Perempuan
itu terisak datang menemuiku.
“Ada
apa? Sekarang belum waktunya.”
“Tapi
jika tidak begini, kamu tidak menemuiku...” Dia tersedu.
“Kenapa
kamu terus saja mengganggu aku?”
“Karena
sebentuk rasa, semacam... rindu.”
Aku
kemudian menarik tangannya, menggenggam kencang lengannya dan membawanya pergi
dari sini. Perempuan itu mengelak, berusaha menghempaskan tangannya dan
menghentikan aku. Tapi dia sangat lemah. Dia yang kalah.
“Kamu
harus pulang.” Ucapku padanya.
Dia
cemberut lucu. “Aku mau sebentar saja di sini, denganmu.”
“Ada
pekerjaan yang harus aku selesaikan. Pulanglah.”
Akhirnya
dia kembali ke rumah, aku mengantarnya sembari meninggalkan dia yang diam,
tidak lagi banyak bertanya, tidak lagi banyak kata.
-oo-
Perempuan itu
sedang tertidur, kemudian membuka matanya, bangun dari lelapnya, setelah
menemui pangerannya dia justru semakin rindu rasanya.
-oo-
Sang
perempuan berjalan perlahan turun dari ranjangnya, nadinya sendiri kemarin hampir terputus karena
ulahnya. Dia terlalu mencintai aku sampai sedemikian gila, dan sekarang dia
mulai lagi. Berkali-kali dia mencoba membunuh dirinya sendiri, berkali-kali dia
hampir mati, dan kini gagal lagi.
Dia
berjalan ke atap gedung rumah sakit sendiri. Berjalan tertatih dan berdiri lemah
menatap senja. Aku mengintipnya dari sudut ini, tubuhnya indah terlukis langit,
sejajar dengan sisa cahaya sang mega, lalu dia memejam perlahan, kemudian
merentangkan tangan, kakinya di langkahkan ke depan. Dia terbang.
AHH!!
Terjatuh.
Muram
wajahnya.
Tercecer
darahnya.
Kala
senja itu sang perempuan gila mati juga. Sementara aku yang erat menggenggam jiwanya,
kecewa menatap raganya.
-oo-
Dia
tersenyum.
“Akhirnya
kamu datang juga menemuiku.”
Aku
mengangguk.
“Jadi
saat senja?” Tanyanya.
Aku
diam.
“Sebenarnya...
Ada apa denganmu?”
“Aku...
mencintaimu. Dengan mati bunuh diri lagi, aku bisa menemuimu.”
“Bagaimana
bisa?”
“Apa?”
“Kamu
manusia, sedang aku, malaikat pencabut nyawa.”
-oo-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)