![]() |
| Analisa Laporan Keuangan |
ANALISA LAPORAN KEUANGAN
(Oleh : Aslihatus Sania Firdaus)
BAB I
(Oleh : Aslihatus Sania Firdaus)
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Untuk
mengetahui tingkat profitabilitas dan tingkat risiko juga kesehatan suatu
perusahaan diperlukan analisis terhadap laporan keuangan perusahaan. Cara
mengetahuinya dengan melakukan langkah-langkah analisis penghitingan
rasio-rasio tertentu berdasarkan kepentingan perusahaan.
Sebagai
mahasiswa ekonomi Islam, diperlukan adanya pemahaman mengenai metode analisis
laporan keuangan yang biasa digunakan dalam kepentingan umum sehari-hari. Oleh
karenanya makalah ini akan menjelaskan mengenai analisis laporan keuangan,
contoh analisis, juga tujuan analisis agar dapat dipahami bagaimana suatu
tujuan akan menentukan jalannya analisis.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apakah
yang dimaksud dengan analisis laporan keuangan?
2. Apa
tujuan analisis laporan keuangan?
3. Bagaimana
cara menganalisis laporan keuangan?
4. Siapa
saja pemakai rasio keuangan?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian analisis laporan keuangan
2. Untuk
mengetahui tujuan analisis laporan keuangan
3. Untuk
mengetahui cara menganalisis laporan keuangan
4. Untuk
mengetahui siapa saja pemakai rasio keuangan.
BAB II
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN
A.
Pengertian
Analisis Laporan Keuangan
Analisis
laporan keuangan adalah analisis yang perlu dilakukan agar informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan menjadi lebih berarti.[1] Analisis
laporan keuangan juga dapat diartikan sebagai kegiatan menafsirkan dan
mengkomunikasikan laporan keuangan yang sudah dihasilkan setelah penyelesaian
penyusunan laporan keuangan.[2] Dengan
adanya analisis laporan keuangan informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan akan memberikan gambaran tentang kinerja perusahaan pada masa lalu.
Hasil analisis ini akan dikomunikasikan kepada para pihak yang berkepentingan
terhadap perusahaan. Berdasarkan hasil analisis ini perusahaan akan mengambil keputusan yang relevan dengan
kepentingannya. Dengan menggunakan model-model analisis dapat mengendalikan
kinerja perusahaan baik dalam suatu periode berjalan maupun dalam satu siklus
operasi tahunan secara berturut-turut. Sebagaimana halnya pihak manajemen,
pihak-pihak luar perusahaan juga dapat mengetahui kinerja dan menilai prospek
sebuah perusahaan melalui pendekatan-pendekatan ini.
Analisis
terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya dilakukan karena
adanya keinginan untuk mengetahui tingkat profitabilitas dan tingkat risiko
atau tingkat kesehatan suatu perusahaan.[3]
Dengan tersedianya program-program komputer, seperti spreadsheet atau program-program akuntansi, atau program-program
yang khusus ditulis untuk tujuan laporan keuangan, perhitungan rasio-rasio
keuangan menjadi hal yang mudah dilakukan. Analisis semacam itu mengharuskan
seorang analisis melakukan beberapa hal: [4]
1. Menentukan
dengan jelas tujuan dari analisis.
2. Memahami
konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasari laporan-laporan keuangan dan
rasio-rasio keuangan yang diturunkan dari laporan keuangan tersebut.
3. Memahami
kondisi perekonomian dan kondisi bisnis lain pada umumnya yang berkaitan dengan
perusahaan dan mempengaruhi usaha perusahaan.
Analisis
keuangan dilakukan dalam beberapa konteks kegiatan ekonomi dengan memiliki
tujuan masing-masing antara lain:[5]
1. Investasi
pada Saham
Analisis yang dilakukan
dapat mengetahui tingkat keuntungan dan risiko pada suatu perusahaan sehingga
investor atau calon investor akan lebih mudah dalam memutuskan menginvestasikan
dananya dalam suatu perusahaan tertentu.
2. Pemberian
Kredit
Analisis laporan
keuangan digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam pengembalian
pinjaman yang diberikan.
