Sejarah Ekonomi Pada Masa Awal Dinasti Abbasiyyah



[4]
PERKEMBANGAN EKONOMI ISLAM
PADA MASA AWAL DINASTI ABBASIYAH
(Aslihatus Sania Firdaus – 1660102025)

A.       Pendahuluan
Sejarah layaknya kacamata masa lalu yang menjadi pijakan atas langkah setiap insan di masa mendatang. Sejarah peradaban Islam memberikan sumbangsih dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan ekonomi dalam mengubah dunia. Perkembangan yang semakin signifikan dalam peradaban Islam salah satunya ditandai dengan keberhasilan peradaban Daulah Dinasti Abbasiyah dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berfikir. Peran penting ekonomi sangat disadari oleh para khalifah  Dinasti Abbasiyah dalam menentukan maju mundurnya suatu negara oleh karena itu, mereka memberikan khusus pada pengembangan sektor ini, terutama pada periode awal Dinasti Abbasiyah.
1.      Latar Belakang
 Setelah berakhirnya masa Khulafa ‘al Rasyidin, di bawah kepemimpinan Muawiyah bin Abi Sofyan, Islam dipimpin oleh Dinasti Umayyah. Pada saat itu, Islam semakin berkembang dalam segala aspek hingga perluasan daerah kekuasaan. Setelah pemerintahan Dinasti Umayyah berakhir, maka pemerintahan Islam digantikan dengan pemerintahan Dinasti Abassiyah. Dinasti Abbasiyah merupakan khilafah Islam pelanjut Dinasti Umayyah dan merupakan perwakilan dari kekhilafahan Islam yang terbesar dan terpanjang dalam sejarah Islam klasik.

Kemajuan kebudayaan Islam pada masa Daulah Abbasiyah sering dianggap sebagai sebuah nostalgia bagi umat Islam, yang tidak akan akan terwujud di zaman sekarang. Sejarah mencatat bahwa pada masa Daulah Abbasiyah tersebut merupakan puncak keemasan  atau kejayaan Umat Islam. Pada masa inilah lahir berbagai ilmu pengetahuan, agama, budaya serta beragam penerjemah-penerjemah ke dalam bahasa lain.
Sejarah pemikiran ekonomi Islam masa permulaan Dinasti Abbasiyah mengawali corak kehidupan ekonomi Islam sehingga umat dapat mengambil hikmah dari kejadian-kejadian yang terjadi pada masa itu, sebagai ilmu untuk menambah ketakwaan kepada Allah. Kisah-kisah yang terjadi pada masa tersebut dapat diteladani sebagai bahan belajar pemikiran ekonomi untuk menginspirasi pembangunan ekonomi Islam yang lebih baik lagi di masa mendatang. Lebih jelasnya, dalam pembahasan penulisan ini dibahas sejarah perkembangan pemikiran ekonomi Islam pada masa awal Dinasti Abbasiyah.
2.      Rumusan Masalah
Secara khusus, penulisan makalah ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan berikut:
a.    Bagaimana sejarah masa awal Dinasti Abbasiyah?
b.    Bagaimana perkembangan peradaban dan perekonomian Islam Dinasti Abbasiyah?

3.      Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk:
a.    Mengetahui sejarah masa awal Dinasti Abbasiyah.
b.    Mengetahui perkembangan peradaban dan perekonomian Islam Dinasti Abbasiyah.




B.     Sejarah Kelahiran Dinasti Abbasiyah
Awal kekuasaan Dinasti Abbasiyah ditandai dengan pembangkangan yang  dilakukan oleh Dinasti Umayyah di Andalusia (Spanyol). Di satu sisi, Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar Amir (jabatan kepala wilayah ketika wilayah ketika itu), tidak tunduk kepada khalifah yang ada di Baghdad. Pembangkangan Abd al-Rahman al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Muawiyah terhadap Ali Bin Abi Thalib. Dari segi durasi, kekuasaan Dinasti Abbasiyah termasuk lama yaitu sekitar lima abad. Kekuasaan Dinasti Abbasiyah atau khalifah Abbasiyah, melanjutkan kekuasaan dinasti Umayyah. Dinamakan khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa ini adalah keturunan al-Abbas paman nabi Muhammad SAW.
Kelahiran bani Abbasiyah erat kaitannya dengan gerakan oposisi yang di lancarkan oleh golongan syi’ah terhadap pemerintahan  Bani Umayyah. Golongan Syi’ah  selama pemerintahan Bani Umayyah merasa tertekan dan tersingkir  karena kebijakan-kebijakan yang di ambil pemerintah. Hal ini bergejolak sejak pembunuhan terhadap Husein Bin Ali dan pengikutnya di Karbela.
Pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah, Bani Abbasiyah telah melakukan usaha perebutan kekuasaan, Bani Abbasiyah telah mulai melakukan perebutan kekuasaan sejak masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Khalifah itu dikenal liberal dan memberikan toleransi kepada kegiatan keluarga Syi’ah. Gerakan itu didahului oleh saudara-saudara dari Bani Abbas, seperti Ali bin Abdullah bin Abbas, Muhammad serta Ibrahim al-Imam yang semuanya mengalami kegagalan, meskipun belum melakukan gerakan yang bersifat politik. Sementara itu, Ibrahim meninggal dalam penjara karena tertangkap, setelah menjalani hukuman kurrungan karena melakukan gerakan makar, barulah usaha perlawanan itu berhasil di  tangan Abu Abbas, setelah melakukan pembantaian terhadap seluruh Bani Umayyah, termasuk khalifah Marwan II yang sedang berkuasa.[1]
Bani Abbasiyah merasa lebih berhak daripada Bani Umayyah atas kekhalifahan Islam, sebab mereka adalah dari cabang Bani Hasyim yang secara nasab lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Menurut mereka, orang Bani Umayyah secara paksa menguasai khalifah melalui tragedi perang siffin. Oleh karena itu, untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah mereka mengadakan gerakan yang luar biasa, melakukan pemberontakan terhadap Bani Umayyah.[2]
Disebut dalam sejarah bahwa berdirinya Bani Abbasiyah menjelang berakhirnya Bani Umayyah terjadi bermacam-macam kekacauan antara lain:
1.      Penindasan yang terus menerus terhadap pengikut Ali dan Bani Hasyim.
2.      Merendahkan kaum muslimin yang bukan bangsa Arab.
3.      Pelanggaran terhadap agama Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara terang-terangan.[3]
Gerakan oposisi terhadap Bani Umayyah dikalangan orang syi’ah dipimpin oleh Muhammad Bin Ali, ia telah di bai’ah oleh orang-orang syi’ah sebagai imam. Tujuan utama dari perjuangan Muhammad Bin Ali untuk merebut kekuasaan dan jabatan khalifah dari tangan Bani Umayyah, karena menurut keyakinan orang syi’ah keturunan Bani Umayyah tidak berhak menjadi imam atau khalifah, yang berhak adalah keturunan dari Ali Bin Abi Thalib, sedangkan Bani Umayyah bukan berasal dari keturunan Ali Bin Abi Thalib. Pada awalnya  golongan ini memakai nama Bani Hasyim, belum menonjolkan nama Syi’ah atau Bani Abbas, tujuannya adalah untuk mencari dukungan  masyarakat. Bani Hasyim yang tergabung dalam gerakan ini adalah keturunan Ali Bin Abi Thalib dan Abbas Bin Abdul Muthalib. Keturunan ini bekerjasama untuk menghancurkan Bani Umayyah.[4]
Bani Hasyim mencari jalan keluar dengan mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Bani Umayyah. Gerakan ini menghimpun:
1.    Keturunan Ali (Alawiyin) pemimpinnya Abu Salamah;
2.    Keturunan Abbas (Abbasiyah), pemimpinnya Ibrahim al-Iman;
3.    Keturunan bangsa Persia, pemimpinnya Abu Muslim al-Khurasany.[5]
Strategi yang digunakan untuk menggulingkan Bani Umayyah ada dua tahap :
1.      Gerakan secara rahasia
Propoganda Abbasiyah dilaksakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia, akan tetapi Imam Ibrahim pemimpin Abbasiyah yang berkeinginan mendirikan kekuasaan Abbasiyah, gerakannya diketahui oleh khalifah Umayyah terakhir, Marwan bin Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh pasukan dinasti Umayyah dan dipenjarakan di Haran sebelum akhirnya di eksekusi. Ia mewasiatkan kepada adiknya Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya ketika ia telah mengetahui bahwa ia akan di eksekusi dan memerintahkan untuk pindah ke Koufah.
2.      Tahap terang-terangan dan terbuka secara umum
Tahap ini dimulai setelah terungkap surat rahasia Ibrahim bin Muhammad yang ditujukan kepada Abu Musa Al-Khurasani Agar membunuh setiap orang yang berbahasa Arab di Khurasan. Setelah khalifah Marwan bin Muhammad mengetahui isi surat rahasia tersebut ia menangkap Ibrahim bin Muhammad dan membunuhnya. Setelah itu pimpinan gerakan oposisi dipegang oleh Abul Abbas Abdullah bin Muhammad as-saffah, saudara Ibrahim bin Muhammad.
