Gemericik air langit hari ini membuat langkah kakiku terpaku
di halte sekolah, aku mau pulang tapi harus menunggu sampai hujan benar-benar
reda, secarik pamflet info penerimaan mahasiswa baru Universitas impianku
tergenggam di tangan dengan agak sedikit basah, buru-buru kumasukkan ke dalam
tas agar tidak semakin basah untuk kuperlihatkan pada ayah sesampainya aku di
rumah.
Aku menyeka titik-titik air yang berlari kecil membasahi
baju putih abu-abuku, baju kebanggaanku karena bersekolah di SMA ini. Tak lama
kemudian awan kembali cerah dan hujan berlalu perlahan.
“Assalamualaikum”
“Wa’alaikum Salam, wah anak Ibu sudah pulang, cepat ganti
baju biar nggak masuk angin” Jawab
Ibu.
Ayah seperti biasa dengan tatapan datar menatapku tanpa
berkata. Entah mengapa aku merasa tidak begitu mengenalnya sejak aku
dilahirkan, beliau orang yang sangat keras dan acuh.
“Yah, habis lulus boleh
Gia melanjutkan kuliah ke Universitas ini?”
Dengan sedikit gugup aku menyodorkan pamflet ke depan ayah.
“Mau ambil jurusan apa?” Tanya Ayah.
“Kedokteran.” Jawabku.
“Ambil Ekonomi saja.” Ucap Ayah.
“Tapi Yah, aku udah lama
mempersiapkan ini, aku mau kuliah kedokteran Yah.” Aku mengelak
“Kamu ikuti kata Ayah atau nggak usah kuliah.” Ucap Ayah sambil berlalu pergi.
Aku merasa harapanku mati di detik ini. Menjadi seorang
dokter adalah cita-citaku sejak kecil dan entah mengapa Ayahku sendiri yang
mematikan langkahku kali ini. Aku tidak bisa berkata apa-apa, Akhirnya aku
kuliah di jurusan Ekonomi, sesuai dengan kemauan Ayah. Tapi aku dengan sangat
berat hati menjalaninya,
“Kamu jaga diri baik-baik ya di sana, kalo ada apa-apa
cepat-cepat telfon Ibu.” Sambil memelukku Ibu meneteskan air mata mengucapkan
kalimat itu.
Di belakang Ibu, Ayah hanya menatapku dengan diam, aku tahu
beban di bahunya semakin berat karena aku, guratan-guratan tua di wajahnya
membuatku ingin menangis dan memelukknya, dia hanya seorang supir angkutan umum
yang hanya memiliki gaji pas-pasan dan kadang tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan keluarga kami, ditambah lagi biaya kuliahku tidak murah juga adikku
sudah mulai masuk SMP.
“Yah, Gia pamit” Aku mencium tangan Ayah dan Ayah tidak
berkata apapun.
Waktupun berlalu, hingga suatu hari aku sakit sendiri di
kos-kosan kecilku, aku menelepon Ibu mengabarkan aku sedang sakit, Ibu sangat
cemas, beberapa jam kemudian Ibu dan Ayah datang ke kos-kosan, Ayah membawakan
aku sekotak nasi
“Jangan telat makan, kalo kaya gini Ayah juga yang susah.”
Ucap Ayah.
“Iya Yah, maafin Gia.” Jawabku.
Masa-masa kuliahku pun terlewati, susah senang aku rasakan
sendiri, hingga akhirnya aku tinggal menunggu hari wisuda tiba. Aku berfikir
ini adalah hadiah yang paling membanggakan bagi Ayah dan Ibu atas jerih payah
mereka, cepat-cepat aku mengambil handphone
untuk mengabari Ibu. Belum sempat memencet tombol call Hpku bergetar ditelepon
Ibu, Kebetulan sekali, fikirku.
“Assalamualaiku Bu,”
“Gia, kamu pulang ya, Ayah meninggal.” Ibu dari jauh sana
menangis.
***
“Ayah, Sebentar lagi Gia wisuda. Tapi kenapa Ayah pergi” Aku
menangis memeluk jasad Ayah.
Ibu menenangkan aku. Ibu bercerita sewaktu aku kuliah Ayah
tak pernah berhenti bekerja untuk mencari uang demi biaya kuliahku. Ayah sampai
sakit-sakitan tidak mempedulikan kesehatannya dan tetap bekerja, sewaktu
menjengukku di kos-kosan Ibu bilang bahwa saat itu ayah tidak memiliki uang
sepeser-pun karena uang yang dimilikinya habis untuk membayar hutang demi biaya
kuliahku semester itu. Ayah membelikan aku nasi kotak dengan meninggalkan HP
sebagai jaminan di warung makan, Ayah yang paling khawatir waktu aku sakit.
“Gia, sebelum ayah meninggal beliau berpesan, Gia harus bisa
jadi anak mandiri dan bikin Ibu dan Ayah bangga” Ucap Ibu
“Iya bu.” Aku menangis tiada henti
“Ayah selama ini mendidik dengan kasar agar Gia jadi anak
yang kuat.” Ucap Ibu
Aku semakin menangis mendengar itu. Guratan senyum ayah
berputar-putar di ingatanku aku berjanji akan menjadi apa yang Ayah inginkan,
Ayahku adalah Ayah terbaik, aku bangga jadi anak Ayah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)