lima
tahun lalu.
***
Mendung.
Aku menutup mata dan gemuruh
dari langit bergejolak membisukan kehingarbingaran ini dalam sesaat. Ya. Aku sama
saja seperti mereka, aku takut petir, dan bedanya aku lebih takut dibandingkan
mereka. Aku terpaku di sini dan dengan jantung berdegup menunggu pengumuman
kelulusan, langit seraya sedang berbicara padaku.
“Apakah hatimu segelap ini?”
“Ya. Terima kasih mendung
telah menggambarkan isi hatiku” Jawabku.
Satu demi satu teman-temanku
sudah mendapatkan surat kelulusannya dan aku dengan perasaan yang tidak karuan
ini masih duduk di bangkuku dengan harapan yang sebenarnya kosong. Mengapa?
Karena aku tahu setelah ini aku tidak akan lagi miliki kebahagiaan seperti ini.
Seperti saat tertawa riang bersama teman-teman. Seperti saat kurasakan damai
dengan melihat senyum-senyum mereka. Seperti saat keindahan kilau matahari membangunkan
tidurku dan menata langkahku untuk berangkat sekolah. Karena mimpiku mungkin
benar-benar berhenti sampai di titik ini.
“Wina Setiana” Bu Amelia
memanggil namaku dan akupun bergegas maju menuju meja guru. Kelas masih
berisik, kelima sahabatku masih menungguku dengan ceria. Ini. Akhirnya kuraih
kertas ini. Masih halus, dan aku enggan membukanya, kami ber-enam pun pulang
menuju rumah masing-masing dengan perasaan yang sama.
Aku sampai di rumah. Tidak
dengan tersenyum, seperti biasa rumah sepi, Bapak bekerja, dan Ibu... dimana
dia? biasanya Ibu duduk di kursi itu menungguku pulang, tapi tidak dengan hari ini.
Ah, mungkin beliau sedang menyusul Bapak ke ladang.
Kuletakkan saja secarik surat
kelulusan itu yang sama sekali belum kubuka di atas meja ruang keluarga yang
masih sama. Terlihat hangat dan nyaman, dengan menghela nafas aku berbalik ke
arah kamarku dan tertidur.
***
Hangat. Seperti biasa, aku
terbangun dalam dekapan yang tak asing ini.
“Bu...” Ucapku lirih.
“Iya nduk, tadi hujan dan
banyak petir, kamu tidur ketakutan.” Ucap Ibu sambil membelai-belai kepalaku
lembut.
“Bu, aku takut.” Perlahan air
mataku menetes.
“Kenapa?”
“Aku takut gak bisa
bahagiakan Ibu.” Jawabku.
“Bahkan kamu sudah buat Ibu
bangga Nduk. Kamu lulus dengan hasil yang baik.” Ibu mengatakan kalimat itu
dengan senyuman yang membentuk guratan khas di wajahnya itu. Oh, Ibu sudah
membuka surat kelulusannya. Oh, ternyata aku lulus.
“Aku juga sedih Bu.”
“Kenapa?”
“Karena aku gak bisa raih
cita-citaku.”
“Ibu yang lebih sedih. Ibu gagal
menjadi orang tua yang baik. Ibu seharusnya bisa sekolahkan kamu
setinggi-tingginya sampai cita-citamu terwujud. Tapi Ibu cuma orang kecil yang
gak bisa apa-apa. Ibu minta maaf ya Nduk.” Jelas Ibu.
Aku tidak lahir di tengah
keluarga kaya yang serba ada, aku tidak dilahirkan dari orang tua konglomerat
yang berpendidikan tinggi. Tapi aku benar-benar mencintai mereka, kedua orang
tuaku yang menghimpun rupiah demi rupiah untuk biaya sekolahku, mengeluarkan
berjuta-juta tetes peluh dan tenaga demi uang jajanku. dan aku? Belum bisa lakukan
apa-apa untuk mereka.
Boleh aku menangis lagi ya
Bu? izinkan aku hingga mataku terlelap lagi di pelukanmu. Gemericik gerimis
mengiringi air mataku yang juga mengalirkan kekecewaan. Aku benar-benar ingin
jadi dokter, Aku tidak ingin melihat Ibu lain menangisi anaknya yang meninggal
dunia karena sakit. Seperti Ibu yang menangisi Weni, saudara kembarku yang
meninggal dua tahun lalu. Ibu memelukku semakin erat, tapi aku semakin kecewa.
Andai saja Ibu tahu bagaimana mimpiku. Andai saja bisa kuraih itu dan katakan
padanya, jangan bersedih lagi Bu. Tapi sudahlah, itu hanya sekedar angan-angan.
Satu demi satu sahabatku
lolos tes perguruan tinggi. Sore itu mereka datang dan kami berkumpul bersama
di rumahku.
“Selamat ya Li, Bin, kalian
akhirnya bisa kuliah di sana.” Ucapku kepada Lili dan Bintang dengan tersenyum.