Abdul Abbas sangat beruntung, karena pada masanya pemerintahan Marwan bin Muhammad telah mulai lemah dan sebaliknya gerakan oposisi semakin mendapat dukungan dari rakyat dan bertambah luas pengaruhnya. Keadaan ini tambah mendorong semangat Abul Abbas untuk  menggulingkan khalifah Marwan bin Muhammad dari jabatannya. Untuk maksud tersebut Abul Abbas mengutus pamannya yaitu Abdullah bin Ali untuk menumpas pasukan Marwan bin Muhammad. Pertempuran akhirnya terjadi antara pasukan yang dipimpin oleh khalifah Marwan bin Muhammad dengan pasukan Abdullah bin Ali di tepi sungai Al-Zab Al-Shagirdi, Iran. Marwan bin Muhammad terdesak dan melarikan diri ke Mosul, kemudian ke palestina, Yordania dan terakhir di Mesir. [6]
Dalam peristiwa tersebut salah seorang pewaris tahta kekhalifahan Umaiyah, yaitu Abdurrahman yang baru berumurt 20 tahun, berhasil meloloskan diri ke daratan Spanyol. Tokoh ini yang kemudian berhasil menyusun kembali kekuatan Bani Umayyah di seberang lautan, yaitu di Keamiran Cordova. Di sana dia berhasil mengembalikan kejayaan kekhalifahan Umayyah dengan nama kekhalifahan Andalusia. Pada awalnya kekhalifahan Abbasiyah menggunakan Kufah sebagai pusat pemertintahan dengan Abu Abbas As-Safah (750-754m) sebagai khalifah pertama. Kemudian khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-Mansur (750-775m) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Di kota Baghdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. Imperium ini dikenal dengan nama Daulah Abbasiyah.
Abdullah bin Ali terus mengejar pasukan Marwan bin Muhammad sampai ke Mesir dan akhirnya terjadi pertempuran disana. Marwan bin Muhammad pun akhirnya tewas karena pasukannya sudah sangat lemah yaitu pada tanggal 27 Zulhijjah 132 H/750 M. Pada tahun 132 H/ 750 M Abul Abbas Abdullah bin Muhammad diangkat dan di bai’ah menjadi khalifah, dalam pidato pembaitan tersebut, ia antara lain mengatakan:
“Saya berharap semoga pemerintahan kami  (Bani Abbas) akan mendatangkan kebaikan dan kedamaian pada kalian. Wahai penduduk Koufah, bukan intimidasi, kezaliman, malapetaka dan sebagainya. Keberhasilan kami beserta ahlul Bait adalah berkat pertolongan Allah SWT. Hai penduduk Koufah, kalian adalah tumpuan kasih sayang kami, kalian tidak pernah berubah dalam pandangan kami, walaupun penguasa yang zalim (Bani Umayyah) telah menekan dan menganiaya kalian. Kalian telah dipertemukan oleh Allah dengan Bani Abbas, maka jadilah kalian orang-orang yang berbahagia dan yang paling kami muliakan..... ketahuilah, hai penduduk Koufah, saya adalah al-Saffah”.[7]
Pergantian kekuasaan Dinasti Umayyah oleh Dinasti Abbasiyah diwarnai dengan pertumpahan darah. Meskipun kedua dinasti ini berlatar belakang agama Islam, akan tetapi dalam pergantian posisi pemerintahan melalui perlawanan yang panjang dalam sejarah Islam.[8]
Setelah Abul Abbas resmi menjadi khalifah ia tidak lagi mengambil Damaskus sebagai pusat pemerintahan tetapi ia memilih Koufah sebagai pusat pemerintahannya, dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut:
1.         Para pendukung Bani Umayyah masih banyak yang tinggal di Damaskus
2.         Kota Koufah jauh dari Persia, walaupun orang-orang Persia merupakan tulang punggung Bani  Abbas dalam menggulingkan Bani Umayyah
3.                    Kota Damaskus terlalu dekat dengan wilayah kerajaan Bizantium yang merupakan ancaman bagi pemerintahannnya, akan tetapi pada masa pemerintahan khalifah Al-Mansur (754-775 M) dibangun kota Baghdad sebagai ibu kota Dinasti Bani Abbas yang baru.[9]
