BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kebodohan menuju cahaya Islam, sehingga (manusia Islam) benar – benar menjadi ummat terbaik yang pernah ada di muka bumi.
Ummat yang diharapkan adalah ummat yang mempunyai keistimewaan dengan karakteristik tertentu yang tidak dimiliki ummat lain. Nabinya juga mempunyai keistimewaan dengan karakteristik tersendiri yang tidak dimiliki nabi –nabi lain. Agama yang dimiliki ini juga istimewa, dengan ciri khas yang tidak ada pada agama lain. Demikian juga Kitab sucinya.
![]() |
| http://aas-sv.blogspot.com |
Sebagian besar ulama banyak menulis Kitab yang membahas ciri khas agama Islam (misalnya : Al Khasa’ih al Ammah lil al Islam karya Yusuf Qardhawi). Ciri khas yang harus dimiliki ummat Islam (Al Jauzi menyebutkan 30 ciri khas yang harus dimiliki ummat Islam, lihat karya Funun al Afnan fi Uyun ’Ulum Al-Qur’an). Dan keistimewaan yang dimiliki Rasulullah SAW (misalnya, dalam Khashais al Kubra karya as Suyuthi)
Dengan demikian, bukan hal yang aneh apabila para ulama memberi perhatian khusus kepada karakteristik Al-Qur’an. Sebagian ulama membahas karakteristik Al-Qur’an yang menjadi inti pembahasan mereka berkisar pada masalah ulumul Quran. Sedangkan sebagian yang lain ada yang membahasnya dalam satu buku tersendiri. Karena itu, perlu dibuat beberapa karakteristik atau kekhususan yang dimiliki Al-Qur’an.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana keutamaan dan kedudukan Al-Quran?
2. Apa saja karakteristik Al-Quran?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui keutamaan dan kedudukan Al-Quran.
2. Untuk mengetahui karakteristik Al-Quran.
BAB II
KARAKTERISTIK AL-QURAN
Al Our'an sebagai kitab suci dan konsumsi ruhani umat Islam memiliki kemu'jizatan yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab yang lainnya. Kemu'jizatan itu adalah bahwa Al Our'an memiliki pesan-pesan langit dan rahasia-rahasia ghaib yang hanya bisa diperoleh oleh orang-orang yang beriman, karena itu bagi seorang mu'min Al Qur'an akan menambah keimanannya sebaliknya dengan kitab sama bagi orang kafir justru Al Our'an itu akan semakin menambah kekufuran mereka.
Karakteristik yang dimiliki Al-Qur’an sangat banyak, baik berkaitan dengan keutamaan dan kedudukan, kelebihan, karakteristik umum, dan gaya bahasa. Penjabaran dari karkateristik tersebut antara lain sebagai berikut :
A. Keutamaan dan Kedudukan Al-Quran
1. Keutamaan Al-Quran
Keutamaan Al-Qur’an bukan sembarang keutamaan yang tidak bernilai, dan tidak ada posisi Kitab lain yang lebih tinggi darinya, Keutamaan yang dimiliki Al-Qur’an bisa memberikan kemudahan kepada orang yang mempelajarinya sehingga mengerti seluk beluk ilmu syari’ah. Karena Al-Qur’an sendiri adalah “fakultas Syariah”, tiang agama, sumber hikmah, tanda – tanda risalah, serta sebagian cahaya mata dan akal. Tidak ada jalan yang terbaik selain Al-Qur’an untuk menuju jalan Allah, dan tidak ada perlindungan yang berharga selain Dia.[1]
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang agung, jalan Allah yang lurus, undang-undang Allah yang kokoh bisa memberikan kebahagiaan, sebagai risalah Allah yang abadi, dan merupakan mu’jizat yang langgeng. Juga merupakan Rahmat Allah yang luas, hikmah yang indah, dan nikmat yang sempurna. Al-Qur’an adalah hujjah Rasulullah SAW yang sangat kuat ayat-ayatnya adalah saksi kerasulan Nabi Muhammad SAW, dan sebagai alat yang realistis terhadap kenabian beliau. Al-Qur’an adalah Kitab agama Islam dalam berbagai bidang, baik aqidah dan ibadah, hikmah dan hukum, etika dan kepribadian, kisah-kisah dan nasihat, ilmu pengetahuan dan berita, serta hidayah dan argumen.
