula aku merasa berdegup karena dia. Aku masih
merasa bahwa aku masih aku seorang gadis kecil yang tidak akan pernah berubah
menjadi tua. Aku tidak mau sampai saat nanti aku harus mengalah demi kemauan
orang tuaku yang sudah tidak sabar menikahkanku dengan seorang pria.
Masih
menunggu di kamar.
Di
depanku jam dinding berdetak dengan tidak kompromi. Tatapanku datar, sedatar
hatiku yang tidak tahu harus merasakan apa dan harus lakukan apa. Hingga pintu
diketuk, seseorang memintaku keluar karena tamu sudah datang, aku bangun,
berkaca tiga detik melihat dari atas ke bawah dari bawah ke atas. Ya. Harus
kulakukan karena hanya ini pilihannya. Bapak dan Ibu pasti akan bangga.
Aku
turun melangkahkan kaki ke anak tangga, satu demi satu dengan senyum manis dan keanggunan
khas ala diriku tergambar jelas seolah berkata, Selamat datang, ini aku Adinda, putri kedua orangtuaku, lahir dari
keluargaku dengan nama baik dan kehormatan yang tinggi, menyambut baik
pertemuan ini. Satu demi satu tamu yang hadir, kutatap dan kutebar senyumku,
dan berhenti pada satu titik. Matanya. Menakjubkan. Itu dia jodoh yang
dipersiapkan Ayah untukku. Kami berkenalan, namanya Fauzan. Lelaki beragama. Sangat
tampan. Kudengar usianya 27 tahun. Orangnya? Aku belum tahu karena aku belum
mengenalnya. Singkat cerita kedua orang tua kami setuju dan akhirnya dua minggu
lagi kami akan dinikahkan.
Akad
nikah berjalan dengan lancar, kami berdua akhirnya sah menjadi suami-istri. Dua
keluarga besar bersatu, aku anak bungsu dari salah satu keluarga bangsawan di
kota ini, kini menjadi istri anak konglomerat kota sebelah. Sempurna. Aku
mencium tangan suamiku, setelah ijab kabul selesai, dia tersenyum, sangat
mempesona. Paru-paruku seakan terisi penuh sesak dengan udara. Aku meleleh,
sejak ini perasaan cinta itu dimulai. Perasaan cinta yang halal dari seorang
istri kepada suaminya.
***
Setengah
tahun berlalu, aku masih malu-malu, masih mulai belajar mengenalnya, dia selalu
hangat, begitu juga senyumnya. Terasa menentramkan, tapi aku masih ragu
padanya, apakah dia juga mencintaiku? Ah sudahlah, dia pasti mencintaiku, aku muda,
pintar, cantik dan menarik, juga dari keluarga yang berderajat tinggi, apa
alasannya untuk tidak menyukaiku. Malam ini aku dengannya makan di Resto
favorit keluarga, dia mengenakan kemeja birunya dan aku mengenakan hijabku dan
terusan modis yang juga dominan biru, aku selalu menyesuaikan pakaian kami agar
selalu terlihat kompak. Masalah dia suka atau tidaknya tak perlu difikirkan.
“Fauzan!”
Seorang perempuan cantik berambut panjang hitam legam berseru memanggil suamiku
menatap kami dengan tatapan bingung, kaget, atau apalah itu. Suamiku
memperkenalkannya padaku, dan memperkenalkanku padanya, sahabatnya sejak lima
belas tahun yang lalu, berpisah tiga tahun yang lalu dan baru bertemu lagi
sekarang, entah aku harus tetap makan dengan tenang, atau tidak. Karena
perempuan itu memonopoli pembicaraan kami, dan aku? Sedang menjadi peran
figuran, atau sebut saja obat nyamuk.
***
Tentang mereka berdua, biar kuceritakan...
Ria,
perempuan manis yang memiliki kejujuran dan ketulusan di binar matanya akhirnya
berhasil membuatku galau berbulan-bulan. Membuat suamiku berubah drastis dan
membuatku penasaran ada apa sebenarnya. Hingga aku temukan sepenggal kisah ini.
