SECARIK NOSTALGIA


(Oleh Aas - Mahasiswi - 19 tahun)

Kehilangan itu membuat aku mengerti apa arti memiliki. Aku memandangi dari balik jendela kaca, rintik air langit yang jatuh bersamaan dengan detik waktu, detik demi detik hujan ini tidak kunjung reda. Di depan pandanganku sebuah bangku putih yang sudah di sana sejak bertahun-tahun. Kosong, dan membisu. Nafasku terhela lepas memandang bangku di bawah pohon rindang itu, dengan tatapan hampa aku bernostalgia dengan fikiranku ke masa itu...  Tujuh tahun yang lalu ketika aku masih bisa dibilang remaja, dan masih bahagia duduk di samping seseorang yang mencintaiku, di bangku itu kami melewatkan hari bersama, kadang hanya duduk dan tertawa, bercerita, hal terkecil sampai masalah yang paling rumit kami bicarakan hingga bosan. Di bangku itu, bangku yang tetap seperti dulu, tapi tidak begitu dengan hatiku.
Aku mengingat, masa-masa itu...
Sore itu aku duduk bersandar di bawah pohon besar di halaman belakang rumahku dengan sepasang headset terpasang di kedua telinga yang memainkan denting piano bernada lagu Somewhere Over the Rainbow dengan lembut, kuputar berkali-kali sehingga membawaku terlelap sambil tersenyum kecil. Beberapa saat kemudian sepoi angin mengayun mengibaskan helai rambutku dan perlahan mataku terbuka.
Aku tersontak kaget. “Rendy!”
Dia hanya tersenyum di hadapan wajahku. Dia seorang sahabat terbaikku. Dan  sahabatku hanya seseorang. Dan seorang itu adalah dia.
“Dari kapan kamu di sini?” Tanyaku
“Sekitar setengah jam.” Jawabnya sambil menyerigai. Sebuah kotak berwarna ungu muda digenggamnya.
“Mika, aku mau jujur.”
“Kamu kan tukang bohong.”
“Enggak aku beneran.”
“Apa?”
“Aku suka sama kamu”
“Ini buat kamu.” Dia mengulurkan kotak itu kepadaku.
Aku membukanya. Kami bertatapan dan saling tersenyum.
***
Hari pertama pacaran, Rendy datang ke rumah membawa amplop kecil sebelum berangkat ke sekolah, tanpa bicara apa-apa dan hanya tersenyum dia bergegas pergi dengan sepeda kesayangannya. Aku menatap amplop itu dan kubuka.
“Selamat pagi Mika yang manis, semoga hari yang cerah ini membawa keceriaan dan semangat buat kamu. (Rendy)” Aku melihat ke langit. Mendung. Dan aku tertawa. Dalam amplop itu terselip secarik fotoku yang sedang tertidur kemarin sore. Dibaliknya tertulis, “kamu cantik”.
Aku sekolah di tempat yang berbeda dengan Rendy, tapi dia tetanggaku jadi aku bisa menemuinya kapan saja aku mau. Hari itu di sekolah seperti biasa aku duduk di bangku kedua dari belakang dan sendirian. Aku seseorang bertubuh gemuk yang dikucilkan teman-teman. Sebagian temanku mencibir dan membully, sebagian yang lain tidak menganggap aku ada. Tapi aku tetap bersyukur dengan apa yang aku miliki.
“Woy gendut. Kerjain PR gue dong.” Ucap Cici, gadis paling cantik di kelas. Aku hanya diam dan meneruskan kegiatanku membaca buku Biologi.
“Woy!!.” Ucapnya membentak.
Aku memandangnya dengan santai. “Lo ngomong sama gue? Nama gue Mika. Bukan ‘gendut’. Bukan juga ‘woy’.” Aku menutup buku dan berlalu meninggalkan gerombolan Cici and the gank. Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.
Sudah terbiasa aku melalui hari-hari dengan tidak menyenangkan di sekolah. Hari itu hujan seharian. Sampai bel pulang sekolah aku menunggu hujan reda di teras depan kelasku.
“Ckriik.” Blitz kamera mengejutkanku
“Yuk pulang.” Ucap Rendy sambil memasukkan kamera kecil ke ranselnya
“Kok kamu disini?” Tanyaku
“Aku bawain kamu payung. Hehe”
“Kok mukanya sedih gitu? Kamu diledekin lagi ya sama temen-temen kamu?”
“Nggak Ren, Aku kan nggak punya temen.” Ucapku sambil tertawa kecil.
“Kenapa ngomongnya gitu? Kamu tu cewe paling cantik, paling baik yang pernah aku temuin. Rugi mereka semua yang nggak mau bertemen sama kamu” Rendy menggenggam tanganku.
Aku melepaskan genggamannya dengan cepat. “Yuk pulang.”
Begitu setiap hari, Rendy selalu datang mengantar dan menjemputku ke sekolah, kadang dia terlambat sampai ke sekolahnya tapi dia tetap saja begitu.
***
Dua tahun berlalu, hari demi hari berganti dengan indah, begitu juga pada hatiku yang semakin bergemuruh dengan rasa yang semakin dalam untuk Rendy. Tepat di hari jadi kami ke dua tahun aku menunggu Rendy di halaman belakang rumahku. Di bangku putih aku duduk dengan gaun cantik dan aku aneh melihat diriku sendiri.
