Hari itu cuaca bagus, tidak hujan dan tidak hujan. (Baca:
panas bingit)
Selesai sholat Ashar Cham Ayew Aas dan Dwi memutuskan untuk
membeli somay yang ada di depan kampus.
“Hey.. Hey.. Kita beli Somay dulu” Ucap Ayew kepada Cham yang tiba-tiba melipir hendak menuju jalan berlawanan dari mereka.
“Hey.. Hey.. Kita beli Somay dulu” Ucap Ayew kepada Cham yang tiba-tiba melipir hendak menuju jalan berlawanan dari mereka.
“Oh... Hehehe.” Cham akhirnya berbalik dan bergabung dengan
ketiga temannya.
“Mau beli berapa?” Tanya Dwi yang sudah mengeluarkan dompet
beserta ATM beserta mesin ATMnya beserta satpam ATMnya juga.
“Saya empat ribu.” Ucap Aas.
“Om berapaan?” Tanya Dwi kepada mamang Somay.
“Serebu neng.” Jawab mamang Somay, sebut saja dia Alex.
“Ya udah, saya empat ribu.” Ucap Aas.
Dwi mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari dompetnya.
“Beli berapa ya?” Tanya Dwi.
“Saya empat rebu.” Ucap Aas.
Mereka berpikir keras mau beli berapa...
Tik Tok.. Tik Tok..
3 jam kemudian.
“Aku tiga ribu aja lah.” Dwi akhirnya memutuskan setelah
berpikir keras.
“Saya tiga ribu juga deh” Ucap Ayew.
“Saya empat ribu deh.” Ucap Aas berulang-ulang.
“Cham beli berapa?” Tanya Ayew.
“Aku beliin ya, tadi nggak bawa sangu.” Ucap Cham sambil
menyeringai.
“Ahaaa, yaudah kita tiga ribu-tiga ribu aja, terus
masing-masing iuran seribu-seribu buat beliin Cham.” Dwi mendapat ilham.
“Ahhaaa. Ide bagus kakak,” Jawab Aas.
“Ahaaa. Setujuu.” Kata Ayew.
~Cham bengong memandang tiga temannya dari belakang~
“Oke, sekarang kita pesen, Somay, empat porsi , tiga
ribu-tiga ribu.” Kata Dwi.
“Tapi duitnya gimana kakak?” Tanya Aas.
“Ini duit saya empat ribu,” Lanjutnya.
~Cham tidur siang~
“Ini aku sepuluh ribu, kembali enam ribu.” Ucap Dwi.
“Ini aku lima ribu,
kembali seribu.” Ucap Ayew.
Mereka bertiga saling menatap.
~Cham lomba koprol sama satpam ATM~
“Oh berarti gini,
empat ribu kasih Ayew, ini beli pake lima belas ribu.” Ucap Aas.
Jangan komentar. Dia memang bego matematika.
“Nggak loh kak, saya kan tiga ribu, ni dua ribunya saya
ambil. Na sisanya kasih Dwi.” Ayew juga sedikit kacau.
“Gini aja, kan dua belas ribu, berarti sisanya kasih kita.”
Ucap Dwi kepada Ayew.
“Gini loh kak, kita kan....”
BLA BLA BLA BLA BLA BLA
BLA BLA BLA BLA
BLA BLA
BLA
Tiga ratus abad kemudian.
“Kok duitnya malah kurang ya kak?” Tanya Aas.
“Kan dua belas ribu, sisanya tujuh ribu.” Ucap Aas
“Ya itu kan yang kamu pegang empat belas ribu kak, bukan dua
belas ribu” Ucap Dwi.
“OOOOOOOOOOH IYAAAA.”
Akhirnya masalah terpecahkan.
Mereka dengan wajah sumringah memanggil mamang somay dengan
gembira.
“Mang, beli empat, tiga-ribu tiga-ribu. :D”
“Iya mang, aku ngefans sama somay mamang yang enak ituuuuuu
:D” Kata Cham.
“Iya mamang, yang banyak bumbunyaaa. :D” Kata Ayew.
“Dibungkus aja mang nggak usah dikaretin. :D” Kata Dwi.
Mereka sangat bahagia.
Tapi apa daya jawaban mamang somay.
“Yah, somaynya habis neng.” Ucap mamang Somay.
Dan..
Tik.. tok.. tik.. tok..
“Tinggal telor, pare, sama somay neng” Ucap mamang Alex.
“Yaudah mang, kita beliiiiii semuaaaaaa” Jawab mereka.
“Mang di jadiin dua piring yaaa.” Ucap mereka.
“Eh kak, kita duduk dimana?”
“Disana aja kak.” Ucap Dwi menunjuk bangku panjang berwarna
merah
“Di sana aja kak, nggak ada yang ngeliatin kita.” Ucap Aas
menunjuk teras masjid.
“Disana aja kak.” Ucap Cham menunjuk rumput rindang.
“Di sana aja kak.” Ucap Satpam ATM menunjuk mesin ATM.
DRRRTT DRRTTT ditengah perdebatan sengit itu handphone Aas
bergetar.
“Masuuukk. Ada dosen.” SMS dari teman sekelasnya
Antara Aku Kamu dan Somay kita : 555 Kata






asli ini gak penting, hahaha
BalasHapusngakak saya baca ini, (perut sakit sampean) haha ngapa bawa'' satpam atm segala, mana cam juga mekot lomba koprol,haahaha
pewwwwwwwwww
muka kita pewww
somay pewwww
haha
ih sumpah ngakak berat saya baca ini , ampee berkali kali baca juga masih aja buat ketawa :D
BalasHapusPeewwwwwww ! :D :D
ada apa ini sebenarnya knapa seluruh dunia ikut2 peeeeeww..
BalasHapus