Analisa Laporan Keuangan


Laporan Keuangan
Analisa Laporan Keuangan

ANALISA LAPORAN KEUANGAN
(Oleh : Aslihatus Sania Firdaus)
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Untuk mengetahui tingkat profitabilitas dan tingkat risiko juga kesehatan suatu perusahaan diperlukan analisis terhadap laporan keuangan perusahaan. Cara mengetahuinya dengan melakukan langkah-langkah analisis penghitingan rasio-rasio tertentu berdasarkan kepentingan perusahaan.
Sebagai mahasiswa ekonomi Islam, diperlukan adanya pemahaman mengenai metode analisis laporan keuangan yang biasa digunakan dalam kepentingan umum sehari-hari. Oleh karenanya makalah ini akan menjelaskan mengenai analisis laporan keuangan, contoh analisis, juga tujuan analisis agar dapat dipahami bagaimana suatu tujuan akan menentukan jalannya analisis.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan analisis laporan keuangan?
2.      Apa tujuan analisis laporan keuangan?
3.      Bagaimana cara menganalisis laporan keuangan?
4.      Siapa saja pemakai rasio keuangan?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian analisis laporan keuangan
2.      Untuk mengetahui tujuan analisis laporan keuangan
3.      Untuk mengetahui cara menganalisis laporan keuangan
4.      Untuk mengetahui siapa saja pemakai rasio keuangan.
BAB II
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

A.      Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan adalah analisis yang perlu dilakukan agar informasi yang disajikan dalam laporan keuangan menjadi lebih berarti.[1] Analisis laporan keuangan juga dapat diartikan sebagai kegiatan menafsirkan dan mengkomunikasikan laporan keuangan yang sudah dihasilkan setelah penyelesaian penyusunan laporan keuangan.[2] Dengan adanya analisis laporan keuangan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan akan memberikan gambaran tentang kinerja perusahaan pada masa lalu. Hasil analisis ini akan dikomunikasikan kepada para pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Berdasarkan hasil analisis ini perusahaan akan  mengambil keputusan yang relevan dengan kepentingannya. Dengan menggunakan model-model analisis dapat mengendalikan kinerja perusahaan baik dalam suatu periode berjalan maupun dalam satu siklus operasi tahunan secara berturut-turut. Sebagaimana halnya pihak manajemen, pihak-pihak luar perusahaan juga dapat mengetahui kinerja dan menilai prospek sebuah perusahaan melalui pendekatan-pendekatan ini.
Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya dilakukan karena adanya keinginan untuk mengetahui tingkat profitabilitas dan tingkat risiko atau tingkat kesehatan suatu perusahaan.[3] Dengan tersedianya program-program komputer, seperti spreadsheet atau program-program akuntansi, atau program-program yang khusus ditulis untuk tujuan laporan keuangan, perhitungan rasio-rasio keuangan menjadi hal yang mudah dilakukan. Analisis semacam itu mengharuskan seorang analisis melakukan beberapa hal: [4]

1.      Menentukan dengan jelas tujuan dari analisis.
2.      Memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasari laporan-laporan keuangan dan rasio-rasio keuangan yang diturunkan dari laporan keuangan tersebut.
3.      Memahami kondisi perekonomian dan kondisi bisnis lain pada umumnya yang berkaitan dengan perusahaan dan mempengaruhi usaha perusahaan.

Analisis keuangan dilakukan dalam beberapa konteks kegiatan ekonomi dengan memiliki tujuan masing-masing antara lain:[5]
1.      Investasi pada Saham
Analisis yang dilakukan dapat mengetahui tingkat keuntungan dan risiko pada suatu perusahaan sehingga investor atau calon investor akan lebih mudah dalam memutuskan menginvestasikan dananya dalam suatu perusahaan tertentu.
2.      Pemberian Kredit
Analisis laporan keuangan digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam pengembalian pinjaman yang diberikan.
3.      Kesehatan Pemasok (supplier)
Perusahaan yang tergantung pada supply pemasok akan mempunyai kepentingan pada pemasok tersebut. Perusahaan ingin memastikan bahwa pemasok tersebut harus sehat dan bisa terus bertahan. Dengan kemungkinan kerja sama yang terus menerus analisis dari pihak perusahaan akan berusaha menganalisis profitabilitas perusahaan pemasok, kondisi keuangan, kemampuan untuk memenuhi operasi sehari-hari, dll.
4.      Kesehatan Pelanggan (customer)
Apabila perusahaan akan memberikan penjualan kredit kepada pelanggan maka perusahaan memerlukan informasi mengenai kemampuan pelanggan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Analisis yang dilakukan akan tergantung pada besarnya kredit, jangka waktu kredit, jenis usaha pelanggan, besar kecilnya usaha pelanggan dll.