Al-Qur’an adalah risalah dasar-dasar agama tauhid, sumber kokoh hukum alam, sumber hikmah, sebagai hidayah dan kasih sayang untuk seluruh ummat manusia. Ia juga merupakan cahaya yang nyata bagi ummat manusia, yang harus dijadikan pegangan agar mereka tidak terjerumus kedalam jurang penyesalan.
2. Kedudukan Al-Quran
Salah satu hikmah diturunkannya Al-Quran adalah untuk menjelaskan kepada manusia tentang kedudukan dan posisinya. Firman Allah Ta'ala:
إِنَّا جَعَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّٗا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٣ وَإِنَّهُۥ فِيٓ أُمِّ ٱلۡكِتَٰبِ لَدَيۡنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ ٤
Artinya: “3. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya) 4. Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah”[2]
a. Syafaat bagi Pembacanya
Diantara ciri khas atau keistimewaan yang dimiliki Al-Qur’an adalah bahwa ia bisa memberikan syafa’at pada hari kiamat kepada orang yang mengkaji dan membacanya. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Al Bahily, bahwa Rasulullullah SAW bersabda:
عَنْ أبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ :اقْرَءُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ
Artinya: Abu Umamah al-Bahili ra berkata : Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : Bacalah al-Qur’an karena ia akan memberikan syafaat kepada para “sahabatnya”. [3]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ:
يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ. فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ .ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ زِدْهُ. فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ. ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ. فَيَرْضَى عَنْهُ. فَيُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ وَارْقَ. وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً.
Artinya: “Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Pada hari kiamat nanti al-Qur’an akan datang dan berkata: Wahai Tuhan berilah ia perhiasan. Maka dipakaikanlah mahkota kemuliaan. Kemudian al-Qur’an berkata lagi: Wahai Tuhan tambahkanlah. Maka dipakaikanlah perhiasan kemuliaan. Kemudia al-Qur’an berkata lagi: Wahai Tuhan Ridoilah ia. Maka Tuhanpun meridoinya. Kemudian dikatakan kepadanya : Bacalah dan naiklah ! Maka untuk setiap ayat yang dibacanya akan ditambahkan satu kebaikan.”[4]
b. Sebagai Penyembuh
Diantara sekian banyak keutamaan yang dimiliki Al-Qur’an adalah sebagai obat penyembuh, sebagaimana dalam firman Allah SWT:
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢
Artinya: “82. Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”[5]
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ٥٧
Artinya: “57. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.[6]
Rasulullah SAW memberikan contoh penyembuhan lewat Al-Qur’an sebagaimana diriwayatkan oleh siti A’isyah : Bahwa Nabi Muhammad meniup dirinya dengan ( ayat – ayat )al Ma’udzat ketika sakit menjelang wafatnya maka ketika keras ( sakitnya ) aku meniup beliau dengan ayat – ayat tersebut dan mengusap dengan tangan beliau mengharapkan barakahnya.[7]