Mereka
bersahabat sejak umur 12 tahun, keduanya saling melengkapi dari hal terkecil
sampai hal besar mereka bicarakan tanpa lelah. Dari masalah penting sampai
tidak penting mereka selesaikan bersama tanpa keluh kesah. Selalu bahagia,
berceloteh suka cita hingga dewasa. Mereka berjanji di bawah pohon, di taman
kecil dekat rumah, di bawah hamparan langit, bahwa akan ada saatnya mereka raih
cita-cita bersama. Fauzan ingin jadi guru, Ria ingin jadi dokter. Saat itu
keluarga Fauzan belum sekaya-raya sekarang. Malam itu mereka bicara pada bulan.
Dengan tingkah polos dan lugu...
“Bulan,
kami berdua menulis janji dan disaksikan oleh kamu beserta langit dan semua
bintang-bintang ini. Kalau Ria ingkar janji bilang aku ya.” Ucap Fauzan.
“Kalau
Fauzan ingkar janji kasih tau aku ya bulan.” Ucap Ria.
Mereka
berdua tertawa. Menggulung catatan cita-cita mereka kemudian masing-masing
memasukkan gulungan kertas itu ke dalam satu botol, kemudian mengubur botolnya
di bawah pohon. Sederhana. Tapi kenangan itu sangat berharga.
***
Tujuh
belas tahun. Selamat ulang tahun.
Mereka
semakin dewasa. Mereka masih bersama. Mereka masih satu sekolah, tidak pernah
bertengkar, bahkan persahabatannya semakin dalam. Ini sungguh. Mereka lahir di
tanggal, bulan dan tahun yang sama, hari itu hari ulang tahun yang mereka
rayakan bersama, lagi-lagi di taman kecil itu, di bawah pohon yang masih tetap
seperti dulu malam itu Fauzan dan Ria meniup lilin di atas kue kecil yang
mereka siapkan sejak kemarin.
“Kita
buat surat botol lagi yuk” Ucap Fauzan.
“Yuk,
tapi kali ini permohonan. Gimana?” Tanya Ria.
“Dan
masing-masing gak boleh tahu apa isinya.” Lanjut Fauzan.
Mereka
menulis permohonan di kertas itu, Fauzan senyum-senyum kecil dengan wajahnya
yang khas berkharisma mengiringi gulungan kertasnya, sementara Ria, masih saja
menulis dengan panjang dan akhirnya juga mulai menggulungnya. Kertas itu
lagi-lagi dimasukkan ke dalam botol dan dikubur. Malam semakin merengkuh, Ria
pulang. Fauzan tetap di taman, memandangi hamparan bintang-bintang dan senyum
sang rembulan.
“Bulan. Jika saja Ria tahu apa harapanku”
“Aku benar-benar mencintainya lebih dari
seorang sahabat.”
Bulan
seakan menjawab perbincangannya dengan Fauzan. Dengan kilaunya yang membisu,
mengartikan bahwa bulan hanya bisa diam, tidak tahu harus berbuat apa, karena
perasaan cinta yang dipendam Fauzan tidak boleh diutarakan, kecuali dia bersedia
persahabatannya hanya akan runtuh hancur tak karuan. Fauzan hanya bisa
memendam.
***
Darimana aku tahu cerita itu?
Setelah
reuni kecil dua sahabat itu di Resto, suamiku berubah. Dia acuh, bahkan hanya
sekedar menjawab pertanyaanku, tatapannya begitu tidak berisi, kosong, seperti
menahan pilu. Tiga bulan aku berusaha menahan perasaaanku. Aku kecewa, seperti
terabaikan. Dia sering pulang larut, tidak menelpon, tidak makan di rumah, dan
selalu hambar obrolannya. Selalu tidak bersemangat. Apa dia bosan?
“Ada apa
sebenarnya, apa kamu benar-benar tidak bahagia dengan pernihakan ini?” Aku
bertanya perlahan kepadanya setelah lelah diam memendam.
“Kenapa
tiba-tiba bicara begitu?”
“Sekarang
jawab aku suamiku, apa kamu pernah mencintaiku?” Aku memberanikan bertanya itu
padanya.
Dia
diam.
“Baik,
ada sesuatu yang harus kamu tahu. Aku mencintai seorang wanita yang sejak lama
ku kenal. Tapi aku sudah melupakannya sejak tiga tahun lalu dengan luka yang
teramat dalam yang sangat menyayat hatiku. Aku berhasil melupakannya, hingga
aku bertemu denganmu. Tapi dia tiba-tiba hadir lagi di kehidupanku dan membawa
kenyataan yang membuatku bimbang. Maafkan aku istriku”
“Siapa
dia?” Tanyaku.