3. Kesehatan
Pemasok (supplier)
Perusahaan yang
tergantung pada supply pemasok akan
mempunyai kepentingan pada pemasok tersebut. Perusahaan ingin memastikan bahwa
pemasok tersebut harus sehat dan bisa terus bertahan. Dengan kemungkinan kerja
sama yang terus menerus analisis dari pihak perusahaan akan berusaha
menganalisis profitabilitas perusahaan pemasok, kondisi keuangan, kemampuan
untuk memenuhi operasi sehari-hari, dll.
4. Kesehatan
Pelanggan (customer)
Apabila perusahaan akan
memberikan penjualan kredit kepada pelanggan maka perusahaan memerlukan
informasi mengenai kemampuan pelanggan memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Analisis yang dilakukan akan tergantung pada besarnya kredit, jangka waktu
kredit, jenis usaha pelanggan, besar kecilnya usaha pelanggan dll.
B.
Model
Analisis Laporan Keuangan
Seperti
disebutkan di atas analisis laporan
keuangan terdiri dari beberapa tahapan penafsiran dan pengkomunikasian laporan
keuangan. Untuk memberikan ilustrasi mengenai tahapan tersebut maka diuraikan
beberapa model analisis laporan keuangan.
1.
Model
Analisis Tren
Analisis
tren adalah sebuah model sederhana dati analisis horizontal. Persentase tren
dalam analisis ini menunjukkan perubahan data keuangan perusahaan dalam persen
untuk beberapa tahun berdasarkan suatu tahun dasar tertentu.[6]
Analisis ini lebih bermanfaat untuk menilai perkembangan perusahaan dalam
periode yang relatif lebih lama, misalnya lima tahun. Berikut ini contoh
analisis tren PT CN tahun 2005-2009
2005
|
2006
|
2007
|
2008
|
2009
|
|
Penjualan
(Rp)
Penjualan
(%)
Laba
(Rp)
Laba
(%)
Total
Aktiva (Rp)
Total
Aktiva (%)
|
587.744
100
38.458
100
121.000
100
|
649.210
110,46
40.625
105,63
123.345
101,94
|
697.975
118,75
45.256
117,68
130.123
107,45
|
748.284
127,31
46.195
120,12
135.118
111,67
|
813.352
138,36
46.723
121,49
167.850
138,72
|
Presentase
laba, penjualan dan total aktiva setiap tahun dihitung berdasarkan data tahun
2005.
2.
Model
Analisis Horizontal
Analisis
horizontal adalah suatu perbandingan antara dua tahun laporan keuangan atau
lebih yang disajikan secara komparatif. Untuk kepentingan analisis ini, laporan
keuangan disajikan secara komparatif untuk dua periode laporan atau lebih.[7]
Penyajian dengan cara tersebut memudahkan pembaca laporan untuk membandingkan
elemen-elemen laporan keuangan di antara periode yang dilaporkan. Dalam laporan
ini kemudian disajikan selisih kenaikan atau penurunan nilai setiap elemen
laporan keuangan yang dinyatakan dalam persen dan nilai mata uang tertentu.
Dalam
analisis horizontal dengan neraca dapat dilihat perbandingan-perbandingan,
misalnya dalam neraca dapat dilihat perbedaan total aktiva tahun 2009 sebesar
Rp 167.851,- dengan total aktiva tahun 2008 sebesar 135.118,- dengan
menggunakan model analisis ini dapat diketahui bahwa dibanding tahun 2008 total
aktiva perusahaan tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar Rp 32.733,- atau sebesar
24,23 % dengan perhitungan sebagai berikut:
Kenaikan
(Rp) = Rp
167.851,- - Rp 135.118,-
Rp
32.733,-
Kenaikan
(%) = Rp
167.851,- - Rp 135.118,-
Rp
135.118,-
= 24,23%
Dalam
hitungan persentase total aktiva mengalami kenaikan sebesar 24,23% atau sebesar
(Rp 32.733,-/Rp 135.118,-_% atau (Rp 167.851,- - Rp 135.118,-) x 100%. Cara
perhitungan ini dapat dibuat untuk menghitung kenaikan atau penurunan nilai
akun lain yang disajikan dalam neraca. Misalnya kenaikan saldo utang jangka
pendek sebesar Rp 21.009,- atau 58,86% dibanding saldo akhir tahun sebelumnya.