Benar kata pepatah, kita merasa sedih jika teman kita gagal, tapi kita akan
merasa lebih sedih jika teman kita lebih sukses. Tidak. Aku tidak sedang iri kepada mereka. Hanya
saja aku sedang memendam kecewa kepada diriku sendiri. Vania, Mimi dan Ema juga
sudah tes perguruan tinggi, meski belum ada pengumuman, tapi setidaknya mereka
menggenggam kemungkinan untuk melanjutkan ke bangku kuliah dan tidak sepertiku.
“Win, kamu sendiri ‘gimana?
Sudah daftar ke mana saja?” Tanya Mimi.
“Aku, gak lanjut kuliah Mi,
aku mau bantu Ibu saja di rumah.” Jawabku.
“Wah, sayang banget, bukannya
kamu pengen sekolah kedokteran?” Tanya Bintang.
“Iya, tapi sekolah kedokteran
mahal Bin.” Aku menjawab dengan menunduk.
“Wina kok pesimis gitu sih?”
Tanya Lili.
“Aku udah bahagia kok dengar
kalian bisa sukses.” Jawabku sambil tertawa kecil.
“Gak, kamu bahagia kalo mimpi
kamu bisa terwujud. Banyak jalan menuju Roma Win. Kamu mah pasti bisa, kan
masih ada tes beasiswa prestasi.” Jelas Lili.
Benar juga. Semangatku
seketika pulih, aku akan mencoba tes beasiswa. Mereka adalah sumber inspirasi
dan motivasi dalam hidupku. Aku mendaftarkan diri mengikuti tes beasiswa
kedokteran yang dibuka oleh salah satu Universitas. Ya. Aku lolos, tentu saja
dengan doa Ibuku dan motivasi sahabat-sahabatku. Sampai akhirnya aku harus menempuh
satu uji tes terakhir, yaitu tes wawancara. Dari lima orang terpilih akan
diseleksi kembali dan hanya akan diterima tiga orang. Jantungku berdegup
kencang, secepat jarum jam yang berdetik di lingkar tanganku.
“Hah. Sudah jam segini. Aku
pasti terlambat”, dengan tergesa-gesa aku membuka payung kecilku dan berlari
menuju halte terdekat dan menunggu bis ke arah Universitas impian. Benar-benar
sudah terlambat. Tapi hujan turun deras, tali sepatuku terlepas, aku belum
sampai halte. Aku merunduk membenahi tali sepatuku. Serangkaian petir tiba-tiba
muncul. Aku spontan merunduk menutupi kepalaku dengan kedua tangan. Terdiam
beberapa detik. Jantungku berdegup kencang. Aku takut. Aku mau pulang. Tapi tidak.
Aku harus lanjutkan perjalanan ini. Benar dugaanku. Aku terlambat. Dan aku di
diskualifikasi. Dan lagi-lagi aku kecewa. Dan lagi-lagi hatiku terasa kacau.
***
Satu tahun berlalu. Aku
bekerja di butik milik tetanggaku. Hari itu terasa sangat lelah hingga ketika
sesampainya di rumah.
“Nduk, Ibu dalam setahun ini
menabung banyak buat kamu, semoga ini cukup buat daftar kuliah, nanti kurangnya
kita usaha lagi ya.” Ibu mendatangiku dengan tersenyum manis. Entah bagaimana
aku menggambarkan betapa menakjubkannya dia.
Betapa istimewanya Ibuku. Betapa perjuangannya melebihi seorang pahlawan dalam
sekian banyak ingatanku. Ibu benar-benar terbaik yang aku miliki..
Aku kuliah. Akhirnya aku bisa
kuliah. Meskipun bukan jurusan kedokteran tidak mengapa setidaknya aku bisa
mengabdi dan berusaha demi Ibuku. Aku sekarang bisa sekolah keperawatan. Sedemikian
terjal jalanku hingga aku mampu duduk di bangku kuliah. Sehari, dua hari,
setahun, dua tahun, rezeki datang dari mana saja, jika aku mau berusaha. Akhirnya
perjalanan panjang ini berlalu dan aku kini benar-benar di ambang perjuanganku.
Aku akan wisuda. Ayah dan Ibu pasti bangga, karena nilaiku yang sangat
memuaskan atas usaha yang susah payah aku lakukan demi mereka. Karena janji
yang murni tulus dari benakku untuk mereka. Orangtuaku yang tiada duanya.
***
Langkahku
kupercepat.
Berjalan
dengan pakaian wisuda ini sungguh membangggakan.
Ini aku
anakmu Ibu. Aku memakai toga ini dan sudahlah seka saja air matamu, kenapa
masih saja menangis melihatku seperti ini. Aku bergegas mendatanginya setelah
prosesi wisudaku. Ibu dan Bapak hadir, aku memeluk mereka dengan erat. Air mata
haru bahagia mereka tertetes di bahuku. Bapak menghela nafas panjang seolah dia
lega atas perjuangannya. Dan Ibu tatapannya masih saja sama, penuh cinta dan
bedanya kali ini diiringi isyarat bahagia dari pancaran matanya. Terimakasih
Ibu, hangat kasih sayangmu benar-benar iringi langkahku dan aku akan terus buat
Ibu bangga seraya berkata “Ini dia Anakku”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)