Kemudian dia bercerita.
Tentang Ria.
***
Dua
puluh satu tahun.
“Happy Birthday,” Ria tertawa bahagia mengucapkan itu pada Fauzan. Ria membawa
sekotak kado bergambar kucing membawa balon. Lucu. Kekanak-kanakan. Dan Fauzan
begitu menyukainya. Tentang Fauzan,
dia membawa sebuah liontin berinisial RF. Tanda persahabatan ucapnya. Ria juga begitu
senang menerimanya. Lagi-lagi mereka menuliskan harapannya di dalam surat
botol. Ritual aneh itu tidak selalu terjadi setiap tahun, ini kali ketiga
mereka melakukannya. Tiba-tiba air mata Ria menetes seiring senyumnya yang
menatap tajam mata Fauzan.
Fauzan
menyeka air mata itu. “Jangan menangis, persahabatan ini gak akan pernah
berakhir, aku janji. Aku bakal terus jagain kamu dengan doain kamu dari jauh.”
“Kamu
gak ingin melakukan sesuatu buat aku di masa terakhir ini?” Tanya Ria.
“Maksudnya?”
“Kamu
gak mau kasih kado spesial ke aku sebelum aku benar-benar pindah ke Bangkok?”
Tanya Ria.
“Aku mau
lakukan sesuatu buat kamu, sekarang kamu pejamkan mata ya.”
“Sekarang
Bukaaa...” Teriak Fauzan dari kejauhan. Dia berdiri di tengah lapangan kecil di
sudut taman itu, ria menatapnya, lalu ke arah langit, serentetan kembang api
indah meledak di angkasa menyimpulkan senyum kecil di bibir ria. Fauzan yang
selalu menghiburnya setiap hari, mereka akan berpisah dalam waktu dekat. Ria
menatap Fauzan dalam-dalam dari kejauhan. Rasa takut kehilangan.
Ya. Ria
akan menikah. Dia sudah lama berpacaran dengan Antony, pria yang sangat
mencintainya, malam itu Fauzan sangat merasa hatinya dihujam ratusan pedang
tapi rasa sakit itu tidak menyurutkan cintanya sedikitpun kepada Ria. Mereka
merasa malam itu adalah malam perpisahan dan perayaan ulang tahun terakhir yang
akan mereka jalani.
Esok
harinya Ria menikah. Fauzan enggan datang, dia pura-pura sakit dan menitipkan
pesan lewat temannya, menitipkan ucapan selamat yang diselimuti kesakitan yang
teramat merintih perih jika dapat diraba. Fauzan kecewa. Ria terlebih lagi.
***
Dua
puluh empat tahun.
Fauzan
masih rutin mendatangi pohon tua itu. Berbincang kepada rembulan tentang
hatinya, rahasia besarnya, dan kekecewaannya. Fauzan menahan air mata mengingat
memori itu. Selamat ulang tahun Ria. Fauzan
merindukannya, masa-masa persahabatan yang indah itu, persahabatan istimewa
yang dikalahkan oleh cinta. Gerimis. Air langit mengiringi air matanya. Seolah
berkata, kamu pria, jangan menangis
seperti lemah. Ikuti aku. Air hujan seraya menunjukkan sesuatu, titik-titik
air itu jatuh di kaki Fauzan, teringat tiga botol kenangan yang terpendam di
bawah pijakan kaki itu. Fauzan berusaha menggalinya, menggali kenangan yang
terpahat mati tidak mampu dilupakan.
Botol
itu masih sama, hanya saja kertasnya menua, Dia memulai membuka botol yang
tertua, tulisan mereka sangat usang. Kertas Ria bertuliskan “Aku mau jadi dokter” guratan polos
anak-anak tersimpan rapi di kertas itu, Dia tersenyum.
Botol
kedua. Gulungan kertas pertama, tulisan Fauzan. Berisi... “Aku berharap kamu adalah jodohku” Gulungan kedua, kertas Ria. “Sebenarnya aku cinta kamu Fauzan, tapi aku
takut persahabatan ini akan hancur, lagipula aku tidak mungkin mendapatkan
cintamu, seorang muslim sejati, mana mungkin kamu memikirkan hal konyol seperti
ini... Tapi aku berharap kamu juga memiliki perasaan yang sama.” Sontak
Fauzan kaget. Dia tidak menduga sebelumnya Ria juga memendam perasaan itu.
