PERKEMBANGAN EKONOMI ISLAM
PADA MASA AWAL DINASTI ABBASIYAH
A.
Pendahuluan
Sejarah layaknya kacamata masa lalu yang menjadi pijakan atas
langkah setiap insan di masa mendatang. Sejarah peradaban Islam memberikan sumbangsih
dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan ekonomi dalam mengubah dunia.
Perkembangan yang semakin signifikan dalam peradaban Islam salah satunya
ditandai dengan keberhasilan peradaban Daulah Dinasti Abbasiyah dalam kemajuan
ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berfikir. Peran
penting ekonomi sangat disadari oleh para khalifah Dinasti Abbasiyah dalam menentukan maju
mundurnya suatu negara oleh karena itu, mereka memberikan khusus pada
pengembangan sektor ini, terutama pada periode awal Dinasti Abbasiyah.
1.
Latar Belakang
Setelah berakhirnya masa Khulafa ‘al
Rasyidin, di bawah kepemimpinan Muawiyah bin Abi Sofyan, Islam dipimpin
oleh Dinasti Umayyah. Pada saat itu, Islam semakin berkembang dalam segala
aspek hingga perluasan daerah kekuasaan. Setelah pemerintahan Dinasti Umayyah
berakhir, maka pemerintahan Islam digantikan dengan pemerintahan Dinasti
Abassiyah. Dinasti Abbasiyah merupakan khilafah Islam pelanjut
Dinasti Umayyah dan merupakan perwakilan dari kekhilafahan
Islam yang terbesar dan terpanjang dalam sejarah Islam
klasik.
Kemajuan
kebudayaan Islam pada masa Daulah Abbasiyah sering dianggap sebagai sebuah
nostalgia bagi umat Islam, yang tidak akan akan terwujud di zaman sekarang.
Sejarah mencatat bahwa pada masa Daulah Abbasiyah tersebut merupakan puncak
keemasan atau kejayaan Umat Islam. Pada
masa inilah lahir berbagai ilmu pengetahuan, agama, budaya serta beragam
penerjemah-penerjemah ke dalam bahasa lain.
Sejarah
pemikiran ekonomi Islam masa permulaan Dinasti Abbasiyah mengawali corak
kehidupan ekonomi Islam sehingga umat dapat mengambil hikmah dari
kejadian-kejadian yang terjadi pada masa itu, sebagai ilmu untuk menambah
ketakwaan kepada Allah. Kisah-kisah yang terjadi pada masa tersebut dapat
diteladani sebagai bahan belajar pemikiran ekonomi untuk menginspirasi
pembangunan ekonomi Islam yang lebih baik lagi di masa mendatang. Lebih jelasnya,
dalam pembahasan penulisan ini dibahas sejarah perkembangan pemikiran ekonomi
Islam pada masa awal Dinasti Abbasiyah.
2. Rumusan
Masalah
Secara
khusus, penulisan makalah ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan berikut:
a. Bagaimana sejarah masa awal Dinasti
Abbasiyah?
b. Bagaimana perkembangan peradaban dan
perekonomian Islam Dinasti Abbasiyah?
3.
Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan
untuk:
a. Mengetahui sejarah masa awal Dinasti
Abbasiyah.
b. Mengetahui perkembangan peradaban
dan perekonomian Islam Dinasti Abbasiyah.
B.
Sejarah Kelahiran Dinasti Abbasiyah
Awal kekuasaan
Dinasti Abbasiyah ditandai dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Dinasti Umayyah di Andalusia
(Spanyol). Di satu sisi, Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar Amir (jabatan kepala
wilayah ketika wilayah ketika itu), tidak tunduk kepada khalifah yang
ada di Baghdad. Pembangkangan Abd al-Rahman al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip
dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Muawiyah terhadap Ali Bin Abi Thalib.
Dari segi durasi, kekuasaan Dinasti Abbasiyah termasuk lama yaitu sekitar lima
abad. Kekuasaan Dinasti Abbasiyah atau khalifah Abbasiyah, melanjutkan
kekuasaan dinasti Umayyah. Dinamakan khalifah Abbasiyah karena para
pendiri dan penguasa ini adalah keturunan al-Abbas paman nabi Muhammad SAW.
Kelahiran bani Abbasiyah erat kaitannya dengan gerakan
oposisi yang di lancarkan oleh golongan syi’ah terhadap pemerintahan Bani
Umayyah. Golongan Syi’ah selama pemerintahan Bani Umayyah merasa tertekan
dan tersingkir karena kebijakan-kebijakan yang di ambil pemerintah. Hal
ini bergejolak sejak pembunuhan terhadap Husein Bin Ali dan pengikutnya di
Karbela.