“Ah nggak pantas gue dandan begini.” Aku bangun dari bangku itu dan hendak masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian. Tiba-tiba mataku tertutup dua telapak tangan menutup wajahku dengan tiba-tiba.
“Apaan sih Ren.”
Sureprise.” Ucap Rendy sambil tertawa.
“Tapi aku nggak kaget.”
“Aku yang kaget. Kaget ngeliat kamu makin cantik gini.” Ucap Rendy dengan tersenyum.
Aku merasa menjadi wanita bahagia yang paling bahagia dari semua orang yang bahagia di dunia.
Rendy mengeluarkan sekuntum mawar putih dari belakang tubuhnya. “Buat kamu, Happy anniversarry Mika... Aku sayang banget sama kamu.”
Aku diam. Rendy diam. Lalu kami tertawa bersama.
“Kalo kaya gini kita kaya anak gede ya.” Aku tertawa.
“Aku bakal kaya gini sampe kita gede. Sampe nanti aku datengin kamu bukan lagi bawain coklat atau es krim. Tapi bawain cincin buat hidup bareng kamu. Aku janji.” Rendy tersenyum sangat manis setelah mengucapkan kalimat itu dan menyodorkan kelingkingnya kehadapanku. Aku mengaitkan kelingking kami dan hari itu kunobatkan sebagai hari paling romantis se dunia.
***
Tuut... tuut... Nomor yang anda hubungi tidak dapat menerima panggilan silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi beep~”
Kesal kumatikan handphone dan menyimpannya di laci lemari kamarku. Bergegas mengganti pakaian, mengambil tas kecil, memeriksa dompet, lalu keluar menghentikan sebuah taksi. Aku pergi shopping membeli beberapa pakaian yang sedang happening. Dan sepasang sepatu cantik berukuran jumbo. Sejenak aku bisa melupakan Rendy yang hampir dua minggu tidak ada kabarnya. Aku melepaskan penat, sambil berfikir busana mana yang cocok kukenakan untuk anniversarry ketiga tahun dengan Rendy, dan membuat dia sadar bahwa aku setidaknya bisa berpenampilan seperti perempuan lain dan Rendy tahu bahwa aku pun bisa modis. Sambil tersenyum sendiri aku menyeruput secangkir coffee latte di sebuah cafe yang sering kudatangi ketika aku bosan di rumah. Cafe itu juga merupakan cafe terakhir yang kudatangi setelah kejadian itu.
“Rendy.” Aku bergegas menghampiri meja kedua dari sebelah kananku.
“Ko nggak angkat telfon aku?” Ucapku kepada Rendy. Dia bersama seorang wanita berkulit putih, tubuhnya langsing dan tersenyum sangat manis kepadaku.
“Dia siapa sayang?” Perempuan itu bertanya dengan lembut kepada Rendy.
“Eh, Mi... Mika... kenalin ini Vania, Vania kenalin ini Mika. Dia.... tetangga aku.” Rendy salah tingkah menjawab pertanyaan Vania.
Tanpa pikir panjang aku melangkah mundur dan pergi secepat kilat meninggalkan cafe dan menjauhkan pandanganku dari mereka berdua. Aku menangis tiada hentinya, mengurung diri di kamar. Aku kecewa kepada Rendy. Dia satu-satunya orang yang mencintai aku apa adanya setelah orang tuaku, dia orang yang selalu menghiburku dan membuat aku menjadi perempuan paling beruntung, sampai aku lupa bahwa di luar sana aku adalah perempuan paling buruk rupa. Aku tidak pernah bergaul dengan remaja seusiaku, aku hanya bergaul dengan Rendy dan bagiku Rendy satu-satunya yang bisa membuatku merasa berarti. Aku kehilangan cintaku, dan aku menyesal pernah mencintai seseorang.
***
“Mika maafin aku” SMS yang sama masuk ke handphoneku setiap hari. Itu dari Rendy, dan satupun tidak ada yang kubalas. Sampai mungkin dia lelah dan tidak mengirimkannya lagi setelah hampir satu tahun.
Dua tahun berlalu aku menjalani hari-hari tanpa Rendy. Hanya sendiri, sibuk kuliah, sampai kadang lupa makan. Aku meneruskan kuliah di Jogja, meninggalkan Tangerang dan hidup di sebuah kontrakan kecil yang penuh kebisingan kota. Temanku banyak, aku bergaul di bar, mabuk-mabukan sampai pagi, dan aku menjadi seorang pecandu narkoba. Pagi itu aku mampir di sebuah resto di samping kampus sambil sarapan rokok setelah nasi goreng special dengan telur bulat sempurna se-sempurna fisikku yang bisa di bilang sangat ideal, tubuh semampai dengan wajah cantik dan aku kini menjadi idaman cowok-cowok di kampus. Delapan belas cowok kupatahkan hatinya. Tidak satupun di antara mereka yang kuterima cintanya.