Bagaimana dia tidak menyadarinya, kenapa bulan tidak memberitahunya, andai saja
bulan punya telinga dan dapat bicara, bisa mendengar harapan mereka dan
mengatakannya. Tapi bulan masih diam, tertutup awan.
Botol
ketiga. Fauzan membuka gulungan itu, lagi-lagi tulisannya. “Aku berharap kamu bahagia menjalani pernikahanmu bersama Antony, pria
yang mencintaimu, jangan menangis lagi karena aku sungguh tidak kuasa melihat
rintik air matamu itu, aku benar-benar mencintaimu. Oleh karena itu aku
benar-benar merelakan hatiku demi kebahagiaanmu.” Kemudian gulungan kedua,
perlahan Fauzan membukanya, dia menghela nafas panjang. Isinya, benar-benar
mengejutkan. “Aku berharap kamu besok
lakukan sesuatu untukku, lakukan apapun demi menggagalkan pernikahanku. Aku
berharap besok kamu mendatangiku dengan menyatakan bahwa kamu mencintaiku. Aku
harap kamu mau lakukan itu.” Fauzan merasa kecil, bodoh, bersalah, dan
sangat amat terpukul. Mengapa Ria tidak katakan saja semua itu. Mengapa Ria
relakan kisah indah mereka hanya untuk orang lain, selama ini mereka membatasi
hubungan mereka dan menjunjung tinggi persahabatan di atas segalanya. Bagi
Fauzan Ria adalah perempuan paling berbeda dan berharga yang pernah Fauzan
temui, meskipun mereka berbeda, sikapnya sangat santun dan baik, karena orang
tua mereka bersahabat dan bersebelahan rumah mereka sangat akrab. Fauzan
menyesali itu, jika saja persahabatan mereka tidak ternodai dengan perasaan cinta
pasti saja keduanya sudah bahagia sekarang. Tidak dengan saling menyakiti
pasangan masing-masing dengan kenyataan pahit itu. Dan aku salah satu
korbannya.
***
“Kalau begitu mengapa kamu tidak menemui Ria dan
memperbaiki semuanya? Tanyaku.
“Untuk
apa lagi? Toh kufikir dia sudah bahagia dengan Antony. Bagaimana bisa aku
merusak hubungan orang lain” Jawabnya.
“Lalu
jika dia mencintaimu, kenapa dia menikahi Antony? Kenapa kalian diam saja?”
“Dia pasti
menikah. Cepat atau lambat dia pasti lakukan itu, dan sudah pasti bukan
denganku. Aku lebih cinta Tuhanku daripada dia, aku tidak akan menduakan
Tuhanku karena menikahi gadis beragama lain. Jadi wajar saja aku merelakannya,
wajar saja dia menikahi laki-laki lain. Meskipun aku juga punya perasaan cinta
itu kepadanya, gadis yang selama ini di hatiku, Maria Angelica. Kau fikir apa lagi
yang bisa aku lakukan kecuali hanya merelakannya.” Jawab Fauzan.
“Lalu
apa yang kamu fikirkan? Apa yang membuatmu bersedih? Bukankah semua sudah
selesai?”
Dia
bercerita kembali...
***
Malam
itu sepulang makan bersama, Ria mengundang Fauzan untuk merayakan hari
ulangtahun mereka lagi. Ya. Di pohon itu. Fauzan pun menolak. Alasannya karena
dia sekarang sudah beristri, dan Ria sudah bersuami, bisa jadi fitnah jika
mereka masih melakukan ritual itu seperti dulu, lagipula kali ini beda, mereka
sudah sama-sama dewasa. Tidak lagi anak kecil yang senang bermain-main di pohon
tua.
“Tolonglah,
sekali saja, ini permintaan terakhirku sebagai sahabat lamamu.” Ujar Ria.
Matanya
yang lembut itu, matanya yang bertahun-tahun lalu membuat Fauzan meleleh,
benar-benar tidak bisa membuat Fauzan berkata tidak. Fauzan berfikir, ini demi
sahabatnya, bukan karena ada status hubungan apa-apa. Ria memohon seolah ada
masalah yang berat lebih dari biasanya, seperti dulu, matanya mengadu, hanya
Fauzan yang menjaganya dan bisa menolongnya. Kali ini terulang lagi.