Berikut ini analisis
horizontal dengan laporan neraca:[8]
Nama
Akun
|
2009
(Rp)
|
2008
(Rp)
|
Naik
Turun
(Rp) |
Naik
Turun
(%)
|
AKTIVA
|
||||
AKTIVA LANCAR
-
Kas
-
Piutang
Usaha
-
Persediaan
Barang Dagangan
-
Aktiva
Lancar Lain
total
|
32.441
22.997
15.078
1.900
72.726
|
31.413
21.194
14.186
1.700
68.493
|
1.072
1.803
892
200
4.222
|
3,27
18,51
6,29
11,74
6,16
|
AKTIVA TETAP
-
Harga
Perolehan
-
Akumulasi
Penyusutan
total
|
123.000
27.865
95.135
|
88.000
21.375
66.625
|
35.000
6,490
28.510
|
39,77
30,36
42,9
|
TOTAL AKTIVA
|
167.851
|
135.118
|
32.732
|
24,23
|
KEWAJIBAN & EKUITAS
|
||||
UTANG JANGKA
PENDEK
-
Utang
Usaha
-
Utang
Jangka Pendek Lain
total
|
28.890.
27.813
56.703
|
24.557
11.138
35.695
|
4.334
16.675
21.009
|
17, 65
149, 73
58,
86
|
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
-
Utang
Bank
EKUITAS
-
Modal
saham-500 saham
-
Saldo
laba
total
|
14.951
50.000
46.197
96.197
|
19.951
50.000
29.473
79.473
|
(5.000)
-
16.723
16.723
|
(25,06)
-
56, 74
21,04
|
TOTAL KEWAJIBAN & EKUITAS
|
167.851
|
135.
119
|
32.732
|
24,23
|
Sama halnya dengan analisis horizontal
laba rugi, atas elemen laporan laba rugi juga dapat dibuat analisis horizonal
yang menggambarkan kenaikan atau penurunan nilai hasil usaha selama periode
yang dilaporkan. Misalnya laba bersih tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar R
527,- atau 1,14 dibanding tahun 2009.
Cara perhitungan yang sama juga berlaku
untuk semua kelompok akun aktiva lancar, aktiva tetap, aktiva lain-lain, utang
lancar, kewajiban jangka panjang dan ekuitas, beserta elemen-elemen dalam neraca,
serta akun pendapatan dan beban dalam laporan laba rugi. Untuk membedakannya
dari selisih kenaikan, selisih yang merupakan penurunan biasanya dinyatakan
dalam angka yang diberi tanda kurung, baik untuk angka persentase maupun nilai
uang.
3.
Model
Analisis Vertikal
Analisis
vertikal membutuhkan penyajian laporan keuangan perusahaan dalam bentuk common size. Laporan common size ini merupakan suatu bentuk
laporan yang menunjukkan item-item di
dalamnya yang dinyatakan dengan persentase dan juga dalam mata uang. Dalam
laporan laba rugi, persentasenya didasarkan pada total penjualan dan dalam
neraca persentasenya didasarkan pada total aktiva.[9]
Dalam
implementasinya terhadap laporan laba rugi, analisis ini dapat digunakan untuk
mengetahui besarnya tingkat pengorbanan yang dilakukan untuk mencapai tingkat
penjualan yang dicapai dalam operasi bisnis. Penerapannya terhadap neraca dapat
digunakan untuk mengetahui proporsi tiap elemen aktiva, kewajiban, dan modal
dibanding total aktiva. Analisis ini juga sekaligus memberikan indikasi lebih
awal mengenai kesehatan posisi keuangan perusahaan baik dalam komposisi untuk
tahun berjalan maupun menurut perkembangan dari tahun ke tahun.
Sebagai
contoh, misalnya terdapat persentase common
size aktiva lancar sebesar 43,32% pada tahun 2009 dan 50,69 % pada tahun
2008, dengan perhitungan sebagai berikut:
Rasio
2009 =
= 43,32%
Rasio
2008 =
= 50,69%
Berikut
ini contoh analisis vertikal dengan neraca:[10]
Nama
Akun
|
2009
(Rp)
|
2008
(Rp)
|
%
Common Size
2009
|
%
Common Size
2008
|
AKTIVA
|
||||
AKTIVA LANCAR
-
Kas
-
Piutang
Usaha
-
Persediaan
Barang Dagangan
-
Aktiva
Lancar Lain
total
|
32.441
22.997
15.078
1.900
72.726
|
31.413
21.194
14.186
1.700
68.493
|
19,33
13,7
8,98
1,13
43,32
|
23,25
15,69
10,5
1,26
50,69
|
AKTIVA TETAP
-
Harga
Perolehan
-
Akumulasi
Penyusutan
total
|
123.000
27.865
95.135
|
88.000
21.375
66.625
|
73,28
16,60
56,68
|
65,13
15,82
49,31
|
TOTAL AKTIVA
|
167.851
|
135.118
|
100,00
|
100,00
|
KEWAJIBAN & EKUITAS
|
||||
UTANG JANGKA
PENDEK
-
Utang
Usaha
-
Utang
Jangka Pendek Lain
total
|
28.890.