Mereka memusatkan kegiatannya di Khurasan. Dengan Usaha ini, pada tahun 132 H/750 M, tumbanglah Bani Umayyah dengan terbunuhnya Marwan ibn Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah. Atas pembunuhan Marwan, mulailah berdiri Daulah Abbasiyah dengan diangkatnya khalifah yang pertama, yaitu Abdullah ibn Muhammad, dengan gelar Abu a-Abbas ash-Shaffah, pada tahun 132-136 H/750-754 M.[10]
C.       Masa Awal Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H/750 M oleh Abul Abbas Ash-shaffah, dan sekaligus sebagai khalifah pertama. Kekuasaan Bani Abbasiyah melewati rentang waktu yang sangat panjang, yaitu lima abad dimulai dari tahun 132-656 H/750-1258 M. Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh bani Hasyim (alawiyun) setelah meninggalnya Rasulullah dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan Rasulullah dan anak-anaknya.[11] Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya.[12]
Pada awalnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan Koufah sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu Abbas as-Saffah (750-754 M) sebagai khalifah pertama. Akan tetapi pemerintahannya begitu singkat, as-Saffah meninggal (754-755 M) karena terkena cacar air ketika berusia 30an.[13] Kemudian khalifah penggantinya adalah saudara sendiri Abu Ja’far An-Mansur (754-755 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Kekhilafaan ini lahir setelah melakukan perjuangan panjang dan revolusi sosial melawan kehilafahan Dinasti Umayyah. Pendirian dinasti ini sebagai bentuk reaksi terhadap kehilafahan Bani Umayyah yang mengalami kemerosotan dimata rakyat. Obsesi kehilafahan ini adalah jika Dinasti Umayyah pemerintahannya bercorak Arab, Militeristik dan sekularistik. Maka pemerintahan Dinasti Abbasiyah bercorak pluralistik etnis, saintifik dan religius.[14]
Pada Masa pemerintahan dua khalifah yang pertama Abu Abbas As-Saffah (750-754 M) dan saudaranya Abu Ja’far Al-Mansur (754-775 M) merupakan masa pembentukan dan konsolidasi orientasi pemerintahan. Di antara kedua khalifah ini Al-Mansurlah yang paling gigih dan pembina yang sesungguhnya di Dinasti Abbasiyah. Untuk memantapkan posisi Dinasti ia menghadapi lawan-lawannya dengan keras seperti Bani Umaiyyah, Khawarij dan Syi’ah. Untuk mengokohkan posisi dinastinya, Al-Mansur mulai mengambil strategi yang berbeda dengan Dinasti Umayyah yang bercorak ke Arab-an. Ia mengambil hubungan dengan Persia dan melengkapi struktur pemerintahan. Pertama ia memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad, dekat ibukota Persia, Ctesiphon, pada 762 M. Kedua tentara pengawal tidak lagi diambil lagi dari orang-orang Arab tetapi dari orang-orang Persia. Ketiga seperti dalam administrasi pemerintahan Persia, Al-Mansur membuat tradisi baru mengangkat wazir (Menteri) yang membawahi kepala-kepala Departemen yaitu Khalid Bin Barmak seorang dari Balkh di Persia. Keluarga Khalid bin Barmak ini kelak menjadi salah satu sumber perkembangan ilmu pengetahuan di Bani Abbas.[15] Saat propaganda Abbasiyah sampai ke khurasan, Khalid bin Barmak merupakan propagandis Abbasiyah paling besar. Kemudian Abu Abbas As-saffah mengangkatnya sebagai menteri sehingga Khalid Bin Barmak memegang banyak kedudukan dengan catatan baik dan ia memegang pemerintahan dengan terpuji hingga meninggal dunia tahun 163 H.[16]
Pada 7 Oktober 775 M, Al-Mansur meninggal di dekat Mekkah dalam perjalanan ibadah haji ketika usianya lebih dari 60 tahun. Pengganti Al-Mansur yakni Al-Mahdi (775-785)M, Al-Mahdi mempercayakan pendidikan anaknya, Harun kepada putra Khalid Bin Barmak yakni Yahya bin Khalid Al-Barmaki.[17] Kemudian Khalifah Al-Mahdi meninggal ketika sedang berburu dan jatuh dari kuda yang ditungganginya.
