Cerita Kehamilan (Part 1)


Kehamilan adalah sebuah kabar yang ditunggu-tunggu oleh pasangan yang sudah menikah. Di awal pernikahanku, aku sempat kosong (tidak hamil) selama 2 bulan. Selama 2 bulan yang aku dan suamiku lalui, kami merasa gelisah dan was-was. Kapan aku bisa hamil?, agak berlebihan memang 😂 padahal baru menikah 2 bulan. Aku dan suamiku merasa takut pada kemungkinan terburuk, yaitu susah hamil.

Di awal-awal pernikahan, aku dan suamiku menjalani LDR selama beberapa bulan, karena faktor pekerjaan yang menuntut kami harus tinggal di dua kota yang berbeda. Aku mengajar di salah satu madrasah aliyah negeri yang jauh dari kotaku berasal. Pada saat itu adalah hari pertama aku bekerja, hari itu tepat pada peringatan hari pancasila, aku ingat benar. Aku menjalani upacara peringatan hari pancasila di satker tempat aku bekerja. Dari awal melaksanakan upacara aku merasa baik-baik saja, sampai pada bagian sambutan kepala sekolah, aku mulai keringat dingin, sedikit pusing dan berkunang-kunang, lalu aku terhuyung hampir pingsan. Seketika aku disarankan untuk beristirahat saja dan tidak usah melanjutkan upacara oleh rekan-rekan yang berada di samping kiri kanan dan juga belakangku. Aku menurut saja, aku mundur dan duduk di sofa dekat meja piket sekolah.

Saat aku tengah beristirahat, pada saat itu pula Bapak Kepala Sekolah memanggil kami, 12 ASN baru satu per satu, sampai tiba giliranku, akhirnya aku mengumpulkan upaya dan tenaga untuk berjalan maju ke depan lapangan untuk memperkenalkan diri. Lega, upacara hari itu akhirnya selesai juga dengan seksama. 

Selesai upacara beberapa rekan kerja mulai bertanya apa yang terjadi denganku, dan beberapa ada yang menyeletuk, bahwa mungkin aku tengah hamil. Setengah belum percaya, beberapa minggu kemudian aku melakukan tes kehamilan menggunakan testpack dan ternyata hasilnya alhamdulillah "positif hamil". Dua garis yang muncul begitu jelas dan tegas, tidak ada samar-samar dan itu adalah awal di mana cerita kehamilanku dimulai 😁


Layaknya cerita orang hamil pada umumnya, aku juga mengalami mual muntah di fase awal kehamilanku. Saat-saat itu begitu menyedihkan, aku tinggal di kosan kecil sendirian di kota yang jauh dari tempat tinggalku, tanpa saudara, kerabat, suami. setiap hari harus beradaptasi dengan rasa mual dan tidak enak badan yang begitu tidak nyaman untuk dilalui, tapi aku menikmatinya dengan cara terus mensyukuri kehamilanku sebagai amanah dan anugerah yang diberikan Allah. 

Rasa mual selalu muncul di setiap pagi dan sore hari, sehingga aku merasa perlu untuk memahami kondisi tubuhku sendiri agar aku bisa menjalani hari-hari dengan nyaman. Biasanya aku muntah-muntah sampai habis tenaga dan energi, lemas, dan ujung-ujungnya menangis sendirian setelah itu. Berat badanku juga semakin menurun, karena kekurangan asupan nutrisi dan vitamin, tapi kata Bu Bidan, itu hal yang wajar. 

Lalu aku mulai mencari tahu cara mengatasi rasa mual saat trimester pertama yaitu banyak mengkonsumsi makanan dalam jumlah sedikit tapi sering. Akhirnya aku mulai mempraktikkannya dan yeay aku berhasil. 
Aku mulai sarapan di pagi hari pukul 6 pagi sebelum berangkat ke sekolah, lalu pukul 10 atau 11 siang aku makan lagi seporsi sedikit, kemudian pukul 14.00 aku makan lagi, dan terakhir makan malam pukul 18.00, dengan begitu rasa mual yang muncul bisa diminimalisir.

Saat trimester pertama kehamilan, aku begitu waspada terhadap segala sesuatu yang aku makan, setiap hendak makan sesuatu, pasti aku akan membuka handphone dan browsing tentang makanan itu, apakah aman dikonsumsi oleh ibu hamil, apa saja kandungan nutrisinya dsb. Haha terdengar berlebihan sekali, tapi memang benar begitu yang aku lakukan. Semenjak melewati masa-masa kehamilan aku ingin sekali berterimakasih kepada pencipta google dan para penulis online karena telah begitu banyak membantuku dalam mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan kehamilan ini. 

Sejauh masa kehamilan di trimester awal ini, aku menghindari makanan makanan mentah dan tinggi merkuri seperti seafood, makanan berlemak, makanan ringan yang mengandung pengawet, pewarna, pemanis buatan, dan juga minuman bersoda. Selama 9 bulan aku tidak menyentuh minuman bersoda sama sekali. Aku mengurangi konsumsi makanan ringan seperti snack dan jajanan pinggir jalan. Juga aku mulai banyak mengkonsumsi buah dan sayur yang sebelumnya sangat minimal sekali aku mengkonsumsinya. Aku mencoba hidup sehat mulai dari makanan sehari hari. 

Kehamilan trimester pertamaku berjalan dengan ajaib. Aku sering bolak balik Kotabumi - Metro sekitar seminggu sekali, aku memforsir tubuhku untuk banyak bekerja, jujur aku pun mengakui aku merasa kelelahan dan takut terjadi apa-apa dengan kehamilanku. Tapi untungnya Allah senantiasa menjaga kami dengan baik. Bayiku selalu sehat setiap di cek, bahkan ketika aku sakit, dan juga sempat diopname, bayiku selalu dalam keadaan sehat dan tidak mengalami masalah apapun. Pergerakannya begitu aktif, detak jantungnya normal, dan perkembangannya begitu signifikan. Bayiku memang anak yang kuat dan hebat.

Setelah sempat di opname, aku merasa lebih membaik, mungkin juga faktor pengaruh bahwa tubuh ini menolak kalau kalau harus di opname lagi. Saat itu adalah saat pertama kalinya dalam hidupku masuk RS sebagai pasien dan harus diopname. Pertama kalinya merasakan diinfus. Dan aku harap itu sebagai saat terakhir aku harus dirawat di RS karena alasan sakit. (alasan melahirkan menjadi sebuah pengecualian).

Akhirnya trimester pertama selesai dilewati. Aku sembuh dari mual mual dan muntah. Aku lebih banyak makan dan banyak maunya. Hehe. Dan yang lebih menyenangkan lagi, suamiku resign dari pekerjaannya dan ikut pindah ke Kotabumi untuk menemaniku. Sebuah pengorbanan yang menurutku luar biasa. Yang belum tentu sanggup dilakukan oleh laki-laki lain. Suamiku rela meninggalkan karirnya dan teman temannya untuk kami. Aku yakin Allah pasti balas kebaikannya dan ketulusannya berkorban untuk kami. Sebuah pengorbanan yang mulia. Terimakasih suamiku.  

Tunggu cerita kehamilan Part 2nya yaa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau komen? boleehhhh.. :)