Pada masa
pemerintahan Dinasti Umayyah, Bani Abbasiyah telah melakukan usaha perebutan
kekuasaan, Bani Abbasiyah telah mulai melakukan perebutan kekuasaan sejak masa khalifah
Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Khalifah itu dikenal liberal
dan memberikan toleransi kepada kegiatan keluarga Syi’ah. Gerakan itu didahului
oleh saudara-saudara dari Bani Abbas, seperti Ali bin Abdullah bin Abbas,
Muhammad serta Ibrahim al-Imam yang semuanya mengalami kegagalan, meskipun
belum melakukan gerakan yang bersifat politik. Sementara itu, Ibrahim meninggal
dalam penjara karena tertangkap, setelah menjalani hukuman kurrungan karena
melakukan gerakan makar, barulah usaha perlawanan itu berhasil di tangan Abu Abbas, setelah melakukan
pembantaian terhadap seluruh Bani Umayyah, termasuk khalifah Marwan II
yang sedang berkuasa.[1]
Bani Abbasiyah merasa lebih berhak
daripada Bani Umayyah atas kekhalifahan Islam, sebab mereka adalah dari
cabang Bani Hasyim yang secara nasab lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW.
Menurut mereka, orang Bani Umayyah secara paksa menguasai khalifah melalui
tragedi perang siffin. Oleh karena itu, untuk mendirikan Dinasti
Abbasiyah mereka mengadakan gerakan yang luar biasa, melakukan pemberontakan
terhadap Bani Umayyah.[2]
Disebut dalam sejarah bahwa berdirinya Bani Abbasiyah
menjelang berakhirnya Bani Umayyah terjadi bermacam-macam kekacauan antara
lain:
1. Penindasan yang terus menerus
terhadap pengikut Ali dan Bani Hasyim.
2. Merendahkan kaum muslimin yang bukan
bangsa Arab.
3. Pelanggaran terhadap agama Islam dan
hak-hak asasi manusia dengan cara terang-terangan.[3]
Gerakan oposisi terhadap Bani Umayyah dikalangan orang
syi’ah dipimpin oleh Muhammad Bin Ali, ia telah di bai’ah oleh
orang-orang syi’ah sebagai imam. Tujuan utama dari perjuangan Muhammad Bin Ali
untuk merebut kekuasaan dan jabatan khalifah dari tangan Bani Umayyah,
karena menurut keyakinan orang syi’ah keturunan Bani Umayyah tidak berhak
menjadi imam atau khalifah, yang berhak adalah keturunan dari Ali Bin
Abi Thalib, sedangkan Bani Umayyah bukan berasal dari keturunan Ali Bin Abi
Thalib. Pada awalnya golongan ini memakai nama Bani Hasyim, belum
menonjolkan nama Syi’ah atau Bani Abbas, tujuannya adalah untuk mencari dukungan
masyarakat. Bani Hasyim yang tergabung dalam gerakan ini adalah keturunan Ali
Bin Abi Thalib dan Abbas Bin Abdul Muthalib. Keturunan ini bekerjasama untuk
menghancurkan Bani Umayyah.[4]
Bani
Hasyim mencari jalan keluar dengan mendirikan gerakan rahasia untuk
menumbangkan Bani Umayyah. Gerakan ini menghimpun:
1.
Keturunan Ali (Alawiyin) pemimpinnya Abu Salamah;
2.
Keturunan Abbas (Abbasiyah), pemimpinnya Ibrahim
al-Iman;
Strategi yang digunakan untuk menggulingkan Bani Umayyah ada
dua tahap :
1.
Gerakan secara rahasia
Propoganda Abbasiyah dilaksakan dengan strategi yang cukup
matang sebagai gerakan rahasia, akan tetapi Imam Ibrahim pemimpin Abbasiyah yang
berkeinginan mendirikan kekuasaan Abbasiyah, gerakannya diketahui oleh khalifah
Umayyah terakhir, Marwan bin Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh pasukan
dinasti Umayyah dan dipenjarakan di Haran sebelum akhirnya di eksekusi. Ia
mewasiatkan kepada adiknya Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya ketika ia
telah mengetahui bahwa ia akan di eksekusi dan memerintahkan untuk pindah ke Koufah.
2.
Tahap terang-terangan dan terbuka
secara umum
Tahap ini dimulai setelah terungkap surat rahasia Ibrahim
bin Muhammad yang ditujukan kepada Abu Musa Al-Khurasani Agar membunuh setiap
orang yang berbahasa Arab di Khurasan. Setelah khalifah Marwan bin
Muhammad mengetahui isi surat rahasia tersebut ia menangkap Ibrahim bin
Muhammad dan membunuhnya. Setelah itu pimpinan gerakan oposisi dipegang oleh
Abul Abbas Abdullah bin Muhammad as-saffah, saudara Ibrahim bin Muhammad.
