Di Persimpangan Kemarin



Di persimpangan kemarin, kita saling mengambil arah yang salah
Tapi bagiku akan selalu ada kesempatan kedua untuk kembali ke jalan yang pernah kita lalui 
dan kita berjalan seiringan
Di persimpangan kemarin, aku sadar aku salah jalan.
Meskipun ini arah yang benar, tetap saja tidak berjalan denganmu terasa begitu salah..
Meskipun aku kembali ke persimpangan kemarin, masihkah ada kamu di sana?
Di persimpangan kemarin, kita saling menyisihkan rasa yang pernah sama.
Egomu dan egoku lalu lalang menciptakan pertengkaran yang aku hampir tidak bisa lupa.
Kemudian sekarang aku berjalan dengan ribuan kenangan yang mengalir di seluruh nadiku.
Kita pernah salah,
Aku.
Juga kamu.
Tidak ada yang benar, tapi di jalan ini waktu mendewasakanku
Entah bagaimana dengan jalanmu di sana.
Tapi ada sesuatu yang nyaman darimu yang membuatku ingin kembali
Ini semua bukan tentang siapa yang salah siapa yang benar,
Siapa yang seharusnya memaafkan siapa yang harusnya meminta maaf.
Bukan tentang semua itu.
Tapi tentang bagaimanapun kamu, kemarahanmu, kesalahanku, keadaan kita.
Bagaimanapun itu, aku tetap ingin pulang padamu, tanpa suatu alasan.
Bukankah cinta adalah sebuah penerimaan? Dan kadang tidak butuh penjelasan.
Dan jujur, meski begitu banyak keindahan di luar sana.
Tapi hanya kamu yang dipikiranku sekarang.
Segala yang terjadi ini tidak seperti yang terlihat
Aku tidak seburuk itu,
Dan aku yakin kamu pun tidak seburuk itu.
Aku tahu tidak ada yang sia-sia dari apa yang telah terjadi pada aku, dan kamu di persimpangan kemarin.
Karena semuanya membuat kita belajar.
Apa yang akan begitu salah, dan apa yang akan menjadi sebuah pembenaran.
Sembari berhenti sejenak dari lelahku di jalan yang sepi ini,
Aku ditemani dengan keikhlasan, perjuangan, dan ingatan tentang sudut-sudut bola matamu yang teduh itu.
Juga dua logika yang menuntut untuk sebuah kepastian.
Berjalan lagi tapi dengan tanpamu.
Atau kembali kepersimpangan untuk menunggumu.
Yang jelas, hidupku hanya saja tentang dirimu.
Aku tahu butuh waktu panjang dan terlalu sulit bagi kita berbalik arah dan memperbaiki semuanya.
Tapi itu tidak berarti bila dibandingkan dengan ingatan-ingatan tentangmu yang begitu mengganggu di tidur-tidur malamku.
Permainan bodoh memang terlihat menyenangkan.
Tapi terlihat bodoh ternyata terasa amat sangat tidak menyenangkan.
Sekarang aku sedang merapikan bekal yang tengah kubawa dari rumah.
Kusisihkan ego, luka, penyesalan dan kesalahan sisa pertengkaran kemarin.
Akan kubawa yang baik-baik saja.
Hati yang besar, harapan, keikhlasan, dan kedewasaan.
Memang luka selalu meninggalkan bekas.
Tapi bukankah bekas luka akan menunjukkan bahwa kita kuat?
Aku tahu kesalahan adalah secangkir formula yang mustahil dilupakan
Tapi aku tahu, perubahan bisa membayar kesalahan.
Dengan maaf yang ikhlas, hati yang dewasa, dan penerimaan yang berarti.
Aku tahu kita akan sama-sama pulang,
Tapi ke hati yang mana aku belum tahu.
Hanya saja aku selalu mendoakanmu dari sisi ini,
Semoga dijalan manapun kamu sedang berada sekarang
kamu tetap baik-baik saja,
Semoga di hati manapun kamu akan pulang
kamu tetap berbahagia.








 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau komen? boleehhhh.. :)