B.     Model Analisis Laporan Keuangan
Seperti disebutkan di atas  analisis laporan keuangan terdiri dari beberapa tahapan penafsiran dan pengkomunikasian laporan keuangan. Untuk memberikan ilustrasi mengenai tahapan tersebut maka diuraikan beberapa model analisis laporan keuangan.

1.      Model Analisis Tren
Analisis tren adalah sebuah model sederhana dati analisis horizontal. Persentase tren dalam analisis ini menunjukkan perubahan data keuangan perusahaan dalam persen untuk beberapa tahun berdasarkan suatu tahun dasar tertentu.[6] Analisis ini lebih bermanfaat untuk menilai perkembangan perusahaan dalam periode yang relatif lebih lama, misalnya lima tahun. Berikut ini contoh analisis tren PT CN tahun 2005-2009

2005
2006
2007
2008
2009
Penjualan (Rp)
Penjualan (%)
Laba (Rp)
Laba (%)
Total Aktiva (Rp)
Total Aktiva (%)
587.744
100
38.458
100
121.000
100
649.210
110,46
40.625
105,63
123.345
101,94
697.975
118,75
45.256
117,68
130.123
107,45
748.284
127,31
46.195
120,12
135.118
111,67
813.352
138,36
46.723
121,49
167.850
138,72
Presentase laba, penjualan dan total aktiva setiap tahun dihitung berdasarkan data tahun 2005.


2.      Model Analisis Horizontal
Analisis horizontal adalah suatu perbandingan antara dua tahun laporan keuangan atau lebih yang disajikan secara komparatif. Untuk kepentingan analisis ini, laporan keuangan disajikan secara komparatif untuk dua periode laporan atau lebih.[7] Penyajian dengan cara tersebut memudahkan pembaca laporan untuk membandingkan elemen-elemen laporan keuangan di antara periode yang dilaporkan. Dalam laporan ini kemudian disajikan selisih kenaikan atau penurunan nilai setiap elemen laporan keuangan yang dinyatakan dalam persen dan nilai mata uang tertentu.
Dalam analisis horizontal dengan neraca dapat dilihat perbandingan-perbandingan, misalnya dalam neraca dapat dilihat perbedaan total aktiva tahun 2009 sebesar Rp 167.851,- dengan total aktiva tahun 2008 sebesar 135.118,- dengan menggunakan model analisis ini dapat diketahui bahwa dibanding tahun 2008 total aktiva perusahaan tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar Rp 32.733,- atau sebesar 24,23 % dengan perhitungan sebagai berikut:
Kenaikan (Rp)   =          Rp 167.851,- - Rp 135.118,-
                                       Rp 32.733,-
Kenaikan (%)     =          Rp 167.851,- - Rp 135.118,-
                                                   Rp 135.118,-
                           =          24,23%
Dalam hitungan persentase total aktiva mengalami kenaikan sebesar 24,23% atau sebesar (Rp 32.733,-/Rp 135.118,-_% atau (Rp 167.851,- - Rp 135.118,-) x 100%. Cara perhitungan ini dapat dibuat untuk menghitung kenaikan atau penurunan nilai akun lain yang disajikan dalam neraca. Misalnya kenaikan saldo utang jangka pendek sebesar Rp 21.009,- atau 58,86% dibanding saldo akhir tahun sebelumnya.