Di bawah
pohon tua Ria katakan semuanya.
“Aku
tidak pernah benar-benar menikahi Antony.”
Fauzan
mendengarnya seketika terbelalak. Seperti tersambar petir di bawah terik matahari.
“Jadi kamu bohongi aku selama ini?” Tanya Fauzan.
“Tidak,
aku hanya sedang menunggu seseorang yang sangat baik hatinya, baik agamanya,
tidak pernah menyakiti orang lain, dia seperti kakak laki-laki bagiku,
menopangku dan menghiasi hariku. Bukan Antony. Aku salah memilih.”
“Siapa?”
“Kamu.
Aku menunggumu hingga kamu mau mengakui perasaanmu itu. Tapi aku sadar, aku
bukan wanita muslimah seperti kriteriamu.”
“Lalu
kenapa tidak katakan saja?”
“Aku
masih menunggumu sampai kamu yang katakan semuanya. Aku berharap kamu
menghentikan pernikahanku, sampai akhirnya aku sendiri yang menghentikannya dengan
katakan bahwa aku tidak pernah mencintai Antony. Ternyata persahabatan yang
menang ya.”
“Ah,
kenapa kamu begitu terlambat, maafkan aku, aku sudah beristri sekarang.”
“Ya, aku
pun kaget mengetahui kenyataan itu, aku
berniat mendatangimu untuk katakan semuanya, dan perbaiki semua ini,
tapi semua sudah terlanjur. Kamu sudah menikah, dengan wanita sempurna pula.
Selamat ya.” Ria tersenyum lebar menanggapi ucapan Fauzan.
Lagi-lagi
Ria menangis, di pohon itu, seperti dulu. Tapi sayangnya Fauzan tidak mampu menyeka
air matanya, hingga Ria menyeka air matanya sendiri.
“Maafkan
aku Ria. Seharusnya aku tahu sejak dulu. Aku tidak bisa menyakiti istriku.”
Fauzan mengucapkan itu tanpa di dengar bulan. Bulan sedang bersembunyi lagi
dibalik mendung.
“Bisakah
kamu meninggalkannya untukku?” Tanya Ria.
“Tidak
akan pernah. Lagipula kita berbeda.”
“Apa
kamu tidak datang kesini tahun lalu?”
“Tidak,
kenapa?”
“Aku
membuat lagi surat botol dan isinya harapan agar bisa bertemu denganmu dan
berharap menikah denganmu, jika saja benar terjadi, aku bersedia masuk agamamu.
Akan kuucapkan dua kalimat syahadat
itu.” Jawab Ria.
Fauzan
tidak menjawab.
“Apa
kamu masih mencintaiku? Aku juga baca semua surat botol itu.”
Fauzan
masih diam.
Berlalu
pergi.
***
“Sudahlah,
aku sudah melupakannya.”
“Tapi
kamu mencintainya.”
“Tidak.
Justru aku sedang belajar mencintaimu, istriku.” Jawab Fauzan dengan senyum
teduhnya itu lagi.
“Maaf,
untuk mengetahui kisah yang rumit ini. Tapi aku benar-benar tidak akan
mengacaukan pernikahan kita, aku berjanji. Maafkan aku.” Fauzan menenangkan,
tapi dengan tatapan yang lagi-lagi sebenarnya kosong. Ya. Aku tahu dia sedang
bersandiwara. Dia pura-pura baik-baik saja dengan hati yang sebenarnya terluka.
***
Biar saja langit mendung dan hujan. Tapi dibaliknya tetap biru kan?
Aku tahu dia tidak cinta aku. Dia cinta orang lain dan aku hanya
orang ketiga. Andai saja bulan bisa mendengar, andai saja bulan katakan kepada
keduanya, aku tidak akan menjadi tembok besar antara dua hati yang seharusnya
terpatri. Ya, menyakitkan memang mencintai sebelah tangan, tapi dia tidak
meninggalkanku deminya itu saja sudah cukup baik bukan?Langit masih biru, dan
hatiku masih sama terluka, dan akan terus begini. Hidup akan terus berlanjut untuk
episode selanjutnya.
Berdamailah hatiku.
Mendung berlalu hilang, awan
tersenyum mengembang, kuhela nafas panjang. Lagi, kusambut hari dengan tanpa
menggenggam cinta dari orang yang kucintai.
Salahkan bulan, yang tidak mau bicara.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)