27.813
56.703
|
24.557
11.138
35.695
|
17,21
16,57
33,78
|
18,17
8,24
26,42
|
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
-
Utang
Bank
EKUITAS
-
Modal
saham-500 saham
-
Saldo
laba
total
|
14.951
50.000
46.197
96.197
|
19.951
50.000
29.473
79.473
|
8,91
29,79
27,52
57,31
|
14,77
37,00
21,81
58,82
|
TOTAL KEWAJIBAN & EKUITAS
|
167.851
|
135.
119
|
100,00
|
100,00
|
Jika
dalam analisis vertikal dengan neraca perhitungan common size didapat dari perbandingan yang dilakukan yaitu elemen
berbanding total aktiva, maka dalam laporan laba rugi yang digunakan sebagai
perbandingan adalah jumlah pendapatan. Contohnya, terdapat persentase common size beban pokok penjualan
sebesar 23,08% pada tahun 2009 dan 20,30 % pada tahun 2008 dengan perhitungan
sebagai berikut[11]:
Rasio
2009 =
= 23,08 %
Rasio
2008 =
= 20,30 %
Angka-angka
tersebut menunjukkan bahwa dari total penjualan sebesar Rp 813.352.000,- pada
tahun 2009 diperoleh proporsi laba bruto sebesar 23,08 % dan dari total
penjualan sebesar Rp 748.283.840,- pada tahun 2008 diperoleh laba bruto sebesar
20,30%.
Secara
operasional rasio ini menunjukkan perusahaan harus menghabiskan 76,92 % (100% -
23,08%) dari hasil penjualannya untuk membiayai proses produksi atau pengadaan
persediaan untuk dijual pada tahun 2009, sementara pada tahun 2008 perusahaan
harus menyediakan 79,70% (100%-20,30%) dari hasil penjualannya. Dari segi tren
hal ini menunjukkan peningkatan efisiensi dimana presentase laba bruto
mengalami kenaikan.
4.
Model
Analisis Rasio
Rasio-rasio
keuangan pada dasarnya disusun dengan menggabung-gabungkan angka-angka di dalam
atau antara laporan rugi-laba dan neraca. Dengan cara rasio semacam itu,
diharapkan pengaruh perbedaan ukuran akan hilang.[12]
Rasio
keuangan merupakan suatu cara yang membuat perbandingan data keuangan
perusahaan menjadi lebih berarti. Rasio keuangan menjadi dasar untuk menjawab
beberapa pertanyaan penting mengenai kesehatan keuangan dari perusahaan.
Pertanyaan tersebut meliputi likuiditas perusahaan, kemampuan manajemen
mendanai investasinya, serta hasil yang dapat diperoleh para pemegang saham
dari investasi yang dilakukannya ke dalam perusahaan.[13]
Rasio
keuangan memperagakan hubungan-hubungan finansial antar akun. Oleh karena itu,
manajemen dapat menggunakan hasil perhitungan rasio sebagai standar untuk
mengendalikan kinerja manajemen. Rata-rata industri dan rasio yang dialami pada
masa lalu dapat dijadikan sebagai standar pengukuran kinerja dalam menjalankan
bisnis.
Rasio-rasio
tersebut digunakan untuk melihat prospek dan risiko perusahaan pada masa yang
mendatang. Faktor prospek dalam rasio tersebut akan mempengaruhi harapan
investor terhadap perusahaan pada masa-masa mendatang.[14]
Berikut
ini jenis-jenis rasio keuangan yang dibagi menjadi beberapa kategori, yakni:
a.