“Bisa berhenti ngeliatin gue?” Tanyaku kepada seorang laki-laki yang sedari tadi memandangiku ke atas sampai ke bawah dari sebelah kanan bangku yang kutempati.
HPku bergetar. Kulihat ada e-mail masuk.
Kamu tetap malaikat di hati aku
Kamu punya luka dan aku juga merasakan itu seratus kali lebih sakit
Aku salah dan aku bodoh
Aku salah menyakiti seseorang yang tulus menyeka keringatku ketika aku lelah
Aku salah menghianati seseorang yang memapahku ketika aku jatuh
Aku salah meninggalkan gadis kecil itu...
Aku rindu masa-masa kita bersama, menggenggam tangan kamu dan membelai lembut helai rambutmu
Aku rindu kamu yang menghapus air mataku ketika aku menangis ketakutan
Aku rindu kamu... orang yang paling mengenalku melebihi diriku sendiri...
Aku bersamamu sejak aku tidak tahu apa-apa sampai aku mengerti cinta.
Aku bersamamu sejak aku mengaitkan kelingking kita di bawah pohon tua dan aku masih bersamamu menunggu cintamu kembali sampai detik ini...
Air mataku menetes tanpa kompromi. Aku tiba-tiba teringat Rendy dan perpisahan tanpa kata yang kami jalani. Aku menangis dan menutup wajahku di atas meja makan resto dengan sesenggukan.
Waktu terus berjalan. Lagi-lagi kubiarkan pesan-pesan yang dikirimkan Rendy tanpa pernah kubalas. Seringkali dia menanyakan kabarku dan mengajakku bertemu tapi aku tidak pernah menghiraukannya. Sampai pada dini hari pukul 04.00 aku terbangun dari tempat tidur, merasa aneh dengan diriku. Lalu terjatuh dan aku tidak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian...
“Anak Ibu terkena serangan jantung. Dia terlalu banyak merokok dan mengkonsumsi alkohol.” Ucap Dokter Lena yang menanganiku.
“Tolong lakukan apa saja Dok.” Mama menangis tanpa henti.
Semakin lama penyakitku semakin parah, aku tidak pernah mendengarkan kata dokter dan jantungku semakin melemah. Hingga daya pompa jantungku tidak dapat mengalirkan cukup darah ke ginjal dan organ vital lain. Aku dirawat di rumah sakit dengan lemah tak berdaya
***
Hari yang mendung, awan gelap muncul perlahan, aku mencium bau gerimis yang sangat aku suka. Hari itu tiba hari libur semester, aku pulang ke Tangerang. Aku tiba di Tangerang malam hari, karena merasa lelah, aku langsung menuju kamarku untuk beristirahat.
Aku membuka gagang pintu kamar dan masuk, seisi kamar gelap, aku menyalakan lampu, Dengan sedikit rasa gemetar yang tidak biasa. Lampu kamarku berubah warna ungu sendu.
Aku terkejut... Benar-benar sebuah kejutan yang menggetarkan nuraniku, sebuah galeri menghiasi seisi kamarku dan seluruh dinding penuh... penuh dengan fotoku dan itu menakjubkan. Foto dari aku masih kecil, foto dengan tubuh besarku, foto aku menangis, foto aku sedang tertawa... dan aku terkesima, banyak juga foto ketika aku beranjak dewasa dengan tubuh yang sudah berubah ini, dan semua foto itu diambil secara candid. Ada sebuah amplop ungu muda yang sangat aku kenal di atas meja belajarku. Perlahan aku membukanya.
Sureprise...
Aku selalu ada sama kamu Mik, Aku nggak pernah benar-benar ninggalin kamu. Kamu inget nggak janji aku? Aku nggak pernah bohong. Aku berharap kamu bisa jadi istri aku. Aku nggak peduli kamu gimana sekarang tapi aku masih Rendy yang dulu. Maaf untuk harapan aku yang sekarang cuma jadi harapan tanpa bisa terwujud, aku nggak apa-apa selama kamu bisa hidup dengan bahagia. Aku nggak bisa dan nggak mau kamu tinggalin gitu aja, aku memang sekarang udah nggak ada di samping kamu, tapi aku masih jagain kamu dari sini... Dari jantungku yang berdetak di tubuh kamu ini... I Love You – (Rendy) J
Cincin itu sangat cantik, diselipkan dalam suratnya dan aku baru sadar, bahwa tanpa sadarku Rendy ada di sampingku, tanpa sadarku Rendy masih menjagaku.
***
Aku menyeka air mata seiring hujan yang reda, seiring jatuhnya tetes embun dari pohon tua. Sore pun tiba seketika menutup cahaya langit dan secarik nostalgia...


Diikutsertakan pada kumpulan cerpen #SMH @ScrapeMyHeart bisa dibaca dibuku Scrape My Heart halaman 101 bersama cerpen-cerpen teman-teman dari nusantara :D


4 komentar:

Mau komen? boleehhhh.. :)