Kamu sepasang mata
hitam yang menenggelamkan
Sebentuk kelembutan
hati yang berarti.
Sepenggal kisah
yang memaksaku menanti.
Muda.
Beranjak
remaja.
Menginjak
Sekolah Menengah Pertama.
Pagi
itu cahaya di sampaikan dunia dari petala langit menuju bumi dengan tulusnya.
Ada sesuatu yang baru namun tetap terasa biasa saja bagiku pertama menginjak
sekolah ini. Ini sekolah biasa-biasa saja, ruang-ruang kelasnya biasa saja,
lapangan upacara yang biasa, tiang bendera juga biasa, kupikir apa kerennya
menjadi anak SMP dengan segala sesuatu yang biasa-biasa saja ini. Tapi tunggu,
ada sesuatu yang tidak biasa di sudut sana, arah gerbang sekolah...
Spontan aku sedikit tertawa seadanya. Seorang
gadis kecil berhijab dengan sepeda onthel biru datang memasuki gerbang.
“ Tapi cantik” Pikirku sembari tersenyum.
Bel
sekolah berbunyi,
Semua
murid berhamburan memasuki ruang kelas.
Tidak
banyak yang aku kenal, hanya dengan tiga orang sahabatku yang mendaftar ke SMP
ini bersama-sama. Saat itu aku memilih bangku paling pojok dari belakang di
kelas, sembari tertawa-tertawa kecil yang tidak jelas alasannya dengan temanku,
mataku menelaah ke sekeliling isi kelas ini. Kemudian seketika berhenti. berhenti
tepat di bola matamu.
Kamu,
gadis sepeda onthel biru
Ternyata
kita berada di satu ruang yang sama ya?
Aku
masih termenung menatap kamu yang kemudian duduk di bangku paling depan di
tengah keriuhan kelas ini, hingga tiba-tiba hening ketika Bu Guru memasuki
ruangan.
“Selamat
pagi anak-anak”
“Selamaaaat
pagiiii Buuuuu.”
Teriakan
seisi kelas memudarkan lamunanku.
“Pagi
Bu,” ucapku perlahan, dengan sayup hampir tidak terdengar.
“Hari
ini kita akan melakukan pemilihan ketua kelas, Ibu akan menunjuk beberapa orang
kandidat, dan kalian harus memilih siapa yang akan menjadi ketua kelas.” Jelas
Bu Guru.
Setelah
Bu Guru menjelaskan panjang lebar, aku mengikuti anak-anak lain yang
mempersiapkan kertas kecil untuk menuliskan nama yang akan dipilih untuk
menjadi ketua kelas. Dari beberapa nama yang telah disebutkan ada satu nama
yang kupilih. Nama itu, Lia Hidayati.
Penghitungan
suara dimulai, satu demi satu kertas telah dikumpulkan dan dibacakan hasilnya
sehingga keluar satu nama sebagai pemenang yang menjadi ketua kelas terpilih.
“Dan,
yang menjadi ketua kelas kita adalah...”
“Lia
Hidayati” Ucap Bu Guru.
Nama
itu, nama yang kupilih tadi.
Lia
Hidayati maju ke depan kelas.
Dan ternyata lagi-lagi itu kamu. Gadis
sepeda biru.
Oh begitu... Jadi, nama Lia Hidayati
itu milikmu.
***
Hari
berikutnya...
Kembali
lagi ke sekolah
Ditengah
pelajaran sekolah, kelas ditinggal kosong begitu saja oleh Bu Guru, ada tugas
yang harus kami kerjakan, semua anak di kelas sibuk menulis, tapi, tidak begitu
denganku.
Aku
hanya sedikit ~ malas belajar ~
Dengan
semauku aku nongkrong di depan kelas bersama teman-temanku. Sementara yang lain
sibuk menulis, kami di depan pintu kelas sibuk mengobrol.
“Aduh.”
Tiba-tiba seseorang memukulku dengan sapu lidi.
...
Lagi-lagi
itu kamu.
Lia
hidayati si ketua kelas bersepeda biru.
“Jadi
karena sekarang kamu ketua kelas kamu berhak memukulku dengan sapu? Begitu?”
...
Aku
menampakkan raut muka kesal kepadamu, tapi tahukah?
Aku
mulai jatuh cinta padamu tepat di detik itu.
***
Sedikit demi
sedikit aku mulai tahu apa yang kamu suka
Di
sekolah ada salah satu kegiatan ekstrakulikuler yang kamu suka, yaitu ekskul
renang. Tapi aku tidak masuk dalam kelompok ekskul renang sepertimu, dengan
biaya masuk kolam renang pada saat itu sebesar tujuh ribu rupiah aku
mengumpulkan uang jajanku setiap hari.
Uang
jajanku setiap hari seribu rupiah, jadi aku butuh waktu seminggu untuk
mengumpulkan uang demi pergi mengikutimu ke kolam renang, demi melihat kamu.
Konyol
~
***
Akhirnya
bisa pergi ke kolam renang setelah menabung dari uang jajan
Setelah
seminggu tidak jajan, uang kusisihkan untuk ikut ke kolam renang hanya demi
sekedar bertemu denganmu. Pada saat itu pertama kalinya aku melihatmu tanpa
hijab, aku hampir tidak mengenalimu karnena kamu benar-benar terlihat sangat...
cantik.
