Gue gak pernah benar-benar tahu kenapa cinta pertama itu
disebut dengan cinta monyet? Apakah penemu kata cinta pertama kali adalah
seekor monyet? Atau, monyet adalah spesies pertama yang merasakan jatuh cinta
pada pandangan pertama? Atau raja gombal sebenarnya adalah seekor raja monyet?
Atau ketika kita pertama kali jatuh cinta wajah kita berubah seperti monyet?
... Okay. Kita berhenti bicara soal
monyet atau kita gak akan pernah menemukan akhirnya di tulisan ini, atau jika
saja lo tahu jawabannya silahkan kirimkan itu ke e-mail gue atau lewat mention
juga boleh.
Gue sih pernah punya pengalaman menarik tentang cinta
monyet, tapi jujur itu sangat amat memalukan bagi gue, jadi kalau saja kenangan
cinta monyet itu ada bentuknya, mendingan gue masukin plastik, terus gue iket
pake karet terus gue masukin ke dalam peti, petinya gue gembok, terus gue
hanyutin ke sungai amazon terus kunci gemboknya gue telen. Intinya gue gak mau
ada yang tahu tentang cinta monyet gue. Sekalipun ada orang yang tahu gue harap
dia gak akan bilang siapa-siapa tentang ini atau ibaratnya gue harap dia nelen
kunci duplikat dari peti yang gue hanyutin.
Waktu kecil gue pernah naksir teman sepermainan gue,
anaknya lucu, manis, gokil, perhatian, dan yang pasti dia cowok banget. Yah
kalau di samain mungkin mirip-mirip Justin
Bieber, sebelas-dua-belas lah.. dia satu sekolah sama gue, kalo kalimat
sebelumnya gue bilang dia lucu, ya. Dia lucu banget. Tapi gue adalah gue, gak cuma
sekarang gue terlihat aneh, tapi tepatnya sejak kecil. Gue jutek sejak kecil,
dan sekalipun dia lucu lebih lucu dari Denny Cagur, gue gak pernah ketawa di
depan dia. Alasannya karena gue sedang... bisa kita sebut dengan... “ja-im”.
Ngomong-ngomong tentang ja-im, kenapa sih manusia harus
melakukan hal itu? Menurut gue ja-im adalah perbuatan nista yang hanya
bertujuan untuk mendzalimi diri sendiri. Contohnya, ketika seseorang ingin
kentut, karena malu lalu dia menahan kentutnya, lalu akhirnya dia sakit pencernaan.
Itu akibat apa? “Ja-im” Ketika seseorang sedang nyasar, karena malu bertanya
dia tersesat di jalan. Itu akibat apa? “Ja-im” kan? Ketika lo suka seseorang,
dia juga suka sama lo, tapi dua-duanya malu, akhirnya si dia keduluan ditembak
yang lain. Terus lo galau. Itu akibat apa? OMG! Sudah, lupakan tentang ja-im atau
hidup lo hanya akan semakin kusut.
Lanjut ke cerita gue ya, setahu gue sih satu sekolah
mana ada yang gak suka sama gue, secara gue murid paling pintar di sekolah.
Jadi gue rasa kenapa gue dan dia gak jadian ya alasannya karena sama-sama ja-im.
Ups.
Lupain paragraf sebelum ini. Cinta monyet ini gue alami
waktu SD. Dan gue yakin kebanyakan orang yang merasakan cinta pertama juga
dialami waktu SD. Gue gak habis fikir, kenapa manusia-manusia jaman sekarang
sudah terlalu cepat dewasa. Maksud gue, bukankah waktu SD adalah waktu yang
tepat buat mempelajari teknik jitu menjadi jawara pemain kelereng tingkat
internasional? Lagi-lagi OH MY GOD! Gue kenapa sebodoh itu. Bukankah hari-hari
gue dulu seharusnya gue habiskan buat mengejar prestasi di sekolah, tapi kenapa
gue malah menghabiskan waktu gue untuk menyukai seseorang. Ini. Benar-benar. Gak
wajar. Gue yakin, kalau saja dulu gue belajar tekun dan menghormati guru dan
ibu kantin, gue yakin. Gue sekarang sudah kuliah di Oxford University. Jangan
remehkan kemampuan gue. Gue males-malesan aja bisa dapat ranking 1.
By the way tentang ranking
1 gue gak bohong. Bukan. Bukan karena gue cucu Einstein, bukan juga karena gue
punya cinta monyet, tapi karena memang sekolah gue adalah sekolah... adalah
sekolah yang... sumpah gue gak tega bilangnya, sumpah, gue gak tahu harus
ngomong apa, tapi ini real. lo bisa
bayangin seorang makhluk seperti gue dapat ranking 1? Lo bisa bayangin sekolah
gue sekolah seperti apa? Ya. Seperti itu. Sekolah gue dulu gak punya WC. Tapi
sekarang punya kok, gue dulu berangkat dari rumah jam 8 dan gue gak sama sekali
dimarahin guru. Sekolah gue mepet banget di depan kuburan. Dan lo tau? Setiap
ada yang meninggal muridnya bubar semua buat nonton jenazahnya di makamin. Dan
lo tau, murid-murid sekolah gue percaya mitos kalau nyimpan bunga melati di
dalam buku kita bisa pintar. Speechless. Gue
gak tahu harus bilang apa, yah... mungkin ini pengaruh pergaulan teman-teman
gue dengan setan kuburan. Tragis.
Cinta monyet gue dikala SD cuma sekedar suka-sukaan. Gak nyampe pacaran,
apalagi menikah. Tapi serius. Ada kakak
kelas gue yang lulus SD langsung menikah. Gue gak tahu gimana rasanya kalau gue
jadi dia, gue harus kehilangan lebih dari setengah hidup gue yang harusnya
bersenang-senang, jadinya sibuk ngurus dedek bayi, gue harus kehilangan
teman-teman gue, kehilangan waktu gue buat bermain rumah-rumahan dan harus mengurus
rumah beneran, dan yang pasti kehilangan kesempatan gue buat duduk di bangku
SMP. Mungkin gue bakal berubah jadi ibu rumah tangga rempong yang setengah
sinting. Oke balik ke topik. Gue suka
sama teman gue itu dengan cara yang aneh, selama bertahun-tahun gue menjalani
kehidupan di bangku SD gue melakukan hari kebalikan setiap bertemu dia. Kalau
ada yang pengen gue omongin, gue jadi diem, setiap dia bertingkah lucu gue gak
ketawa walaupun sebenarnya itu lucu banget bagi gue. Kalau dia nolongin gue, gue
marah. Kalau dia ngajak gue jajan, gue bilang kenyang. Pasti lo tau lah
alasannya kenapa gue seperti itu? Ya. Karena gue sedang berusaha menutupi
perasaan gue, semata-mata gue lakukan itu biar dia gak tahu kalau gue suka dia.
Tapi kadang senjata makan tuan. Karena pernah pada suatu hari...Nggak jadi cerita deh..
Tar ada yang marah, laen kali aja ya kalo gue pengen cerita. Hahaha
-Bersambung-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)