Bicara pada Tuhan


Mungkin aku seorang yang rapuh bagaikan ranting dari dahan yang kering
Kering. Tidak sanggup untuk hidup lebih lama dan menunggu waktunya untuk menjadi pohon mati tak berarti

Aku sesak untuk berada di sana dan Tuhan tahu bagaimana aku tidak sanggup lagi meneteskan bulir demi bulir keresahan sebab aku memanglah tidak sekuat yang orang lain bayangkan

Aku dipindahtangankan oleh Tuhan pada ketenangan yang seharusnya patut untuk kusyukuri. Tapi aku selalu ingat pohon tua itu yang semakin lama semakin terlihat menyedihkan

Bagaimana Tuhan bisa membiarkan semua itu terjadi, aku tahu Tuhan maha baik, pasti tidak ada yang salah dengan ini semua, tapi ada ketidaksanggupan yang terombang ambing di batas kesabaran dan kekuatan mereka, dan aku juga merasakan hal yang sama sebab aku juga berasal dari tempat yang sama

Aku sesak dengan kesesakan mereka. Merasa gagal sebab tidak bisa melakukan apa-apa, kosong, sulit, dan menyedihkan. Aku harus apa?

Tuhan, aku tahu aku begitu kecil untuk bisa bicara denganMu dan meminta kekacauan ini disudahi. Tapi bukankah Engkau senang bicara dengan kami yang kecil dan lemah ini? Bukankah Engkau senang dimintai? Ah, tapi lagi-lagi kami terlalu bodoh untuk mencari kebaikan apa yang Engkau selipkan di dalam tatanan keporak-porandaan ini. Sebab kami tidak pernah tahu mana yang baik bagi kami. Bisa jadi yang terlihat mudah tidak lebih baik dari yang sulit. Kami tidak tahu dan tidak bisa apa-apa kecuali hanya menerka-nerka saja.

Tuhan, bicara padaMu bisa terasa begitu tenang, tolong biarkanlah ketenangan ini menetap, tidak hanya padaku, tapi pada kami semua. Dan pada insan-insanMu yang sudah menjadi "gila" karena urusan dunianya. Kami akan berhenti jika Engkau yang mengentikannya. Maka izinkanlah, ridhoilah. Tuhan yang Maha Adil, Maha Sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau komen? boleehhhh.. :)