Berikut ini analisis horizontal dengan laporan neraca:[8]
Nama Akun
2009
(Rp)
2008
(Rp)
Naik Turun
(Rp)
Naik Turun
(%)
AKTIVA




AKTIVA LANCAR
-          Kas
-          Piutang Usaha
-          Persediaan Barang Dagangan
-          Aktiva Lancar Lain
total

32.441
22.997
15.078
1.900
72.726

31.413
21.194
14.186
1.700
68.493

1.072
1.803
892
200
4.222

3,27
18,51
6,29
11,74
6,16
AKTIVA TETAP
-          Harga Perolehan
-          Akumulasi Penyusutan
total

123.000
27.865
95.135

88.000
21.375
66.625

35.000
6,490
28.510

39,77
30,36
42,9
TOTAL AKTIVA
167.851
135.118
32.732
24,23
KEWAJIBAN & EKUITAS




UTANG JANGKA PENDEK
-          Utang Usaha
-          Utang Jangka Pendek Lain
total

28.890.
27.813
56.703

24.557
11.138
35.695

4.334
16.675
21.009

17, 65
149, 73
58, 86
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
-          Utang Bank
EKUITAS
-          Modal saham-500 saham
-          Saldo laba
total


14.951

50.000
46.197
96.197


19.951

50.000
29.473
79.473


(5.000)

-
16.723
16.723


(25,06)

-
56, 74
21,04
TOTAL KEWAJIBAN & EKUITAS
167.851
135. 119
32.732
24,23

Sama halnya dengan analisis horizontal laba rugi, atas elemen laporan laba rugi juga dapat dibuat analisis horizonal yang menggambarkan kenaikan atau penurunan nilai hasil usaha selama periode yang dilaporkan. Misalnya laba bersih tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar R 527,- atau 1,14 dibanding tahun 2009.
Cara perhitungan yang sama juga berlaku untuk semua kelompok akun aktiva lancar, aktiva tetap, aktiva lain-lain, utang lancar, kewajiban jangka panjang dan ekuitas, beserta elemen-elemen dalam neraca, serta akun pendapatan dan beban dalam laporan laba rugi. Untuk membedakannya dari selisih kenaikan, selisih yang merupakan penurunan biasanya dinyatakan dalam angka yang diberi tanda kurung, baik untuk angka persentase maupun nilai uang.
3.      Model Analisis Vertikal
Analisis vertikal membutuhkan penyajian laporan keuangan perusahaan dalam bentuk common size. Laporan common size ini merupakan suatu bentuk laporan yang menunjukkan item-item di dalamnya yang dinyatakan dengan persentase dan juga dalam mata uang. Dalam laporan laba rugi, persentasenya didasarkan pada total penjualan dan dalam neraca persentasenya didasarkan pada total aktiva.[9]
Dalam implementasinya terhadap laporan laba rugi, analisis ini dapat digunakan untuk mengetahui besarnya tingkat pengorbanan yang dilakukan untuk mencapai tingkat penjualan yang dicapai dalam operasi bisnis. Penerapannya terhadap neraca dapat digunakan untuk mengetahui proporsi tiap elemen aktiva, kewajiban, dan modal dibanding total aktiva. Analisis ini juga sekaligus memberikan indikasi lebih awal mengenai kesehatan posisi keuangan perusahaan baik dalam komposisi untuk tahun berjalan maupun menurut perkembangan dari tahun ke tahun.
Sebagai contoh, misalnya terdapat persentase common size aktiva lancar sebesar 43,32% pada tahun 2009 dan 50,69 % pada tahun 2008, dengan perhitungan sebagai berikut:
Rasio 2009         =         
                           =          43,32%
Rasio 2008         =         
                           =          50,69%
Berikut ini contoh analisis vertikal dengan neraca:[10]
Nama Akun
2009
(Rp)
2008
(Rp)
% Common Size
2009
% Common Size
2008
AKTIVA




AKTIVA LANCAR
-          Kas
-          Piutang Usaha
-          Persediaan Barang Dagangan
-          Aktiva Lancar Lain
total

