Wide Awake and Always There



Pernahkah kamu berada dalam keadaan dimana saat itu hanya ada kamu, suara gerimis, udara dingin yang menusuk pori-porimu dengan tajam, dan kenangan yang ingin kamu ulang dua kali.
Aku sedang berada di keadaan itu sekarang.


Sepertinya jam di dinding detiknya atau menitnya, atau entah apa yang salah padanya, berjalan semakin cepat dari yang seharusnya. Sepertinya pohon-pohon disekitarku tumbuh lebih cepat dari seharusnya, begitupun orang-orang, semakin tumbuh lebih dewasa dari yang seharusnya.
Aku masih ingin bermain dengan teman-teman yang datang dari masa kecilku dengan riang. Aku ingin mengulangi saat-saat dimana aku melakukan kesalahan. Bukan untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Tapi untuk meminta maaf kepada orang-orang yang pernah aku lukai.
Sadar atau tidak, ada beberapa orang yang hampir tidak akan pernah melupakan kesalahan orang lain yang dilakukan padanya. Sadar atau tidak, dengan tanpa melakukan apapun ada seseorang yang sedang membencimu tanpa kamu tahu.

“Karna kamu tidak bisa kembali untuk meminta maaf”

“Karena orang yang dulu pernah ada di depan bola matamu, sekarang ada di tempat yang entah, yang tidak pernah kamu tahu”

Aku masih mengingat saat aku sembilan tahun, pergi ke sekolah dengan gembira, tidak pernah menangis, penuh dengan gelak tawa yang kadang aku masih bisa mendengar suara tawa-tawa itu di otakku. Suara tawaku ketika aku masih kecil.

“Saat aku kecil.”

Tidak ada masalah yang lebih berat dari pelajaran olahraga dimana aku tidak pernah bisa memukul bola kasti dengan tepat.

Aku ingat benar. Ada permainan lompat tali bernama “jelly”. “Sebutkan nama-nama buah,” aku dan teman-temanku saling melompati tali dan menyebut “apel, anggur, melon, jeruk” dengan riang. Lalu babak selanjutnya, pemain pertama melompati tali dan berkata “sebutkan nama sahabatmu”. Seorang teman melompati tali dan menyebutkan “Aas”. Namaku. Lalu pada saat giliranku, aku melompati tali dan menyebut nama orang lain. Bukan namanya. Setelah itu? tawa-tawa itu hilang.

Seketika lenyap begitu saja.

Aku salah. Tapi aku masih kecil.

Aku ingat benar. Aku selalu menuruti ibuku ketika aku kecil, saat siang hari ketika matahari sedang terik, ketika itu anak-anak kecil berkumpul bermain di lapangan dekat rumah. Tapi ibu melarangku, Aku selalu disuruh tidur siang bersamanya, dipelukan ibu. Aku ingat benar, ketika dalam hidupku hanya ada ibu-ibu-ibu-dan selalu ibu difikiranku. Pernah. Pernah ada suatu siang dan aku tidak mau tidur siang. Aku pergi keluar rumah bermain dengan kucing kesayangan. Kemudian kucing itu marah, entah apa yang terjadi padanya tapi dia berlari mengejarku dan bertindak gila, kucing itu mencakar-cakar aku dengan hebat.  Aku masih kecil dan hanya bisa terus berlari sambil menangis, yang ada difikiranku kali itu hanya ibu. “Ibu tolong aku” hanya itu yang ada dalam benakku dan rasa ketakutan yang sedemikian besar. Aku amat sangat merasa bersalah karena tidak mendengar ibu. jika aku tidur siang, aku tidak akan dicakar dan digigit kucing. Aku ingin tertawa riang, tapi kenyataannya aku menangis dan berdarah-darah. Aku masih ingat, seperti baru kemarin saja aku menangis karena kucing itu... seperti baru kemarin.

Suara tangisanku ketika aku kecil... Aku masih mendengarnya di otakku.

Waktu aku kecil, segalanya aku ceritakan kepada ibu, segalanya.
Tapi semuanya berubah begitu saja, entah apa yang terjadi kepada kami, tapi aku merasa keadaan kami sudah berubah, tidak ada lagi ibu yang memotong kuku jariku lagi seperti dulu waktu aku kecil, yang menceritakan kisah timun mas berkali-kali sampai aku hafal benar setiap kalimat yang diucapkannya, kamu tahu? Dulu, aku rasa kisah Timun Mas adalah kisah terhebat yang pernah ada di dunia, padahal ada yang lebih hebat seperti kisah superman, spiderman, harry potter, tapi aku tidak peduli itu. Yang aku tahu, apa yang ibu ceritakan, itu yang terbaik.
Tidak ada lagi ibu yang bertanya bagaimana harimu, bagaimana teman-temanmu, apa yang kamu lakukan, apa yang kamu makan.
Bahkan kami hanya bicara sekedarnya saja sekarang.

Waktu aku kecil, aku adalah anak kecil dengan harapan yang paling sedikit yang pernah ada. Waktu aku kecil, aku tidak punya boneka barbie seperti anak-anak lain, tapi aku tidak sedih. Aku tidak pernah dibelikan balon warna-warni atau sekotak coklat atau es krim, tapi aku tidak pernah merengek untuk memintanya. Waktu aku kecil, aku tidak pernah naik komedi putar atau kincir angin di pasar malam bersama ayah atau ibu, tapi aku tidak pernah menangis karena itu. Aku ingat benar ketika aku kecil, pertama kali aku punya keinginan, aku ingin sebuah sepeda kecil roda tiga, tapi aku tidak mengatakannya. Sialnya orangtuaku adalah orang tua terbaik, saat hari ulang tahunku aku jatuh sakit, dan kado terbaik yang pernah aku dapat, sebuah sepeda kecil ada di depan mataku ketika aku bangun tidur. Aku masih ingat suara-suara itu, suara kedua orangtuaku memberi kejutan kecil, bersorak kecil. Masih seperti baru kemarin...

Di masa sekarang, ketika aku bertemu dengan anak kecil, ketika aku menatap lekat apa yang ada di dalam matanya, aku melihat satu dunia yang begitu besar. Sama seperti dunia yang pernah aku miliki, dulu, waktu aku kecil.

Demi apapun jika aku memiliki sebuah kesempatan dalam sebuah lorong waktu, aku mau kembali ke usiaku saat aku sembilan tahun. Saat aku pergi sekolah naik sepeda, tidur siang bersama ibu dan pakaian merah jambu kesukaannya itu, berlari-lari riang di lapangan, aku yang tidak pernah menangis, aku seorang anak yang tidak pernah nakal. Aku yang memandang langit dengan bintang bertaburan bersama ibu pada malam-malam saat mati lampu.

Dan sebuah kesucian hati yang dimiliki seorang anak kecil.

Aku ingin kembali.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau komen? boleehhhh.. :)