Abdul Abbas sangat beruntung, karena pada masanya
pemerintahan Marwan bin Muhammad telah mulai lemah dan sebaliknya gerakan
oposisi semakin mendapat dukungan dari rakyat dan bertambah luas pengaruhnya.
Keadaan ini tambah mendorong semangat Abul Abbas untuk menggulingkan khalifah
Marwan bin Muhammad dari jabatannya. Untuk maksud tersebut Abul Abbas mengutus
pamannya yaitu Abdullah bin Ali untuk menumpas pasukan Marwan bin Muhammad.
Pertempuran akhirnya terjadi antara pasukan yang dipimpin oleh khalifah
Marwan bin Muhammad dengan pasukan Abdullah bin Ali di tepi sungai Al-Zab
Al-Shagirdi, Iran. Marwan bin Muhammad terdesak dan melarikan diri ke Mosul,
kemudian ke palestina, Yordania dan terakhir di Mesir. [6]
Dalam peristiwa tersebut salah seorang pewaris
tahta kekhalifahan Umaiyah, yaitu Abdurrahman yang baru berumurt 20 tahun,
berhasil meloloskan diri ke daratan Spanyol. Tokoh ini yang kemudian berhasil
menyusun kembali kekuatan Bani Umayyah di seberang lautan, yaitu di Keamiran
Cordova. Di sana dia berhasil mengembalikan kejayaan kekhalifahan Umayyah
dengan nama kekhalifahan Andalusia. Pada awalnya kekhalifahan Abbasiyah
menggunakan Kufah sebagai pusat pemertintahan dengan Abu Abbas As-Safah
(750-754m) sebagai khalifah pertama. Kemudian khalifah penggantinya Abu Jakfar
Al-Mansur (750-775m) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Di kota Baghdad
ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai dunia lebih
dari lima abad lamanya. Imperium ini dikenal dengan nama Daulah Abbasiyah.
Abdullah bin Ali terus mengejar pasukan Marwan bin Muhammad
sampai ke Mesir dan akhirnya terjadi pertempuran disana. Marwan bin Muhammad
pun akhirnya tewas karena pasukannya sudah sangat lemah yaitu pada tanggal 27
Zulhijjah 132 H/750 M. Pada tahun 132 H/ 750 M Abul Abbas Abdullah bin Muhammad
diangkat dan di bai’ah menjadi khalifah, dalam pidato pembaitan
tersebut, ia antara lain mengatakan:
“Saya berharap semoga pemerintahan kami (Bani Abbas)
akan mendatangkan kebaikan dan kedamaian pada kalian. Wahai penduduk Koufah,
bukan intimidasi, kezaliman, malapetaka dan sebagainya. Keberhasilan kami
beserta ahlul Bait adalah berkat pertolongan Allah SWT. Hai penduduk Koufah,
kalian adalah tumpuan kasih sayang kami, kalian tidak pernah berubah dalam
pandangan kami, walaupun penguasa yang zalim (Bani Umayyah) telah menekan dan
menganiaya kalian. Kalian telah dipertemukan oleh Allah dengan Bani Abbas, maka
jadilah kalian orang-orang yang berbahagia dan yang paling kami muliakan.....
ketahuilah, hai penduduk Koufah, saya adalah al-Saffah”.[7]
Pergantian
kekuasaan Dinasti Umayyah oleh Dinasti Abbasiyah diwarnai dengan pertumpahan
darah. Meskipun kedua dinasti ini berlatar belakang agama Islam, akan tetapi
dalam pergantian posisi pemerintahan melalui perlawanan yang panjang dalam
sejarah Islam.[8]
Setelah
Abul Abbas resmi menjadi khalifah ia tidak lagi mengambil Damaskus
sebagai pusat pemerintahan tetapi ia memilih Koufah sebagai pusat
pemerintahannya, dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut:
1.
Para pendukung Bani Umayyah masih banyak yang tinggal di
Damaskus
2.
Kota Koufah jauh dari Persia, walaupun orang-orang Persia
merupakan tulang punggung Bani Abbas dalam menggulingkan Bani Umayyah
3.
Kota
Damaskus terlalu dekat dengan wilayah kerajaan Bizantium yang merupakan ancaman
bagi pemerintahannnya, akan tetapi pada masa pemerintahan khalifah
Al-Mansur (754-775 M) dibangun kota Baghdad sebagai ibu kota Dinasti Bani Abbas
yang baru.[9]
Mereka memusatkan kegiatannya di
Khurasan. Dengan Usaha ini, pada tahun 132 H/750 M, tumbanglah Bani Umayyah
dengan terbunuhnya Marwan ibn Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah.