32.441
22.997
15.078
1.900
72.726

31.413
21.194
14.186
1.700
68.493

19,33
13,7
8,98
1,13
43,32

23,25
15,69
10,5
1,26
50,69
AKTIVA TETAP
-          Harga Perolehan
-          Akumulasi Penyusutan
total

123.000
27.865
95.135

88.000
21.375
66.625

73,28
16,60
56,68

65,13
15,82
49,31
TOTAL AKTIVA
167.851
135.118
100,00
100,00
KEWAJIBAN & EKUITAS




UTANG JANGKA PENDEK
-          Utang Usaha
-          Utang Jangka Pendek Lain
total

28.890.
27.813
56.703

24.557
11.138
35.695

17,21
16,57
33,78

18,17
8,24
26,42
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
-          Utang Bank
EKUITAS
-          Modal saham-500 saham
-          Saldo laba
total


14.951

50.000
46.197
96.197


19.951

50.000
29.473
79.473


8,91

29,79
27,52
57,31


14,77

37,00
21,81
58,82
TOTAL KEWAJIBAN & EKUITAS
167.851
135. 119
100,00
100,00

Jika dalam analisis vertikal dengan neraca perhitungan common size didapat dari perbandingan yang dilakukan yaitu elemen berbanding total aktiva, maka dalam laporan laba rugi yang digunakan sebagai perbandingan adalah jumlah pendapatan. Contohnya, terdapat persentase common size beban pokok penjualan sebesar 23,08% pada tahun 2009 dan 20,30 % pada tahun 2008 dengan perhitungan sebagai berikut[11]:
Rasio 2009         =           
                           =          23,08 %
Rasio 2008         =           
                           =          20,30 %

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa dari total penjualan sebesar Rp 813.352.000,- pada tahun 2009 diperoleh proporsi laba bruto sebesar 23,08 % dan dari total penjualan sebesar Rp 748.283.840,- pada tahun 2008 diperoleh laba bruto sebesar 20,30%.
Secara operasional rasio ini menunjukkan perusahaan harus menghabiskan 76,92 % (100% - 23,08%) dari hasil penjualannya untuk membiayai proses produksi atau pengadaan persediaan untuk dijual pada tahun 2009, sementara pada tahun 2008 perusahaan harus menyediakan 79,70% (100%-20,30%) dari hasil penjualannya. Dari segi tren hal ini menunjukkan peningkatan efisiensi dimana presentase laba bruto mengalami kenaikan.

4.      Model Analisis Rasio
Rasio-rasio keuangan pada dasarnya disusun dengan menggabung-gabungkan angka-angka di dalam atau antara laporan rugi-laba dan neraca. Dengan cara rasio semacam itu, diharapkan pengaruh perbedaan ukuran akan hilang.[12]
Rasio keuangan merupakan suatu cara yang membuat perbandingan data keuangan perusahaan menjadi lebih berarti. Rasio keuangan menjadi dasar untuk menjawab beberapa pertanyaan penting mengenai kesehatan keuangan dari perusahaan. Pertanyaan tersebut meliputi likuiditas perusahaan, kemampuan manajemen mendanai investasinya, serta hasil yang dapat diperoleh para pemegang saham dari investasi yang dilakukannya ke dalam perusahaan.[13]
Rasio keuangan memperagakan hubungan-hubungan finansial antar akun. Oleh karena itu, manajemen dapat menggunakan hasil perhitungan rasio sebagai standar untuk mengendalikan kinerja manajemen. Rata-rata industri dan rasio yang dialami pada masa lalu dapat dijadikan sebagai standar pengukuran kinerja dalam menjalankan bisnis.
Rasio-rasio tersebut digunakan untuk melihat prospek dan risiko perusahaan pada masa yang mendatang. Faktor prospek dalam rasio tersebut akan mempengaruhi harapan investor terhadap perusahaan pada masa-masa mendatang.[14]
Berikut ini jenis-jenis rasio keuangan yang dibagi menjadi beberapa kategori, yakni:

a.      Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif terhadap utang lancarnya. Dua rasio likuiditas jangka pendek yang sering digunakan adalah rasio lancar dan rasio quick (acid test ratio).[15]
Rasio lancar mengukur kemampuan perusahaan memenuhi hutang jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya (aktiva yang akan berubah menjadi kas dalam waktu satu tahun atau satu siklus bisnis). Berikut ini perhitungan rasio lancar untuk perusahaan ABC.
Rasio lancar            =             = 

