Yang Perjuangkan Rasa Bahagiaku


Tidak ada manusia yang hidup tanpa cinta yang besar kepada seseorang. Menurutku, cinta yang paling sempurna adalah ketika kita mencintai tanpa ragu, tanpa pertimbangan, dan tanpa alasan. Semua itu tidak dapat terjadi pada diriku kecuali kepada seseorang, cinta pertamaku. Dia adalah sosok  pertama yang membuka mataku tentang dunia, mengenalkan padaku apa itu rasa bahagia, menunjukkan padaku caranya berjuang, dan memberikan padaku banyak sekali kekuatan. Dia adalah ayahku. Pernah dengar cinta pertama seorang anak perempuan adalah kepada ayahnya? Ya, aku rasa hal itu benar adanya.

Aku selalu ingin menangis jika mengingat beliau. Aku seringkali menangis dalam sujud-sujudku ketika aku shalat dan berdoa, yang terkhusus untuknya. Kadang aku berbicara kepada Tuhan untuk menukarkan segala bebannya kepada diriku. Aku tahu bahunya sudah lelah, aku mau menggantikan ia merasakan susahnya bertahan dan berjuang. Aku mau, benar-benar mau andai saja aku bisa.

Tapi dia tidak tahu, aku selalu ceria jika berhadapan dengannya, dia tidak pernah tahu, aku selalu menangis jika sedang membicarakannya dengan Tuhan dalam doa-doaku. Dia mungkin hanya tahu, aku hanyalah seorang anak perempuannya, dan akan selalu tetap menjadi anak perempuan kecilnya yang tidak tahu apa-apa, yang ceria dan selalu bahagia. Memang benar, aku selalu berusaha menampilkan diriku yang bahagia agar dia tidak merasa gagal sebagai seorang ayah. Aku tidak ingin dia tahu bagaimana aku bersedih karenanya, sebab aku yang merasa gagal menjadi seorang anak. Sebab aku yang belum bisa bahagiakan dia sampai saat ini.

Ayahku bukan seseorang yang sukses kemudian menikah, melainkan sebaliknya, menikah lalu berjuang untuk sukses. Bahkan ayahku masih di bangku kuliah saat beliau menikah. Orang tuaku memulai segalanya dari nol, aku dan kakak perempuanku sudah merasakan pahitnya kehidupan sejak kami kecil, tapi aku begitu bangga, dan sama sekali tidak pernah menyesali hal itu, dari itu aku tahu caranya bersyukur dan berjuang.

Dulu, betapa aku sangat bersyukur dan bahagia dengan satu stel pakaian biru tua berbordir gambar buah nanas di saku kanan dan kiri saat aku kecil. Itu ayahku yang membelikan, setelah pergi bekerja ke tempat yang jauh lalu pulang membawa hadiah itu. Aku suka dan begitu bahagia, dulu, betapa aku sangat bersyukur dan bahagia ketika aku sakit, tertidur dan ketika membuka mata, ada ayah dan ibuku yang memberikan kejutan sepeda roda tiga dengan wajah yang sangat bahagia. Masih sangat melekat di pikiranku saat-saat itu. Betapa kehadiran rasa bahagia yang begitu sulit untuk diperjuangkan, tawa-tawa kecil itu begitu terasa berharga dalam ingatanku. Sejak ketika aku masih sangat kecil.

Aku tidak pernah menemukan potret diriku saat aku kecil kecuali hanya secarik. Secarik foto usang ukuran postcard yang diambil di studio foto kecil dekat rumah yang pada saat itu benar-benar hanya aku, kakak perempuanku, ibuku dan ayahku, yang pergi bersama-sama ke sana. Sekedar untuk mengambil foto. Hanya selembar itu saja fotoku saat masih kecil. Benar-benar tidak ada lagi yang lain, aku tidak punya album foto masa kecil seperti teman-temanku sekarang, tapi aku punya rasa syukur dan kebanggaan yang besar dengan selembar foto itu. Bahkan aku tidak bisa lagi menggambarkan betapa selembar foto itu sangat berharga bagiku. Selembar foto.