Pengganti Al-Mahdi ialah Al-Hadi sebagaimana wasiat yang diterima dari Ayahnya bahwa sepeninggalnya dialah yang menjadi khalifah sedangkan saudaranya yang bernama harun Ar-Rasyid akan memangku jabatan khalifah pada masa berikutnya. Al-Hadi meninggal pada malam sabtu 16 Rabiul Awal 170 H yakni pada umur 26 tahun, Sesudah memerintah dinasti Abbasiyah selama satu tahun tiga bulan akibat diracun oleh ibunya sendiri Khaizuran. Sebelum khalifah Al-Hadi meninggal khalifah Al-Hadi berbuat tidak jujur dan menyalahi wasiat ayahnya. Dengan keinginannya untuk mengangkat anaknya sendiri bernama Ja’far yang masih dibawah umur sebagai penggantinya nanti dan mengucilkan Harun. Semula maksudnya itu disetujui oleh pembesar-pembesar istananya. Hanya seorang dari mereka yang tidak menyetujuinya yaitu Yahya bin Khalid Al-Barmaki yang berani menasehati agar khalifah Al-Hadi mengurungkan niatnya karena Ja’far masih kanak-kanak. Akan tetapi nasehat itu tidak diindahkannya. Bahkan Yahya sendiri dimasukkan ke dalam penjara dan akan dibunuhnya. Akan tetapi beruntung niat khalifah Al-Hadi tidak terlaksana karena khalifah Al-Hadi telah menemui ajalnya. Kemudian kepemimpinan dinasti Abbasiyah digantikan oleh khalifah Harun Ar-Rasyid. Bukan anaknya Khalifah Al-Hadi karena anak Al-Hadi masih kecil.[18]
Ketika Harun menjadi khalifah ia juga mengangkat keturunan Barmak yang tetap ia panggil bapak dengan penuh hormat, yakni Yahya bin khalid bin Barmak sebagai wazir dengan kekuasaan yang tak terbatas. Yahya bin Kalid bin Barmak, putra khalid bin Barmak adalah manusia paling tinggi moralnya, keutamaannya dan kemurahan hatinya. Ia menduduki jabatan sejak tahun 158 H, ia dicintai dan dia sendiri yang berperan mendidik Harun Ar-Rasyid, Yahya juga adalah sosok yang memberi kuasa kepada Harun Ar-Rasyid menjadi khalifah meskipun ia tidak disukai Al-Hadi.
D.      Sistem Pemerintahan dan Masa Kekuasaan Bani Abbasiyah
1.      Sistem Politik dan Sosial
Khalifah pertama Bani Abbasiyah, Abul Abbas yang sekaligus dianggap sebagai pendiri Bani Abbas, menyebut dirinya sebagai julukan al-Saffah yang berarti sang penumpah darah. Sedangkan khalifah Abbasiyah kedua mengambil gelar al-Mansur dan meletakkan dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah. Di bawah Abbasiyah, kekhalifahan berkembang sebagai sidtem poltik. Dinasti ini muncul dengan bantuan orang-orang Persia yang merasa bosan terhadap bani Umaiyah di dala masalah sosial dan politik diskriminasi. Khalifah-khalifah Abbasiyah yang memakai gelar “imam”, pemimpin masyarakat Muslim bertujuan untuk menekankan arti keagamaan kekhalifahan Abbasiyah mencontoh tradisi Umaiyah di dalam mengumumkan lebih dari satu putra mahkota.
Al-Mansur dianggap sebagai pendiri kedua dari dinasti Abbasiyah dan merupakan pusat perdagangan serta kebudayaan. Hingga Baghdad dianggap sebagai kota terpenting di dunia pada saat itu yang kaya akan ilmu pengetahuan dan kesenian. Hingga beberapa dekade kemudian dinasti Abbasiyah mencapai masa kejayaan. Ada beberapa sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Abbasiyah, yaitu di antaranya:
a.       Para khalifah tetap dari keturunan Arab murni, sedangkan pejabat lainnya diambil dari kaum Mawalai,
b.      Kota Baghdad dijadikan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan budaya serta terbuka untuk siapa saja, termasuk bangsa dan penganut agama lain
c.        Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang mulia, yang penting dan sesuatu yang harus dikembangkan.
d.       Kebebasan berfikir sebagai hak asasi manusia.

Pada masa ini sistem sosial adalah sambungan dari masa sebelumnya (masa dinasti Umaiyah) akan tetapi pada masa ini terjadi beberapa perubahan yang sangat mencolok, yaitu:
a.       Tampilnya kelompok Mawali dalam pemerintahan serta mendapatkan tempat yang sama dalam kedudukan sosial.
b.      Kerajaan Islam Abbasiyah terdiri dari beberapa bangsa yang berbeda-beda (bangsa Mesir, Syam, Jazirah Arab,dll).
c.        Perkawinan campuran yang menghasilkan darah campuran.
d.       Terjadinya pertukaran pendapat sehingga muncul kebudayaan baru.