Rasio
Likuiditas
Rasio
likuiditas mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek dengan melihat aktiva
lancar perusahaan relatif terhadap utang lancarnya. Dua rasio likuiditas jangka
pendek yang sering digunakan adalah rasio lancar dan rasio quick (acid test ratio).[15]
Rasio
lancar mengukur kemampuan perusahaan memenuhi hutang jangka pendeknya dengan
menggunakan aktiva lancarnya (aktiva yang akan berubah menjadi kas dalam waktu
satu tahun atau satu siklus bisnis). Berikut ini perhitungan rasio lancar untuk
perusahaan ABC.
Rasio
lancar =
=
= 2,2
Rasio
ini dinyatakan dengan desimal dan menunjukkan kemampuan perusahaan membayar
kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar. Atau berapa banyak aktiva lancar
yang tersedia untuk menutupitiap rupiah kewajiban jangka pendek. Rasio di atas
menunjukkan bahwa tiap rupiah kewajiban jangka pendek dijamin dengan aktiva
lancar sebesar Rp 2,2.[16]
Dari
ketiga komponen aktiva lancar (kas, piutang dan persediaan), persediaan
biasanya dianggap merupakan aset yang paling tidak likuid. Hal ini berkaitan
dengan semakin panjangnya tahap yang dilalui untuk sampai menjadi kas, yang
bearti waktu yag diperlukan untuk menjadi kas semakin lama, dan juga
ketidakpastian nilai persediaan. Meskipun persediaan dicantumkan dalam nilai
perolehan /cost, sedangkan apabila
persediaan laku,kas yang diperoleh sama dengan nilai jual yang secara umum
lebih besar dibandingkan dengan nilai perolehan. Dengan alasan di atas,
persediaan dikeluarkan dari aktiva lancar untuk perhitungan rasio quick. Berikut ini perhitungan rasio quick.
Rasio
quick =
=
= 1,4
Angka
di atas bisa diinterpretasikan sebagai berikut “setiap Rp 1 hutang dijamin
dengan Rp 1,4 aktiva lancar di luar persediaan menunjukkan indikasi kelebihan
kas atau piutang, sedangkan angka yang terlalu kecil menunjukkan risiko
likuiditas yang lebih tinggi.
b.
Rasio
Solvabilitas
Rasio
ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban jangka
panjangnya. Perusahaan yang tidak solvabel adalah perusahaan yang total
hutangnya lebih besar dibandingkan total asetnya.[17]
Para
kreditor jangka panjang lebih berkepentingan pada rasio ini. Dengan rasio ini
dapat diketahui[18]:
1) Keberhasilan
perusahaan membelanjai aktivanya. Masalah pertama dapat diketahui dengan rasio
ini atau bisa disebut dengan leverage neraca.
2) Kemampuan
perusahaan menghasilkan laba untuk menutupi beban tetap yang berhubungan dengan
penggunaan dana-dana yang berasal dari bukan pemilik, termasuk penggunaan dana
untuk melunasi bunga obligasi dan pembayaran kembali pokok pinjaman.
Ada beberapa rasio yang
bisa dihitung, antara lain[19]:
1) Rasio
kewajiban terhadap aktiva
Formula yang digunakan
yaitu:
Rasio kewajiban
terhadap aktiva =
=
= 42,69 %
Rasio
kewajiban terhadap aktiva dinyatakan dalam presentase. Mengukur sampai seberapa
besar dana pinjaman yang digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan. Rasio di
atas menunjukkan bahwa tiap rupiah kewajiban dijamin dengan aktiva sebesar Rp
42,69
2) Rasio
kewajiban terhadap ekuitas
Formula yang digunakan
yaitu:
Rasio kewajiban
terhadap ekuitas =
=
=
74,49 %
Rasio ini dinyatakan
dalam presentase dan digunakan untuk mengukur dana yang disediakan oleh
kreditor dan dana yang disediakan oleh pemilik. Rasio di atas menunjukkan bahwa
tiap rupiah kewajiban dijamin dengan ekuitas pemegang saham Rp 74,49
3) Rasio
kewajiban jangka panjang terhadap struktur modal
Formula yang digunakan
yaitu:
Rasio
kewajiban JP thd struktur modal =
=
=
15,54 %
Rasio
ini dinyatakan dalam persentase dan digunakan sebagai alat ukur komponen
struktur modal dalam jangka panjang. Misalkan bunga pinjaman jangka panjang 18
% kali pokok pinjaman, maka rasio di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah
kewajiban dijamin dengan ekuitas pemegang saham sebesar Rp 15,54.