                                         =          2,2
Rasio ini dinyatakan dengan desimal dan menunjukkan kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar. Atau berapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk menutupitiap rupiah kewajiban jangka pendek. Rasio di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah kewajiban jangka pendek dijamin dengan aktiva lancar sebesar Rp 2,2.[16]
Dari ketiga komponen aktiva lancar (kas, piutang dan persediaan), persediaan biasanya dianggap merupakan aset yang paling tidak likuid. Hal ini berkaitan dengan semakin panjangnya tahap yang dilalui untuk sampai menjadi kas, yang bearti waktu yag diperlukan untuk menjadi kas semakin lama, dan juga ketidakpastian nilai persediaan. Meskipun persediaan dicantumkan dalam nilai perolehan /cost, sedangkan apabila persediaan laku,kas yang diperoleh sama dengan nilai jual yang secara umum lebih besar dibandingkan dengan nilai perolehan. Dengan alasan di atas, persediaan dikeluarkan dari aktiva lancar untuk perhitungan rasio quick. Berikut ini perhitungan rasio quick.
Rasio quick = 
                    = 
                             = 1,4
Angka di atas bisa diinterpretasikan sebagai berikut “setiap Rp 1 hutang dijamin dengan Rp 1,4 aktiva lancar di luar persediaan menunjukkan indikasi kelebihan kas atau piutang, sedangkan angka yang terlalu kecil menunjukkan risiko likuiditas yang lebih tinggi.

b.      Rasio Solvabilitas
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Perusahaan yang tidak solvabel adalah perusahaan yang total hutangnya lebih besar dibandingkan total asetnya.[17]
Para kreditor jangka panjang lebih berkepentingan pada rasio ini. Dengan rasio ini dapat diketahui[18]:
1)      Keberhasilan perusahaan membelanjai aktivanya. Masalah pertama dapat diketahui dengan rasio ini atau bisa disebut dengan leverage neraca.
2)      Kemampuan perusahaan menghasilkan laba untuk menutupi beban tetap yang berhubungan dengan penggunaan dana-dana yang berasal dari bukan pemilik, termasuk penggunaan dana untuk melunasi bunga obligasi dan pembayaran kembali pokok pinjaman.

Ada beberapa rasio yang bisa dihitung, antara lain[19]:
1)      Rasio kewajiban terhadap aktiva
Formula yang digunakan yaitu:
Rasio kewajiban terhadap aktiva       =  
                                                        =  
= 42,69 %
Rasio kewajiban terhadap aktiva dinyatakan dalam presentase. Mengukur sampai seberapa besar dana pinjaman yang digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan. Rasio di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah kewajiban dijamin dengan aktiva sebesar Rp 42,69
2)      Rasio kewajiban terhadap ekuitas
Formula yang digunakan yaitu:
Rasio kewajiban terhadap ekuitas      =  
                                                           =  
= 74,49 %
Rasio ini dinyatakan dalam presentase dan digunakan untuk mengukur dana yang disediakan oleh kreditor dan dana yang disediakan oleh pemilik. Rasio di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah kewajiban dijamin dengan ekuitas pemegang saham Rp 74,49
3)      Rasio kewajiban jangka panjang terhadap struktur modal
Formula yang digunakan yaitu:
Rasio kewajiban JP thd struktur modal   =  
                                                                                                           =  
                                                                 = 15,54 %
 Rasio ini dinyatakan dalam persentase dan digunakan sebagai alat ukur komponen struktur modal dalam jangka panjang. Misalkan bunga pinjaman jangka panjang 18 % kali pokok pinjaman, maka rasio di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah kewajiban dijamin dengan ekuitas pemegang saham sebesar Rp 15,54.