2.      Masa Kekuasaan Bani Abbasiyah
Selama dinasti Bani Abbasiyah berdiri pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan pola pemerinthan itu, para sejarawan biasanya membagi kekuasaan Bani Abbasiyah pada empat periode :
a.       Masa Abbasiyah I, yaitu semenjak lahirnya Dinasti Abbasiyah tahun 132 H/750 M sampai meninggalnya khalifah Al-Watsiq 232 H/847 M.
b.      Masa Abbasiayah II, yaitu mulai khalifah Al-Mutawakkil pada tahun 232 H/847 M sampai berdirinya Daulah Buwaihiyah di Baghdad tahun 334 H/946 M.
c.       Masa Abbasiyah III, yaitu dari berdirinya Daulah Buwaihiyah tahun 334 H/946 M sampai masuknya kaum Saljuk ke Baghdad Tahun 447 H/1055 M
d.      Masa Abbasiyah IV, yaitu masuknya kaum saljuk di Baghdad tahun 447 H/1055 M sampai jatuhnya Baghdad ketangan bangsa Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 656 H/1258 M.[19]
a.        Masa Abbasiyah I ( 132 H/750 M-232 H/847 M )
Masa ini diawali sejak Abul Abbas menjadi khalifah dan berlangsung selama satu abad hingga meninggalnya khalifah Al-Watsiq. Periode ini dianggap sebagai zaman keemasan Bani Abbasiyah. Hal ini disebabkan karena keberhasilannya memperluas wilayah kekuasaan.
Wilayah kekuasaannya membentang dari laut Atlantik hingga sungai Indus dan dari laut Kaspia hingga ke sungai Nil. Pada masa ini ada sepuluh orang khalifah yang cukup berprestasi dalam penyebaran Islam mereka adalah khalifah Abul Abbas ash-shaffah(750-754 M), Al-Mansyur ( 754-775 M), Al-Mahdi (775-785 M), Al-Hadi (785-786 M), Harun Al-Rasyid (786-809 M), Al-Amin (809 M), Al-Ma’mun (813-833 M), Ibrahim (817 M), Al-Mu’tasim (833-842 M), dan Al-Wasiq (842-847 M).
b.      Masa Abbasiyah II ( 232 H/847 M-334 H/946 M)
Periode ini diawali dengan meninggalnya khalifah Al-Wasiq dan berakhir ketika keluarga Buwaihiyah bangkit memerintah. Sepeninggal Al-Wasiq, Al-Mutawakkil naik tahta menjadi khalifah, masa ini ditandai dengan bangkitnya pengaruh Turki.
Setelah Al-Mutawakkil meninggal dunia, para jendral yang berasal dari Turki berhasil mengontrol pemerintahan. Ada empat khalifah yang dianggap hanya sebagai simbol pemerintahan dari pada pemerintahan yang efektif, keempat pemerintahan itu adalah Al-Muntasir (861-862 M ), Al-Musta’in (862-866 M), Al-Mu’taz (866-896 M), dan Al-Muhtadi (869-870 M). Masa pemerintahan ini dinamakan masa disintegrasi, dan akhirnya menjalar keseluruh wilayah sehinngga banyak wilayah yang memisahkan diri dari wilayah Bani Abbas dan menjadi wilayah merdeka seperti Spanyol, Persia, dan Afrika Utara.
c.       Masa Abbasiyah III (334 H/946 M -447 H/1055 M)
Masa ini ditandai dengan berdirinya Dinasti Buwaihiyah, yaitu Pada masa ini jatuhnya Khalifah Al-Muktafi (946 M) sampai dengan khalifah Al-Qaim (1075 M). Kekuasaaan Buwaihiyah sampai ke Iraq dan Persia barat, sementara itu Persia timur, Transoxania, dan Afganistan yang semula dibawah kekuasaan Dinasti Samaniah beralih kepada Dinasti Gaznawi. Kemudian sejak tahun 869 M, dinasti Fatimiyah berdiri di Mesir.