Para sahabat juga mengikuti jejak Nabi Muhammad. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Sa’id Al Hudri, bahwa: Sekelompok orang dari sahabat Nabi SAW dengan seekor ular. Dalam keadaan ( panik) demikian, tiba- tiba pemimpin mereka digigit lalu dia berkata: “apakah kalian punya obat – obatan dari dedaunan ? “mereka menjawab : engkau tidak bisa menunjukan kepada kamidan kami tidak bisa berbuat apa - apa sebelum engkau memberikan upah kepada kami.” Maka mereka memberikan upah kepada orang – orang yang menyembuhkan lalu dia mulai membaca Ummul Quran ( surat al fatihah) dan mengumpulkan tanah lempung serta meludah. Tak lama kemudian pemimpin tersebut sembuh. Kemudian para sahabat mendatangi orang yang menyembuhkan itu, dan berkata : “ kami tidak percaya sebelum kami bertanya kepada Nabi.” Maka mereka mendatangi Nabi dan bertanya. Sedangakan Nabi tersenyum sambil berkata : “ apakah engkau mengetahui bahwa itu adalah jimat penangkal, ambillah upahnya dan pukullah untukku dengan anak panah ( aku juga minta bagian ).”[8]
Al-Qur’an adalah penyembuh bagi penyakit jiwa sementara meyoritas masyarakat modern beranggapan : tidak perlu berobat kepada Al-Qur’an karena Al-Qur’an dianggap obat yang “ kurang mujarab”. Hal ini berlaku dizaman ini yang menjadikan hawa nafsummaterialistis keinginan pemuasan jasmani dan kelezatan kehidupan duniawi sebagai ajang perlombaan yang lagi ngetrenddan aktual. Merajalelanya penyakit – oenyakit rohani disebabkan oleh berpalingnya manusia dari Al-Qur’an dan tidak mengingat Allah SWT.
B. Kelebihan Al-Quran
1. Tidak tercampur oleh kebathilan sedikitpun
Allah SWT berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِٱلذِّكۡرِ لَمَّا جَآءَهُمۡۖ وَإِنَّهُۥ لَكِتَٰبٌ عَزِيزٞ ٤١ لَّا يَأۡتِيهِ ٱلۡبَٰطِلُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَلَا مِنۡ خَلۡفِهِۦۖ تَنزِيلٞ مِّنۡ حَكِيمٍ حَمِيدٖ ٤٢
Artinya: “41. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia 42. Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”.[9]
2. Al-Qur’an terjaga dari perubahan karena Allah langsung yang menjaganya
Lain halnya dengan kitab-kitab lainnya, Al-Quran senantiasa terjaga dari perubahan-perubahan yang diciptakan oleh manusia, sebab Allah SWT yang menjaga kemurnian Al-Quran sejak diturunkannya sampai dengan saat ini, seperti pada firman Allah SWT:
إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ ٩
Artinya: “9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”[10]
3. Tidak ada kontradiksi dalam AlQuran
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا ٨٢
Artinya: “82. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”[11]
4. Allah Mempermudah Orang yang Ingin Menghafal Al-Qur’an
وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرٖ ٤٠
Artinya: 40. “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran.”[12]
5. Tidak Ada yang Mampu Untuk Membuat Seperti Al-Qur’an
أَمۡ يَقُولُونَ ٱفۡتَرَىٰهُۖ قُلۡ فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣٨
Artinya: 38. “Atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya". Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar"[13]
C. Gaya Bahasa
Karakteristik Al-Qur’an yang berhubungan dengan gaya bahasa terbagi dalam dua bagian :
1. Tidak Melampaui Pemahaman Umum dan Tidak Membatasi Tuntutan Khusus.
Gaya bahasa Al-Qur’an penuh dengan bahasa sastra dan penyajiannya tidak akan melampaui pemahaman masyarakat umum, serta tidak membatasi tuntutan –tuntutan khusus walaupun demikian kedua tuntutan tersebut tidak akan pernah dan tidak akan bisa ditandingi oleh ahli bahasa manapun didunia. Mereka hanya bisa berdalil dengan kaidah “ setiap tingkatan memiliki [gaya] bicara tersendiri “. Sedangkan untuk menemukan satu pembicaraan yang bisa disampaikan dan diterima oleh semua kalangan, baik dari para cendikiawan, orang awam, raja, rakyat biasa, orang yang tergolong cerdas maupun yang lambat pikirannya, kalangan dewasa, anak – anak, laki – laki, maupun perempuan, hanyalah ditemukan secara utuh dan sempurna pada Al-Qur’an.