4)      Times interest earned
Formula yang digunakan yaitu:
TIE     =  
           =  
= 15,83
Rasio ini dinyatakan dalam desimal dan menunjukkan kemampuan memenuhi biaya bunga tahunannya. Rasio di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah beban bunga di jamin dengan Rp 15,83 laba sebelum dikurangi bunga.

c.       Rasio Profitabilitas
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset dan modal saham tertentu[20]. Analisis ini digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang[21]:
1)      Kemampuan perusahaan memperoleh laba bruto
2)      Cara manajemen mendanai investasinya
3)      Kecukupan pendapatan yang dapat diterima pemegang saham biasa dari investasi yang mereka lakukan dalam pemilikan perusahaan.
Analisis profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan dari neraca dan laporan laba rugi yang disediakan oleh perusahaan. Rasio tersebut terdiri dari rasio margin laba kotor, rasio margin laba bersih, Return of Investment, dan laba per saham. Contoh perhitungan rasio profitabilitas yaitu[22]:
1)      Margin laba bersih (%)    =
=
= 5,74%
Rasio di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah penjualan menghasilkan laba setelah pajak sebesar Rp 0,0574 atau untuk menghasilkan Rp 1 laba setelah pajak diperlukan penjualan sebesar Rp 5,74
2)      Margin laba bruto (%)     =
=
= 23,38%
Rasio di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah penjualan menghasilkan bruto sebesar Rp 0,2308. Atau untuk menghasilkan Rp 1 laba bruto diperlukan penjualan sebesar Rp 23,08,-
3)      Return of Investment (ROI) (%)  =
                                            =
                                            = 93.446,43/lembar saham
Rasio di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah laba bersih setelah pajak menghasilkan laba sebesar Rp 93.446,43 bagi tiap lembar saham biasa.

d.      Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas atau rasio efisiensi menyediakan dasar untuk menilai keefektifan perusahaan menggunakan sumber-sumber daya yang dimilikinya. Rasio efisiensi dapat ditetapkan untuk tiap kategori aktiva yang menjadi objek investasi atau penggunaan dana perusahaan. Berikut ini beberapa contoh perhitungan rasio aktivitas[23]:
Perputaran persediaan =
=
= 41,49 kali
Rasio ini dinyatakan dengan desimal dan menyatakan bahwa persediaan mengalami perputaran 41,49 kali dalam setahun
Hari persediaan =
=
= 8,68 hari
Hari persediaan dinyatakan dengan desimal yang menunjukkan jumlah hari atau panjangnya periode yang diperlukan untuk menyimpan persediaan di gudang persediaan dalam suatu periode. Rasio di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah persediaan rata-rata tersimpan di gudang selama 8,68 hari.
Perputaran modal kerja bersih =
                        =
= 50,80 kali
Rasio di atas menunjukkan bahwa tiap rupiah modal kerja bersih rata-rata berputar sebanyak 50,80 kali selama setahun.
Begitu pula penghitungan pada aktivitas lain dalam perusahaan, rasio-rasio di atas merupakan pedoman umum bagi kebanyakan industri,dan masih banyak terdapat rasio tambahan yang menjadi kelaziman praktik akuntansi di industri yang bersangkutan.

