Saat senja.
Siluet
perempuan yang kucintai tergambar jelas dari sisi ini, terlentang terdiam di
atas bangku pantai pada hamparan indah, pasir pantai luas yang terlihat
mengusam. Matanya terpejam, bibirnya tersenyum tipis wajahnya menengadah ke
atas. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya karena matanya yang biasanya
berbicara kini sedang tertidur. Lelap.
Lalu hujan.
Turun deras.
Air langit menjatuhi
wajahnya yang merona. Tapi perempuan itu tetap memaku di sana, tapi perempuan
itu tidak tergugah, aku mendekatinya perlahan. Kusentuh kecil pundaknya,
“Audrey, ayo.” Ucapku
Dia membuka matanya, kemudian
melempar senyum padaku.
“Ayolah”. Ajakku
Dia masih diam, melihat
arloji kecilnya kemudian dengan malas dia mengangkat tubuhnya untuk segera
beranjak dari posisi tidurnya yang terlihat nyaman.
“Sebenarnya aku masih
betah di sini” Audrey berkata lirih.
Aku merasa
titik-titik air hujan turun menjatuhi tubuhku dengan kasar dan paksa.
“Sudahlah, atau kamu
akan mati kedinginan.” Jawabku.
Kami berlari kecil
beriringan, tiba-tiba dia menggenggam jemariku, sembari terus berlari, menapaki
pantai Nusa Dua yang terlihat akrab, sang ombak bertegur sapa dengan sang hujan
kemudian menyatu dalam keheningan laut yang dalam.
Kami berhenti, di De Opera Beach Club, memasuki Thai
Restaurant dengan pakaian kebasahan sambil tertawa kecil kami mencari tempat
yang nyaman bagi kami melepaskan lelah dan penat perasaan. Matanya berbinar
manja, dari raut wajahnya dia berbahasa, hatinya sedang bahagia. Sama halnya di
benakku, aku juga sedemikian bahagia.
Dia menatap arlojinya
lagi, kali ini tertahan sedikit lebih lama.
“Aku masih punya berapa
menit lagi?” Tanyanya polos.
“Masih ada ribuan
detik lagi.” Jawabku.
Dia menatapku dengan menyunggingkan
satu senyum terindah yang pernah aku tahu, beriringan dengan matanya yang lalu
membendung sesuatu, kemudian menetes. Dia menangis, tapi dia tersenyum. Entah perempuan
gila macam apa yang sedang ada di hadapanku sekarang, begitu gilanya dia hingga
membuat hatiku bergetar hebat.
Kudekatkan perlahan
tanganku di pipinya, kemudian menghapus air mata itu.
“Terserah sisa waktu
kita berapa lama, aku akan bertahan sampai waktu kita habis dan kamu akan pergi
dengan hati yang gembira, aku janji.” Ucapku lirih.
Senyumnya semakin
mengembang.
“Apa yang kamu
pikirkan ketika tertidur di pinggir pantai?”
“Aku sedang merasakan
detik-detik kebebasan, ringan angin berputar di kepalaku.” Jawabnya.
“Bermain di pantai, dinner romantis, lalu apa setelah ini?”
Tanyaku lembut menatap matanya yang redup.
“Kembang api.”
Jawabnya riang.
Aku menatap sekitar. Hujan
semakin deras. Suasana di De Opera semakin syahdu, lalu gyu-kaku barbeque pesanan
kami datang, santapan lezat malam ini semakin menambah kebahagiaan hatinya pasti.
Tapi aku masih berfikir sesuatu, kembang api di malam hujan...
Malam ini tanpa kata
aku dan dia berhadapan, hanya saling diam. Banyak alasan berkecamuk di hatiku
untuk ingin terus bersamanya, tapi ada satu alasan besar yang tidak dapat
terelak, kenyataan bahwa dia mungkin akan segera meninggalkanku, mengalahkan
egoku dan aku harus benar-benar merelakannya pergi, kembali.
Matanya begitu sayu
sekarang, meski dia tidak sekalipun melepas senyumnya, aku tahu dia sedang
kacau. Begitupun aku, seperti malam ini yang aku harus rela kalah lagi, kembang
api mana yang bisa bercahaya di tengah hujan deras Drey. Aku mulai kecewa.
Aku dan Audrey menyelesaikan
prosesi makan malam terakhir ini, dia kemudian menarikku ke tengah hujan di
luar.
“Maaf” Dia berkata di
bawah tetes air hujan.
“Kenapa Drey, ayo
kita berteduh.” Aku menarik tangannya tapi dia enggan beranjak dari hujan.
“Aku hanya butuh
minta maaf.” Ucapnya pelan.
Aku diam.
“Aku tidak bisa
katakan ini dengan tenang” Ucapnya dilanjutkan dengan bahasa yang keluar dari
cahaya matanya yang terasa sangat menyakitkan.
Dia menangis.
“Aku tidak mau kamu
lihat air mataku, biar saja tertutup hujan.” Ucapnya lagi.
“Sudahlah, luka yang
kamu beri ini luka paling indah Drey.”
Audrey menangis
tatapannya melemah.
“Aku harus apa?”
“Kamu hanya perlu
bahagia.”
Audrey mengangkat
wajahnya ke arahku.
“Kalau begitu, bagaimana
denganmu?” Tanyanya.
“Bagaimanapun kita,
aku hanya akan menerima luka darimu Drey. Aku bersamamu akan terluka, aku melepasmu
juga terluka, sekarang biar aku bahagia dengan menikmati luka ini.” Senyumku
mengantarkan jawaban yang aku kira membuat Audrey mengerti.
Hujan mereda.
Tetes sisanya
terjatuh dari sehelai daun yang bisu. Setangkai bunga yang layu menjadi saksi
membiru kisah malam itu.
Kemudian langit
bercahaya kembali, seperti kisah kami yang menemui solusi. Kami menghidupkan
kembang api setelah malam hujan yang tenang. Audrey menatap sang kembang api
malam dengan diam, kemudian paras cantiknya mengembang. Audrey di genggamanku
malam ini. Hanya untuk malam ini. Karena besok mungkin aku tidak lagi bisa
memandang senyumnya, besok mungkin aku tidak bisa lagi mendengar suaranya
tentang kata-kata cintanya seperti biasa.
“Selamat tinggal
Rangga.” Ucapnya.
“Selamat tinggal
Audrey.” Jawabku, benakku kalut tapi malam ini begitu indah.
Kami terpaku
memandang bintang dan merasakan semu angin malam dengan hening bersamaan. Tapi perpisahan
singkat ini akan membuat kami berpisah dengan bahagia. Hatiku melega, hatiku
padamu adalah sebuah keindahan yang penuh dengan keikhlasan yang begitu tulus
adanya. Mencintaimu saja aku sudah bahagia Drey. Aku melepaskan genggaman
tanganku untuknya dan dia tersenyum lepas.
“Besok kamu sudah
jadi istri orang. Istri Bima, sahabat karibku.” Ucapku lirih.
***
Cahaya
bulan menemui batasnya,
dia
pulang berdamai dengan hatinya,
dia pulang kembali ke kotanya.
Perselingkuhan
ini usai akhirnya...
***







Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)