Kekhalifahan Baghdad jatuh sepenuhnya pada suku bangsa Turki. Untuk keselamatan, khalifah meminta bantuan kepada Bani Buwaihiyah. Dinasti Buwaihiyah cukup kuat dan berkuasa karena mereka masih menguasai Baghdad yang merupakan pusat dunia islam dan menjadi kediaman Khalifah
Pada akhir Abad kesepuluh, kedaulaulatan Bani Abbasiyah telah begitu lemah hingga tidak memiliki kekuasaan diluar kota Baghdad. Kekuasaan Bani Abbasiyah berhasil dipecah menjadi dinasti Buwaihiyah di Persia (932-1055 M), dinasti Samaniyah di Khurasan (874-965 M), dinasti Hamdaniayah di Suriah (924-1003 M), dinasti Umayyah di Spanyol (756-1030 M), dinasti Fatimiyah di Mesir (969-1171 M), dan dinasti Gaznawi di Afganistan (962-1187 M).
d.      Masa Abbasiyah IV (447 H/1055 M -656 H/1258 M )
Masa ini ditandai dengan ketika kaum Seljuk menguasai dan mengambil alih pemerintahan Abbasiyah. Masa seljuk berakhir pada tahun 656 H/1258 M, yaitu ketika tentara mongol menyerang serta menaklukkan Baghdad dan hampir seluruh dunia Islam terutama bagian timur.[20]
E.       Perkembangan Ekonomi Dinasti Abbasiyah
Perkembangan peradaban Islam terjadi pada banyak sektor terutama pada periode awal Dinasti Abbasiyah. Upaya ke arah kemajuan ini sebenarnya sudah mulai sejak masa pemerintah al-Mansur. Yaitu dengan dipinahkannya pusat pemerintahan ke Baghdad tiga tahun setelah dia dilantik menjadi khalifah. Dijadikannya kota Baghdad sebagai pusat kendali pemerintahan itu mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan dan kemajuan di bidang ekonomi. Baghdad merupakan sebuah kota yang terletak di daerah yang sangat strategis bagi perniagaan dan perdagangan. Sungai Tigris bisa dilayari sampai kota ini. Begitu juga terdapat jalur pelayaran ke sungai Eufrat yang cukup dekat, sehingga barang-barang perdagangan dan perniagaan dapat diangkut mengalir menghilir sungai Eufrat dan Tigris dengan menggunakan perahu-perahu kecil. Di samping itu, yang terpenting adalah terdapatnya jalan nyaman dan aman dari semua jurusan.[21]
Baghdad akhirnya menjadi daerah yang sangat ramai karena di samping sebagai ibukota kerajaan juga sebagai kota niaga yang cukup marak pada masa itu. Dari situlah negara akan dapat devisa yang sangat besar jumlahnya.
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan peradaban pada masa Dinasti Abbasiyah, diiringi pula dengan bertambahnya jumlah penduduk , yang di mana semakin pesat pertumbuhan penduduk maka semakin besar dan banyak pula faktor permintaan pasar (demand). Hal ini pada gilirannya memicu produktivitas ekonomi yang tinggi.
Adapun komoditi yang menjadi primadona pada masa itu adalah bahan pakaian atau tekstil yang menjadi konsumsi pasar asia dan eropa. Sehingga industri di bidang penenunan seperti kain, bahan-bahan sandang lainnya dan karpet berkembang pesat. Bahan-bahan utama yang digunakan dalam industri ini adalah kapas, sutra dan wol. Industri lain yang juga berkembang pesat adalah pecah belah, keramik dan parfum. Di samping itu berkembang pula industri kertas yang dibawa ke Samarkand oleh para tawanan perang Cina tahun 751 M. Di Samarkand inilah produksi dan ekspor kertas dimulai. Hal ini rupanya mendorong pemerintah pada masa Harun al-Rasyid melalui wazirnya Yahya untuk mendirikan pabrik kertas pertama di Baghdad sekitar tahun 800M. Komoditas lain yang berorientasi komersial selain logam, kertas tekstil, pecah belah, hasil laut dan obat-obatan.
Kemajuan di bidang ekonomi tentunya berimbas pada kemakmuran rakyat secara keseluruhan. Puncak kemakmuran rakyat dialami pada masa Harun al-Rasyid (786-809 M) dan putranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang melimpah pada masa ini digunakan untuk kegiatan-kegiatan di berbagai bidagn seperti sosial, pendidikan, kebudayaaan, ilmu pengetahuan, kesehatan, kesusastraan dan pengadaan fasilitas-fasilitas umum. Pada masa inilah berbagai bidang-bidang tadi mencapai puncak keemasannya.[22]


1.       
F.   Kesimpulan
Dinasti Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H/750 M oleh Abul Abbas Ash-shaffah, dan sekaligus sebagai khalifah pertama. Kekuasaan Bani Abbasiyah melewati rentang waktu yang sangat panjang, yaitu lima abad dimulai dari tahun 132-656 H/750-1258 M. Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh bani Hasyim (alawiyun) setelah meninggalnya Rasulullah dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan Rasulullah dan anak-anaknya. Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya.
