Segalanya dimulai
dari bangku dengan meja separuh yang tidak akan pernah cukup untuk digunakan
tidur siang waktu materi dosen terdengar seperti dongeng pengantar tidur...
Dunia perkuliahan.
Penuh dengan kepastian jika kamu menjalaninya dengan sungguh-sungguh, dan juga
ketidakpastian, jika kamu mulai lelah dan ingin berhenti saja.
Dunia kuliah. Penat,
sudah tentu, materi-materi yang dipaksa terjejal masuk ke otak yang sebenarnya
sudah terlalu penuh untuk mengingat nama-nama artis boyband dan girlband K-POP, atau alur
cerita Tukang Bubur Naik Haji yang sampai ber-sekuel-sekuel.
Dunia kuliah,
mengenal satu dengan yang lain, adalah sebuah hal yang terjadi secara naluriah.
Karena sama-sama merasa berada di posisi yang sama. Entah merasa terprovokasi
dengan dunia keilmuan, entah merasa terpaksa menjadi manusia yang dianggap
pintar oleh tetangga-tetangga dekat rumah yang anaknya hanya mampu berhenti di
SMA. Atau merasa otak yang semakin berdenyut-denyut serasa sebentar lagi akan
meledak karena seperti akan mati kelelahan karena dikejar tugas yang semakin
hari semakin mengerikan.
Entahlah.
Begitu banyak yang
terjadi di dunia kuliah ini.
Aku sendiri masih
tidak menyangka bahwa aku sudah sampai di titik ini, satu semester penentu.
Semester di mana
warna kulit semakin kecoklatan karena terpapar sinar matahari terus-terusan
akibat tuntutan waktu bimbingan yang mengharuskan aku berada di luar rumah
setiap hari dari mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Matahari, debu,
gerai-gerai fotokopian, perut yang kelaparan, perasaan resah gelisah menanti
kata ACC keluar dari sang dosen yang saat ini menjadi urutan No. 2 hal
terpenting dalam hidupku, setelah No. 1 Tuhan Yang Maha Esa Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
Setiap. Hari.
Dari pagi, menanti
saat bimbingan di depan ruangan dosen pembimbing. Hingga sore hari, saat
matahari hampir tenggelam.
Kadang jika sedang
hoki, aku bisa masuk ke ruangan dan menyodorkan hasil kerja jari jemariku yang
terasa seperti sebuah karya terbaik se dunia yang pernah ada. Jika sedang tidak
hoki, aku kembali ke rumah dengan tangan hampa, dengan kartu bimbingan yang
kosong bersih tanpa noda.
Kadang sedih.
Tapi mungkin
disinilah letak perjuangan mahasiswa tingkat akhir. Yang kesabarannya harus
selalu berlimpah. Yang hela nafasnya meski semakin panjang, tapi dituntut
ikhlas dan harus terus berjuang, demi sebuah toga dan rasa bangga kedua orang
tua.
Bisa saja aku
berhenti di sini.
Tapi, tetangga dekat
rumah akan menertawakan aku.
Usahaku yang selama
ini akan sia-sia.
Dan yang paling menyedihkan.
Kedua orang tuaku
akan kecewa.
Memang disinilah
saatnya mahasiswa tingkat akhir harus berjuang, meski langkah kaki yang semakin
lelah, mata yang semakin redup karena terlalu banyak begadang, fikiran yang
terlalu jenuh dipenuhi revisi, tubuh yang semakin pasrah menanti keajaiban
mukjizat “bisa bimbingan”, hati yang semakin kuat bersabar menunggu dosen
pembimbing. Ini pasti selesai, jika aku kuat berusaha. Ini pasti selesai, jika
memang sudah waktunya untuk selesai.
Aku yakin sebuah
perjuangan akan menciptakan sebuah hasil.
Semangatt !!

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus