Dini hari yang belum sampai pada pagi, mungkin terlalu dingin bagi mereka yang lebih memilih bersembunyi di balik selimut tebal nan hangat di kamarnya. Mungkin terlalu gelap bagi mereka yang lebih memilih terpejam dan meletakkan tubuhnya dengan damai di atas tempat tidurnya.
Tapi bagiku ini terlalu berharga. Detik-detik sebelum fajar menghadiri lingkaran langit. Ini terlalu indah jika diamati dengan dalam garisan-garisan langit yang terlihat tenang, lukisan raksasa yang ada di atas kepalaku ini, rasanya tidak ada obat penawar yang lebih baik dari ini.
Hatiku terluka, tapi kala menengadah kepada langit subuh, lukanya tidak sakit lagi, dan aku tersenyum kemudian.
Bahagia tidak serumit apa yang difikirkan orang kebanyakan.
Sekarang cuaca yang dingin sudah kalah dengan badanku yang panas didatangi demam, dan awan-awan yang sedang berlayar di rongga kepalaku.
Aku memang sedang tidak enak badan, tapi aku tidak mau dibilang sakit. karena itu terdengar lemah..
Sebentar lagi, lalu aku akan kembali tertidur setelah ini, setelah matahari datang. Karena yang kulihat sekarang matahari sudah menjadi jahat.
Burung-burung kecil berkicauan riuh rendah, daun-daun yang berembun.
Anak-anak kecil senang berlarian membawa petasan entah apa namanya yang jelas itu terdengar mengagetkan campur menyenangkan.
Anak-anak kecil yang terbahak, berbincang yang ala anak-anak, langkah-langkah kaki mungil yang beriringan. Pagi ini akan terpatri dalam ingatan mereka suatu hari nanti. Pagi ini akan jadi memori yang indah bagi mereka dan membuat mereka bahagia ketika mereka mengingat 'dulu-waktu-aku-kecil'.
Dini hari yang terlihat biasa. Tapi penuh panorama bahagia.
Aas Sv - 20 Juni 2015.
05:17 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)