Atas pembunuhan Marwan, mulailah berdiri Daulah Abbasiyah dengan diangkatnya khalifah
yang pertama, yaitu Abdullah ibn Muhammad, dengan gelar Abu a-Abbas
ash-Shaffah, pada tahun 132-136 H/750-754 M.[10]
C. Masa Awal
Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah didirikan pada
tahun 132 H/750 M oleh Abul Abbas Ash-shaffah, dan sekaligus sebagai khalifah
pertama. Kekuasaan Bani Abbasiyah melewati rentang waktu yang sangat panjang,
yaitu lima abad dimulai dari tahun 132-656 H/750-1258 M. Berdirinya
pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah
dikumandangkan oleh bani Hasyim (alawiyun) setelah meninggalnya
Rasulullah dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan
Rasulullah dan anak-anaknya.[11]
Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda
sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya.[12]
Pada awalnya kekhalifahan
Daulah Abbasiyah menggunakan Koufah sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu
Abbas as-Saffah (750-754 M) sebagai khalifah pertama. Akan tetapi
pemerintahannya begitu singkat, as-Saffah meninggal (754-755 M) karena terkena
cacar air ketika berusia 30an.[13]
Kemudian khalifah penggantinya adalah saudara sendiri Abu Ja’far
An-Mansur (754-755 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Kekhilafaan
ini
lahir setelah melakukan perjuangan panjang dan revolusi sosial melawan
kehilafahan Dinasti Umayyah. Pendirian dinasti ini sebagai bentuk reaksi
terhadap kehilafahan Bani Umayyah yang mengalami kemerosotan dimata rakyat.
Obsesi kehilafahan ini adalah jika Dinasti Umayyah pemerintahannya bercorak
Arab, Militeristik dan sekularistik. Maka pemerintahan Dinasti Abbasiyah bercorak
pluralistik etnis, saintifik dan religius.[14]
Pada
Masa pemerintahan dua khalifah yang pertama Abu Abbas As-Saffah (750-754
M) dan saudaranya Abu Ja’far Al-Mansur (754-775 M) merupakan masa pembentukan
dan konsolidasi orientasi pemerintahan. Di antara kedua khalifah ini
Al-Mansurlah yang paling gigih dan pembina yang sesungguhnya di Dinasti
Abbasiyah. Untuk memantapkan posisi Dinasti ia menghadapi lawan-lawannya dengan
keras seperti Bani Umaiyyah, Khawarij dan Syi’ah. Untuk mengokohkan posisi dinastinya,
Al-Mansur mulai mengambil strategi yang berbeda dengan Dinasti Umayyah yang
bercorak ke Arab-an. Ia mengambil hubungan dengan Persia dan melengkapi
struktur pemerintahan. Pertama ia memindahkan ibukota dari Damaskus ke
Baghdad, dekat ibukota Persia, Ctesiphon, pada 762 M. Kedua tentara
pengawal tidak lagi diambil lagi dari orang-orang Arab tetapi dari orang-orang
Persia. Ketiga seperti dalam administrasi pemerintahan Persia, Al-Mansur
membuat tradisi baru mengangkat wazir (Menteri) yang membawahi kepala-kepala
Departemen yaitu Khalid Bin Barmak seorang dari Balkh di Persia. Keluarga
Khalid bin Barmak ini kelak menjadi salah satu sumber perkembangan ilmu
pengetahuan di Bani Abbas.[15]
Saat
propaganda Abbasiyah sampai ke khurasan, Khalid bin Barmak merupakan
propagandis Abbasiyah paling besar. Kemudian Abu Abbas As-saffah mengangkatnya
sebagai menteri sehingga Khalid Bin Barmak memegang banyak kedudukan dengan
catatan baik dan ia memegang pemerintahan dengan terpuji hingga meninggal dunia
tahun 163 H.[16]
Pada 7 Oktober 775 M, Al-Mansur meninggal di dekat Mekkah dalam
perjalanan ibadah haji ketika usianya lebih dari 60 tahun. Pengganti Al-Mansur
yakni Al-Mahdi (775-785)M, Al-Mahdi mempercayakan pendidikan anaknya, Harun
kepada putra Khalid Bin Barmak yakni Yahya bin Khalid Al-Barmaki.[17] Kemudian
Khalifah Al-Mahdi meninggal ketika sedang berburu dan jatuh dari kuda yang
ditungganginya.