Ayahku ketika masih muda bekerja dengan susah payah untuk mewujudkan rasa bahagia bagi kami. Sampai aku bisa bersekolah, aku bisa menulis, membaca alfabet, membaca Al-Quran, belajar bahasa inggris, belajar menyanyi, semua pelajaran yang pertama kali aku dapat ketika aku hidup, adalah karena perannya. Aku masih sangat ingat bagaimana rasa rindu yang menyelimuti kami ketika ayahku pergi bekerja ke tempat yang jauh. Pada masa itu masih musim-musim pemadaman listrik, ditemani lilin, ibuku dengan daster merah muda kesayangannya itu memangkuku sambil melihat bintang-bintang di langit sambil bercerita tentang ayah, sedang apa dia di sana, kapan dia akan pulang, dan pertanyaan-pertanyaan anak kecil yang biasa terlontar.

Berkat didikan ayahku, aku selalu menjadi murid terbaik di kelasku ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, hingga aku bisa menorehkan rasa bangga di wajahnya ketika aku juga bisa lulus dan masuk di SMP favorit No.1 di kota kami. Begitupun juga selanjutnya lulus SMA favorit No.1 di kota kami. Berkat ayahku aku bisa sekolah sampai tinggi, aku seringkali membuatnya repot untuk bolak-balik ke sekolahku hanya untuk mengantarkan buku PRku yang tertinggal di rumah, sebab aku anak yang sangat ceroboh, tapi beliau tidak pernah marah padaku meski aku selalu mengulangi hal itu sampai aku lulus SMA.

Usaha yang beliau rintis dari nol pada akhirnya menemui masanya juga. Kami bisa merasakan makan enak tiap hari, berganti-ganti gadget dan tren sesuka hati, bahkan tanpa kami minta, ayah selalu menghadirkan rasa senang di dalam keluarga, setiap hari di rumah selalu seperti ada rasa pesta yang tercipta. Segala yang kami raih dan dapatkan semua adalah hasil jerih payah dan keringatnya untuk membangun sebuah keluarga bahagia ini. Bagiku, keluarga adalah harta terbaik yang pernah ada. Dan ayahku, adalah seorang yang paling aku sayangi di dunia ini setelah Allah dan RasulNya.

Aku saat ini bisa menempuh pendidikan magister S2 Ekonomi Syariah. Sampai titik ini, tidak akan pernah ada aku yang sekarang tanpa keringat dan jerih payah ayahku. Aku menjadi seorang Sarjana Ekonomi Syariah, aku berhasil lulus dengan predikat cumlaude. Yang tidak kusangka, ayahku datang ke kampusku saat aku wisuda dan membelikan boneka kecil yang memakai toga dan topi wisuda, memang boneka murah yang biasa. Tapi ini benar menyentuh hatiku dengan sangat. Aku  bersyukur, setidaknya aku membuat perjuangannya selama puluhan tahun ini tidak sia-sia bukan? Aku tidak bisa membalas sedikitpun jasa yang telah beliau berikan padaku, tidak akan pernah bisa. Aku tidak pernah bisa membayar garis-garis kerutan di wajahnya yang kian hari kian bertambah. Memikirkan masalah-masalah kehidupan yang selalu hilir mudik wajib untuk dia hadapi. Masalah yang dialaminya saat ini sungguh berat, dia tidak pernah mau kami anak-anaknya ikut susah karenanya. Aku saat ini hanya bisa berdoa dan terus berdoa agar beban di bahunya lekas menghilang.

, aku memulai ini menjadi mimpi-mimpi selanjutnya yang harus kuraih, dan itu pasti.



Love you my daddy❤❤


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau komen? boleehhhh.. :)