4) Times interest
earned
Formula yang digunakan
yaitu:
TIE =
=
=
15,83
Rasio ini dinyatakan
dalam desimal dan menunjukkan kemampuan memenuhi biaya bunga tahunannya. Rasio
di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah beban bunga di jamin dengan Rp 15,83 laba
sebelum dikurangi bunga.
c.
Rasio
Profitabilitas
Rasio
ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada
tingkat penjualan, aset dan modal saham tertentu[20].
Analisis ini digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang[21]:
1) Kemampuan
perusahaan memperoleh laba bruto
2) Cara
manajemen mendanai investasinya
3) Kecukupan
pendapatan yang dapat diterima pemegang saham biasa dari investasi yang mereka
lakukan dalam pemilikan perusahaan.
Analisis
profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan dari
neraca dan laporan laba rugi yang disediakan oleh perusahaan. Rasio tersebut
terdiri dari rasio margin laba kotor, rasio margin laba bersih, Return of Investment, dan laba per
saham. Contoh perhitungan rasio profitabilitas yaitu[22]:
1)
Margin laba
bersih (%) =
=
=
5,74%
Rasio
di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah penjualan menghasilkan laba setelah pajak
sebesar Rp 0,0574 atau untuk menghasilkan Rp 1 laba setelah pajak diperlukan
penjualan sebesar Rp 5,74
2)
Margin laba bruto (%) =
=
=
23,38%
Rasio
di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah penjualan menghasilkan bruto sebesar Rp
0,2308. Atau untuk menghasilkan Rp 1 laba bruto diperlukan penjualan sebesar Rp
23,08,-
3)
Return
of Investment (ROI) (%) =
=
=
93.446,43/lembar saham
Rasio
di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah laba bersih setelah pajak menghasilkan
laba sebesar Rp 93.446,43 bagi tiap lembar saham biasa.
d. Rasio Aktivitas
Rasio
aktivitas atau rasio efisiensi menyediakan dasar untuk menilai keefektifan
perusahaan menggunakan sumber-sumber daya yang dimilikinya. Rasio efisiensi
dapat ditetapkan untuk tiap kategori aktiva yang menjadi objek investasi atau
penggunaan dana perusahaan. Berikut ini beberapa contoh perhitungan rasio
aktivitas[23]:
Perputaran
persediaan =
=
=
41,49 kali
Rasio
ini dinyatakan dengan desimal dan menyatakan bahwa persediaan mengalami
perputaran 41,49 kali dalam setahun
Hari
persediaan =
=
=
8,68 hari
Hari
persediaan dinyatakan dengan desimal yang menunjukkan jumlah hari atau
panjangnya periode yang diperlukan untuk menyimpan persediaan di gudang
persediaan dalam suatu periode. Rasio di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah
persediaan rata-rata tersimpan di gudang selama 8,68 hari.
Perputaran
modal kerja bersih =
=
=
50,80 kali
Rasio
di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah modal kerja bersih rata-rata berputar
sebanyak 50,80 kali selama setahun.
Begitu
pula penghitungan pada aktivitas lain dalam perusahaan, rasio-rasio di atas
merupakan pedoman umum bagi kebanyakan industri,dan masih banyak terdapat rasio
tambahan yang menjadi kelaziman praktik akuntansi di industri yang bersangkutan.
C. Pemakai Rasio
Keuangan
Selain
manajemen, para pihak yang paling sering menggunakan analisis rasio keuangan
adlaah kreditor jangka pendek, kreditor jangka panjang, investor dan pemegang
saham[24].
Perhatian pertama pada rasio keuangan adalah kemampuan perusahaan memperoleh
laba. Jika profitabilitas baik maka langkah selanjutnya adalah melihat rasio
mana yang paling dekat dengan kepentingan pemakai laporan.
Bagi
semua pemakai informasi, profitabilitas menjadi
penting karena semua pihak berharap keamanan kepentingan keuangannya
bisa terpenuhi dari laba perusahaan. Laba merupakan sumber dana internal yang
dapat diperoleh dari aktivitas normal perusahaan yang tidak membutuhkan biaya
ekstra untuk penyimpanan atau penggunaannya.
1.
Kreditor jangka
pendek
Kredit
jangka pendek terdiri dari pinjaman-pinjaman yang masa jatuh temponya paling
lama 12 bulan. Sebagaimana pemberi kredit pada umumnya, pemberi kredit jangka
pendek juga sangat berkepentingan pada keamanan dana yang disalurkannya.