C.    Pemakai Rasio Keuangan
Selain manajemen, para pihak yang paling sering menggunakan analisis rasio keuangan adlaah kreditor jangka pendek, kreditor jangka panjang, investor dan pemegang saham[24]. Perhatian pertama pada rasio keuangan adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba. Jika profitabilitas baik maka langkah selanjutnya adalah melihat rasio mana yang paling dekat dengan kepentingan pemakai laporan.
Bagi semua pemakai informasi, profitabilitas menjadi  penting karena semua pihak berharap keamanan kepentingan keuangannya bisa terpenuhi dari laba perusahaan. Laba merupakan sumber dana internal yang dapat diperoleh dari aktivitas normal perusahaan yang tidak membutuhkan biaya ekstra untuk penyimpanan atau penggunaannya.
1.      Kreditor jangka pendek
Kredit jangka pendek terdiri dari pinjaman-pinjaman yang masa jatuh temponya paling lama 12 bulan. Sebagaimana pemberi kredit pada umumnya, pemberi kredit jangka pendek juga sangat berkepentingan pada keamanan dana yang disalurkannya.
2.      Kreditor jangka panjang
Sedikit berbeda dengan kreditor jangka pendek, kreditor jangka panjang relatif lebih berisiko tinggi karena rentang waktu pinjaman yang berkisar lima tahun ke atas. Karena saat jatuh tempo pinjaman yang demikian lama maka debitor jangka panjang berkepentingan untuk mengetahui kemungkinan pengembalian pokok pinjaman dan bunga dengan memperhatikan proyeksi kesehatan keuangan perusahaan dalam jangka panjang tersebut.
3.      Pemegang saham
Secara teori para pemegang saham sebenarnya merupakan pemodal yang menjadi pemilik sebuah perusahaan. Karena itu, idealnya emreka sangat berkepentingan terhadap analisis rasio keuangan perusahaan.
4.      Manajemen
Oleh karena manajemen merupakan pihak yang bertanggung jawab tentang pencapaian tujuan perusahaan maka dengan sendirinya manajemen berkepentingan untuk mengetahui,mengukur, merencanakan dan mengendalikan semua rasio keuangan.
5.      Auditor
Akuntan pubik sebagai auditor menggunakan berbagai analisis rasio keuangan untuk melakukan deteksi awal tentang penyajian pos-pos yang tidak biasa dalam laporan keuangan.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Analisis laporan keuangan dapat diartikan sebagai kegiatan menafsirkan dan mengkomunikasikan laporan keuangan yang sudah dihasilkan setelah penyelesaian penyusunan laporan keuangan. Analisis laporan keuangan bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan dan risiko pada suatu perusahaan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam pengembalian pinjaman yang diberikan.
Cara menganalisis laporan keuangan dengan menggunakan perhitungan rasio seperti yang dijelaskan pada makalah ini, yakni antara lain, analisis tren, analisis vertikal, analisis horizontal dan analisis rasio, analisis rasio terdiri dari, rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas, dan rasio aktivitas. Rasio-rasio tersebut digunakan antara lain oleh para kreditor jangka panjang, kreditor jangka pendek, auditor, manajemen dan para pemegang saham.




DAFTAR PUSTAKA

L.M. Samryn. 2001.  Akuntansi Manajerial, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada)
L.M. Samryn. 2012. Akuntansi Manajemen: Informasi Biaya untuk Mengendalikan Aktivitas Operasi dan Informasi, Edisi Pertama, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group)
Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim. 2003. Analisis Laporan Keuangan (Edisi Revisi), (Yogyakarta: UPP AMP YKPN)



[1] L.M. Samryn, Akuntansi Manajerial, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), h. 319
[2] L.M. Samryn, Akuntansi Manajemen: Informasi Biaya untuk Mengendalikan Aktivitas Operasi dan Informasi, Edisi Pertama, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h.401
[3] Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim, Analisis Laporan Keuangan (Edisi Revisi), (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2003), h. 5
[4] Ibid
[5] Ibid, h. 5
[6] LM. Samryn, Akuntansi Manajemen, h. 401
[7] Ibid, h. 402
[8] Ibid, h. 403
[9] LM. Samryn, Akuntansi Manajerial, h. 323
[10] Ibid
[11] L.M. Samryn, Akuntansi Manajemen, h.407
[12] Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim, Op.Cit. h. 75
[13] LM. Samryn, Akuntansi Manajemen, h. 408
[14] Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim, Op.Cit.
[15] Ibid
[16] LM Samryn, Akuntansi Manajemen, h. 411
[17] Mamduh dan Abdul, Op.Cit. h. 81
[18] LM Samryn, Akuntansi Manajemen, h. 419
[19] Ibid, 420
[20] Mamduh dan Abdul, Op.Cit. h. 83
[21] LM. Samryn, Akuntansi Manajemen, h. 417
[22] Ibid, h. 417
[23] Ibid, h.413-415
[24] Ibid, h.422-423

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau komen? boleehhhh.. :)