Pengganti Al-Mahdi ialah Al-Hadi sebagaimana wasiat yang diterima
dari Ayahnya bahwa sepeninggalnya dialah yang menjadi khalifah sedangkan
saudaranya yang bernama harun Ar-Rasyid akan memangku jabatan khalifah
pada masa berikutnya. Al-Hadi meninggal pada malam sabtu 16 Rabiul Awal
170 H yakni pada umur 26 tahun, Sesudah memerintah dinasti Abbasiyah selama
satu tahun tiga bulan akibat diracun oleh ibunya sendiri Khaizuran. Sebelum khalifah
Al-Hadi meninggal khalifah Al-Hadi berbuat tidak jujur dan menyalahi
wasiat ayahnya. Dengan keinginannya untuk mengangkat anaknya sendiri bernama
Ja’far yang masih dibawah umur sebagai penggantinya nanti dan mengucilkan
Harun. Semula maksudnya itu disetujui oleh pembesar-pembesar istananya. Hanya
seorang dari mereka yang tidak menyetujuinya yaitu Yahya bin Khalid Al-Barmaki
yang berani menasehati agar khalifah Al-Hadi mengurungkan niatnya karena
Ja’far masih kanak-kanak. Akan tetapi nasehat itu tidak diindahkannya. Bahkan
Yahya sendiri dimasukkan ke dalam penjara dan akan dibunuhnya. Akan tetapi
beruntung niat khalifah Al-Hadi tidak terlaksana karena khalifah
Al-Hadi telah menemui ajalnya. Kemudian kepemimpinan dinasti Abbasiyah
digantikan oleh khalifah Harun Ar-Rasyid. Bukan anaknya Khalifah Al-Hadi karena
anak Al-Hadi masih kecil.[18]
Ketika Harun menjadi khalifah ia juga mengangkat keturunan
Barmak yang tetap ia panggil bapak dengan penuh hormat, yakni Yahya
bin khalid bin Barmak sebagai wazir dengan kekuasaan yang tak terbatas.
Yahya bin Kalid bin Barmak, putra khalid bin Barmak adalah manusia paling
tinggi moralnya, keutamaannya dan kemurahan hatinya. Ia menduduki jabatan sejak
tahun 158 H, ia dicintai dan dia sendiri yang berperan mendidik Harun
Ar-Rasyid, Yahya juga adalah sosok yang memberi kuasa kepada Harun Ar-Rasyid
menjadi khalifah meskipun ia tidak disukai Al-Hadi.
D. Sistem
Pemerintahan dan Masa Kekuasaan Bani Abbasiyah
1. Sistem
Politik dan Sosial
Khalifah pertama Bani Abbasiyah, Abul Abbas
yang sekaligus dianggap sebagai pendiri Bani Abbas, menyebut dirinya sebagai
julukan al-Saffah yang berarti sang penumpah darah. Sedangkan khalifah
Abbasiyah kedua mengambil gelar al-Mansur dan meletakkan dasar-dasar
pemerintahan Abbasiyah. Di bawah Abbasiyah, kekhalifahan berkembang sebagai
sidtem poltik. Dinasti ini muncul dengan bantuan orang-orang Persia yang merasa
bosan terhadap bani Umaiyah di dala masalah sosial dan politik diskriminasi.
Khalifah-khalifah Abbasiyah yang memakai gelar “imam”, pemimpin masyarakat
Muslim bertujuan untuk menekankan arti keagamaan kekhalifahan Abbasiyah
mencontoh tradisi Umaiyah di dalam mengumumkan lebih dari satu putra mahkota.
Al-Mansur dianggap sebagai pendiri kedua dari
dinasti Abbasiyah dan merupakan pusat perdagangan serta kebudayaan. Hingga
Baghdad dianggap sebagai kota terpenting di dunia pada saat itu yang kaya akan
ilmu pengetahuan dan kesenian. Hingga beberapa dekade kemudian dinasti
Abbasiyah mencapai masa kejayaan. Ada beberapa sistem politik yang dijalankan
oleh Daulah Abbasiyah, yaitu di antaranya:
a.
Para khalifah tetap dari keturunan Arab murni, sedangkan
pejabat lainnya diambil dari kaum Mawalai,
b.
Kota Baghdad dijadikan sebagai ibu kota negara,
yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan budaya serta terbuka
untuk siapa saja, termasuk bangsa dan penganut agama lain
c.
Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang
mulia, yang penting dan sesuatu yang harus dikembangkan.
d.
Kebebasan berfikir sebagai hak asasi manusia.
Pada masa ini sistem sosial adalah sambungan
dari masa sebelumnya (masa dinasti Umaiyah) akan tetapi pada masa ini terjadi
beberapa perubahan yang sangat mencolok, yaitu:
a.