Seorang awam yang membaca Al-Qur’an akan merasakan keagungannya merasakan manisnya dan tidak sulit memahaminya. Al-Qur’an disadari akan memberikan perlindungan terbuka baginya keterangan masa depan ; dan hidayah Al-Qur’an akan “ mengguyur”-nya. Sehingga hatinya selalu patuh, kedua matanya akan bersimbah air mata dan dia selalu merasa selamat serta mengakui kebenaran isi Al-Qur’an.
Seorang yang berilmu, apabila membaca Al-Qur’an akan mengetahui keindahannya. Ilmu Balaghah yang terkandung dalam Al-Qur’an akan dipahami, penjelasan penjelasan Al-Qur’an akam dikuasai, ilmu –ilmu pengetahuan yang termaktub –baik tersurat maupun yang tersirat dalam Al-Qur’an- jelas bagiannya, dan kabar berita dari Al-Qur’an akan membuatnya terheran – heran dan dia akan bisa mengendalikan fikirannya, membimbing akal fikirannya, memperluas jangkauan metode ilmu yang dimiliki, meluruskan fikirannya yang keliru, mempunyai “ kedudukan” yang tinggi sesuai dengan firman Allah Swt :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١
Artinya: 11. Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.[14]
2. Penggambaran yang Bersifat Maknawi
Maksud ‘penggambaran’ adalah memunculkan pengertian dengan kalimat yang hampir dikemas didalam bentuk personifikasi, sehingga seakan akan bisa direngkuh dengan tangan kasar, dan menyeruak kedalam kesadaran untuk kemudian mengerti secara sempurna, serta bentuk susunan kalimatnya tidak membebani hati. Juga keseluruhan pembahasan yang serius dalam Al-Qur’an seolah – olah tidak akan memberatkan pembacanya.
Al-Qur’an tidak memaksa pembaca untuk memahami dan mengetahui lebih jauh, tetapi Al-Qur’an akan membuat pembaca penasaran, sehingga secara sadar terus mencetak dan memperbanyak serta berkeinginan selalu mengkajinya. Sebagaimana tafsir Sayyid Quthub yang pembahasannya menggunakan pola penggambaran makna, sehingga tafsir ini berbeda dengan tafsir – tafsir pada umumnya.
Personifikasi makna, kadang kaladengan visualisasi material, yang berarti menghadirkannya dalam bentuk fisik yang dapat menerima persamaan dan perbandingan kata – kata yang sangat mendasar. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an, dimana Allah SWT mengidentikan kata adzhab sebagai sesuat yang mendasar, seperti dalam firman-Nya :
يَتَجَرَّعُهُۥ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُۥ وَيَأۡتِيهِ ٱلۡمَوۡتُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٖۖ وَمِن وَرَآئِهِۦ عَذَابٌ غَلِيظٞ ١٧
Artinya: 17. diminumnnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat.[15]
Demikian itu juga halnya dengan kata “yaum “ ( hari ) sebagai sesuatu yang sangat “berat”, seperti dalam firman-Nya:
إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ يُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَآءَهُمۡ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا ٢٧
Artinya: 27. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat)[16]
Maka kata “azab” (azab) dinukilkan dari keadaan semula menjadi makna yang mandiri (Mujarrad) kepada sesuatu yang mempunyai dasar yang tinggi, sebagaimana yang terjadi pada nukilan kata “yaum” dari makna waktu yang tidak tertangkap (oleh indra) kepada sesuatu yang mempunyai persamaan atau keterbatasan dasar urutan.