Kamu
berenang-renang di kolam, tapi rasanya kamu sedang berenang-renang mengarungi
pikiranku. Kamu berenang di sana, menyatu dengan air dan aku sangat mengagumimu
pada saat itu. Kuberanikan diri untuk mendekatimu di pinggir kolam renang.
Aku
duduk berjongkok di pinggir kolam renang memanggilmu yang berada di dalam
kolam.
“Lia,
sini.”
“Kenapa?”
Kamu berenang mendekat.
“Heh.”
“Iya
kenapa?”
“Aku
suka sama kamu” Ucapku dengan polosnya.
Sedetik...
Dua detik... Tiga detik, kita hanya saling bertatapan, aku harap ada reaksi
yang baik setelah ini.
Tapi
dugaanku salah.
Kamu
membuang pandanganmu, kemudian seketika pergi berlalu.
Konyol ~ (Lagi)
***
Sekolah?
Kemudian itu menjadi hal yang paling membosankan
Sejak
saat itu, aku jarang masuk sekolah. Dan itu artinya kita tidak pernah lagi
bertatap muka. Hingga akhirnya aku benar-benar dikeluarkan dari sekolah dan
pindah ke sekolah lain di daerah kecil ini.
Kita
benar-benar tidak pernah bertemu sampai dua tahun lamanya. Bagaimana denganmu?
Bagaimana kabarmu? Tapi aku yakin kamu tetap kamu yang dulu, yang tidak akan pernah
bisa hilang dari hatiku.
***
Menginjak
bangku SMA
Masa-masa
menuju dewasa
Aku melihatmu lagi, kita bisa mendekat lagi.
Tahukah?
Betapa bahagia aku ketika kita bisa memulai lagi untuk
saling bicara
Betapa yakin hatiku untuk bisa memiliki hatimu
(Lagi)
Kuberanikan diri menyatakan perasaan ini padamu
Yang kali ini aku menerima sebuah jawaban darimu
Yaitu
“Aku ngga pengen pacaran dulu”
Mungkin di titik ini aku mulai menyerah padamu,
Tapi tahukah
Sekedar dekat denganmu seperti ini saja,
aku amat sangat bahagia
Kamu adalah satu bingkisan sempurna yang membuat cinta
ini dalam, semakin dalam dan semakin menyakitkan.
Karena seberapa besar pun aku mengagumi,
Kamu tetap saja tidak dapat dimiliki.
Kamu dengan tanpa sadarmu
perlahan-lahan melukaiku
Tapi tak apa,
Karena aku sudah terlalu terbiasa
Tak apa,
Karena setidaknya ini tidak lebih menyakitkan
Dari tidak melihatmu sama sekali
***
Terimakashih untuk
kedekatan yang semakin menyenangkan
***
Hingga sampai pada hari itu
Hari dimana hal paling menyakitkan menjadi semakin
menyakitkan.
Saat kamu berpamitan padaku untuk pergi
Menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi
Baiklah, pada sudut ini aku kembali berjalan sendiri
Kepingan-kepingan hati ini hancur lagi
Menunggumu pulang.
Terus saja menunggumu.
Masih saja kamu.
Jauh untuk bertatap muka
Menanti hari ketika kamu kembali ke dunia kita
Aku masih tetap disini dengan menggenggam hati kecil
ini
Dan ini masih saja untuk kamu
Penantian dan pengharapan,
Yang tidak pernah habis ini
Benar-benar untukmu
Dan tidak bisa tergantikan dengan yang lain lagi.
Apa aku bodoh?
Memang benar aku terlau bodoh.
Tapi aku tidak akan pernah peduli akan hal itu.
Aku rela menjadi bodoh karena kisah ini begitu istimewa
Tulisan ini tidak ada akhirnya,
karena ini semacam cerita yang menggantung
seperti kejora di angkasa
Tidak dapat diraih, tidak akan terjatuh.
Hanya dapat dibiarkan bercahaya begitu saja
Selamat ulang tahun untukmu,
Sebentuk hati yang tulus kutunggu
Tiuplah lilin-lilin usiamu
Jangan takut akan padam
Masih ada aku yang akan membawa cahaya untukmu
Rayakan hari ini dengan senyuman
Jangan takut akan menangis
Masih ada aku yang akan mengusap air matamu
Semoga bahagia harimu
Tenang saja aku tidak akan mengacaukan hidupmu
Hiduplah dengan bahagia
Bersama teman-temanmu dan orang-orang yang menyayangimu
Karena dengan begitu bisa bahagia pula aku
Hiduplah dengan bersenang-senang
Mencari jalan yang paling terang
Mencapai cita-cita yang gemilang
Karena dengan begitu aku akan merasa tenang
Penuhi saja hari-hari kecilmu dengan ribuan senyuman
Bila terjatuh nanti,
Datanglah padaku dan katakan semuanya
Masih ada aku. Dan akan terus ada aku.
Selamat ulang tahun
~ Gadis kecil bersepeda biru ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau komen? boleehhhh.. :)