Tampilnya kelompok Mawali dalam pemerintahan
serta mendapatkan tempat yang sama dalam kedudukan sosial.
b.
Kerajaan Islam Abbasiyah terdiri dari beberapa
bangsa yang berbeda-beda (bangsa Mesir, Syam, Jazirah Arab,dll).
c.
Perkawinan campuran yang menghasilkan darah
campuran.
d.
Terjadinya pertukaran pendapat sehingga muncul
kebudayaan baru.
2. Masa
Kekuasaan Bani Abbasiyah
Selama dinasti Bani Abbasiyah
berdiri pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan
politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan pola pemerinthan itu, para sejarawan
biasanya membagi kekuasaan Bani Abbasiyah pada empat periode :
a. Masa Abbasiyah I, yaitu semenjak
lahirnya Dinasti Abbasiyah tahun 132 H/750 M sampai meninggalnya khalifah
Al-Watsiq 232 H/847 M.
b. Masa Abbasiayah II, yaitu mulai khalifah
Al-Mutawakkil pada tahun 232 H/847 M sampai berdirinya Daulah Buwaihiyah di
Baghdad tahun 334 H/946 M.
c. Masa Abbasiyah III, yaitu dari
berdirinya Daulah Buwaihiyah tahun 334 H/946 M sampai masuknya kaum Saljuk ke
Baghdad Tahun 447 H/1055 M
d.
Masa Abbasiyah IV, yaitu masuknya kaum saljuk di Baghdad
tahun 447 H/1055 M sampai jatuhnya Baghdad ketangan bangsa Mongol dibawah
pimpinan Hulagu Khan pada tahun 656 H/1258 M.[19]
a.
Masa Abbasiyah I ( 132 H/750 M-232
H/847 M )
Masa ini diawali sejak Abul Abbas menjadi khalifah
dan berlangsung selama satu abad hingga meninggalnya khalifah Al-Watsiq.
Periode ini dianggap sebagai zaman keemasan Bani Abbasiyah. Hal ini disebabkan
karena keberhasilannya memperluas wilayah kekuasaan.
Wilayah kekuasaannya membentang dari laut Atlantik hingga
sungai Indus dan dari laut Kaspia hingga ke sungai Nil. Pada masa ini ada
sepuluh orang khalifah yang cukup berprestasi dalam penyebaran Islam
mereka adalah khalifah Abul Abbas ash-shaffah(750-754 M), Al-Mansyur (
754-775 M), Al-Mahdi (775-785 M), Al-Hadi (785-786 M), Harun Al-Rasyid (786-809
M), Al-Amin (809 M), Al-Ma’mun (813-833 M), Ibrahim (817 M), Al-Mu’tasim
(833-842 M), dan Al-Wasiq (842-847 M).
b.
Masa Abbasiyah II ( 232 H/847 M-334
H/946 M)
Periode ini diawali dengan meninggalnya khalifah
Al-Wasiq dan berakhir ketika keluarga Buwaihiyah bangkit memerintah.
Sepeninggal Al-Wasiq, Al-Mutawakkil naik tahta menjadi khalifah, masa
ini ditandai dengan bangkitnya pengaruh Turki.
Setelah Al-Mutawakkil meninggal dunia, para jendral yang
berasal dari Turki berhasil mengontrol pemerintahan. Ada empat khalifah
yang dianggap hanya sebagai simbol pemerintahan dari pada pemerintahan yang
efektif, keempat pemerintahan itu adalah Al-Muntasir (861-862 M ), Al-Musta’in
(862-866 M), Al-Mu’taz (866-896 M), dan Al-Muhtadi (869-870 M). Masa
pemerintahan ini dinamakan masa disintegrasi, dan akhirnya menjalar keseluruh
wilayah sehinngga banyak wilayah yang memisahkan diri dari wilayah Bani Abbas
dan menjadi wilayah merdeka seperti Spanyol, Persia, dan Afrika Utara.
c.
Masa Abbasiyah III (334 H/946 M -447
H/1055 M)
Masa ini ditandai dengan berdirinya Dinasti Buwaihiyah,
yaitu Pada masa ini jatuhnya Khalifah Al-Muktafi (946 M) sampai dengan khalifah
Al-Qaim (1075 M). Kekuasaaan Buwaihiyah sampai ke Iraq dan Persia barat, sementara
itu Persia timur, Transoxania, dan Afganistan yang semula dibawah kekuasaan
Dinasti Samaniah beralih kepada Dinasti Gaznawi. Kemudian sejak tahun 869 M,
dinasti Fatimiyah berdiri di Mesir.