2.
Kreditor jangka
panjang
Sedikit
berbeda dengan kreditor jangka pendek, kreditor jangka panjang relatif lebih
berisiko tinggi karena rentang waktu pinjaman yang berkisar lima tahun ke atas.
Karena saat jatuh tempo pinjaman yang demikian lama maka debitor jangka panjang
berkepentingan untuk mengetahui kemungkinan pengembalian pokok pinjaman dan
bunga dengan memperhatikan proyeksi kesehatan keuangan perusahaan dalam jangka
panjang tersebut.
3.
Pemegang saham
Secara
teori para pemegang saham sebenarnya merupakan pemodal yang menjadi pemilik sebuah
perusahaan. Karena itu, idealnya emreka sangat berkepentingan terhadap analisis
rasio keuangan perusahaan.
4.
Manajemen
Oleh
karena manajemen merupakan pihak yang bertanggung jawab tentang pencapaian
tujuan perusahaan maka dengan sendirinya manajemen berkepentingan untuk
mengetahui,mengukur, merencanakan dan mengendalikan semua rasio keuangan.
5.
Auditor
Akuntan
pubik sebagai auditor menggunakan berbagai analisis rasio keuangan untuk
melakukan deteksi awal tentang penyajian pos-pos yang tidak biasa dalam laporan
keuangan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Analisis laporan keuangan dapat
diartikan sebagai kegiatan menafsirkan dan mengkomunikasikan laporan keuangan
yang sudah dihasilkan setelah penyelesaian penyusunan laporan keuangan.
Analisis laporan keuangan bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan dan
risiko pada suatu perusahaan untuk menilai kemampuan perusahaan
dalam pengembalian pinjaman yang diberikan.
Cara menganalisis laporan keuangan
dengan menggunakan perhitungan rasio seperti yang dijelaskan pada makalah ini,
yakni antara lain, analisis tren, analisis vertikal, analisis horizontal dan
analisis rasio, analisis rasio terdiri dari, rasio likuiditas, rasio
solvabilitas, rasio profitabilitas, dan rasio aktivitas. Rasio-rasio tersebut
digunakan antara lain oleh para kreditor jangka panjang, kreditor jangka
pendek, auditor, manajemen dan para pemegang saham.
DAFTAR PUSTAKA
L.M. Samryn.
2001. Akuntansi Manajerial, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada)
L.M. Samryn.
2012. Akuntansi Manajemen: Informasi
Biaya untuk Mengendalikan Aktivitas Operasi dan Informasi, Edisi Pertama,
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group)
Mamduh M. Hanafi
dan Abdul Halim. 2003. Analisis Laporan
Keuangan (Edisi Revisi), (Yogyakarta: UPP AMP YKPN)
[1] L.M. Samryn, Akuntansi Manajerial, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2001), h. 319
[2] L.M. Samryn, Akuntansi Manajemen: Informasi Biaya untuk
Mengendalikan Aktivitas Operasi dan Informasi, Edisi Pertama, (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2012), h.401
[3] Mamduh M. Hanafi dan Abdul
Halim, Analisis Laporan Keuangan (Edisi
Revisi), (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2003), h. 5
[4] Ibid
[5] Ibid, h. 5
[6] LM. Samryn, Akuntansi Manajemen, h. 401
[7] Ibid, h. 402
[8] Ibid, h. 403
[9] LM. Samryn, Akuntansi Manajerial, h. 323
[10] Ibid
[11] L.M. Samryn, Akuntansi Manajemen, h.407
[12] Mamduh M. Hanafi dan Abdul
Halim, Op.Cit. h. 75
[13] LM. Samryn, Akuntansi Manajemen, h. 408
[14] Mamduh M. Hanafi dan Abdul
Halim, Op.Cit.
[15] Ibid
[16] LM Samryn, Akuntansi Manajemen, h. 411
[17] Mamduh dan Abdul, Op.Cit. h. 81
[18] LM Samryn, Akuntansi Manajemen, h. 419
[19] Ibid, 420
[20] Mamduh dan Abdul, Op.Cit. h. 83
[21] LM. Samryn, Akuntansi Manajemen, h. 417
[22] Ibid, h. 417
[23] Ibid, h.413-415
[24] Ibid, h.422-423

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)