Bani Abbasiyah merupakan masa pemerintahan ummat Islam yang merupakan masa keemasan dan kejayaan dari peradaban Islam yang pernah ada. Pada masa Bani Abbasiyah kekayaan negara melimpah ruah dan kesejahteraan rakyat sangat tinggi. Pusat peradaban Islam mengalami kemajuan yang pesat sehingga pada masa ini  banyak muncul para tokoh ilmuan dari kalangan Ummat Islam, baik itu ilmu pengatuhan yang bersifat umum seperti ilmu kedokteran yang telah mencetak dokter seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lain-lainnya, sehingga pada masa ini telah ada lebih dari 800 dokter yang berada di kota Baghdad. Dalam bidang matematika melahirkan ilmuan bernama Al-Khawarizmi yang merupakan penemu angka Nol. Demikian juga dari biang ilmu agama, adanya perkembangan ilmu tafsir, ilmu kalam, filsafat Islam, dan ilmu tashawuf, yang juga melairkan tokoh-tokoh dibidang ilmu masing-masing. Pada masa pemerintahan khalifah Harun Al-rasyid kesejahteraan ummat sangat terjamin, karena pada masa inilah puncak dari kejayaan Bani Abbasiyah, pembangunan dilakukan dimana-mana, baik pembangunan rumah sakit, irigasi, dan pemandian-pemandian umum.
Dinasti Abbasiyah menjadikan Islam sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan hal itu menjadi faktor berkembangnya perekonomian Islam pada masa itu. Dapat dikatakan bahwa, ada suatu kisah yang tak terharga nilainya dari peninggalan sejarah Dinasti Abbasiyah. Hal ini harus menjadi motivasi untuk membangun visi umat dalam mengembangkan perekonomian dunia.



DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir, 2009, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Amzah.
Antonio, Muhammad Syafi’i dan Tim TAZKIA, 2012 Ensiklopedia Peradaban Islam Baghdad, Jakarta: Tazkia Publishing.
As-Sirjani, Raghib, 2005, Ensiklopedi Sejarah Islami, Jakarta: Muassasah Iqra, 2005.
Hakim, Moh. Nur, 2004, Sejarah dan Peradaban Islam, Jakarta: UMM Press.
Harun, Maidir dan Firdaus, 2001, Sejarah Peradaban Islam, Padang : IAIN-IB Press.
Karim, M. Abdul Karim, 2007 Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta:Pustaka Book Publisher.
Mufrodi, Ali, 2002, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Su’ud, Abu Su’ud, 2003, Islamologi, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Sunanto, Musyrifah, 2003, Sejarah Islam Klasik, Bogor: Prenada Media.
Supriyadi, Dedi, 2008, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Wahid, N. Abbas dan Suratno, 2009, Khazanah Sejarah Kebudayyan Islam, Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Watt, W. Montogomery,  1990, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis,Yogyakarta: Tiara Wacana.
Yatim, Badri, 1993, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.






[1] Abu Su’ud, Islamologi, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003), h.72
[2] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta:Pustaka Book Publisher, 2007), h.143
[3] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Bogor: Prenada Media, 2003), h.47
[4] Maidir Harun dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam ( Padang : IAIN-IB Press, 2001 ) h.1
[5] Ibid, h.4
[6] Ibid, h.2
[7] Maidir Harun dan Firdaus, Sejarah Peradaban., h.4
[8]  Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam., h.48
[9] Maidir Harun dan Firdaus, Sejarah Peradaban h. 7
[10] Ibid.
[11] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam ( Jakarta : Amzah, 2009) hal 138
[12] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993), h.49
[13] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h.128.
[14] Moh. Nur Hakim, Sejarah dan Peradaban Islam, (Jakarta: UMM Press, 2004), h.63
[15] Raghib as-Sirjani, Ensiklopedi Sejarah Islami, (Jakarta: Muassasah Iqra, 2005), h.252
[16] W. Montogomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990),  h.104.
[17] Muhammad Syafi’i Antonio dan Tim TAZKIA, Ensiklopedia Peradaban Islam Baghdad, (Jakarta: Tazkia Publishing, 2012), h.110.
[18] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2002), h.366
[19] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban., h. 141

[20] N. Abbas Wahid dan Suratno, Khazanah Sejarah Kebudayyan Islam (Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009)

[21] Ahmad Zaki Mubarak, Kemajuan Ekonomi Daulah Bani Abbasiyah, http://majelispenulis.blogspot.co.id/2012/04/kemajuan-ekonomi-daulah-bani-abbasiyah.html.
[22] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau komen? boleehhhh.. :)