Kekhalifahan Baghdad jatuh sepenuhnya pada suku
bangsa Turki. Untuk keselamatan, khalifah meminta bantuan kepada Bani
Buwaihiyah. Dinasti Buwaihiyah cukup kuat dan berkuasa karena mereka masih
menguasai Baghdad yang merupakan pusat dunia islam dan menjadi kediaman Khalifah
Pada akhir Abad kesepuluh, kedaulaulatan Bani Abbasiyah
telah begitu lemah hingga tidak memiliki kekuasaan diluar kota Baghdad.
Kekuasaan Bani Abbasiyah berhasil dipecah menjadi dinasti Buwaihiyah di Persia
(932-1055 M), dinasti Samaniyah di Khurasan (874-965 M), dinasti Hamdaniayah di
Suriah (924-1003 M), dinasti Umayyah di Spanyol (756-1030 M), dinasti Fatimiyah
di Mesir (969-1171 M), dan dinasti Gaznawi di Afganistan (962-1187 M).
d.
Masa Abbasiyah IV (447 H/1055 M -656
H/1258 M )
Masa ini ditandai dengan ketika kaum Seljuk menguasai dan mengambil
alih pemerintahan Abbasiyah. Masa seljuk berakhir pada tahun 656 H/1258 M,
yaitu ketika tentara mongol menyerang serta menaklukkan Baghdad dan hampir
seluruh dunia Islam terutama bagian timur.[20]
E. Perkembangan
Ekonomi Dinasti Abbasiyah
Perkembangan peradaban Islam terjadi
pada banyak sektor terutama pada periode awal Dinasti Abbasiyah. Upaya ke arah
kemajuan ini sebenarnya sudah mulai sejak masa pemerintah al-Mansur. Yaitu
dengan dipinahkannya pusat pemerintahan ke Baghdad tiga tahun setelah dia dilantik
menjadi khalifah. Dijadikannya kota Baghdad sebagai pusat kendali
pemerintahan itu mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan dan kemajuan di
bidang ekonomi. Baghdad merupakan sebuah kota yang terletak di daerah yang
sangat strategis bagi perniagaan dan perdagangan. Sungai Tigris bisa dilayari
sampai kota ini. Begitu juga terdapat jalur pelayaran ke sungai Eufrat yang
cukup dekat, sehingga barang-barang perdagangan dan perniagaan dapat diangkut
mengalir menghilir sungai Eufrat dan Tigris dengan menggunakan perahu-perahu
kecil. Di samping itu, yang terpenting adalah terdapatnya jalan nyaman dan aman
dari semua jurusan.[21]
Baghdad akhirnya menjadi daerah yang
sangat ramai karena di samping sebagai ibukota kerajaan juga sebagai kota niaga
yang cukup marak pada masa itu. Dari situlah negara akan dapat devisa yang
sangat besar jumlahnya.
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan
peradaban pada masa Dinasti Abbasiyah, diiringi pula dengan bertambahnya jumlah
penduduk , yang di mana semakin pesat pertumbuhan penduduk maka semakin besar
dan banyak pula faktor permintaan pasar (demand). Hal ini pada gilirannya
memicu produktivitas ekonomi yang tinggi.
Adapun komoditi yang menjadi
primadona pada masa itu adalah bahan pakaian atau tekstil yang menjadi konsumsi
pasar asia dan eropa. Sehingga industri di bidang penenunan seperti kain,
bahan-bahan sandang lainnya dan karpet berkembang pesat. Bahan-bahan utama yang
digunakan dalam industri ini adalah kapas, sutra dan wol. Industri lain yang
juga berkembang pesat adalah pecah belah, keramik dan parfum. Di samping itu
berkembang pula industri kertas yang dibawa ke Samarkand oleh para tawanan
perang Cina tahun 751 M. Di Samarkand inilah produksi dan ekspor kertas
dimulai. Hal ini rupanya mendorong pemerintah pada masa Harun al-Rasyid melalui
wazirnya Yahya untuk mendirikan pabrik kertas pertama di Baghdad sekitar
tahun 800M. Komoditas lain yang berorientasi komersial selain logam, kertas
tekstil, pecah belah, hasil laut dan obat-obatan.
Kemajuan di bidang ekonomi tentunya
berimbas pada kemakmuran rakyat secara keseluruhan. Puncak kemakmuran rakyat
dialami pada masa Harun al-Rasyid (786-809 M) dan putranya al-Ma’mun (813-833
M). Kekayaan yang melimpah pada masa ini digunakan untuk kegiatan-kegiatan di
berbagai bidagn seperti sosial, pendidikan, kebudayaaan, ilmu pengetahuan,
kesehatan, kesusastraan dan pengadaan fasilitas-fasilitas umum. Pada masa
inilah berbagai bidang-bidang tadi mencapai puncak keemasannya.[22]
1.