Di samping itu, masih banyak karakteristik yang dimiliki Al-Qur’an berkaitan dengan gaya bahasa, diantaranya adalah susunan prosanya indah, ukuran puitisasinya bagus, sulaman kalimatnya kokoh dan rapih, gaya bahasanya bervariasi, mempunyai kesatuan makna dan pengertian, bersandingnya kata – kata yang global dan yang memberi penjelasan, lafal – lafalnya simpel, maknanya sempurna, dan lain sebagainya
D. Karakteristik Al-Quran menurut Yusuf Qaradhawi
Dr. Yusuf Qaradhawi memaparkan beberapa karakteristik Al-Quran dalam kitabnya ” Kaifa Nata’amal ma’al al-Quran“, (Bagaimana berinteraksi dengan Al-Quran), secara singkatnya sebagai berikut:
1. Al-Quran adalah Kitab Ilahi
Al-Quran berasal dari Allah SWT, baik secara lafal maupun makna. Diwahyukan oleh Allah SWT kepada Rasul dan Nabi-Nya; Muhammad saw melalui ‘wahyu al-jaliy’ wahyu yang jelas. Yaitu dengan turunnya malaikat utusan Allah, Jibril a.s untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW yang manusia, bukan melalui jalan wahyu yang lain ; seperti ilham, pemberian inspirasi dalam jiwa, mimpi yang benar atau cara lainnya.
الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آَيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ
Artinya : Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu.[17]
2. Al-Quran adalah Kitab Suci yang terpelihara
Diantara karakteristik Al-Quran yang lainnya adalah ia merupakan kitab suci yang terpelihara keasliannya. Dan Allah SWT sendiri yang menjamin pemeliharaannya, serta tidak membebankan hal itu pada seorang pun. Tidak seperti yang dilakukan pada kitab-kitab suci selainnya, yang hanya dipelihara oleh umat yang menerimanya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT :
بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ
Adapun makna dipeliharanya al-Quran adalah Allah SWT memeliharanya dari pemalsuan dan perubahaan terhadap teks-teksnya, seperti yang terjadi terhadap Taurat, Injil, dan sebelumnya.
3. Al-Quran adalah Kitab suci yang menjadi Mukjizat
Diantara karakteristik Al-Quran adalah kemukjizatannya. Ia adalah mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sehingga bangsa arab hanya menyebut-nyebut mukjizat itu saja, tidak yang lainnya, meskipun dari beliau terjadi mukjizat yang lain yang tidak terhitung jumlahnya.
4. Al-Quran adalah Kitab Suci yang menjadi Penjelas dan dimudahkan Pemahamannya
Al-Quran adalah kitab yang memberi penjelasan dan mudah dipahami. Tidak seperti kitab filsafat, yang cenderung untuk menggunakan simbol-simbol dan penjelasan yang sulit, tidak pula seperti kitab sastra yang menggunakan perlambang-perlambang, yang berlebihan dalam menyembunyikan substansi, sehingga sulit dipahami akal
Allah SWT menurunkan Al-Quran agar makna-maknanya dapat ditangkap, hukum-hukumnya dapat dimengerti, rahasia-rahasianya dapat dipahami, serta ayat-ayatnya dapat ditadabburi. Oleh karena itu Allah SWT menurunkan Al-Quran dengan jelas dan memberi penjelasan, tidak samar dan sulit dipahami. Sebagaimana firman Allah SWT :
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Artinya : Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?[19]
5. Al-Quran adalah Kitab Suci yang Lengkap
Al-Quran adalah kitab agama yang menyeluruh, pokok agama dan ruh wujud islam. Darinya disimpulkan konsep akidah Islam, tatacara ibadah, tuntutan akhlak, juga pokok-pokok legislasi dan hukum. Allah SWT berfirman :
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
6. Al-Quran adalah Kitab Suci Seluruh Zaman
Makna Al-Quran sebagai kitab keseluruhan zaman adalah ia merupakan kitab yang abadi, bukan kitab bagi suatu masa tertentu, yang kemudian habis masa berlakunya. Maksudnya, hukum-hukum Al-Quran, perintah dan larangannya, tidak berlaku secara temporer dengan suatu kurun waktu tertentu, kemudian habis masanya.