F. Kesimpulan
Dinasti Abbasiyah didirikan pada
tahun 132 H/750 M oleh Abul Abbas Ash-shaffah, dan sekaligus sebagai khalifah
pertama. Kekuasaan Bani Abbasiyah melewati rentang waktu yang sangat panjang,
yaitu lima abad dimulai dari tahun 132-656 H/750-1258 M. Berdirinya
pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah
dikumandangkan oleh bani Hasyim (alawiyun) setelah meninggalnya
Rasulullah dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan
Rasulullah dan anak-anaknya. Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan
yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan
budaya.
Bani Abbasiyah merupakan masa
pemerintahan ummat Islam yang merupakan masa keemasan dan kejayaan dari
peradaban Islam yang pernah ada. Pada masa Bani Abbasiyah kekayaan negara
melimpah ruah dan kesejahteraan rakyat sangat tinggi. Pusat peradaban Islam
mengalami kemajuan yang pesat sehingga pada masa ini banyak muncul para
tokoh ilmuan dari kalangan Ummat Islam, baik itu ilmu pengatuhan yang bersifat
umum seperti ilmu kedokteran yang telah mencetak dokter seperti Ibnu Sina, Ibnu
Rusyd dan lain-lainnya, sehingga pada masa ini telah ada lebih dari 800 dokter
yang berada di kota Baghdad. Dalam bidang matematika melahirkan ilmuan bernama
Al-Khawarizmi yang merupakan penemu angka Nol. Demikian juga dari biang ilmu
agama, adanya perkembangan ilmu tafsir, ilmu kalam, filsafat Islam, dan ilmu
tashawuf, yang juga melairkan tokoh-tokoh dibidang ilmu masing-masing. Pada
masa pemerintahan khalifah Harun Al-rasyid kesejahteraan ummat sangat terjamin,
karena pada masa inilah puncak dari kejayaan Bani Abbasiyah, pembangunan dilakukan
dimana-mana, baik pembangunan rumah sakit, irigasi, dan pemandian-pemandian
umum.
Dinasti
Abbasiyah menjadikan Islam sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan hal
itu menjadi faktor berkembangnya perekonomian Islam pada masa itu. Dapat
dikatakan bahwa, ada suatu kisah yang tak terharga nilainya dari peninggalan
sejarah Dinasti Abbasiyah. Hal ini harus menjadi motivasi untuk membangun visi
umat dalam mengembangkan perekonomian dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Samsul Munir, 2009, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Amzah.
Antonio, Muhammad Syafi’i dan Tim TAZKIA, 2012 Ensiklopedia Peradaban
Islam Baghdad, Jakarta: Tazkia Publishing.
As-Sirjani, Raghib, 2005, Ensiklopedi Sejarah Islami, Jakarta:
Muassasah Iqra, 2005.
Hakim, Moh. Nur, 2004, Sejarah dan Peradaban Islam, Jakarta: UMM
Press.
Harun, Maidir dan
Firdaus, 2001, Sejarah Peradaban Islam, Padang :
IAIN-IB Press.
Karim, M. Abdul Karim, 2007 Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam,
Yogyakarta:Pustaka Book Publisher.
Mufrodi, Ali, 2002, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta:
Serambi Ilmu Semesta.
Su’ud, Abu Su’ud, 2003, Islamologi, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Sunanto, Musyrifah, 2003, Sejarah Islam Klasik, Bogor: Prenada
Media.
Supriyadi, Dedi, 2008, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka
Setia, 2008.
Wahid, N. Abbas dan
Suratno, 2009, Khazanah
Sejarah Kebudayyan Islam, Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Watt, W. Montogomery, 1990, Kejayaan
Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis,Yogyakarta: Tiara Wacana.
Yatim, Badri, 1993, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
[2] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan
Peradaban Islam, (Yogyakarta:Pustaka Book Publisher, 2007), h.143
[16] W. Montogomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian
Kritis dari Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), h.104.
[17] Muhammad Syafi’i Antonio dan Tim TAZKIA, Ensiklopedia
Peradaban Islam Baghdad, (Jakarta: Tazkia Publishing, 2012), h.110.
[20] N. Abbas Wahid dan Suratno, Khazanah Sejarah
Kebudayyan Islam (Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009)
[21] Ahmad Zaki Mubarak, Kemajuan Ekonomi Daulah
Bani Abbasiyah,
http://majelispenulis.blogspot.co.id/2012/04/kemajuan-ekonomi-daulah-bani-abbasiyah.html.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)