7. Al-Quran adalah Kitab suci bagi Seluruh Umat Manusia
Al-Quran bukanlah kitab yang hanya ditujukan pada suatu bangsa, sementara tidak kepada bangsa yang lain, tidak juga untuk hanya satu warna kulit manusia, atau suatu wilayah tertentu. Tidak juga hanya bagi kalangan yang rasional, dan tidak menyentuh mereka yang emosional dan berdasarkan intuisi.Tidak juga hanya bagi rohaniawan, sementara tidak menyentuh mereka yang materialis. Al-Quran adalah kitab bagi seluruh golongan manusia. Allah SWT berfirman :
إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Al-Quran sebagai kitab dan pedoman umat Islam memiliki keutamaan Al-Qur’an adalah risalah dasar-dasar agama tauhid, sumber kokoh hukum alam, sumber hikmah, sebagai hidayah dan kasih sayang untuk seluruh ummat manusia. Ia juga merupakan cahaya yang nyata bagi ummat manusia, yang harus dijadikan pegangan agar mereka tidak terjerumus kedalam jurang penyesalan. Kedudukan Al-Quran dapat menjadi syafaat dan penyembuh bagi yang membacanya.
2. Karakteristik Al-Quran antara lain ; Al-Quran adalah Kitab Ilahi, Al-Quran adalah Kitab suci bagi Seluruh Umat Manusia; Al-Quran adalah Kitab Suci Seluruh Zaman; Al-Quran adalah Kitab Suci yang Lengkap; Al-Quran adalah Kitab Suci yang menjadi Penjelas dan dimudahkan Pemahamannya; Al-Quran adalah Kitab suci yang menjadi Mukjizat; dan Al-Quran adalah Kitab Suci yang terpelihara.
B. Saran
1. Bagi umat Islam hendaknya kegiatan membaca Al-Quran dilakukan secara istiqomah, sebab tidak ada satupun kerugian untuk membaca Al-Quran, akan tetapi justru sebaliknya, Al-Quran akan membawa banyak kebaikan bagi yang membacanya.
2. Segala hukum yang terkait dengan duniawi maupun ukhrawi hendaknya dikembalikan kepada hukum Al-Quran, sebab Al-Quran merupakan jalan yang lurus, pedoman yang benar.
3. Sebagai umat Islam hendaknya membaca Al-Quran tanpa mengeluh, sebab Al-Quran dimudahkan telah oleh Allah, dan bagi umat Islam yang merasa masih enggan membaca Al-Quran sebab masih terbata-bata, sesungguhnya terdapat pahala yang berkali lipat di dalamnya dan sebaiknya terus belajar membaca Al-Quran demi terciptanya umat Islam yang taat Al-Quran.
[1] Abdul Fattah, Karakteristik AlQuran, Makalah, h.3
[2] QS. Az Zukhruf (43) : 3-4
[3] Hadits Shahih, Diriwayatkan oleh Muslim (Hadits No. 1557)
[4] Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Tirmizi (hadis no. 2839).
[5] QS. Al-Isra’ (17): 41.
[6] QS Yunus (12) : 57
[7] HR Bukhari.
[8] HR Bukhari.
[9] QS. Fushshilat (41): 41-42
[10] QS. Al-Hijr (15): 9
[11] QS. An-Nisa (4) : 82
[12] QS. Al-Qamar (54): 40
[13] QS. Yunus (10): 38
[14] QS. Al-Mujadilah (58): 11
[15] QS Ibrahim (14):17
[16] QS. Al-Insan (76): 27
[17] Qs. Huud: 1
[18] QS. Al-Maidah :44
[19] QS. Al-Qamar: 17
[20] QS. An-Nahl: 89
[21] QS. At-Takwir: 27

Daftar pustaka ka ada ga?
BalasHapus